NovelToon NovelToon
Doa Terakhir Sang Kyai

Doa Terakhir Sang Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.

Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.

Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.

Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.

Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Yang Tersembunyi

Rahasia Yang Tersembunyi

Ratu Kalaputih memberi isyarat dengan tangan.

Dua orang anak buah yang mengapit Sucipto melangkah maju. Membawa Sucipto lebih dekat ke altar.

Fariz menegang. "Jangan!"

Tapi sebelum ia bisa bergerak, Ratu Kalaputih menatapnya. Hanya menatap. Tapi tatapan itu cukup untuk membuat tubuh Fariz membeku di tempat. Seperti ada yang menahan kakinya. Seperti ada beban tak terlihat yang menekan tubuhnya.

Ratu Kalaputih menatap Sucipto. Lalu mengangkat tubuhnya ke udara dengan gerakan tangan yang pelan.

Sucipto terangkat. Tubuhnya kaku. Tidak bisa bergerak. Hanya mata yang masih bisa bergerak. Menatap Fariz dengan tatapan yang penuh penyesalan.

"Lepaskan ayahku!"

Fariz berteriak sambil mencoba melangkah. Tapi kakinya tidak bergerak. Tertahan.

Ratu Kalaputih tertawa pelan. Lalu melayang tepat di samping Sucipto yang tubuhnya mulai mengambang tanpa kendali.

"Kau tahu kenapa aku ingin ayahmu yang menjadi tumbal malam ini?"

Ia menatap Fariz dengan senyum yang dingin.

"Rupanya dia tidak pernah bicara kepadamu."

Jeda sebentar.

"Tidak pernah bilang bahwa kamu... adalah garis keturunan suci yang selalu mengganggu bangsa kami."

Fariz terdiam. Menatap ayahnya.

"Bahwa darah yang mengalir di tubuhmu adalah darah yang selama ini aku hindari."

Ratu Kalaputih memutar tubuhnya di udara. Seperti menari. Seperti menikmati moment ini.

"Ayahmu tahu. Sejak kamu lahir, ia tahu. Tapi ia menyembunyikannya. Tidak mengajarkan apa-apa. Membiarkanmu tumbuh seperti anak biasa. Berharap kamu tidak pernah tahu. Berharap takdirmu tidak pernah datang."

Sucipto yang wajahnya sudah pucat, sekarang air mata mengalir di pipi. Mulutnya terbuka sedikit. Seperti ingin bicara tapi suara tidak keluar.

"Dan sekarang," Ratu Kalaputih tersenyum lebih lebar, "ia harus membayar harga karena berjanji akan menutup warisan itu. Darahnya akan menjadi persembahan. Dan kamu... akan kehilangan satu-satunya orang yang mencintaimu, dan sekarang kamu harus melindungimu dari takdirmu sendiri."

Fariz merasakan dadanya sesak dengan cara yang berbeda sekarang.

Bukan karena sakit. Tapi karena mengerti.

Ayahnya. Selama ini. Selalu melindunginya. Bahkan dengan cara yang salah. Bahkan dengan menyembunyikan kebenaran.

"Tapi sebelum itu," Ratu Kalaputih mengangkat tangan, "biar kamu lihat. Biar kamu mengerti kenapa ayahmu melakukan semua ini."

Ia menatap Fariz. Lalu sesuatu terjadi.

Udara bergetar. Cahaya obor berkedip. Lalu gelap sebentar.

Dan tiba-tiba, Fariz melihat sesuatu.

Bukan dengan mata. Tapi dengan pikiran. Seperti memori yang bukan miliknya sendiri. Memori ayahnya.

Dua puluh tahun lalu.

FLASHBACK — DUA PULUH TAHUN LALU

Malam itu gelap. Tidak ada bintang. Hanya bulan sabit yang cahayanya redup.

Sucipto berjalan cepat. Memapah Ratna di punggungnya. Tubuh istrinya terasa berat. Lebih berat dari biasanya. Karena benjolan. Karena penyakit yang sudah menyebar ke seluruh tubuh.

Tangan Ratna yang biasanya lembut, sekarang membengkak. Benjolan di siku. Di pergelangan. Warna kulitnya berubah kehitaman. Dan dari benjolan di leher, keluar nanah yang berbau busuk.

Ratna mengerang pelan. Napasnya pendek-pendek. Seperti susah bernapas.

"Bertahan, bu. Sebentar lagi sampai."

