Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.
"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.
Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.
Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.
Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.
Gelap.
Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.
"Kevin Pratama... Karina Adelia..."
Senyumnya tajam. Berbahaya.
"Permainan baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 - INFORMASI BERHARGA
KEESOKAN HARINYA - KANTOR MAHENDRA GROUP
Akselia baru sampai kantor ketika Ratih memanggilnya ke ruang tunggu.
"Ada paket untukmu," kata Ratih sambil menyerahkan kotak cokelat kecil. "Dikirim kurir pagi tadi, pengirimnya tidak mencantumkan nama."
Akselia mengambil kotak itu, merasakannya ringan. "Terima kasih, Ratih."
Dia membawa kotak itu ke toilet wanita, satu-satunya tempat yang cukup privat dan membukanya dengan hati-hati.
Di dalamnya ada flashdisk kecil berwarna hitam dan secarik kertas dengan tulisan tangan Diana...
[Di dalam ini ada rekaman percakapan Kevin dengan seseorang tiga hari lalu. Tentang 'menyelesaikan masalah' dengan Arjuna. Simpan baik-baik. Bisa jadi bukti kalau dibutuhkan. - D]
Akselia memasukkan kertas itu ke saku, lalu menyembunyikan flashdisk di dalam dompetnya. Bukti... Akhirnya ada bukti konkret keterlibatan Kevin dalam penyerangan.
Tapi sesuatu mengganjal di pikirannya, bagaimana Diana bisa dapat rekaman percakapan pribadi Kevin? Seberapa jauh koneksinya?
"Nanti pikirkan," gumamnya sambil keluar toilet. "Sekarang fokus ke pekerjaan dulu."
***
SIANG HARI - RUANG KERJA ARJUNA
Arjuna memanggil Akselia masuk ke ruangannya. Di meja kerjanya terbentang beberapa dokumen dan foto-foto.
"Duduk," perintahnya.
Akselia duduk. Arjuna mendorong salah satu foto ke arahnya, foto Kevin sedang berjabat tangan dengan seorang pria gemuk di sebuah restoran.
"Kamu kenal orang ini?" tanya Arjuna.
Akselia menggeleng. "Tidak. Siapa dia?"
"Namanya Hendra Wijaya, kepala divisi perizinan di pemerintah kota. Orangnya terkenal korup, terima suap untuk percepat izin pembangunan atau tutup mata dari pelanggaran." Arjuna menunjuk foto lain, Kevin menyerahkan amplop tebal pada Hendra. "Ini foto diambil seminggu lalu. Kevin sedang suap dia untuk proyek gedung bertingkat di daerah Sudirman."
Akselia mempelajari foto itu. "Kenapa Pak Arjuna tunjukkan ini pada saya?"
"Karena aku mau kamu tahu seberapa kotor Kevin bermain." Arjuna bersandar di kursi. "Dia tidak hanya sabotase kompetitor. Dia suap pejabat, manipulasi tender, bahkan kalau rumor benar... pernah ancam keluarga lawan bisnisnya."
"Lalu kenapa dia belum ditangkap?"
"Karena dia pintar menutupi jejak. Semua transaksi pakai orang ketiga, semua bukti selalu hilang sebelum bisa dipakai." Arjuna menatap Akselia serius. "Tapi sekarang aku punya kamu dan Diana. Kalau kita bekerja sama, kita bisa kumpulkan cukup bukti untuk jatuhkan Kevin."
Akselia menyentuh dompetnya, tempat flashdisk Diana tersembunyi. Haruskah dia bilang sekarang? Atau tunggu dulu?
"Saya akan bantu sebisanya, Pak," katanya akhirnya. "Tapi saya cuma pengawal. Bukan detektif."
"Kamu lebih dari sekadar pengawal, Selia." Arjuna tersenyum tipis. "Aku lihat caramu tatap Kevin kemarin, kamu punya dendam pribadi padanya. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan padamu dan aku tidak akan maksa kamu cerita, tapi aku tahu kamu mau dia jatuh sama seperti aku."
Akselia terdiam. Arjuna terlalu tajam, terlalu perhatian.
