menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
BAB 19: Gema di Balik Cahaya Paris
Kegemerlapan Grand Palais mulai terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kesadaran Aurelius. Suara tawa artifisial, denting gelas sampanye, dan percakapan kosong mengenai suku bunga serta ekspansi wilayah hanyalah kebisingan latar belakang yang memuakkan. Di sampingnya, Sophia masih sibuk berbincang dengan seorang senator Prancis, tangannya masih melingkar posesif di lengan Aurelius seolah ingin memamerkan properti paling berharganya kepada dunia.
Aurelius melirik jam tangan peraknya. Pukul 22.30.
"Aku butuh udara segar, Sophia. Kepalaku sedikit berdenyut," ucap Aurelius, suaranya datar dan tidak menerima bantahan.
Sophia menoleh, sedikit kecewa karena ia belum selesai memamerkan tunangannya kepada lingkaran menteri. "Oh, Sayang, apakah kau perlu dokter?"
"Hanya butuh istirahat di hotel. Tetaplah di sini, kau adalah wajah Hohenzollern malam ini," lanjut Aurelius. Sebelum Sophia sempat memprotes, Aurelius sudah melepaskan lengan wanita itu dan melangkah pergi dengan keanggunan seorang predator yang baru saja lepas dari rantaunya.
Di pintu keluar VIP, sebuah limosin hitam dengan kaca gelap yang sangat tebal sudah menunggu. Pintu terbuka secara otomatis, dan Yoto berdiri dengan sikap sempurna di samping kemudi.
Begitu Aurelius masuk ke dalam kabin yang kedap suara, ia melonggarkan dasinya dengan gerakan kasar dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Napasnya yang tertahan selama di aula tadi akhirnya terlepas.
"Yoto," panggil Aurelius, suaranya rendah dan serak.
"Saya mendengarkan, Tuan Muda," sahut Yoto melalui spion tengah.
"Bawa dia padaku. Pastikan dia sedang sendirian. Gunakan jalur belakang hotel agar para asistennya tidak mencium jejak kita. Aku menunggunya di Penthouse."
Yoto mengangguk tanpa bertanya. Ia telah melayani keluarga ini cukup lama untuk mengetahui bahwa kemarahan dan kedinginan yang ditunjukkan Aurelius kepada Hana di karpet merah tadi hanyalah topeng baja untuk melindungi rahasia yang lebih besar.
Mobil itu meluncur membelah jalanan Paris yang basah menuju hotel mewah tempat Aurelius menginap. Setelah menurunkan tuannya, Yoto segera berbalik arah menuju hotel tempat Hana berada.
Hana Asuka berdiri di balkon kamarnya, menatap Menara Eiffel yang berkelap-kelip. Gaun biru malamnya masih melekat di tubuhnya, namun jubah sutranya sudah tersampir di kursi. Pikirannya kalut. Kata-kata tajam Aurelius di pesta tadi masih terngiang, menusuk hatinya lebih dalam dari belati mana pun.
“Hanya pemain yang tidak kompeten...”
Hana mengepalkan tangannya. "Kau jahat, Ren," bisiknya pada angin malam.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dengan pola yang sangat spesifik. Hana menegang. Itu bukan ketukan asistennya. Ia melangkah perlahan dan membuka pintu. Di sana berdiri Yoto.
"Nona Asuka," Yoto membungkuk hormat. "Mobil sudah menunggu di lobi bawah. Tuan Muda ingin menyelesaikan 'urusan bisnis' yang tertunda."
Hana tahu apa artinya itu. Tanpa sepatah kata pun, ia menyambar mantel panjangnya dan mengikuti Yoto melewati lift staf untuk menghindari kejaran jurnalis.
Suasana di Penthouse hotel Aurelius sangat temaram. Hanya ada cahaya dari lampu hias di sudut ruangan yang membiaskan warna amber ke seluruh interior berbahan kayu ek dan beludru.
Saat Hana melangkah masuk, pintu tertutup rapat di belakangnya. Ia berjalan menuju ruang utama yang luas. Di depan jendela besar yang menampilkan panorama Paris, Aurelius berdiri.
Pria itu telah menanggalkan jas dan kemeja mahalnya. Ia hanya mengenakan celana kain hitam, bertelanjang dada, memperlihatkan punggungnya yang kokoh dengan otot-otot yang menegang. Luka kecil di bahunya—saksi bisu dari kecelakaan mesin di Tokyo—tampak jelas di bawah cahaya redup.
Aurelius berbalik. Matanya yang tadi sedingin es di karpet merah, kini membara dengan api kerinduan yang tak tertahankan.
"Kau datang," suara Aurelius berat, bergetar oleh emosi yang tertahan selama berbulan-bulan.
Hana melepaskan mantelnya, membiarkannya jatuh ke lantai. "Aku datang untuk menagih janji yang kau tulis di bengkel itu, Aurelius."
Dalam tiga langkah besar, Aurelius sudah berada di depan Hana. Ia meraup wajah Hana dengan kedua tangannya yang besar, menatap mata wanita itu seolah ingin memastikan bahwa ini bukan mimpi. Detik berikutnya, bibir mereka bertemu.
