Follow IG : renitaria7796
Sequel dari Novel TERPAKSA MENIKAHI MANTANKU.
Maxim Sylvestone harus merendahkan dirinya jika ingin mendapati seorang gadis kecil bernama Liora Putri Alexander. Seorang wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta, bahkan ketika gadis itu baru bisa berjalan.
Sayangnya, Liora sudah dijodohkan kepada anak sahabat orang tuanya. Apakah Liora menerima perjodohan itu? Lalu, bagaimana Maxim merebut kembali cintanya? Apa ia harus mengungkapkan siapa ia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BEBAS
Gembok kunci sel tahanan di buka oleh sipir. Nama Maxim di panggil untuk keluar. Max di giring ke luar dari tahanan.
"Apa hari ini saya bebas?" tanya Max.
"Iya ... hari ini kamu bebas," jawab sipir penjaga.
Di luar sudah menunggu Brian, Jo serta John. Mereka menyambut kebebasan Maxim. Brian tersenyum saat melihat Max. Begitu juga dengan Jo.
"Max ... kamu baik-baik saja, kan?" tanya Brian.
"Kenapa kalian lama sekali membebaskanku?" tanya Max balik.
"Karna kami, ingin wajah tampanmu menghilang," sahut Jo.
"Ish ... dari dulu kalian memang iri denganku," ucap Maxim kesal.
"Ayo kita pulang dari sini," ajak Brian.
Brian dan Jo masuk ke dalam mobil mereka masing-masing. Maxim masuk ke dalam mobil bersama dengan John. Mereka menuju sebuah restoran.
Brian serta Jo telah sampai di depan gedung restoran. Maxim dan John juga sudah sampai. Mereka masuk bersama-sama ke dalam restoran.
Pelayan datang dengan membawa buku menu. Masing-masing memesan menu makanan yang mereka inginkan.
"Max ... besok hari pertunangan Liora. Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Jo.
"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu. Aku sudah berusaha," jawab Maxim.
"Aku sudah bicara pada Vino. Tetapi Varo mencintai Liora juga. Dia memilih melanjutkan pertunangan ini," ungkap Brian.
Jo menepuk pundak Maxim yang duduk di sampingnya. "Aku rasa kamu harus melupakan Liora. Kami tidak mau kamu di jebloskan ke dalam penjara lagi."
"Mungkin saranmu ada benarnya. Aku tidak menyangka jika kisah cintaku begitu tragis."
"Max ... ada banyak wanita di luar sana. Kami setuju saja jika kamu ingin bersama Liora. Tapi, apa kamu bisa menghadapi Alex?" tanya Brian.
"Kamu benar, ada banyak wanita di luar sana. Aku akan mencoba melupakan Liora. Aku juga tidak ingin hubungan kalian semua menjadi renggang, hanya karna diriku," jelas Maxim.
"Baguslah ... jika kamu berpikiran seperti itu," sahut Jo.
Pelayan datang dengan membawa makanan pesanan mereka. Ke empatnya makan dengan lahap. Terlebih Maxim, di dalam sel tahanan, dia hanya makan alakadarnya saja.
Selesai makan siang bersama. Mereka keluar dari dalam restoran. Brian dan Jo berlalu dengan mobil mereka masing-masing. Maxim dan John masuk ke dalam mobil.
"John ... kita ke mansion Alex," perintah Maxim.
"Baik, Tuan," jawab John.
John melajukan mobilnya menuju mansion Alex. Dia memperlambat laju mobilnya saat sudah mendekat ke arah mansion.
"Kita menepi di pinggir jalan saja," titah Maxim.
John menepikan mobilnya. Maxim menatap kamar Liora dari jalan. Pintu balkon kamar Liora tertutup rapat dan tertutup hordeng.
"Sepertinya mansion ini di jaga oleh beberapa pengawal," ucap John.
"Benar, Alex tentu tidak akan membiarkan Liora untuk kabur," sahut Maxim.
"Lalu ... apa kita harus menjalankan rencana kita?" tanya John.
"Kalau Liora menginginkannya, kita lanjutkan rencana kita," jawab Max.
"Baik, Tuan."
John menghidupkan kembali mesin mobil. Dia melajukan mobilnya menuju kediaman Maxim. Sesampainya di rumah, Max dan John keluar dari dalam mobil.
Max masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar tidurnya dengan di ikuti oleh John. Max membuka lemari pakaian dan mengambil tas koper hitam di dalam lemari.
