Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Makan malam di vila tepi pantai itu seharusnya menjadi momen yang romantis. Ragas, kepala pelayan pulau yang berwajah teduh dan selalu tersenyum sopan, telah menyiapkan hidangan laut panggang kelas atas di meja panjang yang menghadap langsung ke lautan malam. Cahaya lilin berpendar lembut, memantul di gelas anggur kristal.
Anya yang biasanya makan seperti orang kesurupan, malam itu makan dengan sedikit lebih pelan. Ia menyadari tatapan Kaelan padanya sejak sore tadi di pantai terasa... berbeda. Tidak ada lagi kilat tajam yang mengintimidasi. Tatapan pria itu kini lebih dalam, lebih menahan diri, dan entah mengapa membuat perut Anya dipenuhi ribuan kupu-kupu tak kasatmata.
Namun, di pertengahan hidangan penutup, suasana tiba-tiba berubah.
Kaelan, yang sedari tadi menyesap anggur merahnya dalam diam, tiba-tiba meletakkan gelasnya dengan sedikit keras hingga anggurnya tumpah. Wajahnya yang sejak sore terlihat santai, kini memucat pasi. Keringat dingin kembali mengucur di dahinya, persis seperti kejadian di ruang kerjanya tempo hari.
"Kaelan?" panggil Anya, meletakkan sendok pudding-nya. "Kau kenapa lagi? Mukamu sepucat mayat."
Kaelan mencengkeram tepi meja. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga urat lehernya menonjol. Ia memejamkan mata kuat-kuat, mencoba menahan erangan yang hampir lolos dari tenggorokannya. Sakit kepalanya datang lagi, kali ini berkali-kali lipat lebih hebat dari sebelumnya. Pemandangan di sekelilingnya mulai berputar, suara debur ombak terdengar seperti dengungan lebah raksasa.
"Obatku..." desis Kaelan parau, suaranya nyaris tak terdengar. Ia merogoh saku dalam jasnya dengan tangan gemetar, tapi kantong itu kosong. "Sial. Tertinggal... di penthouse."
Anya bangkit dari kursinya dengan panik, berlari menghampiri Kaelan. "Obat apa?! Obat sakit kepala? Ragas! Ragas, bawakan kotak P3K!" teriak Anya memanggil pelayan.
Ragas segera berlari menghampiri meja makan. Wajah pelayan tua itu tidak terlihat panik, melainkan pias karena suatu pemahaman yang kelam. Ia menatap Kaelan yang kini menunduk, meremas rambutnya sendiri seolah ingin mencabutnya.
"Tuan Kaelan..." gumam Ragas pelan, nada suaranya penuh kekhawatiran yang mendalam.
"A-Anya," Kaelan mengangkat wajahnya, menatap gadis itu dengan tatapan memohon yang menyayat hati. "Aku harus ke kamarku sekarang. Jangan... jangan masuk ke kamarku malam ini, apa pun yang kau dengar. Mengerti?"
"Tapi kau butuh dokter!" bantah Anya keras kepala.
"Kumohon, Anya! Lakukan saja perintahku!" bentak Kaelan, suaranya bergetar hebat antara kemarahan dan rasa sakit.
Itu adalah pertama kalinya Kaelan membentak Anya dengan nada putus asa seperti itu. Anya terdiam, matanya membelalak kaget.
Dengan sisa tenaganya, Kaelan bangkit, terhuyung-huyung melangkah meninggalkan meja makan, dibantu oleh Ragas yang langsung memapahnya menuju kamar utama di lantai dua. Anya hanya bisa berdiri terpaku, menatap punggung suaminya yang perlahan menghilang di balik pintu kayu yang tebal.
Malam itu, Anya tidur di kamar tamu yang terpisah jauh dari kamar Kaelan. Namun, tidur bukanlah hal yang mudah. Berjam-jam lamanya, Anya berguling gelisah. Pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang obat apa yang tertinggal, penyakit apa yang disembunyikan Kaelan, dan rasa bersalah karena ia tidak bisa melakukan apa-apa.
Dari arah kamar Kaelan, tidak terdengar suara bantingan barang atau erangan. Hanya keheningan yang menyesakkan. Kaelan mengurung dirinya sendiri, bertarung sendirian melawan iblis di dalam kepalanya yang membuat pria itu merasa mual, pusing, dan seolah tubuhnya sedang dicabik-cabik dari dalam.
Sinar matahari pagi yang cerah menembus masuk melalui celah gorden kamar Anya. Ia terbangun dengan mata panda dan rambut wolf-cut yang mencuat ke segala arah seperti tersambar petir. Malam tadi adalah malam terburuknya sejak ia datang ke pulau ini.
Dengan langkah gontai dan piyama bermotif kotak-kotaknya, Anya berjalan menuruni tangga menuju dapur luar ruangan, berniat membuat kopi paling hitam yang bisa ia temukan untuk mengusir kantuk dan rasa khawatirnya.
