罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 - Taiketsu part II
...**...
...成功を運命づけられたものばかりではない...
...-Seikō o unmeizukerareta mono bakari de wa nai-...
...'Tidak semua ditakdirkan untuk berhasil'...
...⛩️🏮⛩️...
..."Siapa yang akan menjadi beban... dan siapa yang akan menjadi ancaman."...
...⛩️🏮⛩️...
Cahaya sore menyelinap melalui kisi-kisi kayu ruang utama kediaman Klan Yamaguchi, menggurat garis-garis tajam di atas lantai tatami yang bersih. Dupa menyala di pojok ruangan, mengeluarkan asap tipis yang melingkar seperti napas tanpa henti dari sesuatu yang tak terlihat.
Di tengah ruangan, Oyabun dan disebelahnya Jin yang lebih condong miring ke depan, duduk bersila dengan tubuh tegak dan tangan terlipat di atas lutut. Di sampingnya berdiri Kaede, diam seperti patung, matanya menunduk. Bukan karena tunduk, melainkan karena menahan sesuatu yang terlalu panas jika dilihat langsung.
Tapi Noa, tidak bersimpuh seperti protokolnya. Ia berdiri, kaki sedikit rapat, kedua tangan di sisi tubuh, dan dagunya tegak. Ada ketegangan dalam garis bahunya, dan meski ia diam, semua orang bisa membaca bahwa kehadirannya di ruangan ini bukanlah bentuk kepatuhan—melainkan hasil dari paksaan yang sedang ia tahan. Menahan semua bara dendam yang terus menumpuk di relung hatinya. Ia harus tetap tenang seolah-olah memang menjadi bagian dari klan.
Ia memang datang. Tapi tidak dengan tunduk.
Yamaguchi Akiro, pewaris sah klan, berdiri di sisi kanan ruangan, diam seperti batu ukir. Tatapannya lurus. Ia tidak bicara. Tidak menginterupsi. Tapi udara di sekitarnya terasa lebih dingin karena kehadirannya.
Di dekat pilar kayu yang menopang langit-langit, Kuroda, adik Oyabun, bersandar santai. Ia menatap Noa dengan senyum tipis, seperti menyaksikan seekor kucing jalanan yang tiba-tiba dibawa masuk ke kuil.
"Hm. Kau berdiri dengan tegak." Nada suaranya menggoda tapi tidak merendahkan. "Sudah terbiasa tidak menunduk, Noa?"
Noa tidak menjawab. Tapi matanya—hanya sesaat—melirik Kuroda. Bukan dengan kemarahan. Hanya ketenangan yang tegas. Lebih seperti... pernyataan tanpa suara 'Kau sudah tahu jawabku'.
Jin tidak menoleh ke arah mereka. Ia hanya meletakkan map tipis di lantai, di antara dirinya dan Noa.
"Ini tugas pertamamu, Nakamura... " Nada suaranya datar. Administratif. "... Dengan tim."
Kaede melirik Noa sekilas. Hanya mengamati. Tidak ada ketertarikan di wajahnya.
"Kau telah berlatih. Sekarang kita uji kemampuanmu. Pelajari. Amati."
Ia membuka map. Di dalamnya terdapat foto-foto buram pria-pria dengan tato samar, peta pelabuhan, dan catatan singkat mengenai transaksi ilegal yang akan dilakukan malam ini—senjata kecil, mungkin juga narkotika ringan. Skala kecil, tapi bukan tanpa risiko.
Jin menyentuhkan jarinya pada sebuah titik di peta, lalu menarik garis pendek menuju gang-gang gelap di belakang gudang kontainer.
"Misi sepele. Tapi kalau ada yang mati... artinya kalian menyedihkan." Suaranya turun setengah oktaf, berat, membawa keheningan ke dalam ruangan. Pandangannya lurus pada Kaede.
"Catat wajah, nama, pola. Tidak boleh ada yang terlewat."
Jarinya kembali mengetuk titik merah di peta.
"Intervensi jika perlu. Sita barangnya. Tanamkan ketakutan. Biarkan Kaede yang menentukan."
Ia menggeser pandangannya, berganti menatap Noa lama sekali, sampai suasana ruangan serasa terkunci.
"Nakamura." Jemarinya mengetuk map dengan nada hampir sinis. "Jangan mati."
Keheningan kembali jatuh, hanya terisi suara kertas yang dilipat rapi dan dikembalikan ke map.
"Nakamura dan Minato, ikuti perintah Kaede. Reiji sebagai backup."
Nama-nama itu—Kaede, Reiji, Minato—berat seperti logam. Tiga orang yang sudah dikenal sebagai garda depan klan. Bukan sembarang penjaga, tapi nama-nama yang cukup untuk membuat para pembangkang mengurungkan niat mereka.
Noa tetap diam, tapi ketegangan di lehernya terasa seperti tali yang mulai ditarik.
