NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mafia
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.

Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.

"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."

Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Rumah di Balik Kabut

Harry menegang. Ia melangkah mendekat ke meja laboratorium, mengabaikan denyut nyeri di perutnya. "Apa maksudmu?"

"Dia dibunuh karena dia menemukan bahwa riset orang tuaku disalahgunakan untuk menciptakan 'prajurit tanpa nurani'. Ayahmu mencoba menghentikan pendanaan Aris dan Luca," Kayra menatap Harry dengan mata yang berkaca-kaca. "Dan profesor ... Elena Valeska ... dia sengaja dibiarkan lumpuh agar risetnya tidak bisa ia hancurkan sendiri. Dia adalah sandera intelektual bagi mereka selama ini."

Harry mengepalkan tangannya di tepi meja besi hingga buku-bukunya memutih. Kebenaran ini terasa lebih menyakitkan daripada peluru mana pun. Ternyata, hubungan mereka sudah terikat dalam tragedi yang sama jauh sebelum mereka bertemu secara tidak sengaja di hutan Elara.

"Jadi, kita berdua adalah sisa-sisa dari rencana mereka yang gagal?" desis Harry, suaranya mengandung kemarahan yang tertahan.

Kayra berjalan mendekat, ia meletakkan tangannya di atas kepalan tangan Harry yang kaku. "Kita bukan sisa-sisa, Harry. Kita adalah konsekuensi yang tidak mereka perhitungkan. Aris mengira aku sudah hancur di Elara, dan Luca mengira kau sudah lemah karena luka-lukamu."

Harry membalikkan telapak tangannya, menggenggam tangan Kayra erat. Ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kayra sejenak. Kayra bisa merasakan napas berat Harry yang hangat di kulitnya. Untuk sesaat, tidak ada mafia, tidak ada dokter, tidak ada dendam. Hanya ada dua jiwa yang lelah dan saling menguatkan di tengah kabut pegunungan.

"Aku akan menghancurkan mereka, Kayra," bisik Harry di dekat telinganya. "Bukan hanya untuk ayahku, tapi untuk setiap air mata yang kau keluarkan karena mereka."

Kayra melepaskan diri perlahan, menatap mata Harry yang kini berkilat dengan tekad baru. Ia mengusap pipi Harry dengan lembut, membersihkan sedikit debu yang tersisa di sana.

"Kita akan melakukannya bersama. Aku akan menetralkan serum ini, dan kau ... kau akan meruntuhkan kerajaan mereka."

Harry tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan janji perlindungan. Ia meraih tangan Kayra dan mengecup punggung tangannya dengan sangat hormat.

"Vila ini memiliki perpustakaan bawah tanah yang berisi catatan lama ibuku. Mungkin ada sesuatu di sana yang bisa membantumu memahami formula ini lebih cepat."

"Aku akan memeriksanya sekarang," ujar Kayra bersemangat.

Namun, Harry menahan langkahnya. Ia menarik Kayra kembali ke dalam dekapannya, kali ini lebih lembut, membiarkan jemarinya mengusap pinggang Kayra. "Bekerjalah, tapi jangan sampai kau melupakan satu hal, Dokter."

Kayra mendongak, menatap wajah Harry yang sangat dekat. "Apa?"

Harry merunduk, berbisik tepat di depan bibir Kayra, menciptakan ketegangan romantis yang membuat napas Kayra tercekat. "Bahwa kau adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih ingin melihat matahari terbit besok pagi. Jadi, tolong jangan terlalu memaksakan dirimu hingga jatuh sakit."

Kayra tersenyum tipis, merasakan wajahnya memanas namun hatinya terasa penuh. "Sejak kapan gembong mafia Marcello jadi puitis seperti ini?"

"Sejak dokter dari Elara itu menjahit hatiku dengan cara yang tidak bisa dijelaskan secara medis," jawab Harry sambil terkekeh pelan.

Kayra melepaskan diri dengan wajah merona, namun ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan kecil di hatinya. Ia melangkah menuju pintu perpustakaan, namun sebelum benar-benar pergi, ia menoleh kembali ke arah Harry.

"Harry?"

"Ya, Kayra?"

"Terima kasih ... karena tidak membiarkan aku menjadi 'Alana Chen' sendirian di pesta itu tadi," bisik Kayra tulus.

Harry menatap punggung Kayra yang menjauh dengan sorot mata yang dalam. "Kau tidak akan pernah sendirian lagi, Kayra. Itu adalah janji Marcello."

Langkah Kayra menuruni tangga menuju perpustakaan bawah tanah terasa lebih ringan, meski beban kebenaran baru saja menghantamnya. Villa de Nebbia ternyata menyimpan kehangatan yang tidak terduga di tengah dinginnya salju Alpen.

Perpustakaan itu tersembunyi di balik pintu kayu ek yang berat. Begitu lampu dinyalakan, aroma kertas tua dan kayu gaharu langsung menyambutnya.

