Semua akan hadir jika kita sedang memiliki harta benda, Rumah yang mewah , harta dimana mana, semua akan di anggap KELUARGA jika kita punya segalanya, Tapi coba lihat jika kita sedang tidak punya apa apa, jangankan di anggap keluarga di tanya kabar pun tidak akan pernah, Uang yang berbicara, uang yang membuat lingkungan keluarga menjadi Cemara dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coretan Hitam.Id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Namanya juga anak anak
Lesi yang baru pulang Terawah termenung melihat rumah Ratna yang Terang.
" Katanya gak mampu beli token, tuh buktinya nyala, Bohong aja jadi orang " Gumam nya, lalu ia melanjutkan Perjalan nya menuju rumah yang tinggal beberapa langkah lagi.
Lesi sampai di rumah Sendirian karena ibu dan bapak nya belom juga pulang.
" di fikir fikir, kok aku merasa gak betah ya tinggal di rumah sendiri, tiap hari nya muak banget rasanya, apa lagi Kalo Anak si Ratna udah ngerusuh " Ucapnya kepada dirinya sendiri.
"Ya gimana kaga Risih, Orang nya beban, apa apa minta bantuan apa apa minta bantuan, Pasti tuh beli Token juga hasil ngemis di Facebook" lanjutnya, Fikiran nya terus menerus merasa bahwa Sejak ada Ratna pindah kesana, kehidupan nya jauh dari kata damai.
" Kapan ya terakhir kali aku tidur nyenyak, Aku sampe bosen beresin taman depan loh karena setiap hari pot nya pecah ulah si Devon, giliran Di tegur emak nya kaga terima " Di saat Lesi bergumam seperti itu tiba tiba suara seperti bola yang pecah terdengar dari arah pojok luar rumah.
DUARRR.
Lesi langsung berdiri dan berlari menuju sumber suara, ketika pintu utama di buka, Lesi celingak celinguk melihat ke luar rumah, Saat Lesi melihat ke arah pojok kanan, terlihat Devon yang sedang memegang sapu injuk, dalam keadaan berdiri dengan kursi sotan milik bu Arumi yang biasa di pake santai di luar.
Dengan suasana yang gelap, padahal saat itu tidak sedang mati lampu, karena semua lampu disana menyala, kecuali yang di pokok kanan.
Lesi langsung menghampiri Devon dan menyoroti ke atas, " Ya allah, Kok lampunya pecah ?".
Bertepatan dengan Bu Arumi dan Pak Warto yang sudah pulang dari Masjid.
" Kenapa Les ?" Tanya Pak Warto Lesi tidak menjawab, Dan Pak Warto pun langsung melihat ke atas.
" Gustii, kenapa lampunya pecah Les ?" Tanyanya.
Lesi langsung memandang Devon yang sudah turun dari Kursi rotan, Dengan cengengesan.
Lesi yang kesabaran nya sudah tidak di bendung lagi akhirnya Marah ke Anak Seusia tiga tahunan yang masih memegang sapu di tangan nya.
Lesi mencengkram tangan Devon dengan erat, matanya melotot , Giginya menggerutu ingin sekali Lesi memakan Sampai habis Manusia di hadapan nya.
" Heh anak set*n, gue muak ya ama elu, Lu ngerusakin terus barang barang gue, Mana emak bapak lu kaga tanggung jawab lagi, Mat* pun halal lu semua " Ucapnya, pelan namun menusuk, Anak seusia Devon hanya menangis kesakitan karena Tangan nya yang di cengkram erat.
Pak Warto mencoba melepaskan gengam an Lesi dari tangan kecil Devon tapi tenaga nya kalah dengan Lesi.
" Les udah Les, istigfar " Tegur Ibu yang membantu pak Warto memisahkan Lesi dan Devon.
" Dia anak kecil Les , kamu Cekek pun dia gak bisa melawan " Tegur Pak Warto.
akhirnya Lesi melepaskan tangan Devon dengan emosi yang masih memuncak.
" Biarin aja mat*, mereka emang pantas " Ucapnya Datar dan matanya tajam melihat ke arah Devon yang masih diam tidak lari sama sekali.
