NovelToon NovelToon
Ramadan'S Promise

Ramadan'S Promise

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!


"Dia memilih kakakku..." --Hawa--

"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--

Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.

Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10 Janji Ramadan 2

Happy reading

Puas menikmati keindahan karya seni di Pendopo Bagaskara, Rama mengajak Hawa menepi ke Warung Sobo Ndeso, bukan ke rumah makan mewah atau kafe.

Bangunan berarsitektur Limasan itu menonjolkan kesan tradisional dan estetik, sebuah perpaduan unik yang tampak cantik di tengah hamparan sawah hijau. Di sana, ketenangan meresap bebas, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota.

Rama dan Hawa duduk lesehan di atas tikar pandan. Berbincang sambil menikmati pemandangan alam yang tersuguh.

Dua pincuk pecel beralas daun pisang tersaji di atas meja kayu. Aroma gurihnya beradu dengan wangi teh poci yang mengepul dari cangkir tanah liat. Di dasar cangkir, bongkahan gula batu perlahan mencair, menciptakan rasa manis yang mantap. Orang Jawa menyebutnya teh nasgitel--panas, legi, lan kenthel.

"Pecel di sini bumbunya masih ditumbuk manual, Wa. Bukan blenderan," ujar Rama sambil memecah rempeyek kacang, mengusir hening yang sempat turun di antara mereka.

Hawa mengangguk pelan, masih menikmati kunyahannya. "Bumbu kacangnya beda banget. Pedas-gurihnya lebih mantul daripada pecel langganan Bunda."

"Kalau kamu suka, nanti aku pesankan lagi--dibungkus, sekalian untuk oleh-oleh Bunda dan Bi Ijah," tawar Rama sembari menatap Hawa sekilas.

"Boleh. Tapi kali ini aku yang bayar, ya," sahut Hawa tulus. "Kasihan kamu, bisa-bisa lembur seminggu karena mentraktirku terus dari kemarin."

Rama terkekeh pelan. "Santai aja. Udah sepatutnya lelaki bekerja keras supaya bisa sesering mungkin menjamu orang yang dia ajak jalan."

"Jangan keseringan, Ram. Simpan uangmu untuk mentraktir gadis yang namanya selalu kamu sebut di sepertiga malam," goda Hawa.

"Gadis itu... baru aja aku traktir. Tapi, katanya dia mau bayar sendiri," ujar Rama. Ia menunduk sebentar, menyembunyikan senyum yang merekah sambil merapikan sisa rempeyek di pincuknya.

"Pasti dia orangnya sungkanan seperti aku," timpal Hawa polos. Seolah ia benar-benar belum menyadari bahwa muara dari setiap kalimat Rama sebenarnya adalah dirinya sendiri yang sedang duduk tepat di hadapan lelaki bermata teduh itu.

"Dia pasti nggak tega membayangkan kamu lembur hanya demi sepiring pecel," imbuhnya.

Rama mengalihkan pandangannya ke arah hamparan sawah, lantas suaranya terdengar lagi. Namun, lebih dalam dan rendah.

"Bukan hanya 'seperti', Wa. Tapi memang..."

Ia sengaja menggantung kalimatnya. Menitipkan pengakuan pada semilir angin sawah, memberi ruang bagi Hawa untuk menerjemahkan sendiri maksud dari nada bicara dan perhatian yang ia curahkan tanpa perlu sering beradu pandang.

Hawa tertegun. Detak jantungnya sempat berpacu lebih cepat, dan semburat merah tipis mulai mengintip di balik pipinya.

Hatinya menghangat.

Namun, hangat yang baru saja menjalar itu segera dipadamkan oleh gumpalan es yang membeku di sudut ingatannya.

Nama Damar tiba-tiba melintas, membawa serta rasa sesak yang belum sepenuhnya tuntas.

Hawa teringat bagaimana Damar dulu menghujaninya dengan perhatian yang lebih manis dari teh nasgitel.

Perhatian yang ia kira adalah rumah, ternyata hanyalah halte persinggahan. Luka itu masih basah; ia masih butuh waktu untuk sekadar mengering, sebelum benar-benar sembuh dan pulih seutuhnya.

Hawa buru-buru memalingkan wajah, menatap ujung jemarinya yang mendadak terasa dingin. Ia menarik napas panjang, berusaha keras memasang kembali topeng kepolosan yang hampir retak.

"Kalau dia sampai mau bayar sendiri, berarti dia gadis yang mandiri dan tahu diri," sahutnya dengan tawa yang dipaksakan, berusaha mengembalikan suasana ke zona aman.

"Jangan sampai kamu kehilangan gadis sehebat itu, Ram. Jangan digantung terus, nanti dia malah pindah ke lain hati," lanjutnya menyisipi canda.

"Insyaallah, setelah lulus kuliah nanti, aku akan segera menemui walinya. Semoga... dia mau menerimaku sebagai rumah untuk pulang dan berbagi beban batin," Rama menimpali.