Itu bukan sekadar ciuman; itu adalah ledakan dari segala rasa sakit, amarah, dan rindu yang membeku selama berbulan-bulan di dua benua yang berbeda. Ciuman mereka menuntut, kasar namun penuh dengan keputusasaan pria dan wanita yang saling memiliki namun dipaksa menjadi musuh oleh dunia.
Aurelius mengangkat tubuh Hana dengan mudah, membiarkan kaki Hana melingkar di pinggangnya tanpa melepaskan pagutan bibir mereka. Ia membawa Hana menuju ranjang king-size di tengah ruangan. Begitu tubuh Hana menyentuh seprai sutra yang dingin, panas dari tubuh Aurelius segera menindihnya.
"Maafkan aku untuk kata-kata tadi di pesta," bisik Aurelius di sela napasnya yang memburu. "Aku harus melakukannya agar mereka tidak curiga."
"Aku benci kau saat memakai jas itu, Ren," jawab Hana sambil menarik Aurelius lebih dekat, jemarinya merambat di punggung Aurelius, merasakan setiap inci kulit yang ia rindukan. "Tapi aku lebih benci saat kau tidak ada di sampingku."
Malam itu, kemewahan Paris memudar. Di dalam kamar itu, tidak ada Bangsawan Aurelius Renzo atau Pengusaha Hana Asuka. Yang ada hanyalah dua jiwa yang telanjang, mencari penebusan atas waktu yang hilang.
Setiap sentuhan Aurelius terasa seperti api yang membakar sisa-sisa kedinginan di tubuh Hana. Gaun biru malam itu perlahan terlepas, mengekspos keindahan Hana yang kini tampak lebih matang dan tegar. Aurelius menciumi setiap inci kulit Hana, dari leher hingga bahunya, memberikan tanda posesif yang menyatakan bahwa wanita ini adalah miliknya—dan hanya miliknya.
Ketika mereka menyatu, seolah-olah seluruh dunia berhenti berputar. Ritme gairah mereka selaras dengan detak jantung yang memburu. Setiap goyangan pinggul Aurelius yang bertenaga disambut oleh desahan lembut Hana yang memenuhi ruangan. Tidak ada kata-kata yang diperlukan; tubuh mereka bicara tentang rindu yang tak terkatakan, tentang malam-malam dingin di Berlin dan Tokyo di mana mereka hanya bisa menatap bulan yang sama.
Harmoni malam itu tercipta dari gerakan yang intens namun penuh perasaan. Hana mencengkeram bahu Aurelius, memanggil namanya dengan suara parau saat gelombang kenikmatan menghantamnya berulang kali. Aurelius tidak memberikan ruang bagi Hana untuk berpikir tentang Sophia, tentang Maximilian, atau tentang kontrak-kontrak korporat. Malam ini, ia adalah milik Hana sepenuhnya.
Waktu seolah melambat. Mereka melakukannya berulang kali, mengeksplorasi kembali setiap titik sensitif yang pernah mereka hafal di apartemen Tokyo. Gairah itu tidak kunjung padam; justru semakin membara seiring berjalannya waktu.
Hingga akhirnya, gembok cahaya matahari mulai menyelinap di sela-sela tirai jendela. Semburat jingga dan merah muda menyinari Paris, namun Aurelius masih mendekap Hana erat di bawah selimut yang berantakan.
Napas mereka perlahan mulai teratur. Aurelius mengecup kening Hana yang berkeringat, memeluknya seolah-olah ia tidak akan pernah membiarkan wanita ini pergi lagi.
"Kau harus kembali ke hotelmu sebelum asistenmu bangun," bisik Aurelius, suaranya mengandung kesedihan yang mendalam.
Hana menyandarkan kepalanya di dada bidang Aurelius, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang. "Aku tahu. Perang kita belum selesai, bukan?"
Aurelius mempererat pelukannya. "Belum. Tapi mulai hari ini, kau tahu bahwa aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku hanya sedang menyiapkan tempat yang lebih aman untuk kita. Tetaplah menjadi 'Wanita Besi' itu di depan dunia, Hana. Dan biarkan aku menjadi 'Ren' yang hanya milikmu saat malam tiba."
Hana menatap mata Aurelius, melihat janji yang tak tergoyahkan di sana. Ia bangkit perlahan, mengenakan pakaiannya kembali di bawah tatapan posesif Aurelius. Sebelum ia melangkah keluar, Hana berbalik.
"Sampai bertemu di puncak, Aurelius."
Aurelius tersenyum—senyum tulus yang bisa meruntuhkan seluruh takhta Hohenzollern. "Aku menunggumu di sana, Ratu-ku."
Pintu tertutup. Hana melangkah pergi bersama Yoto menuju fajar Paris yang dingin, namun kali ini hatinya tidak lagi kosong. Ia memiliki api yang cukup untuk membakar siapa pun yang berani menghalangi jalan mereka menuju kebebasan sejati.