Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan dari jantung hutan
Pak Bram dan ibu Sarah segera membagi tugas.mereka membentangkan daftar nama di meja resepsionis,yang terbuat dari marmer dingin.
" satu kamar di isi oleh tiga orang.tak ada yang boleh menukar nomor kamar,tanpa seizin saya!" tegas pak Bram.
Denting-denting kunci yang saling beradu menciptakan irama yang ganjil di telinga laura.satu persatu kelompok siswa mulai menaiki tangga kayu yang berderit,menuju koridor-koridor panjang yang remang.
Laura berdiri di barisan paling belakang,membiarkan teman-temannya berebut kunci lebih dulu.
Laura mendapat kamar di ujung lorong lantai dua,sebuah kamar di ujung lorong dengan jendela besar yang menghadap langsung ke arah hutan lebat.teman-temannya sedang sibuk meletakkan tas dan melompat ke atas kasur empuk,namun Laura memilih berjalan ke arah jendela.di luar sana,di balik rimbunnya sebuah pohon dan kabut tebal,ia melihat sesuatu yang membuatnya terpaku.jauh di lereng gunung,terdapat sebuah bangunan kecil yang berbentuk kubah yang terbuat dari batu hitam.
" itu tempat apa?" gumam Laura.
" itu tempat terlarang nak," suara pemilik penginapan tiba-tiba terdengar dari ambang pintu kamar yang masih terbuka,membuat Laura kaget.
" jangan berpikir untuk mendekat ke sana,terlebih saat bulan mulai naik." pria itu kemudian berlalu tanpa penjelasan lebih lanjut,meninggalkan Laura dengan rasa ingin tahu yang membara dan denyutan aneh yang kembali terasa di ujung-ujung jarinya.
Suasana pegunungan yang tadinya riuh di dalam penginapan kini berganti menjadi derap langkah kaki yang teratur di atas tanah lembap.pak Bram dan ibu Sarah memimpin barisan,membawa para siswa menyusuri jalan setapak yang membelah deretan pohon.
Udara semakin dingin dan kabut mulai turun menyentuh pucuk-puncak kepala mereka.para guru menunjukan batas-batas aman di mana para siswa di perbolehkan beraktivitas.
" perhatikan tanda pita merah di bawah pohon itu!" seru pak Bram,sambil menunjuk ke arah hutan yang gelap.
" itu adalah batas terakhir kalian.jangan ada yang mencoba melewati pita itu,terutama setelah matahari terbenam."
Ibu Sarah menambahkan dengan nada yang lebih serius.
" hutan ini sangat luas dan menyesatkan.tanah di dalam sana tidak stabil,dan sering ada kabut tebal yang muncul tiba-tiba.tetaplah dalam kelompok."
Sebagian besar teman-teman Laura sedang sibuk bercanda.menganggap peringatan itu hanya sekedar prosedur keselamatan biasa.namun,Laura merasakan hal yang berbeda.
Sambil berjalan di barisan tengah,Laura terus menatap ke arah vegetasi yang lebih rapat.di sana,di balik pita merah yang di larang,hutan tampak bernapas.
Saat ia menatap lurus ke dalam kerimbunan pohon,Laura melihat siluet seseorang berdiri jauh di antara pepohonan yang gelap.sosok itu tidak bergerak,hanya memperhatikan barisan siswa dari kejauhan.Laura mengerjapkan mata.dan sosok itu menghilang sekejap bersamaan dengan embusan kabut.
Di hutan itu,para guru memandu siswa untuk berinteraksi langsung dengan ekosistem pegunungan.dari pinggiran bukit,mereka melihat kontur lembah dan sungai di bawahnya,untuk memahami struktur tanah di pegunungan.mencatat jenis pohon,lumut,dan tanaman pakis yang hanya tumbuh di pegunungan tersebut.
Pak Bram sesekali berjalan menyisir pinggir hutan,memastikan tak ada siswa laki-laki yang mencoba nekat melompati pembatas untuk mencari tantangan.
Di tengah hiruk pikuk teman-temannya yang tertawa dan berfoto,Laura justru terjebak dalam dunianya sendiri.
Matahari mulai tenggelam di balik cakrawala pegunungan, meninggalkan semburat warna ungu gelap yang mencekam di langit.kabut yang tadinya hanya setinggi mata kaki,kini mulai naik menyelimuti dasar bangunan penginapan tua itu.