Sucipto berbisik sambil terus berjalan. Kakinya gemetar. Tangan gemetar memegang kaki Ratna agar tidak jatuh.

Di perutnya, ada kehidupan. Bayi mereka. Yang sudah ditunggu bertahun-tahun. Yang akhirnya datang setelah sekian lama berdoa.

Tapi sekarang, kehidupan itu terancam. Karena ibunya sakit. Karena wabah yang menyerang desa. Yang tidak ada obatnya.

Sucipto sampai di depan rumah Darma Wijaya. Rumah yang paling besar di desa. Rumah kepala desa yang semua orang hormati. Yang semua orang takuti.

"Pak Kades! Tolong saya, Pak!"

Teriaknya dari luar. Suaranya pecah. Putus asa.

"Apapun saya pasti akan lakukan! Tolong selamatkan istri saya!"

Pintu terbuka.

Darma Wijaya keluar. Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang mendengar teriakan putus asa di malam hari.

"Pak Kades, tolong saya, Pak!"

Sucipto hampir menangis. Kakinya mulai lemas. Hampir jatuh.

Darma Wijaya menatap Ratna sebentar. Lalu mengangguk.

"Ayo cepat masuk."

Ia membuka pintu lebar-lebar.

Ratna direbahkan di lantai ruang tamu. Tubuhnya lemas. Mata terbuka sedikit. Napasnya sangat pelan.

Darma Wijaya berlutut di sampingnya. Menyentuh benjolan di tangan Ratna dengan hati-hati.

Lalu ia mendengar sesuatu.

Bisikan.

Halus. Seperti angin. Tapi jelas di telinga.

"Pandilarang sudah menunggu sejak lama." Suara wanita. Lembut tapi dingin.

Darma Wijaya tersentak. Napasnya tertahan sebentar. Jantung berdetak lebih keras.

Ia menatap sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Hanya Sucipto yang duduk di pojok dengan wajah pucat.

Lalu ia mengerti.

Ini panggilan.

Panggilan yang sudah lama ia tunggu. Yang ayahnya ceritakan sebelum mati. Yang ditulis di buku warisan.

"Tunggu di sini sebentar. Aku akan buatkan obat untuk istrimu."

Sucipto mengangguk cepat. "Terima kasih, Pak. Terima kasih."

Darma Wijaya berdiri. Berjalan ke ruang kerja. Mengambil dupa. Beberapa pusaka. Dan buku.

Buku dengan cover kulit tua. Warna coklat yang sudah pudar. Permukaannya retak-retak. Di cover ada tulisan emas yang sudah hampir tidak terbaca: Perjanjian Leluhur.

Ia membuka buku itu. Bau kemenyan keluar dari halaman-halaman yang menguning. Tulisan tangan dengan tinta hitam yang sudah memudar.

Di halaman pertama, tertulis:

"Panggilan yang tepat akan menyelamatkan desa dari wabah dan kekacauan."

Darma Wijaya tersenyum. Perlahan. Seperti sudah menanti ini sejak lama.

Ia masuk ke ruang belakang. Ruang yang sering ia gunakan untuk bersemedi. Yang tidak ada yang tahu kecuali ia sendiri.

Di dinding, ada foto. Bingkai kayu tua. Di dalamnya, foto wanita dengan pakaian serba putih. Wajah cantik. Mahkota emas di kepala. Mata tajam yang menatap langsung ke depan.

Ratu Kalaputih.

Yang ia dambakan untuk bisa bertemu langsung sejak ayahnya cerita tentangnya puluhan tahun lalu.

Darma Wijaya duduk bersila di lantai. Membuka buku. Mencari halaman yang tepat.

Lalu mulai membaca.

Mantra keluar dari mulutnya. Pelan dulu. Lalu lebih keras. Lebih mantap.

"Kanjeng Ratu, dumugi, kula abdidipun sampeyan ingkang setya badhe nyuwun pangayoman kangge warga kula."

"Darahipun kula badhe dados sesajen, lan gesang kula badhe dados gadhahipun sampeyan."

(Yang Mulia Ratu, saya datang, hamba setia-Mu memohon perlindungan untuk warga saya. Darah saya akan menjadi sesajen, dan hidup saya akan menjadi milik-Mu.)

Saat mantra dibaca, sesuatu terjadi.

Angin berdesir. Masuk lewat celah jendela yang tertutup. Dingin. Menusuk tulang.

Suhu ruangan turun drastis. Napas Darma Wijaya terlihat seperti asap putih.

Cahaya lampu minyak berkedip. Redup. Hampir mati. Lalu menyala kembali dengan cahaya yang lebih kuning.

Suara gamelan terdengar. Samar. Seperti dari jauh. Nada yang khas. Anggun tapi mencekam. Seperti musik kerajaan dari masa yang sudah lama terlupakan.

Lalu asap putih muncul dari lantai. Naik perlahan. Berputar. Membentuk sesuatu.

Kaki. Tubuh. Tangan. Leher. Kepala.

Wanita cantik berdiri di hadapannya.

Ratu Kalaputih.

Dalam wujud yang lebih kecil dari yang akan datang di ritual nanti. menakjubkan. Tapi menakutkan.

Darma Wijaya langsung merapatkan kedua tangannya. Menunduk dalam. Hampir menyentuh lantai.

"Kanjeng Ratu."

Suaranya gemetar. Antara takut dan senang.

Ratu Kalaputih menatapnya. Lalu tersenyum. Dingin.

"Darma Pandilarang."

Suaranya berlapis. Seperti dua orang bicara bersamaan.

"Awakmu wis siap. Gawa menungsa iku nang makam mbah buyutmu bengi iki."

(Kamu sudah siap. Bawa manusia itu ke makam kakek buyutmu malam ini.)

Lalu asap putih menghilang. Seperti tidak pernah ada.

Tapi bau bunga kantil tertinggal. Sangat kuat. Memenuhi ruangan.

Darma Wijaya berdiri. Masih gemetar. Tapi senyum tidak hilang dari wajahnya.

Ini terjadi.

Dan akhirnya terjadi.

Ia kembali ke ruang tamu. Membawa sebotol air di tangannya. Air biasa. Tapi Sucipto tidak tahu itu.

"Tadi aku dapat wangsit kalau penyakit istrimu bisa sembuh." Suara Darma Wijaya tenang. Meyakinkan.

"Tapi kita harus bawa Ratna ke makam kakek buyutku. Di sana."

Ia menunjuk ke arah luar. Ke arah makam leluhur yang ada di ujung desa.

Sucipto menatap istrinya. Lalu ke Darma Wijaya.

"Apapun, Pak. Yang penting istri dan calon anak saya selamat."

Tidak ada keraguan di suaranya. Hanya putus asa. Dan harapan.

Darma Wijaya mengangguk. "Ayo."

Mereka berjalan ke makam. Sucipto memapah Ratna. Darma Wijaya berjalan di depan dengan lentera.

Sampai di depan makam Eyang Pandilarang. Bangunan kecil dengan pintu emas. Nisan batu tua yang sudah berlumut.

"Ngapunten, Eyang. Aku datang bawa tamu."

Darma Wijaya berbisik sambil mengusap batu nisan dengan tangan.

Lalu cahaya putih muncul. Dari tanah. Naik pelan. Membentuk bayangan.

Bayangan hitam berdiri di depan mereka. Tinggi. Tidak stabil. Seperti asap.

Sucipto tersentak. Hampir jatuh. Tapi tetap memegang Ratna erat.

"Pak... apa ini?"

Suaranya gemetar. Takut.

"Tenang. Ini bagian dari ritual."

Darma Wijaya bicara dengan tenang. Sepertinya ini hal biasa baginya.

Lalu suara wanita terdengar. Dari bayangan. Atau dari udara. Tidak jelas dari mana.

"Di dalam makam ini, kakekmu menyimpan sebuah cawan. Ambil sekarang."

Bayangan menunjuk ke gundukan tanah di samping nisan. Tanah yang sudah mengering. Retak-retak.

"Gali."

Perintah itu jelas.

Darma Wijaya mengangguk. Memberi isyarat ke Sucipto.

"Bantu aku."

Mereka mulai menggali. Dengan tangan. Tidak ada cangkul. Tidak ada alat. Hanya tangan yang gemetar dan putus asa.

Tanah kering masuk ke kuku. Tangan berdarah. Tapi mereka terus menggali.

Sampai akhirnya, jari Darma Wijaya menyentuh sesuatu.

Keras. Dingin.

Cawan.

1
Was pray
shalat magrib 2 rakaat? shalat model baru kah?
kang adhie: oalaaah kayaknya aku typo
thx u kak udh remind
aku coba perbaiki
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!