"Benar," akunya pelan. "Saya punya urusan pribadi dengan Kevin Pratama, tapi itu tidak akan ganggu pekerjaan saya melindungi Bapak."
"Aku tahu, justru karena itu aku percaya padamu." Arjuna berdiri, berjalan ke jendela. "Kevin sudah hancurkan terlalu banyak orang. Termasuk sahabatku dulu, dipaksa jual perusahaannya dengan harga murah karena Kevin sabotase pasokan bahannya. Sahabatku itu sekarang jadi alkoholik, hancur total."
Jadi bukan hanya Akselia, bukan hanya Diana. Kevin sudah punya banyak korban.
"Berapa banyak orang yang Kevin hancurkan?" tanya Akselia pelan.
"Lebih banyak dari yang bisa kita hitung." Arjuna menoleh. "Tapi dengan kamu dan Diana, aku rasa kita punya kesempatan akhirnya balas. Bukan cuma untuk kita, tapi untuk semua orang yang Kevin injak."
Akselia berdiri. "Kalau begitu, saya punya sesuatu yang mungkin berguna."
Dia mengeluarkan flashdisk dari dompetnya, meletakkannya di meja. "Diana kirim ini pagi tadi, katanya rekaman percakapan Kevin tentang penyerangan ke Bapak."
Mata Arjuna melebar. Dia langsung ambil flashdisk itu, memasukkannya ke laptop.
Beberapa detik kemudian, suara terdengar dari speaker...
"...Arjuna harus diberi pelajaran, aku sudah bosan dengan sikapnya yang sok suci itu."
Suara Kevin... Jelas sekali.
"Mau saya atur bagaimana, Pak?" Suara lain, pria dengan logat Jawa kental.
"Jangan sampai mati, cuma buat dia kapok. Hajar pengawalnya juga kalau perlu, biar dia tahu konsekuensi tolak tawaranku."
"Siap, Pak. Kapan?"
"Minggu depan, pas dia pulang malam dari kantor. Pastikan tidak ada saksi."
Rekaman berhenti.
Arjuna menatap layar laptop dengan rahang mengepal. "Bajingan itu..."
"Ini bisa jadi bukti ke polisi," kata Akselia.
"Bisa. Tapi..." Arjuna memutar kursi, menghadap Akselia, "...aku tidak yakin polisi akan gerak cepat. Kevin punya koneksi di mana-mana, termasuk di kepolisian. Kalau kita laporkan sekarang, bukti ini bisa hilang sebelum sampai ke jaksa."
"Lalu kita harus bagaimana?"
Arjuna berpikir sebentar. "Kita simpan dulu, kumpulkan lebih banyak bukti. Kalau sudah cukup, cukup banyak sampai Kevin tidak bisa lari. Baru kita serang dengan semua yang kita punya."
Akselia mengangguk, strategi yang masuk akal.
"Tapi untuk sekarang..." Arjuna menatapnya serius, "...kamu harus lebih hati-hati. Kevin sudah perhatikan kamu, dia tertarik. Dan Kevin kalau sudah tertarik pada sesuatu, dia akan kejar sampai dapat."
"Saya bisa jaga diri, Pak."
"Aku tahu. Tapi Kevin tidak main-main, Selia. Dia bisa sangat... berbahaya kalau sudah obsesif."
Kata "obsesif" membuat Akselia teringat masa lalu. Kevin yang dulu mengejarnya, membuatnya merasa spesial, lalu membuangnya seperti sampah.
"Saya tidak akan lengah," janjinya.
***
SORE HARI - KAFE HARMONI
Akselia bertemu Diana lagi di kafe yang sama. Diana mengenakan kacamata hitam besar dan topi lebar, menyamar seperti selebriti yang menghindari paparazzi.
"Kamu sudah dengar rekamannya?" tanya Diana setelah mereka pesan kopi.
"Sudah... Bagus sekali, bagaimana kamu bisa dapat itu?"
Diana tersenyum misterius. "Aku punya orang dalam di perusahaan Kevin, seseorang yang juga benci dia. Dia yang pasang alat perekam di ruang kerja Kevin."
"Siapa?"
