Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 10 NAMA YANG DIUJI DI DEPAN TAMU
Ruang utama rumah itu berubah seperti panggung.
Lampu gantung menyala lebih terang dari biasanya.
Karpet merah digelar.
Meja panjang penuh hidangan mahal—yang namanya saja sulit diucap.
Tamu berdatangan.
Pakaian mereka berkilau.
Senyum mereka rapi.
Tatapan mereka… menilai.
Gadis itu berdiri di sisi kanan, sedikit ke belakang.
Gaunnya sederhana.
Tidak salah.
Tapi juga tidak cukup—untuk mereka.
“Ini istri cucumu?”
Seorang wanita paruh baya bersuara, senyumnya tipis tapi tajam.
“Iya,” jawab sang kakek singkat.
Wanita itu mengangguk, lalu menatap dari kepala sampai kaki.
“Oh… ya.”
Satu kata.
Tapi maknanya panjang.
Ia mendekat.
“Anak muda sekarang memang unik,” katanya sambil tertawa kecil.
“Pilihannya… berani.”
Tawa kecil menyusul dari beberapa tamu.
Gadis itu menunduk.
Tangannya saling menggenggam.
Wanita itu belum selesai.
“Biasanya,” lanjutnya, “perempuan yang masuk keluarga begini sudah dibekali.”
Ia menoleh ke ibu pemuda.
“Dilatih bicara, duduk, makan, bahkan senyum.”
Ia kembali menatap gadis itu.
“Ini… kelihatannya masih polos.”
Kata polos diucapkan seperti cacat.
Ibu pemuda tersenyum tipis.
“Kami sedang membiasakan.”
“Ah,” wanita itu mengangguk paham.
“Membiasakan itu sulit.”
Ia mendekat lagi, suaranya dibuat lembut palsu.
“Nak, kamu jangan tersinggung ya.”
Gadis itu mengangkat kepala sedikit.
“Iya, Tante.”
“Itu dia,” kata wanita itu cepat.
“Jawabannya pendek sekali.”
Ia tertawa kecil.
“Kalau di acara begini, kamu harus lebih hidup.”
Ia menoleh ke tamu lain.
“Kalau tidak, orang bisa salah paham.”
Salah satu pria ikut menyahut,
“Dikira tidak berpendidikan.”
Sunyi sesaat. Lalu tawa kecil pecah.
Gadis itu menelan ludah.
Matanya panas.
Wanita itu belum puas.
“Kamu dari keluarga apa, Nak?”
Gadis itu ragu.
“Saya—”
“Tidak usah malu,” potong wanita itu.
“Di sini semua orang sudah tahu.”
Ia mengibaskan tangan.
“Keluarga biasa. Sangat biasa.”
Ia tersenyum.
“Tapi ya… biasa juga bukan dosa.”
Ia mendekat lebih dekat lagi.
“Cuma kalau masuk tempat tinggi, harus tahu diri.”
Kalimat itu jatuh satu per satu.
Pelan.
Sengaja.
“Jangan sampai berdiri di posisi yang bukan milikmu,” lanjutnya.
“Karena nanti jatuhnya… memalukan.”
Gadis itu diam.
Pundaknya sedikit gemetar.
Seorang tamu lain ikut menimpali,
“Betul. Perempuan itu harus tahu kapasitas.”
Ia melirik gadis itu.
“Apalagi yang tiba-tiba dapat posisi.”
Kata tiba-tiba ditekan.
Ibu pemuda menyesap tehnya, tenang.
Tidak menghentikan.
Tidak membela.
Omelan berlanjut.
Panjang.
Bergantian.
“Cara berdirinya salah.”
“Tatapannya terlalu menunduk.”
“Kalau begini, bagaimana nanti urus keluarga besar?”
“Jangan-jangan cuma jadi pajangan.”
Kalimat demi kalimat menampar tanpa suara.
Gadis itu ingin mundur.
Tapi kakinya seperti tertanam.
Di ambang pintu, pemuda itu masuk.
Langkahnya tenang.
Wajahnya datar.
Ia berhenti tepat di samping gadis itu.
Wanita yang paling cerewet tersenyum. “Oh, cucumu datang.”
Pemuda itu menoleh padanya.
Tatapannya dingin.
“Ulangi,” katanya pelan.
Wanita itu tertawa kecil.
“Maksudku?”
“Kata-katamu barusan,” lanjutnya.
“Ulangi di depanku.”
Sunyi.
Wanita itu masih mencoba tersenyum.
“Kami hanya bercanda.”
Pemuda itu mengangguk.
“Kalau begitu, dengar baik-baik.”
Ia memegang tangan gadis itu.
Bukan erat.
Tapi jelas.
“Perempuan ini,” katanya tenang, “istriku.”
Ia menatap satu per satu tamu.
“Siapa pun yang merasa berhak menilai—”
Ia berhenti sejenak.
“Sebaiknya bercermin dulu.”
Wajah-wajah itu kaku.
Ia melanjutkan, suaranya tetap rendah.
“Di rumah ini, yang menentukan siapa pantas berdiri di mana—”
Ia menatap kakeknya sekilas.
“Kami.”
Kakek itu diam.
Pemuda itu kembali menatap tamu wanita tadi.
“Dan satu hal lagi.”
Ia mendekat setengah langkah.
“Mulutmu terlalu panjang.”
Tarik napas.
Sunyi.
“Di lain waktu,” lanjutnya, “mulut panjang bisa dipotong.”
Tidak ada ancaman eksplisit.
Tapi semua paham.
Wanita itu memucat.
Tersenyumnya hilang.
Pemuda itu menoleh ke gadis itu.
“Kamu capek.”
Gadis itu mengangguk pelan.
“Kita pulang.”
Ia menggandengnya pergi.
Melewati tamu-tamu yang kini menyingkir tanpa suara.
Di belakang, ibu pemuda mengepalkan tangan.
Matanya dingin.
Bukan kalah—
tapi merencanakan.
Gadis itu melangkah pergi.
Dadanya sesak.
Air matanya jatuh—diam-diam.
Untuk pertama kalinya,
malu bukan miliknya.
Dan rumah itu tahu—
permainan baru saja dimulai.
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid