NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 Persiapan Menyambut Anggota Baru

Rabu sore, lima hari setelah mereka merasakan baby bergerak untuk pertama kalinya, Reyhan membawa Alya ke klinik untuk USG rutin. Kali ini istimewa karena mereka akan tahu jenis kelamin baby mereka.

Arka ikut, duduk di kursi samping ranjang pemeriksaan. Matanya berbinar penuh antusiasme.

"Mama, aku harap adiknya perempuan," katanya tiba-tiba.

Reyhan yang berdiri di samping Alya menatap anaknya dengan terkejut. "Kenapa perempuan? Bukannya kamu bilang mau ngajarin coding dan robot? Lebih gampang kalau adik kamu cowok."

Arka menggeleng serius. "Nggak, Yah. Perempuan juga bisa coding dan robot. Malah lebih keren kalau perempuan juga bisa. Kayak Marie Curie, Grace Hopper, sama Ada Lovelace."

Reyhan dan Alya saling pandang dengan senyum bangga. Anak ini dia bahkan sudah tahu tokoh-tokoh perempuan di dunia sains.

Dokter masuk dengan senyum ramah. "Selamat sore, keluarga Mahardika. Siap lihat baby-nya?"

"Sangat siap, Dok!" jawab Arka dengan semangat.

Dokter mengoleskan gel dingin di perut Alya yang sudah membuncit cukup jelas. Layar monitor menyala, menampilkan gambaran yang kali ini jauh lebih jelas dari USG pertama.

"Ini kepalanya," kata dokter sambil menunjuk layar. "Ini tangannya, kaki, dan... oh, baby-nya lagi aktif nih. Lihat, dia lagi gerak-gerak."

Mereka semua menatap layar dengan takjub melihat baby yang bergerak-gerak di dalam perut Alya.

"Pertumbuhannya sangat bagus," lanjut dokter sambil mengukur beberapa parameter. "Berat sekitar 300 gram. Sangat sesuai dengan usia kehamilan 16 minggu."

"Dok," kata Arka tiba-tiba, "kita bisa tau adik aku cowok atau cewek?"

Dokter tersenyum. "Bisa. Tapi kamu pengen tau sekarang atau pengen surprise?"

Arka menatap Reyhan dan Alya. "Ayah, Mama, kita tau sekarang atau nanti?"

"Kamu yang tentuin, Nak," jawab Reyhan. "Ini juga adik kamu."

Arka berpikir sejenak, lalu berkata dengan serius, "Aku mau tau sekarang. Biar aku bisa persiapan."

Dokter tertawa mendengar alasan yang sangat logis itu. "Oke. Kalau begitu..." Ia menggerakkan probe ultrasound, mencari angle yang tepat. "Selamat! Baby-nya... perempuan!"

Hening sejenak.

Lalu Arka berteriak, "YES! AKU DAPAT ADIK PEREMPUAN!" sambil melompat-lompat kegirangan.

Alya menangis. Tangisan bahagia. Reyhan mencium dahinya berkali-kali sambil tersenyum lebar.

"Anak perempuan," bisik Reyhan dengan suara bergetar. "Kita punya anak perempuan."

"Kamu... kamu senang?" tanya Alya sambil mengusap air matanya.

"Sangat senang. Aku nggak pernah punya adik perempuan. Nggak pernah tahu gimana rasanya punya anak perempuan. Dan sekarang..." Ia menatap layar monitor dengan tatapan penuh cinta. "Sekarang aku akan punya putri kecil."

Arka menarik-narik lengan baju Reyhan. "Ayah! Kita harus kasih nama! Adik aku perlu nama!"

Dokter tertawa sambil membersihkan gel dari perut Alya. "Kayaknya ada yang excited sekali jadi kakak."

"Iya, Dok! Aku udah nggak sabar!" jawab Arka dengan antusias.

