Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MULAI AKRAB
Belinda bangkit dari tempat tidur.
Ia menatap ke arah jendela.
Ia lalu berdiri dan berjalan ke arah jendela.
Ia memandangi pemandangan di luar.
Di tepi pantai, ada seorang lelaki yang menghadap kelaut.
Ia memandangi laut, sambil melipat tangannya.
Lelaki itu adalah paman yang semalam menemaninya.
Paman itu mungin tingginya 180 cm karena dia saja memandanginya agak mendongak, padahal ia memiliki tinggi 157 cm.
Paman siapakah kamu sebenarnya?
Apa yang kamu inginkan dariku?
Hatinya bergumam.
Belinda lalu tidur kembali ke atas tempat tidurnya, dia memejamkan matanya, berharap semua ini hanya mimpi.
Belinda tiba-tiba merasakan ada yang menepuk pundaknya.
"Hei ayo, bersihkan badanmu!" Bram membangunkan Belinda yang terlelap tidur. "Kamu sudah seharian tidak mandi."
Belinda terbangun dan dia melihat paman sudah berganti dengan pakaian baru. Kacamata hitamnya tidak ada lagi, yang ada kini baju kaos berwarna coklat yang dipakainya. Mukanya terlihat mulai jelas oleh Belinda. Walau ada tanda bekas sayatan di pelipisnya, paman masih tergolong berwajah tampan untuk ukuran penjahat menurut Belinda. Dia memiliki rahang yang kokoh, badan kekar, dan pundak yang lebar.
Belinda bangun dari tidurnya..
" Tidak mau!"
"Hei, nanti baumu merusak aroma di ruangan ini anak manja!"
"Cepatlah!"
"Kamu harus mandi, kita akan buat video untuk ayahmu!"
"Tidak mau!"
Bram tidak sabar lagi, ia lalu mengangkat badan Belinda dengan satu tangannya, mengangkatnya lalu membawanya ke kamar mandi, menjatuhkannya ke dalam bathtub, dinyalakannya tombol air mengucur deras dari shower.
Belinda basah, dia berusaha meronta, tapi ditekan Bram badannya. Bram menggosokkan air ke badan dan baju Belinda yang kotor. Ditekannya tombol di botol sabun cair, diairinya sabun itu dan dibalurinya keseluruhan badan Belinda. Dia emosi dengan sikap kekanak-kanakan Belinda.
Dia lalu menyirami lagi tubuh Belinda dari air shower itu. Belinda menangis. "jangan sentuh aku paman, sakittt!," Belinda menangis.
Dengan sigap Bram lalu melepaskan pakaian yang ada di badan Belinda.
Ia tidak memperdulikan lagi, dengan tangisan Belinda, ditutupnya badan Belinda dengan handuk, lalu diangkatnya dan didudukkannya kembali di atas kasur. Belinda dipakaikannya baju baru.
Dalam pikirannya anak kecil ini akan berhenti menangis kalau dia sudah kenyang dan mandi. Belinda menangis. Dia tidak pernah menyangka bakal ada orang asing yang akan mengganti pakaiannya seperti tadi, dia malu sekaligus bercampur takut. Dia masih menangis.
Bram menyisir rambut belinda yang panjang. Saat menyisir rambut Belinda itulah Bram mulai sadar, ia tadi memandikan anak gadis. Pekerjaan yang tidak pernah dia lakukan, aneh sekali rasanya.
Bahkan tadi saat memandikannya seakan ia tidak menyadarinya, barulah saat semua sudah selesai dia lakukan barulah ia teringat bahwa Belinda bukan anak-anak. Dia adalah gadis remaja walau badannya kecil tapi tubuhnya sudah menunjukkan ciri-ciri sudah baliq.
Gadis kecil yang ada di depannya ini bukanlah gadis kecil. Dia membaca profile gadis ini, ia berumur 17 tahun. Dia bukan gadis kecil lagi. Badannya saja yang kecil langsung, dia gadis remaja.
Belinda sudah berhenti menangis.Dia mengusap air matanya. Dia menatap pada Bram pun menatap dengan pandangan dingin padanya.
Bram berusaha mencerna isi pikirannya. Entah kaki tangannya yang mana memilihkan baju untuk dipakai gadis ini, ini tidak jauh beda dari baju yang gadis ini pakai kemarin.
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