NovelToon NovelToon
Kilat Di Atas Arrinra

Kilat Di Atas Arrinra

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: Anton Firmansyah

Seorang Kaisar pengendali petir menyamar menjadi kuli bangunan demi membangun kembali bangsanya, namun ia justru menemukan cinta yang memaksanya meruntuhkan tradisi kuno demi seorang pria biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anton Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: BAYANGAN DI SELA RERUNTUHAN

Langit di atas Ibukota Arrinra tidak pernah benar-benar tenang sejak Serena Arrinra menduduki takhta. Meskipun ekonomi mulai merangkak naik dan hukum mulai ditegakkan, ada sisa-sisa kegelapan yang tidak bisa dibersihkan hanya dengan kebijakan politik. Di pinggiran ibukota, terdapat sebuah wilayah bernama Distrik Kelabu, sebuah pemukiman kumuh yang sedang dalam tahap renovasi besar-besaran. Di sanalah, horor yang sebenarnya mulai menampakkan wajahnya.

Serena berdiri di balkon istananya, memandang peta wilayahnya yang luas—2.001.103 Km^2. Namun, matanya tertuju pada laporan-laporan misterius dari Distrik Kelabu.

"Sudah berapa orang yang hilang dalam tiga hari terakhir, Paman Bram?" tanya Serena tanpa menoleh.

Paman Bram, yang berdiri di belakangnya dengan tangan terlipat, menghela napas berat. "Tujuh orang, Yang Mulia. Semuanya adalah pekerja konstruksi dan beberapa penduduk lokal. Mereka yang selamat bicara tentang bayangan yang tidak memiliki raga, suara tangisan di sela-sela reruntuhan bangunan lama, dan hawa dingin yang sanggup membekukan darah."

Serena berbalik, jubah kebesarannya berkibar pelan. "Ini bukan sekadar takhayul rakyat. Ini adalah serangan. Para mantan bangsawan yang kita singkirkan tidak punya lagi tentara, jadi mereka menggunakan setan."

"Dewa penasihat menyarankan untuk mengirim pasukan pembersihan dan membumihanguskan distrik itu, Yang Mulia," lapor Bram ragu.

"Membumihanguskan rumah rakyat yang baru saja mulai kita bangun kembali?" Serena mendengus dingin. "Itulah yang diinginkan para penghianat itu—agar rakyat membenciku karena aku menghancurkan harapan mereka. Tidak. Aku sendiri yang akan turun tangan."

"Tapi Yang Mulia, Anda adalah Kaisar! Jika sesuatu terjadi—"

"Jika Kaisar mereka takut pada bayangan, maka rakyatnya akan hidup dalam kegelapan selamanya, Paman. Siapkan pakaian ninjaku. Aku berangkat tengah malam nanti."

Infiltrasi ke Jantung Ketakutan

Tengah malam tiba. Ibukota Arrinra diselimuti kabut tebal yang tidak wajar. Serena, mengenakan pakaian ninja hitam yang menyerap cahaya, bergerak secepat kilat di atas atap-atap gedung. Ia mendarat di perbatasan Distrik Kelabu tanpa suara.

Suasana di sana mencekam. Bangunan-bangunan setengah jadi berdiri seperti kerangka raksasa di bawah sinar rembulan yang pucat. Bau lembap dan aroma kemenyan yang samar tercium di udara.

"Keluar kalian, pengecut!" gumam Serena pelan. Ia bisa merasakan getaran di pedang Raijin-nya. Pedang itu seolah berbisik, memperingatkan adanya energi negatif yang pekat.

Tiba-tiba, suara tawa melengking terdengar dari arah reruntuhan gudang tua. Hihihihi...

"Siapa di sana?" seru Serena, tangannya sudah berada di gagang pedang.

Sesosok bayangan hitam tinggi besar perlahan muncul dari balik tembok yang retak. Namun, bayangan itu tidak memiliki bentuk wajah yang jelas, hanya lubang hitam di tempat mata dan mulutnya berada. Di belakangnya, muncul puluhan makhluk kecil yang merangkak dengan cara yang tidak alamiah—Tuyul Hitam yang telah dimantrai dengan darah bangsawan.

"Kaisar wanita yang cantik..." sebuah suara serak bergema dari arah bayangan itu. "Kau pikir kau bisa mengubah takdir Arrinra? Tanah ini milik kami, para penguasa lama. Kau hanya pencuri yang membawa cahaya palsu."

"Pencuri?" Serena menarik pedang Raijin-nya. Kilatan listrik biru segera menerangi gang sempit itu. "Aku mengambil kembali apa yang kalian rampas dari rakyat selama puluhan tahun. Jika kalian menyebut diri kalian penguasa lama, kenapa kalian bersembunyi di lubang tikus seperti ini?"