Malam Hari Diskusi Nama

Malam itu, mereka duduk bertiga di ruang keluarga. Buku nama bayi terbuka di meja, laptop menyala menampilkan berbagai website nama bayi, dan kertas berisi coretan-coretan nama berserakan.

"Bagaimana kalau Alisha?" usul Alya.

Arka menggeleng. "Terlalu umum, Ma. Di sekolah aku ada tiga Alisha."

"Oke. Kalau Kayla?"

"Lima Kayla, Ma."

Reyhan tertawa melihat Arka yang sangat serius dengan proses pemberian nama. "Nak, kamu maunya nama yang gimana?"

"Nama yang artinya bagus, gampang disebut, tapi nggak pasaran. Dan yang pasti matching sama Arka."

"Matching gimana?" tanya Alya penasaran.

"Arka artinya 'matahari' atau 'cahaya'. Jadi adik aku juga harus nama yang berhubungan sama cahaya atau langit. Biar matching."

Reyhan menatap anaknya dengan kagum. "Nak, kamu baru lima tahun tapi logikanya kayak orang dewasa."

"Terima kasih, Yah," jawab Arka sambil kembali fokus pada buku nama. Lalu matanya berhenti di satu nama. "Ini! Kirana!"

"Kirana?" ulang Alya sambil membaca artinya. "Artinya sinar atau cahaya."

"MATCHING SAMA ARKA!" seru Arka girang. "Arka artinya matahari, Kirana artinya sinar! Kita kan sepasang!"

Reyhan dan Alya saling pandang. Keduanya langsung jatuh cinta dengan nama itu.

"Kirana Mahardika," ucap Reyhan pelan, merasakan nama itu di lidahnya. "Sounds perfect."

"Aku suka," kata Alya sambil tersenyum. "Kirana. Putri kecil kita bernama Kirana."

"KIRANA!" teriak Arka sambil menunjuk perut ibunya. "Halo, Kirana! Ini kakak Arka! Seneng banget akhirnya tahu namamu!"

Ia berbicara langsung ke perut Alya, tangannya mengusap dengan lembut. "Kirana, nanti kalau kamu udah lahir, kakak ajarin kamu banyak hal ya. Kita akan jadi tim terbaik! Arka dan Kirana!"

Reyhan memeluk Alya dari samping, tangannya ikut menyentuh perut istrinya. "Kirana... Ayah nggak sabar ketemu kamu. Ayah janji akan jadi ayah yang baik buat kamu. Ayah akan jaga kamu, sayang kamu, dan selalu ada buat kamu."

Alya menangis. Tangisan bahagia mendengar suami dan anak pertamanya berbicara penuh cinta pada anak keduanya yang belum lahir.

Kamis Sore Program Highly Gifted Minggu Ketiga

Kamis sore, Arka menjalani sesi ketiga program highly gifted-nya. Reyhan yang menjemput datang lebih awal, duduk di luar kelas sambil menunggu.

Dari jendela kaca, ia bisa melihat Arka sedang diskusi serius dengan teman-temannya. Mereka semua berdiri di depan whiteboard, menggambar diagram yang rumit, berdebat dengan antusias.

Bu Nina yang keluar dari kelas untuk ambil air minum melihat Reyhan dan menghampirinya.

"Pak Reyhan, kebetulan sekali. Boleh ngobrol sebentar?"

Jantung Reyhan langsung berdegup cemas. "Ada masalah dengan Arka?"

"Bukan masalah, Pak. Justru saya takjub." Bu Nina duduk di samping Reyhan. "Arka itu luar biasa. Bukan cuma karena kecerdasannya, tapi karena karakternya."

"Maksudnya?"

"Kemarin, ada satu anak Adit yang menangis karena nggak bisa solve problem yang kami berikan. Dan Arka yang pertama menghampiri dia. Dia duduk di samping Adit, jelasin step by step dengan sabar, nggak pernah bilang 'ini gampang kok' atau 'masa gini aja nggak bisa'. Dia validasi perasaan Adit, terus bantuin dia sampai bisa."

