Lanjutan dari "Pesona Si Kembar (Ada Cerita Di Balik Gerbang Sekolah)"
Rachel dan Ronand menapaki jenjang pendidikan kuliah. Jurusan yang mereka ambil pun berbeda. Ronand dengan sifat serius dan sikap misteriusnya membuat banyak orang penasaran. Sedangkan Rachel, dengan gaya selengekannya namun selalu mencengangkan tentang prestasinya.
Di balik gerbang kampus, mereka mengukir cerita yang baru. Dimulai dari kekeluargaan, persahabatan, dan percintaan yang rumit. Semua akan menjadi satu padu dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosial Media
Jaman sekarang, sosial media memang lah sangat kejam. Hanya sebuah video dan rekaman suara, semuanya menjadi viral. Apalagi ini tentang kasus kekerasan dan pembullyan, cepat sekali menyebar. Rekaman suara yang diunggah Ronand melalui sosial media milik kampus, tidak bisa dihapus. Hal itu membuat pihak kampus ketar-ketir jika ini terdengar sampai ke luar.
Hujatan terus dilayangkan oleh banyak orang di kolom komentar. Apalagi kolom komentar tidak bisa dibatasi dan ditutup. Padahal tim IT dari pihak kampus sudah berusaha keras. Bukannya membuahkan hasil, mereka harus gigit jari karena laptopnya rusak akibat ingin membobol kode yang dibuat oleh Ronand.
"Semua peserta OSPEK, dipulangkan lebih cepat. Untuk kegiatan esok hari, tunggu pemberitahuan dari kampus melalui grup." seru Radit memberikan pengumuman dadakan setelah dia dipanggil oleh Wakil Rektor.
Horeeee...
Komentar-komentar tajam yang dilayangkan oleh alumni dan mahasiswa selain panitia OSPEK, membuat pihak kampus semakin ketar-ketir. Akhirnya Radit selaku ketua BEM, dipanggil oleh beberapa dosen dan Wakil Rektor untuk klarifikasi. Ia pun juga tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Alhasil... Untuk menyelesaikan masalah ini, pihak kampus meminta Radit untuk memulangkan peserta OSPEK lebih cepat.
"Kok kita dipulangkan cepat? Bukannya masih ada kegiatan sampai jam 6 nanti. Ya walaupun aku senang-senang aja sih," tanya Rachel tampak kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Mungkin karena video viral di sosial media kampus," jawab Restu dengan raut wajah polosnya. Seakan dia tak mengetahui siapa yang menjadi penyebab dihentikannya kegiatan OSPEK ini.
"Video viral?" tanya Rachel yang memang belum membuka ponsel. Pasalnya ponsel miliknya masiu dibawa oleh Ronand karena tadi habis dari toilet langsung masuk aula.
"Ya. Tentang pembullyan di kampus ini," Restu tak menjelaskan secara detail tentang kasus ini melibatkan siapa. Apalagi kasus yang diangkat adalah kejadian Rachel dikunci di kamar mandi.
Rachel sama sekali belum menceritakan kejadian pembullyan ini dan apa yang terjadi saat di toilet. Dia belum sempat, apalagi tadi main kejar-kejaran dengan Susan. Ia juga belum menceritakan rekaman di jam tangan yang diberikan oleh Ronand. Apalagi Ronand dan Susan juga tampak seperti orang yang tidak peduli dengan kejadian ini. Keduanya malah asyik makan cemilan berdua sambil suap-suapan setelah keluar dari aula.
"Biarin aja lah, aku nggak peduli. Malah untung, pulang cepat lalu bisa tidur." ucap Rachel dengan santainya. Justru kegiatan pengenalan kampus ini, menurutnya sangat tidak sesuai dengan tujuannya. Sehingga ia malas untuk terlalu lama berada di sini.
Ehemm...
Eh...
"Ngapain lagi? Mau marah-marah lagi," serunya saat melihat siapa orang yang baru saja datang.
"Enggak. Aku disuruh Pak Wawan untuk membawa kamu ke ruangannya," ucap seorang laki-laki dengan jas almamaternya. Dia adalah Radit, sang ketua BEM yang disuruh wakil Rektor untuk membawa Rachel.
"Buat apa?" tanya Rachel dengan tatapan bingungnya.
"Untuk menjelaskan kasus rekaman suara viral itu," jelas Radit membuat Rachel menatap Ronand.