"Tidak bisa aku kasih tahu namanya. Untuk keamanannya." Diana menyesap kopinya. "Tapi yang penting, dia loyal padaku. Dan dia akan terus kirim informasi kalau ada yang penting."
Akselia mengangguk perlahan. Semakin banyak orang yang terlibat, semakin rumit jaringannya.
"Ada kabar lain," lanjut Diana sambil mengeluarkan amplop dari tasnya. "Bella, selingkuhan Kevin mulai tidak sabaran. Dia minta Kevin putus dengan Karina dan nikahi dia."
"Kevin akan lakukan?"
"Tidak mungkin. Pernikahan Kevin dan Karina itu merger bisnis, keluarga mereka sudah sepakat. Kevin tidak akan rusak itu demi Bella." Diana tersenyum tipis. "Tapi Bella tidak tahu itu, dia pikir Kevin benar-benar cinta padanya."
"Jadi dia cuma dipakai?"
"Persis seperti..." Diana berhenti, menatap Akselia, "maaf. Aku tidak bermaksud..."
"Tidak apa-apa." Akselia mengangkat tangan. "Kamu benar, persis seperti dia pakai aku dulu."
Diana merogoh amplop itu, mengeluarkan beberapa foto. "Ini foto terbaru mereka, diambil kemarin malam. Kevin dan Bella di hotel."
Akselia melihat foto itu, Kevin mencium Bella dengan mesra di lobi hotel. Persis seperti dia dulu mencium Akselia.
Tidak ada rasa sakit lagi, hanya kepuasan dingin.
"Kirim ke media?" tanya Akselia.
"Belum. Terlalu cepat kalau kita bocorkan sekarang, Kevin bisa bilang itu rekayasa. Atau dia bayar media untuk tutup mulut." Diana memasukkan foto-foto itu kembali. "Kita tunggu momen yang tepat. Pas Kevin sudah terlalu percaya diri, pas dia pikir dia aman. Lalu... boom... Skandal meledak."
Akselia tersenyum tipis. "Kamu jago main strategi."
"Aku belajar dari pemain yang terbaik, yakni Kevin sendiri." Diana menatapnya serius. "Tapi aku butuh kamu tetap dekat dengan Kevin. Semakin dia tertarik padamu, semakin mudah kita manipulasi dia."
"Apa maksudmu?"
"Kevin suka tantangan, suka perempuan yang tidak mudah didapat. Dan kamu..." Diana menunjuk Akselia, "...adalah tipe perempuan yang akan bikin dia terobsesi. Kuat, mandiri, seolah tidak butuh dia."
Akselia menelan ludah. "Kamu mau aku... dekati dia?"
"Bukan sepenuhnya, cuma buat dia tertarik, buat dia berpikir ada kesempatan. Lalu saat dia sudah terlalu jauh, kita hancurkan dia dengan semua skandalnya sekaligus."
Strategi yang sangat berbahaya, tapi efektif.
"Aku akan pikir-pikir," kata Akselia.
"Jangan lama-lama, waktu berjalan dan Kevin..." Diana menatap keluar jendela, "...tidak akan diam lama. Dia tipe orang yang kalau mau sesuatu, dia kejar sampai dapat. Atau hancurkan kalau tidak bisa dapat."
Setelah pertemuan itu, Akselia berjalan sendirian di trotoar menuju halte bus.
Dekati Kevin lagi? Buat dia jatuh cinta?
Ide itu sekaligus menggoda dan menakutkan. Tapi mungkin... mungkin itu satu-satunya cara untuk benar-benar menghancurkannya.
Bukan hanya secara bisnis, tapi secara personal. Hancurkan hatinya, seperti dia hancurkan hati Akselia.
"Baiklah, Kevin," bisiknya sambil menatap langit senja. "Kamu mau main perasaan? Ayo kita main. Dan kali ini, aku yang akan menang."
author terbaik.. 😍
ayo karina hancurkan sekalian saja akselia kn bodoh dia biar tamat.
Apalagi sudah bab 19 ya, akan ada perhitungan retensi di bab 20. Tolong dengan sangat ya... sahabat pembaca untuk segera dilanjut bacanya.
Terima kasih.
kok Kevin gak mengenali selia sekarang?