Reyhan merasakan dadanya sesak. Bangga sekaligus terharu.

"Dan hari ini," lanjut Bu Nina, "kami kasih challenge group project. Arka langsung jadi leader natural. Dia nggak bossy, nggak diktator, tapi dia dengerin pendapat semua orang, terus koordinasi dengan baik. Anak-anak respect sama dia."

"Saya nggak tahu harus bilang apa," kata Reyhan dengan suara bergetar. "Terima kasih sudah bilang ini ke saya."

"Pak Reyhan, saya harus bilang... dalam 10 tahun karir saya ngajar anak gifted, Arka adalah salah satu anak paling istimewa yang pernah saya temui. Bukan cuma karena IQ-nya, tapi karena empatinya. Dan itu hasil dari parenting Bapak dan Ibu. Bapak harus bangga."

Reyhan merasakan air matanya menggenang. "Terima kasih, Bu. Itu berarti sangat banyak buat saya."

Ketika kelas selesai dan Arka keluar, wajahnya berseri-seri seperti biasa.

"Ayah! Tadi kita bikin program simulasi solar system! Dan aku yang lead projectnya! Keren banget!"

Reyhan memeluknya erat. "Ayah bangga sama kamu, Nak. Sangat, sangat bangga."

"Bangga kenapa, Yah? Emang aku kenapa?"

"Bukan karena kamu pintar. Tapi karena kamu baik. Karena kamu punya hati yang besar. Itu lebih penting dari semua kecerdasan di dunia."

Arka memeluk ayahnya balik. "Terima kasih, Yah. Ayah juga baik kok. Ayah guru terbaik aku."

Sabtu Pagi Mulai Renovasi Kamar

Sabtu pagi, Reyhan memulai renovasi salah satu kamar untuk dijadikan nursery Kirana.

Arka ikut membantu atau setidaknya mencoba membantu dengan antusiasme luar biasa.

"Ayah, tembok kamar Kirana warnanya apa?" tanyanya sambil mengenakan topi konstruksi mainan yang Reyhan belikan.

"Kamu mau warna apa?" tanya Reyhan balik sambil mengukur dinding.

"Pink! Semua anak perempuan suka pink, kan?"

"Belum tentu, Nak. Nanti kalau Kirana udah besar, dia sendiri yang pilih warna favoritnya. Sekarang kita pakai warna netral aja. Mungkin cream atau putih?"

"Oh iya juga." Arka berpikir serius. "Kalau begitu cream aja. Nanti kalau Kirana udah bisa ngomong, dia bilang mau warna apa, kita cat ulang."

Reyhan tersenyum mendengar cara berpikir Arka yang selalu logis dan penuh pertimbangan.

Alya masuk ke kamar dengan tray berisi air putih dan snack. "Anak-anak, istirahat dulu."

"Mama, aku bukan anak-anak! Aku udah kakak!" protes Arka sambil cemberut lucu.

"Oke, oke. Kakak Arka, istirahat dulu," kata Alya sambil tersenyum.

Mereka duduk di lantai yang masih berdebu, minum air sambil membicarakan desain kamar Kirana.

"Kita taruh box bayi di sini," kata Reyhan sambil menunjuk sudut dekat jendela. "Terus lemari kecil di sini, changing table di sini."

"Ayah, jangan lupa taruh lampu tidur yang nggak terlalu terang," usul Arka. "Aku baca, baby itu nggak suka cahaya terlalu terang waktu malam."

"Wah, kamu udah research ya?" tanya Alya dengan bangga.

"Iya, Ma. Aku pinjem buku tentang baby care dari perpustakaan. Aku mau jadi kakak yang prepare."

Reyhan mengacak rambut Arka dengan sayang. "Kirana beruntung banget punya kakak kayak kamu."

"Aku juga beruntung kok dapat adik," jawab Arka sambil tersenyum. "Aku nggak akan sendirian lagi. Aku punya temen main di rumah."