"John ... apa kamu sudah siapkan segalanya?"
"Sudah Tuan, tiket pesawat serta rumah juga sudah aku siapkan. Aku juga sudah memesan tiga tiket penerbangan untuk mengecoh kepergian kalian," terang John.
"Baguslah, kamu juga harus mengecoh Brian dan Jo. terutama Jo, dia hacker handal," ucap Maxim.
"Siap, Tuan."
Maxim membuka kotak brangkas. Dia mengambil berkas-berkas penting dan memasukannya ke dalam koper. Max juga memasukkan emas batangan serta uang tunai di dalam tasnya.
"Selama aku pergi, jadilah penggantiku. Jangan menghubungiku terlebih dahulu, sebelum aku yang menghubungi kamu," ucap Max.
John mengangguk. "Siap, Tuan."
Maxim merangkul tubuh John. "Terima kasih, kali ini, aku perlu bantuanmu sekali lagi."
"Aku sudah berjanji untuk setia dan mengabdi padamu, Tuan. Kamu adalah penyelamat bagiku," tutur John.
Maxim bertemu dengan John, saat pria itu tengah kesusahan. John seorang pria berbakat di sebuah perusahaan. Dia di jebak oleh temannya sendiri.
John terancam di penjara jika dia tidak membayar kerugian yang di alami oleh perusahaan itu. Dalam keadaan tersebut, Maxim datang membantu.
Maxim menjual apartment serta mobilnya untuk membayar hutang-hutang John. Maxim bahkan hidup di rumah sederhana bersama dengan John.
Dengan ketekunan dan kerja sama keduanya, Maxim mampu membangun perusahaannya sendiri.
"Tuan ... aku harus pergi untuk melanjutkan rencana kita. Besok, kita janjian di tempat biasa," kata John.
"Pergilah, hati-hati ... yang kita hadapi bukan orang sembarangan. Cepat atau lambat Alex pasti tahu, kalau aku telah bebas."
"Baik, Tuan." John keluar dari kamar. Dia menuruni anak tangga menuju pintu keluar. John masuk ke dalam mobil dan berlalu dari sana.
Maxim sudah mempersiapkan segalanya untuk besok. Dia menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Maxim berharap kalau besok rencananya akan berjalan lancar.
Maxim meraih ponselnya yang baru di berikan oleh John. Dia mengaktifkan kembali ponselnya. Max membuka foto-foto Liora. Dia hanya bisa mengusap foto itu dan mengecupnya.
"Sampai kapan pun, kamu akan tetap menjadi milikku. Kamu adalah cinta dan hidupku, Liora," lirih Maxim.
Maxim menonaktifkan ponselnya kembali. Dia mengeluarkan kartu di dalam ponsel dan menghancurkannya. Maxim menganti kartu nomornya dengan yang baru.
...****************...
John sampai di depan hotel yang akan menjadi saksi bisu pertunangan Liora dan Varo yang akan di selenggarakan besok malam.
Dia masuk ke dalam hotel dengan memakai topi dan kacamata. John akan bertemu dengan dua orang pelayan yang akan membantunya.
John membayar orang CCTV dan juga pelayan wanita yang akan bertugas sebagai penghubung antara dirinya dan juga Liora.
John masuk ke dalam kamar yang telah dia pesan sebelumnya. Dia duduk di sofa kamar dan menunggu suruhannya untuk datang.
John mengirim pesan kepada anak buahnya itu untuk segera menemui dirinya. Sekitar 10 menit, dua pelayan itu datang ke kamar John. Mereka menyamar menjadi pelayan pengantar makanan dan juga laundry.
"Akhirnya kalian datang juga," kata John.
John mengeluarkan cek dari dalam jasnya. Dia menuliskan angka uang di dalam cek yang sudah bertanda tangan itu. Dia memberikannya kepada masing-masing pelayan itu.
"Itu untuk kalian. Rencana besok harus berhasil. Aku tidak mau sampai gagal," perintah John.
Kedua pelayan itu mengangguk. "Siap, Tuan. Rencana besok pasti berhasil."
"Aku pegang ucapan kalian. Jika berhasil, aku akan membayar kalian lagi," ucap John.
Kedua pelayan itu terlihat bersemangat setelah mendengar ucapan John yang terakhir. Dengan nominal yang tinggi, sudah pasti keduanya akan bekerja dengan sungguh-sungguh.
TBC
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.