Ratna kemana ?, dia di rumah dia tidak tahu apa yang terjadi di luar, dia tidak tahu bahwa anak nya sedang membuat kerusakan.
" Istigfar Les , Bukan lawan kamu " Nasihat Ibu pun tidak di dengarnya.
" Aku cape bu, tiap hari beresin pot yang berantakan ulah anak ini, Setiap dia main ke rumah pasti ada aja yang rusak " Tegas Lesi amarahnya tumpah juga kepada orang tuanya.
Devon yang masih memegang gagang Sapu, malah melayangkan Sapu tersebut kepada Lesi dan tepat mendarat di kepalanya.
KLEKTAK .
" Awww, ANJ*NG LU YA , SET*N " teriak nya dan tangan nya melayang menampar Devon.
" LESIIII " Teriak Orang tuany, dan juga Ratna yang keluar karena mendengar Tangisan Devon.
" Lu ngapain anak gue hah ?" Lawan Ratna dan menyembunyikan Devon di belakang kakinya.
" Kalo anak gue kenapa kenapa , mau tanggung jawab lu ?" Marahnya , Lesi menangapi nya dengan wajah yang datar dan biasa aja.
" Ratna, Anak kamu merusak Lampu , Dia pukul Lampu itu Dengan Sapu, Wajar Lesi marah, karena udah banyak yang Devon rusakin di rumah saya " Bu Arumi membela Lesi dan mencoba menjelaskan kepada Ratna, Berharap Ratna Sadar jika anak nya yang nakal.
" Hee, Dia masih anak anak, wajar lah kalo nakal, Namanya juga bocah ingusan, tau apa dia" Timbalnya, Lesi yang mendengar tuturan dari Ratna membuat Amarahnya memuncak kembali.
" Iya dia emang anak anak, Dan elu sebagai orang tua nya yang harus bisa Nasehatin dia, Jangan di anggap wajar terus , Nanti kalo kebawa gede gimana, mau jadi perusuh anak elu, Gue gak mau tau ganti lampu gue sekarang " Tegas Lesi matanya menatap tajam mata elang Ratna.
Ratna tidak menjawab, dia malah menyeret Devon ke rumahnya, dan terdengar teriakan dari Devon.
" Gue kaga terima kalo elu di marahin ama orang lain, Kalo lu di apa apa in ama gue gue wajar karena gue ibunya, yang lahirin elu yang ngurus elu, Kalo elu di sakitin apa orang lain Gue kaga Terima " Omelnya sambil menjerit jerit seperti orang yang kesurupan di dalam rumah nya, seperti Ratna sengaja agar Lesi dan keluarga nya mendengar kekesalan dia.
"Di bilang gak punya otak mah gak mau dia , merasa paling di sakitin aja, padahal dia yang salah "Tutur Pak Warto sambil menyelonos masuk ke dalam rumah di susul oleh sang istri dan anaknya.
" Awas aja , kalo mereka lagi susah , gue kaga bakalan bantuin " Teriak Ratna yang di dengar oleh Lesi, Lesi yang masih di ambang pintu mendadak berhenti, mengepalkan tangan nya sampai urat uratnya terlihat jelas di kulit putih nya.
" emang kapan elu bantuin gue susah ?, yang ada elu yang nyusahin keluarga gue , dasar orang gak punya otak, Gila , sakit jiwa " Batin nya berteriak tapi mulutnya diam, ia ingin sekali melabrak Ratna saat itu juga, tapi mengingat suasana sudah malam, dan takut jika menganggu tetangga.
Lesi terus menatap ke arah rumah Ratna, dengan tatapan tidak bersahabat.
" Tuhan , tolong balaskan dendam aku , lewat orang lain , aku tidak mau mengotori Tangan ku" Gumam nya dan ia masuk kedalam rumah.
Di rumah Ratna terus menangis sambil gulung gulungan, dengan teriak teriakan nya yang membuat siapa pun yang mendengar nya pasti akan menutup telinga, Di rumah nya hanya ada Dirinya dan juga Devon yang ikutan mengamuk di sampingnya.
Karena Andri, Riza dan Yessa sedang tidak berada di rumah.
~ gak semua orang suka anak kecil, kecuali anak nya sendiri , dan jangan normalisasikan NAMANYA JUGA ANAK ANAK !!~