Minggu Sore Belanja Perlengkapan Bayi

Minggu sore, mereka bertiga pergi ke baby store untuk pertama kalinya sebagai keluarga yang akan punya baby.

Arka mendorong trolley dengan semangat, matanya berbinar melihat semua perlengkapan bayi yang lucu.

"AYAH! MAMA! LIHAT! INI BAJU BAYI KAYAK ROBOT!" teriaknya sambil mengangkat onesie dengan gambar robot.

"Lucu ya, Nak. Tapi kamu yakin Kirana mau pakai baju robot?" tanya Alya sambil menahan tawa.

"Kenapa nggak? Kirana kan adik aku. Pasti suka hal yang sama kayak aku."

"Belum tentu, Nak," kata Reyhan sambil tersenyum. "Kirana mungkin suka hal yang berbeda dari kamu. Dan itu nggak apa-apa."

Arka berpikir sejenak. "Oh iya juga. Oke, kita beli yang ini aja." Ia mengambil onesie pink polos dengan gambar kupu-kupu. "Ini netral. Nanti kalau Kirana udah besar, dia bilang dia suka apa."

Mereka berkeliling toko, memilih berbagai perlengkapan: box bayi, stroller, car seat, popok, botol susu, dan berbagai macam pakaian bayi.

Di bagian mainan, Arka berhenti lama di depan rak boneka.

"Ayah, Mama, boleh aku beliin Kirana boneka?"

"Tentu, Nak. Pilih yang mana?"

Arka mengambil boneka teddy bear berwarna cream yang lembut. "Ini. Nanti waktu Kirana nangis, dia bisa peluk boneka ini. Biar dia nggak kesepian."

Alya merasakan air matanya menggenang lagi. Melihat Arka yang begitu thoughtful pada adiknya yang belum lahir.

Di kasir, ketika mereka membayar, kasirnya tersenyum melihat Arka yang membantu menaruh barang-barang di counter dengan hati-hati.

"Adik kecilnya kakak ya?" tanyanya ramah.

"Iya! Namanya Kirana! Dia perempuan!" jawab Arka dengan bangga.

"Wah, kakak pasti excited ya?"

"Sangat! Aku udah nggak sabar ketemu dia!"

Di mobil pulang, Arka memeluk boneka yang ia beli untuk Kirana.

"Mama, kapan Kirana lahir?" tanyanya.

"Masih lima bulan lagi, sayang. Agustus nanti."

"Lama banget..." Arka cemberut. "Aku udah nggak sabar."

"Sabar ya, Nak. Baby butuh waktu untuk tumbuh di perut Mama. Biar dia lahir dengan sehat dan kuat."

"Oke. Aku akan sabar. Tapi aku tetep excited!"

Senin Malam Concern Arka

Senin malam, setelah makan malam, Arka duduk di sofa dengan wajah yang tidak biasa. Serius dan sedikit sedih.

Reyhan yang melihat langsung menghampiri. "Nak, kamu kenapa? Sakit?"

Arka menggeleng, tapi tidak menjawab.

"Arka, cerita sama Ayah. Ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Reyhan sambil duduk di sampingnya.

Arka terdiam lama. Lalu dengan suara kecil ia bertanya, "Ayah... nanti kalau Kirana udah lahir... Ayah sama Mama masih sayang sama aku?"

Hati Reyhan remuk.

Ia langsung memanggil Alya yang sedang di dapur. "Alya, sini sebentar."

Alya keluar dengan wajah khawatir. "Ada apa?"

Reyhan menarik Arka duduk di pangkuannya, sementara Alya duduk di sampingnya.

"Nak, dengerin Ayah dan Mama baik-baik. Cinta orang tua itu nggak terbagi. Cinta orang tua itu bertambah. Ayah dan Mama akan tetap sayang sama kamu, bahkan mungkin lebih sayang lagi karena kamu jadi kakak yang baik."