Tentu saja ia tak mau ke kantor wakil Rektor jika hanya sendiri. Harus ada Ronand atau siapapun itu. Walaupun ia belum tahu yang dimaksud adalah rekaman suara apa, namun Rachel sepertinya sudah mulai paham. Biasanya Ronand yang akan bergerak untuk menyelesaikan masalahnya, tanpa dia minta. Sedangkan wakil Rektor baru saja mendapatkan informasi tentang siapa saja yang terlibat dalam hal ini.
"Abang..." rengek Rachel pada Ronand agar kembarannya itu mau untuk menemaninya.
Huft...
"A..."
"Untuk yang tidak berkepentingan dan bersangkutan, tidak diperkenankan untuk ikut." sela Radit dengan nada datarnya.
"Dia adalah keluarga saya. Jadi saya berhak tahu apa yang terjadi dengannya," ucap Ronand tak kalah datarnya dalam berucap.
"Jika memang saya tak diperkenankan ikut, maka Rachel akan saya bawa pulang. Biarkan saja video itu viral dan nama baik kampus terkenal ini tercoreng," lanjutnya dengan sedikit ancaman.
Radit pun hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Ia akhirnya terpaksa mengijinkan Ronand untuk ikut menemani Rachel. Padahal dia ingin sekali jika Rachel hanya akan pergi bersamanya. Susan, Nicho, dan Restu juga mengikuti Ronand. Namun mereka akan menunggu di luar.
Sepertinya mereka ini tak dapat dipisahkan,
Semakin susah aku mendekati dia. Apalagi penampilan yang cowok, sepertinya dari kalangan orang berada. Bahkan dia tidak takut denganku yang berasal dari keluarga kaya,
***
"Tapi saya tidak melakukan itu, Pak. Saya difitnah. Itu bukan suara saya," seru Karin dengan raut wajah memelasnya.
Ternyata Karin juga diminta untuk datang ke kantor wakil Rektor karena namanya disebut dalam rekaman suara itu. Beberapa pertanyaan diajukan oleh wakil Rektor bernama Pak Wawan itu. Namun Karin menyangkal jika suara yang ada di dalam rekaman itu adalah suaranya. Rachel yang melihat keberadaan Karin di sana pun hanya tersenyum tipis.
"Maling mana ada yang mau ngaku," sindir Rachel saat memasuki ruang wakil Rektor itu.
"Kamu..." Karin menudingkan jari telunjuknya ke arah Rachel. Suaranya tertahan karena dia masih sadar jika berada di hadapan wakil Rektor. Yang ada, nasibnya sebagai mahasiswa di kampus, tamat hari ini juga.
"Apa? Udah dibilangin, nggak percaya sih." ledek Rachel mengungkit peringatannya di toilet tadi.
"Tertawa lah sebelum kamu tidak bisa tertawa," ucapnya yang kemudian duduk di sofa ruangan wakil Rektor bersama Ronand.
"Dia fitnah saya, Pak. Dia yang bersalah, bukan saya." seru Karin yang merasa terpojokkan.
Rachel duduk tenang sambil menggenggam tangan Ronand. Ia sedikit gugup menghadapi permasalahan pertamanya saat masuk kampus. Bagaimana pun juga, ia masih ingat dengan kejadian di sekolahnya dulu. Beberapa orang yang iri dengannya, selalu mencoba mencelakainya.
"Fitnah apa sih, Kakak Karin? Itu kan rekaman suara lho. Itu juga jelas suara dari Kakak Karin," ucap Rachel dengan sindirannya setelah mendengar rekaman suara yang diputar.
"Tapi kan tidak ada wajahnya. Tidak kelihatan, jadi belum tentu itu aku. Bisa saja suara oranglain," seru Karin dengan raut wajah marahnya.
"Suaranya Mbak Kunti?" tanya Rachel dengan polosnya.
"Ka..."
Diam...
"Kita di sini mau menyelesaikan masalah dan meminta klarifikasi. Bukan malah saling tuduh," sentak Pak Wawan yang kesal dengan Karin dan Rachel.
"Nama baik kampus sedang dipertaruhkan jika rekaman suara itu sampai tidak bisa hilang," lanjutnya.
Pihak Yayasan dan Rektor sudah menghubunginya agar segera menyelesaikan masalah ini. Beberapa wali mahasiswa juga mengaku kecewa dengan pihak kampus. Mereka khawatir jika anak mereka akan menjadi korban pembullyan. Mereka menuntut agar pelaku ditindak tegas dan pihak kampus mengambil langkah nyata.
"Karin, jika itu kamu. Minta maaf sama korban, jangan sampai ada yang menuntutmu agar keluar dari kampus ini. Kamu juga harus mencari cara agar video itu hilang dari sosial media kampus," ucapnya sambil menatap tajam pada Karin.
"Tapi itu..."