Ribuan buku berjajar rapi, namun perhatian Kayra teralihkan pada sebuah meja kerja kayu yang tampak sangat terawat di pojok ruangan. Di atas meja itu, terdapat sebuah kotak perhiasan kayu kecil dan tumpukan jurnal bersampul kulit milik mendiang ibu Harry, Sofia Marcello.

Kayra mulai membolak-balik jurnal tersebut. Jemarinya terhenti pada sebuah catatan bertanggal sehari sebelum kecelakaan orang tua Kayra terjadi.

Di sana, Sofia menuliskan kekhawatirannya tentang dana yang diam-diam dialirkan suaminya, ayah Harry, kepada sebuah tim riset independen.

"Mereka bukan sekadar meneliti penyembuhan saraf," Kayra membaca baris tulisan tangan yang rapi itu dengan suara rendah. "Sofia menyadari bahwa suaminya mencoba menyelamatkan riset Ardeane dari tangan Luca."

Saat itulah, Kayra menemukan sebuah skema molekul yang digambar tangan pada halaman terakhir. Itu adalah potongan kode yang selama ini hilang dari data Proyek Genesis yang ia curi dari Aris.

Sofia ternyata telah menyimpan kunci enkripsi penawarnya, seolah ia tahu bahwa suatu saat nanti, seseorang akan datang untuk memperbaiki kekacauan ini.

"Kau menemukannya?" Suara Harry membuat Kayra tersentak.

Pria itu berdiri di bayang-bayang pintu, memperhatikannya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ia sudah mengganti jubah mandinya dengan sweter wol hitam, membuatnya tampak kurang seperti pemimpin mafia dan lebih seperti pria biasa yang sedang mencari ketenangan.

"Harry, ibumu ... dia luar biasa," Kayra menunjukkan jurnal itu. "Dia menyimpan potongan formula yang bisa menetralkan efek agresivitas dari serum Genesis. Dia membantu orang tuaku secara rahasia."

Harry melangkah mendekat, berdiri di belakang Kayra dan ikut menatap jurnal tersebut. Ia bisa merasakan kehangatan dari tubuh Kayra, dan aroma samar antiseptik yang kini mulai ia sukai. Harry meletakkan tangannya di atas meja, di samping tangan Kayra.

"Dia selalu percaya pada keadilan, sama sepertimu," gumam Harry. "Itulah sebabnya ayahku membangun tempat ini. Untuk menyimpan kebenaran yang tidak bisa diucapkan di dunia luar."

Kayra berbalik, mendapati wajah Harry hanya berjarak beberapa inci darinya. Keintiman di antara mereka kembali memuncak, lebih kuat dari sebelumnya.

Di perpustakaan yang sunyi ini, di bawah perlindungan gunung dan kabut, mereka bukan lagi dua pelarian. Mereka adalah dua orang yang telah menemukan potongan diri mereka yang hilang pada satu sama lain.

Kayra menyentuh lengan Harry, merasakan ototnya yang tegang perlahan melunak di bawah jemarinya. "Kita akan mengakhiri ini, Harry. Kita akan mencuci bersih nama Marcello dan Ardeane."

Harry menatap Kayra dengan tatapan yang bisa meluluhkan baja. Ia meraih dagu Kayra dengan lembut, memaksa wanita itu menatap langsung ke matanya yang dalam.

"Kau tahu, Dokter," bisik Harry, suaranya serak namun penuh dengan kejujuran yang meluap. "Dulu aku berpikir bahwa kesendirian adalah kekuatan terbesarku. Tapi setelah melihatmu berjuang di laboratorium itu, aku baru sadar betapa bodohnya aku selama ini."

Kayra menahan napas. "Lalu sekarang apa yang kau pikirkan?"

"Bahwa aku tidak butuh seluruh dunia untuk memihakku," jawab Harry, jemarinya mengusap garis rahang Kayra dengan sangat pelan. "Aku hanya butuh satu orang yang berani menjahit lukaku saat aku hampir menyerah. Dan orang itu adalah kau."

Kayra tersenyum tipis, matanya berbinar haru. "Aku tidak akan membiarkanmu menyerah, Harry. Itu juga bagian dari janji medisku."

Harry terkekeh pelan, lalu ia menarik tubuh Kayra ke dalam dekapan yang lebih erat, menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu. Keheningan perpustakaan itu kini tidak lagi terasa hampa, ia dipenuhi oleh harapan yang baru saja tumbuh di tengah badai.

"Harry?" panggil Kayra dalam pelukan itu.

"Ya, Kayra?"

"Setelah semua ini selesai ... bisakah kita tetap tinggal di sini sebentar? Hanya untuk merasakan bagaimana rasanya memiliki rumah?"

Harry terdiam sejenak, lalu ia mengeratkan pelukannya dan berbisik tepat di telinga Kayra.

"Tempat ini akan selalu menunggumu, tapi bagiku, rumah tidak lagi berbentuk bangunan, Kayra. Dia ada di mana pun kau berada."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!