Su Ran terbangun ketika mendengar suara melengking keras dan tangan kasar yang mengguncangnya..
Heh~ Apakah ini layanan Apartemennya, kenapa begitu kasar pijatannya?
Lalu, kenapa kedap suaranya sangat jelek?
Begitu sadar, ia ternyata masuk kesebuah era dinasti Ping yang tidak tercatat dibuku sejarah manapun.
Hee.. ingin menantangku soal bertani? dan menjual barang?
Jangan panggil aku Su 'si marketer andalan' jika tidak bisa mendapat untung apapun!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubun ntib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
“ Paman, biarkan saja! Aku akan memberikan kesempatan terakhir kali ini. tetapi jika besok – besok keluarga Fen mencari gara – gara denganku, aku akan membawa masalah ini ke pengadilan!” ucap Su Ran tegas.
Mendengar nada keras Su Ran, para warga serat kepala desa justru mengartikannya sebagai sikap pasrah dan tidak berdaya. Seolah ia dipaksa untuk mengalah dan menarik garis keras atas masalah ini.
Seolah – olah, keluarga cabang utama Fen benar – benar memaksanya untuk bersikap tegas. Jika saja Su Ran tahu apa yang mereka pikirkan, ia pasti terbahak tetapi tidak menghentikannya. Terkadang salah paham yang indah seperti ini adalah yang terbaik.
“ Nak, kau sudah sangat tersiksa,” keluh salah satu nenek yang terkenal suka gosip tetapi baik hatinya. Su Ran hanya menatapnya sambil tersenyum miris, begitu menyedihkan.
“ Bibi ketiga, sebaiknya jangan lagi ikut campur urusan anak Ran ini. jika sampai dia nekat untuk membawa perkara ini ke pengadilan, maka aku tidak bisa menolongmu,” kepala desa berkata sambil pasrah. Ia sendiri sudah pusing menghadapi tingkah cabang pertama Fen ini. semenjak ditinggalkan oleh Lao Fen, cabang pertama mengalami banyak kemunduran.
“ Lao San! Kau berkata membela Su Ran karena anakmu yang diuntungkan, kan? Huh, dasar pencuri pekerjaan,” semakin lama dan semakin terdesak membuat ucapan nenek tua semakin ngawur.
Wajah kepala desa menjadi gelap dan suram, ia hanya memandang datar nyonya tua Fen tetapi matanya menyiratkan kekesalan yang kentara.
“ Nyonya Tua. Untuk kuota pekerjaan, bukanlah terserah padamu. Tetapi TERSERAH KEPADAKU, ingin kuberikan kepada siapa,” Su Ran segera membantu kepala desa.
Sebenarnya, Su Ran sama sekali tidak memikirkan ‘jasa’ tersebut. Ia hanya membalas siapa yang baik terhadapnya ketika ia ‘diusir’ dari rumah peninggalan ayahnya.
Siapa yang akan tahu jika berujung dengan keserakahan keluarga FEN.
“ Nyonya tua, aku akan tekankan sekali lagi. Pemisahan keluarga kita disaksikan oleh seluruh warga bahkan sudah dilegalkan oleh pemerintah,”
“ Aku bukan tipe orang yang menyerang, tetapi jika ada yang berbuat macam – macam denganku, aku akan membalasnya!” lanjut Su Ran dengan tegas.
Nyonya tua Fen diam tanpa bisa menjawab apapun meskipun raut wajahnya tampak menghitam karena marah. Dengan begitu banyaknya orang yang menonton, juga adanya saksi baik orang maupun hitam diatas putih membuatnya dia tidak berdaya.
Ia hanya bisa melotot tajam ke arah Su Ran lalu segera pergi meninggalkan area ladang milik keluarga Ma.
Salah langkah, hari ini ia benar – benar salah perhitungan. Siapa yang menyangka jika anak jahat itu memiliki banyak pendukung bahkan pembela! Nyonya tua Fen kembali dengan wajah yang muram.
Kerumunan berangsur – angsur menghilang, para warga sibuk membicarakan hal ini dengan sanak saudaranya.
Hingga hanya menyisakan Su Ran, paman Ma, kepala desa, dan juga istri keduanya yang datang menyusul.
“ Su Ran, apa kamu tidak apa – apa?” tanya bibi kepala desa dengan prihatin. Kehidupan anak ini sungguh .... sangat menderita.
Kerabat yang tidak habisnya merongrong kehidupannya. Sudah berpisah pun masih saja mengganggu.
Awalnya, bibi kepala desa juga sedikit tidak setuju dengan pemutusan hubungan keluarga, tetapi melihat keadaan yang sekarang, bibi kepala desa langsung mengangkat jempol atas keputusan tegas Su Ran waktu itu.