"Hancurkan dia!" perintah suara itu.

Makhluk-makhluk kecil itu melompat ke arah Serena dengan kecepatan yang luar biasa. Serena bergerak dengan gerakan bela diri yang lincah. Ia tidak menggunakan kekuatan penuhnya dulu; ia ingin memancing siapa dalang di balik semua ini.

Plakk! Bug!

Serena menendang salah satu makhluk itu hingga terpental menghantam dinding batu. Namun, makhluk itu tidak mati; tubuhnya justru mencair dan menyatu kembali.

"Ilmu Hitam Rogo Sukmo..." batin Serena. "Mereka bukan makhluk fisik, mereka adalah proyeksi kebencian."

Serena memejamkan matanya, memanggil energi dari pusat batinnya. Ilmu Petir Langit: Pemurnian Cahaya!

Ia tidak mengayunkan pedangnya, melainkan menusukkannya ke tanah. Arus listrik yang sangat terang menjalar di permukaan tanah, membentuk jaring-jaring cahaya biru yang menyilaukan. Makhluk-makhluk itu berteriak kesakitan saat terkena aliran listrik. Suara mereka melengking seperti babi yang disembelih, memenuhi malam yang sunyi.

Dialog di Sela Debu

Di tengah pertempuran itu, Serena melihat sesosok manusia yang terikat di pilar bangunan. Itu adalah salah satu warga yang hilang. Di dekatnya, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan jubah sutra yang kotor—mantan Kadipaten dari wilayah Selatan yang telah dicopot jabatannya oleh Serena setahun lalu.

"Kadipaten Wiryo!" seru Serena, suaranya menggelegar di sela suara guntur kecil. "Berhenti sekarang, atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi!"

Wiryo tertawa gila, matanya merah karena terlalu banyak mengonsumsi ramuan hitam. "Terlambat, Ratu Kilat! Darah rakyat ini sudah cukup untuk membangkitkan Banaspati Agung! Kau akan melihat Arrinra terbakar!"

"Kau mengorbankan rakyatmu sendiri hanya untuk takhta yang sudah hilang?" Serena mendekat dengan langkah mantap. "Kau bukan hanya penghianat, kau adalah monster yang sesungguhnya di sini."

"Rakyat adalah alat! Mereka hanya angka di atas kertas pajaku!" teriak Wiryo. Ia mengangkat sebuah belati hitam ke arah sandera.

Sebelum belati itu mendarat, sebuah benda berat melesat dari kegelapan dan menghantam tangan Wiryo. Klang! Belati itu terlempar.

"Siapa itu?!" teriak Wiryo panik.

Seorang pemuda muncul dari balik tumpukan bata konstruksi. Dia mengenakan pakaian kuli yang dekil, namun matanya memancarkan keberanian yang luar biasa. Dia memegang sebuah linggis besar di tangannya.

"Anton?" Serena terkejut, namun tetap waspada. "Kenapa kau selalu muncul di tempat-tempat berbahaya?"

Anton menyeringai kecil sambil mengatur napasnya. "Saya sedang lembur menjaga semen-semen ini dari pencuri, Yang Mulia. Tapi sepertinya yang datang justru lebih buruk dari pencuri. Saya tidak bisa diam saja melihat warga saya diperlakukan seperti binatang."

"Menyingkir, Anton! Ini bukan levelmu!" perintah Serena.

"Mungkin tidak," jawab Anton tenang. "Tapi saya tahu bangunan ini. Pilar di belakang Wiryo itu sudah rapuh. Jika Anda bisa memberikan satu hantaman petir ke sudut atas, seluruh atap itu akan jatuh menimpanya tanpa melukai sandera."

Serena menatap Anton sejenak, lalu melihat struktur bangunan yang disebutkan. Insting Anton sebagai kuli bangunan benar-benar akurat.

"Percayalah padaku, Serena!" seru Anton.

Serena mengangguk. Ia melompat tinggi ke udara. Tubuhnya seolah-olah menjadi satu dengan awan hitam yang menggantung di atas ibukota.

Jurus Petir Langit: Panah Raijin!

Satu kilatan besar menyambar tepat di titik yang ditunjukkan Anton. KRAAAAKKK!

Struktur atas bangunan tua itu runtuh seketika. Debu membubung tinggi. Wiryo tertimbun di bawah reruntuhan kayu dan batu, sementara sandera di pilar tetap aman karena terhalang oleh sudut tembok yang masih kokoh.

Setelah Badai Redu

Serena mendarat dengan anggun di samping Anton. Debu konstruksi menempel di pakaian ninjanya. Ia segera memeriksa sandera dan melepaskan ikatannya.

"Bawa dia ke klinik terdekat, Anton," ujar Serena pelan.