Usai Rama mengucap kalimat yang sarat akan janji itu, Hawa bergegas menyesap teh pocinya yang mulai mendingin. Ia tak berani menatap pahatan rupawan yang duduk di hadapannya. Sebab, ia tahu benar, jika ia nekat menyelami ketulusan di mata Rama, mungkin hatinya akan 'mudah' luluh.

Sungguh, ia belum sanggup jika harus kembali memunguti kepingan dirinya yang hancur untuk kedua kalinya.

Keheningan kembali jatuh di antara mereka, sebentuk jeda yang tak lagi butuh kata-kata.

Di bawah atap Limasan, hanya ada suara angin sawah yang berbisik rendah, seolah turut menjadi saksi atas sebuah hati yang sedang mati-matian menahan diri agar tidak jatuh lagi.

.

.

Ba'da asar, Rama mengantar Hawa pulang.

Seperti biasa, ia memesan taksi online untuk Hawa, lalu dengan setia mengiringi mobil itu dari belakang dengan sepeda motor tuanya--menjaga dalam jarak yang santun.

Kecanggungan menyergap saat Hawa turun dari mobil. Hening sempat hadir sejenak, sebelum akhirnya pecah oleh suara rendah Rama.

"Hawa, terima kasih, ya," ucapnya sembari menatap sekilas wajah Hawa yang sedikit menunduk.

Hawa mendongak tipis, matanya menyiratkan tanya. "Terima kasih untuk apa?"

"Karena udah hadir ke dunia." Rama menerbitkan senyum tulus, lantas mengucap salam.

Tanpa menunggu balasan yang mungkin tak sanggup Hawa rangkai, ia kembali melajukan sepeda motornya, meninggalkan kepulan tipis dan suara mesin yang menjauh.

Hawa tercenung. Ia mematung di depan gerbang rumahnya, menelaah kalimat yang meluncur begitu ringan namun terasa sangat berat di hatinya.

Ada hangat yang merayap perlahan, mencoba mencairkan beku di dadanya. Namun, lara kembali singgah saat skeptis membisikkan tanya: apakah ini nyata, atau hanya babak awal dari luka yang baru?

🍁🍁🍁

Bersambung

1
Nofi Kahza
Critanya ringan, tapi... indah. Setiap coretannya penuh makna, setiap alurnya berkesan. Apalagi ketika sosok Rama masuk dalam adegan. Rasanya adem... TAPI BIKIN SALTING WOI!
Nofi Kahza
nggak osah manyun2. Si Rama bisa khilaf nanti🤣
Nofi Kahza
Rama, pokok aku padamu loh..
Nofi Kahza
iya, rejekinya lebih dari cukup. cukup belikah Hawa gamis segedung-gedungnya🤭
Nofi Kahza
Ram, kamu sengaja ya bikin Hawa pingsan karena salting?🤣
Nofi Kahza
Pak Asep datang sedetik di saat jantung Hawa nyaris copot🤭
Nofi Kahza
mau komen, tapi salfok sama komen kak Naj di atas. itu artinya apa ya?🤭
Nofi Kahza
ciieee... salting ni yeeeee🤣
Nofi Kahza
jantungnya aman kan Rama...🤭🤭
ren_iren
bakal malu setengah hidup itu nanti emaknya hawa😂😂😂
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
ren_iren
pelayan warung merapi tp aslinya mas Rama itu pewaris lo... jgn underestimate dulu mas Damar🤭😁😂
Ayuwidia: Tau aja, Kak 😄
total 1 replies
Mila Mulitasari
gimana reaksi bu gistara kalau tahu pemuda yg diremehkan adalah anak sahabatnya sendiri
Ayuwidia: Mungkin syok berat, Kak 😄
total 1 replies
Najwa Aini
uangmu banyak sekali Rama, aslinya...
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
Ayuwidia: Bukan cuma pembaca yg dikasih, tapi othornya juga 😆
total 1 replies
Najwa Aini
sok kenal pada owner kafe..padahal ya emang kenal banget...
Ayuwidia: Betoel
total 1 replies
Najwa Aini
Nah si Rama kalau udah mode khotbah..Bi .Ijah pun pasti meleyott
Ayuwidia: Penulisnya pun mleyot
total 1 replies
Najwa Aini
Itu sih mobil bapaknya sendiri
Ayuwidia: Tahu ajah
total 1 replies
Najwa Aini
Semuanya nyaman dibaca kok...
upps..belum apa² dah komen
Ayuwidia: Saking nyamannya, yg baca cuma singgah. Nggak mau kenalan sama othornya 😆
total 1 replies
Ririn Rira
Bener kata Rama nggak ada yang nama nya membawa sial.
Ayuwidia: Betoel, Kak
total 1 replies
Nofi Kahza
kapan lagi bisa dicintai cowok keren kayak Rama coba. terima aja cintanya ya Hawa. aku restuin😆
Ayuwidia: Iya, Mak 😆
total 1 replies
Nofi Kahza
setuju sih aku..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!