“ Bibi, terima kasih. Tetapi rasanya aku sudah mati rasa dengan mereka. Entah harus bagaimana lagi menghadapi keluarga itu,” pasrah Su Ran sambil merentangkan kedua tangannya.
“ Jika mereka kembali berulah, jangan sungkan untuk memanggil paman tetuamu,” ucap bibi kepala desa yang diangguki oleh kepala desa. Su Ran mengangguk setuju.
Kelimanya kembali bekerja, kini bahkan kepala desa dan istrinya ikut serta dalam membantu pemupukan ladang milik keluarga Ma, tentu saja besok gantian keluarga Ma membantu di ladang kepala desa.
...****************...
Kejadian sore hari itu sama sekali tidak mempengaruhi pikiran Su Ran. Setelah kembali dari ladang keluarga Ma, Su Ran kembali memasuki ruang ajaibnya. Ia pertama memanen kacang panjang dan juga buah labu yang besar – besar. Tampak mengkilat dan warna orennya sungguh menggiurkan.
Air liurnya seakan menetes ketika memikirkan kue lumpur labu. Hmmm nyam – nyam.
Su Ran menyingkirkan pikiran laparnya terlebih dahulu lalu kembali menyibukkan dengan eksperimen sambal daging cincang kemasannya hingga waktu menunjukkan keesokan harinya.
Chen Rui, setelah benar – benar bekerja di kota, orang tuanya sepakat untuk membelikan sepeda roda dua. Meskipun harus menguras harta keluarga, tetapi paman dan bibi Chen sungguh tidak menyayangkan pengeluaran tersebut.
Chen Rui bisa pulang pergi sendiri tanpa harus menunggu diantar oleh Su Ran, memudahkan Su Ran untuk berjualan seperti biasa.
Hari ini, rencananya Su Ran akan membawa sampel sambal daging cincangnya untuk restoran Sedap Makan, sekaligus menanyakan perihal rumah yang ia inginkan juga untuk mengantar stok cabai.
Kali ini, karena teman – temannya bekerja di restoran Su Ran memilih untuk bertransaksi dengan paman Jiang di gang dekat restoran. Memang sedikit merepotkan, tetapi Su Ran tetap telaten menjalaninya sampai ia menemukan halaman rumah di kota.
Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 09.00 pagi, Su Ran sedang menuntun keledainya di jalanan desa. Sesekali ia menyapa para bibi yang sedang mengantar sarapan untuk keluarga mereka di sawah.
Meskipun sedang tidak musim tanam padi dan gandum, sawah mereka bisa difungsikan untuk menanam beberapa sayuran seperti kacang panjang dan ubi jalar. Benar – benar kehidupan yang menyenangkan.
Saat sedang melewati tempat sedikit sepi, tiba – tiba ada seorang anak kecil yang menghampirinya. Tampilan anak tersebut tampak malu – malu dan kikuk,
“ Kakak Su Ran, saudari Chen Rui memintamu untuk menemuinya di sungai sana. Ia sedang mencuci baju,” ucapnya dengan nada malu. Su Ran mengangkat alisnya sebelah, melihat dengan seksama bocah laki kecil satu ini.
Melihat tatapan Su Ran, mata bocah itu tampak menghindar dan terasa kikuk. Tidak ingin mengintimidasi seorang anak kecil, Su Ran kemudian tersenyum dan berterima kasih. Ia mengeluarkan sebutir permen t*ng – t*ng dari sakunya ( yang sebenarnya dari ruang ajaibnya) dan ia berikan kepada bocah tersebut.
Awalnya sang bocah menolak, entah karena merasa bersalah atau merasa malu tetapi Su Ran segera menjejalkannya kedalam pelukan sang bocah. Kemudian bocah tersebut berlari, menghilang dari pandangan Su Ran.
Su Ran menatap geli kepergian anak tersebut. Setelah ia memalingkan pandangannya dari sang bocah, matanya langsung menjadi dingin.
Menggunakan nama Chen Rui untuk menariknya pergi? Belum lagi sampai menyuruh seorang bocah untuk menipunya.
Su Ran ingin sekali melihat apa yang sedang direncanakan oleh keluarga Fen Tuan ini. ya, Su Ran sudah menduga jika ini pasti ulah keluarga tersebut.
Entah garapan nenek tua itu atau malah si dungu Fen Rui dan ibunya. Su Ran menyeringai.
Ia berjalan menuju sungai yang dimaksud. Sungai yang biasa memang digunakan untuk mencuci para gadis dan bibi sekitar desa.
“ ISTRIKU ... ISTRIKU ~