Anton mengangguk, ia membopong warga yang pingsan itu. Namun, sebelum pergi, ia berhenti dan menatap Serena yang masih memegang pedang berkilatnya.

"Anda benar-benar hebat, Yang Mulia. Tapi... apakah Anda harus melakukan ini sendirian setiap malam?" tanya Anton. Suaranya mengandung nada empati yang dalam, bukan sekadar rasa hormat rakyat kepada penguasa.

Serena terdiam sejenak. Ia menyarungkan pedangnya. "Ini adalah tugasku, Anton. Aku sudah bersumpah untuk melindungi kekaisaran ini."

"Melindungi kekaisaran tidak berarti Anda harus memikul seluruh bebannya sendirian," sahut Anton berani. "Bahkan pondasi bangunan yang paling kuat pun butuh penyangga di sekelilingnya agar tidak runtuh."

Serena menatap wajah Anton yang kotor terkena debu semen. Di bawah cahaya rembulan, pemuda itu tampak lebih dewasa dari usianya yang 25 tahun. Ada kejujuran yang menenangkan di matanya.

"Kau terlalu banyak bicara untuk seorang kuli bangunan, Anton," ucap Serena, namun kali ini suaranya tidak dingin. Ada seulas senyum tipis di bibirnya yang tersembunyi di balik cadar.

"Mungkin karena saya sering membangun rumah, jadi saya tahu kapan sebuah bangunan—atau seseorang—butuh istirahat," balas Anton. "Pulanglah ke istana, Yang Mulia. Biarkan kami, rakyat kecil, yang menjaga sisa malam ini. Kami punya obor dan kami punya keberanian yang Anda berikan pada kami dua tahun lalu."

Serena mengangguk pelan. "Hati-hatilah, Anton. Wiryo mungkin sudah tertangkap, tapi akar kegelapan ini sangat dalam."

"Selama ada cahaya petir Anda di langit, kami tidak akan pernah kehilangan arah," ujar Anton sambil memberikan hormat sebelum menghilang di balik kegelapan untuk menolong warga tadi.

Politik dan Bayangan

Kembali ke istana, Serena tidak segera beristirahat. Ia memanggil Paman Bram dan memberikan daftar nama-nama menteri yang diduga masih menjalin hubungan dengan Wiryo.

"Tangkap mereka semua besok pagi. Lakukan di depan umum agar rakyat tahu bahwa tidak ada tempat bagi mereka yang bersekutu dengan kegelapan," perintah Serena.

"Baik, Yang Mulia. Tapi ada satu hal lagi..." Bram ragu sejenak. "Para intelijen melaporkan bahwa rakyat mulai membicarakan tentang pemuda kuli bangunan yang sering terlihat di dekat Anda. Mereka menyebutnya sebagai 'Pemuda Beruntung'. Para bangsawan yang masih setia mulai berbisik-bisik, Yang Mulia. Mereka bilang, tidak pantas seorang kaisar wanita dekat dengan rakyat jelata, apalagi seorang kuli."

Serena mengepalkan tangannya di atas meja jati. "Rakyat jelata itu menyelamatkan nyawa sandera malam ini sementara para bangsawan itu bersembunyi di balik selimut sutra mereka. Katakan pada mereka, jika mereka punya masalah dengan siapa yang kutemui, mereka bisa berhadapan langsung dengan pedang Raijin."

"Tapi Yang Mulia, tradisi kekaisaran—"

"Tradisi adalah apa yang membuat kekaisaran ini hampir runtuh sepuluh tahun lalu, Paman," Serena memotong dengan tegas. "Aku tidak kembali dari Gunung Ijen untuk menjadi boneka tradisi. Aku kembali untuk membangun Arrinra yang baru."

Bram menunduk hormat. "Saya mengerti, Yang Mulia."

Setelah Bram pergi, Serena duduk di kursi kerjanya. Ia melihat tangannya sendiri yang sedikit bergetar. Bukan karena takut, tapi karena ia menyadari bahwa perasaan yang ia miliki terhadap Anton mulai melampaui rasa terima kasih.

"Apakah ini yang Guru Ki Ageng katakan tentang cinta yang membumi?" bisik Serena pada dirinya sendiri.

Di luar jendela, fajar mulai menyingsing di atas Ibukota Arrinra. Debu konstruksi di Distrik Kelabu mungkin masih beterbangan, tapi bagi Serena, reruntuhan itu bukan lagi simbol kehancuran, melainkan pondasi bagi sesuatu yang lebih besar—sesuatu yang melibatkan hati, politik, dan mungkin, sebuah masa depan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Kekaisaran Ser seluas dua juta kilometer persegi itu masih penuh dengan tantangan, namun malam ini, Serena belajar satu hal penting: bahkan seorang ninja petir sekalipun butuh seseorang untuk berdiri di sampingnya saat badai mereda.

1
anggita
like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!