Suara serangga hutan yang tadinya nyaring mendadak senyap.di gantikan deru angin yang bersiul di antara jendela kayu.
Setelah lelah berkeliling,Laura masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya sebelum makan malam.kamar itu remang-remang; teman-teman sekamarnya masih sibuk mengantre di kamar mandi luar.Laura mendekati meja kayu kecil,tempat ia meninggalkan buku catatan sekolahnya.
Saat ia membuka buku itu,jantungnya seolah berhenti berdetak.di halaman kosong yang seharusnya bersih,terdapat coretan tangan yang kasar,seolah di tulis dengan terburu-buru,menggunakan arang hitam.
" temui aku malam ini di balik pohon besar, dekat batas pita merah.aku punya jawaban tentang apa yang terjadi saat ini denganmu.jangan terlambat,atau Michael dan yang lainnya akan murka.
Laura menutup buku itu dengan keras.napasnya memburu.
" siapa yang bisa masuk ke kamar ini?dan bagaimana orang itu tahu tentang apa yang ku alami sekarang?"
Suasana di ruang makan penginapan sangat kontras dengan apa yang di rasakan laura.di bawah sinar lampu gantung yang kekuningan,para siswa menikmati sup hangat ayam bakar.suara tawa,denting sendok,dan obrolan tentang foto-foto study tour memenuhi ruangan.
Laura hanya mengaduk-aduk supnya.sesekali ia mencuri pandang ke arah meja pak guru.pak Bram,sedang tertawa bersama guru lain.namun pria tua pemilik penginapan itu berdiri di pojok ruangan, menatap lurus ke arah Laura dengan ekspresi datar yang sangat mengganggu.
Dalam kepalanya terjadi pergulatan hebat.laura sedang berada di titik terendah dalam perjuangannya melawan kekuatan gelap yang ia alami.
" mungkin pesan di buku itu adalah jebakan.semua guru sudah melarang keluar.jika aku tertangkap lagi seperti di gereja,aku akan makin terpojok.aku ingin berubah,aku ingin melawan semua ini sendirian."
Namun rasa penasaran itu seperti racun yang menyebar.pesan itu menyebut nama Michael.nama yang selama ini menjadi mimpi buruk bagi Laura dan marco.
" jika aku tidak pergi ke hutan,mungkinkah Michael akan datang ke penginapan ini dan membahayakan teman-temanku?" gumam Laura.
Saat jam makan malam hampir selesai dan semua siswa di minta kembali ke kamar untuk beristirahat,Laura semakin gelisah.ia menoleh ke arah jendela di ruang makan,yang berhadapan langsung ke arah hutan yang kini hitam pekat.di balik kegelapan itu,di balik pita merah yang di larang,ada seseorang yang sedang menunggunya.
" aku harus tau siapa dia.sekali ini saja.setelah itu,aku baru akan benar-benar berhenti." bisik Laura pada dirinya sendiri.
Malam semakin larut,namun suasana di penginapan tua itu justru semakin "hidup" dengan cara yang mengerikan.bagi para siswa lain,mungkin ini hanya bangunan kayu yang dingin.tapi bagi Laura,setiap sudut gedung ini sedang mengawasinya.
Lampu-lampu di koridor mulai meredup,mengeluarkan bunyi dengung listrik yang konsisten dan menyakitkan telinga Laura.
Di tengah keheningan terdengar suara " kriit...kriit..." dari lantai kayu di luar kamar,seolah ada seseorang yang sedang berjalan bolak-balik tanpa wujud.sesekali,terdengar suara ketukan pelan dari dalam dinding kayu seperti kuku uang menggaruk permukaan keras.
Udara di dalam kamar bukan lagi sekedar dingin pegunungan,melainkan dingin yang lembap dan berbau tanah kuburan.teman-teman sekamar Laura sudah terlelap,namun napas mereka terdengar berat dan tidak teratur,seolah mereka sedang mengalami mimpi buruk yang sama.
Di bawah celah pintu,Laura melihat bayangan hitam memanjang yang lewat berkali-kali.saat ia memberanikan diri mengintip, koridor itu kosong melompong,hanya menyisakan kegelapan yang pekat.