Di sisi kanan ruangan, Akiro menoleh sedikit. Tidak berbicara, tapi dari cara rahangnya mengencang, jelas bahwa ia tidak menyukai keputusan itu. Mungkin karena Reiji dan Kaede seharusnya ditempatkan dalam misi penting lainnya. Mungkin karena Minato—meski prajurit—adalah sosok yang tak pernah gagal melapor. Dan sekarang ketiganya dikerahkan untuk mengiringi seorang gadis asing dalam misinya yang pertama?
Kuroda seolah membaca pikiran semua orang.
"Kukira gadis itu mau diutus sendirian, rupanya malah dikawal seperti istri Oyabun."
Ia tertawa kecil, lalu melirik Noa. Tatapannya tidak menghina, hanya... menghibur diri.
Lalu terdengar suara Kuroda lagi, ringan seperti asap dupa.
"Kaede-san jangan terlalu serius. Kasih Nakamura sedikit ruang bernapas."
Kaede tidak menanggapi.
"Kalau dia pingsan, setidaknya angkat dia pulang. Jangan tinggalkan di selokan," tambah Kuroda sambil terkekeh kecil.
Kaede tidak bergeming.
Oyabun menoleh setengah, suaranya tenang tapi mengandung ujung tajam yang terselubung
"Menarik. Dulu kau lebih banyak diam, Kuroda. Kini, setiap kesempatan kau isi dengan kata-kata. Apakah usia melembutkan lidahmu?"
Kuroda tidak langsung menjawab. Ia merapikan kerah jaketnya dengan gerakan lambat, lalu mengangguk tipis.
"Aku bicara jika kurasa memang perlu dikatakan, An—". Ia terhenti, lidahnya menahan sisa kalimat. Rahangnya mengencang.
Ucapannya menggantung.
Sekilas, seperti ada sesuatu yang hampir lolos dari mulutnya. Tapi ia menelannya kembali.
"Oyabun," katanya akhirnya.
Suaranya datar—terkontrol. Tapi ada getar halus di ujung nada, hampir tak terdengar. Seperti bekas luka lama yang belum benar-benar sembuh.
Beberapa kepala menoleh. Tak ada yang bicara.
Hanya terdengar dengusan pendek dari dua penjaga di sisi kanan aula.
Tapi Raizen hanya tersenyum tipis—bukan mengejek, bukan pula menghukum.
Lebih seperti seseorang yang sedang menguji batas... dan mendapati batas itu masih ada.
...⛩️🏮⛩️...
Reiji dan Minato tidak hadir dalam ruangan itu—mereka sudah bersiap lebih dulu di luar perimeter, menunggu perintah bergerak.
Jin menutup map, lalu berkata satu kalimat terakhir, dingin seperti pedang yang baru diasah.
"Jangan pulang, sebelum berhasil."
Jin melirik sekilas, lalu memberi isyarat bahwa diskusi selesai.
Pintu geser dibuka.
Kaede melangkah keluar lebih dulu. Noa mengikutinya, tanpa menunduk, tanpa berpaling.
Langkah mereka diam. Tapi bayangan yang ditinggalkan terasa berat, menggantung di udara seperti ancaman yang belum diberi bentuk. Hanya Kuroda yang mengamati kepergian mereka dengan ekspresi yang sulit ditebak—antara penasaran, kasihan, atau... harapan samar.
...⛩️🏮⛩️...
Begitu pintu geser tertutup, Udara di ruangan itu berubah. Lebih rapat. Lebih jujur.
Tak ada lagi Noa.
Yang tersisa hanya mereka.
Jin tidak langsung berbicara. Ia membiarkan keheningan menggantung, memberi ruang bagi pikiran masing-masing untuk bergerak terlalu jauh. Matanya beralih ke arah Akiro—perlahan.
"Apakah ada yang ingin kau sampaikan, Akiro-san?"
Akiro menjawab pendek.
"Jika keputusan sudah dibuat oleh Otou-sama, maka aku hanya akan mencatat hasilnya."
Kuroda menatap Akiro sekilas, lalu menoleh ke Jin.
"Jangan heran kalau gadis itu lebih bisa bertahan daripada yang kita kira."
...⛩️🏮⛩️...
Dan tak seorangpun tahu.
Diam-diam di kejauhan, Hane mengaktifkan radio kecil di pergelangan tangannya. Suara serak terdengar dari frekuensi aman.
"Target dalam pantauan. Aku akan tetap dalam bayangan. Tapi jika diperlukan..."
Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Tapi semua tahu maksudnya.
Hane tersenyum tipis—nyaris tak terlihat—sebelum menyesuaikan teropongnya kembali.
Perintah Oyabun jelas. Amati. Jangan ganggu. Tapi jika perlu... pastikan hanya satu yang kembali.
...—つづく—...
Dia bukan istri, bukan selir, cuma perempuan yang di takdirkan untuk melahirkan seorang bayi yang mungkin bisa saja menjadi ancaman untuk klan di masa depan.
prolog aja udah di suguhi cerita yang wah banget, penasaran sama kehidupan Rin dan bayinya nanti.