"Tapi... nanti Kirana akan dapat banyak perhatian karena dia baby. Ayah sama Mama akan sibuk sama dia. Terus aku jadi sendiri lagi..."

Air mata Arka jatuh. Air mata yang sudah lama ia tahan.

Alya langsung memeluknya erat. "Sayang... kamu nggak akan sendiri. Nggak akan pernah. Kamu akan selalu jadi anak pertama kami. Anak spesial yang bikin Ayah sama Mama jadi orang tua."

"Dan Arka," tambah Reyhan sambil mengusap air mata anaknya, "kamu tahu nggak kenapa Ayah dan Mama berani punya anak lagi?"

Arka menggeleng.

"Karena kamu udah ngajarin Ayah dan Mama cara jadi orang tua yang baik. Karena kamu bikin kami jadi lebih baik. Tanpa kamu, kami nggak mungkin berani punya Kirana. Jadi kamu itu fondasi keluarga kita. Kamu yang paling penting."

"Beneran, Yah?"

"Beneran. Dan Ayah janji... setiap hari, Ayah akan bilang ke kamu 'Ayah sayang Arka'. Setiap hari. Nggak peduli seberapa sibuknya Ayah sama Kirana. Kamu akan selalu jadi prioritas Ayah."

Arka memeluk Reyhan dan Alya dengan erat. Menangis dengan lega.

"Aku sayang Ayah. Aku sayang Mama. Dan aku juga sayang Kirana."

"Kami juga sayang kamu, Nak. Sangat, sangat sayang."

Dua Minggu Kemudian Kamar Kirana Selesai

Dua minggu kemudian, kamar Kirana akhirnya selesai direnovasi.

Dinding berwarna cream lembut, dengan stiker dinding berbentuk bintang-bintang kecil yang bisa menyala di malam hari. Box bayi kayu berwarna putih berdiri di sudut, dengan mobile gantung berbentuk bulan dan bintang. Lemari kecil penuh dengan pakaian bayi yang rapi terlipat. Changing table dengan perlengkapan lengkap. Dan di sudut, rocking chair untuk Alya menyusui nanti.

"Wah..." Arka berdiri di tengah kamar dengan mata berbinar. "Kirana pasti suka!"

"Kamu suka, Nak?" tanya Reyhan.

"Suka banget! Ini kayak kamar princess. Tapi princess yang suka sains."

Alya tertawa mendengar deskripsi unik itu.

Arka berjalan ke box bayi, menaruh boneka teddy bear cream yang ia beli di dalamnya dengan hati-hati.

"Ini buat Kirana," katanya sambil tersenyum. "Biar dia nggak kesepian waktu tidur."

Lalu ia berbalik menatap orang tuanya. "Ayah, Mama... terima kasih."

"Terima kasih buat apa, sayang?" tanya Alya.

"Terima kasih udah kasih aku adik. Terima kasih udah percaya aku bisa jadi kakak yang baik. Dan terima kasih udah jadi orang tua yang paling baik di dunia."

Reyhan dan Alya memeluk Arka dengan erat. Keduanya menangis bangga dan terharu.

"Kami yang harus terima kasih sama kamu," bisik Reyhan. "Terima kasih udah jadi anak yang luar biasa. Terima kasih udah siap jadi kakak yang baik. Dan terima kasih... terima kasih udah jadi bagian dari keluarga kita."

Mereka berdiri bertiga di kamar Kirana. Kamar yang menunggu dengan sabar untuk dihuni oleh anggota keluarga terkecil mereka.

Sore itu, dengan cahaya matahari sore yang hangat menerangi ruangan, mereka merasakan sesuatu yang sangat berharga.

Keluarga yang sudah utuh, akan menjadi lebih lengkap.

Cinta yang sudah besar, akan bertambah besar.

Kebahagiaan yang sudah ada, akan berlipat ganda.

Dan petualangan baru... akan segera dimulai.

[Bersambung]

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!