Namun, pemandangan di ruang tengah membuatnya berhenti melangkah, mengucek matanya berkali-kali, lalu mencubit lengannya sendiri dengan keras.
Aduh! Sakit! Berarti aku tidak mimpi.
Di sofa ruang tengah, duduk seorang pria. Pria itu memiliki perawakan, wajah, dan rambut yang persis 100% dengan Kaelan. Namun... penampilannya benar-benar bertolak belakang dengan bos mafia es yang Anya kenal.
Jenggot tipis dan rahang kokoh yang biasanya membuat Kaelan terlihat maskulin dan mengintimidasi, kini telah dicukur habis, licin dan mulus. Rambutnya yang biasa disisir rapi ke belakang, kini ditata sedikit berantakan dengan gaya messy-boyish.
Dan yang paling membuat rahang Anya nyaris lepas adalah... pria itu mengenakan kemeja berbahan sutra berwarna merah muda cerah (hot pink), dengan tiga kancing teratas sengaja dibuka, dipadukan dengan celana pendek linen putih!
Pria itu sedang tertawa riang, memegang sebuah cupcake stroberi dengan frosting tebal di tangannya. Ragas, sang pelayan tua yang semalam terlihat begitu khawatir, kini sedang menuangkan teh chamomile ke cangkir pria itu dengan senyum kebapakan.
Mendengar langkah kaki Anya, pria berbaju pink itu menoleh. Matanya yang hitam legam—mata yang sama persis dengan Kaelan—langsung berbinar terang.
Pria itu melompat dari sofa, meletakkan cupcake-nya, dan berlari kecil menghampiri Anya dengan senyum paling cerah, paling energik, dan paling... manis yang pernah Anya lihat seumur hidupnya.
"Selamat pagi, Anya!" sapa pria itu dengan nada suara yang nyaring, ramah, dan sedikit lebih tinggi dari suara berat Kaelan biasanya. Ia merentangkan kedua tangannya seolah ingin memeluk Anya, namun berhenti tepat pada waktunya saat melihat wajah syok gadis itu. "Ahh... akhirnya aku terbangun juga! Rasanya seperti tidur seratus tahun di dalam lemari gelap!"
Anya mematung. Otaknya hang. Mulutnya membuka dan menutup seperti ikan koi kehabisan air. Ia menatap pria berbaju pink itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"K-Kaelan?" cicit Anya, suaranya nyaris hilang. "Kau... kepalamu terbentur meja makan semalam? Kenapa kau pakai baju... pink? Dan di mana jenggotmu?!"
Pria itu tertawa pelan, tawa yang renyah dan sama sekali tidak memiliki aura membunuh. Ia mengibaskan tangannya dengan gaya sedikit gemulai.
"Ya ampun, Anya! Jangan panggil aku dengan nama si kaku dan membosankan itu," ucap pria itu ceria, matanya menyipit karena tersenyum lebar. Ia meletakkan sebelah tangannya di dada, membungkuk sedikit dengan gaya teatrikal. "Perkenalkan, namaku Milo. Dan kau pasti istri kontrak yang sering diomelinya itu, kan? Astaga, kau manis sekali aslinya! Rambutmu sangat edgy!"
Anya merasa kepalanya pening seketika. Ia menoleh ke arah Ragas yang sedang berdiri di dekat meja teh. Pelayan tua itu mengangguk pelan, memberikan tatapan penuh arti pada Anya.
Di pulau terpencil ini, pelayan-pelayan setia Kaelan sudah tahu rahasia terbesar sang Ketua Klan Obsidian. Rahasia kelam yang muncul akibat trauma masa kecilnya yang sangat berat. Sebuah mekanisme pertahanan diri yang ekstrem.
Kaelan memiliki kepribadian ganda. Alter ego.
Sisi Kaelan adalah bos mafia berdarah dingin yang mematikan. Namun, saat pikirannya terlalu tertekan dan ia lupa meminum obat penenangnya, Kaelan akan "tertidur", dan tubuhnya akan diambil alih oleh Milo.
Sisi Kaelan yang sangat feminin, energik, cerewet, menyukai warna merah muda, dan anehnya... berteman baik dengan Ragas si pelayan tua.
"M-Milo?" beo Anya, kakinya lemas, terpaksa bersandar pada pegangan tangga. "Astaga naga... aku menikah dengan mafia psikopat, dan sekarang aku harus menghadapi kembarannya yang suka warna pink?!"
Milo terkikik geli, meraih tangan Anya dengan santai dan menarik gadis tomboy itu ke arah sofa. "Ayo duduk, Anya! Ragas membuat cupcake stroberi yang luar biasa enak hari ini! Oh, dan kita harus merias wajahmu nanti, kulitmu sedikit kering karena angin laut!"
Anya menatap cupcake stroberi yang disodorkan Milo ke depan wajahnya. Hari liburnya di surga tropis ini baru saja berubah menjadi episode sitkom komedi yang sangat absurd. Si Tomboi Preman Pasar kini harus menghadapi Si Imut Mafia versi Hot Pink.