Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
"Iya Ranti ... apapun prasangkamu selagi itu membuatmu puas lanjutkan lah, anggap saja semua perkataanmu benar." Kata Nisa dengan santai.
"Makin ngaco aja kan ini orang, kemarin Tante Lulu bilang dia istrinya Gian ... Mana ada Gian mau nikah sama wanita kampung, selera Gian itu tinggi... buktinya, aku. Iya kan Ranti?"
Ranti mengangguk walaupun dia sebenarnya tidak setuju dengan apa yang di katakan oleh Bela.
"Ya ya ya terserah." Kata Nisa.
*Brukkkk
Bela mendorong tubuh Nisa, hampir saja rambutnya terkena bara api karena persis di dekat api unggun Nisa terjatuh.
"Aaaaaaa." Teriak Nisa, Hari yang sedang mengambil barang-barang di tendanya dengan cepat langsung berlari ke arah Nisa saat melihat insiden tersebut.
Dari arah yang lain Gian pun datang dengan cepat saat melihat sumber kegaduhan, tapi sayang ... Hari lebih cepat membantu Nisa.
"Nisa?!" Teriak Gian.
"Lepas, minggir kau!" Titah Gian pada Hari, saat Hari merangkul pundak Nisa setelah membantunya bangun, Gian melepasnya paksa.
"Eits, pelan-pelan bro! Aku tau Nisa sepupumu ... Tapi jangan keterlaluan." Kata Hari dengan nada menantang.
Sudah cukup Hari anggap Nisa ini wanita tak berpemilik, aku yang mengucapkan akad ... Berarti aku yang lebih berhak atas dia walaupun pernikahan ini sama sekali belum kami terima. Batin Gian.
"Aku gak apa-apa kok, gak usah berantem kayak gitu." Nisa berusaha melepas cekalan Gian, namun gagal ... Cengkraman tangan Gian cukup kuat menempel pada tubuhnya
"Gian lepas." Kata Nisa lagi.
"Enak banget si Nisa, berasa cantik banget dia di rebutin 2 cowo." Bisik Nisa pada Ranti.
Dengan pertimbangan singkat di dalam fikirannya, akhirnya Gian membuka suara yang selama ini telah tertahan.
"Nisa adalah istriku."
Bagai di sambar petir, tubuh Ranti seketika lemas ketika apa yang di katakan Arabela ternyata benar adanya. Ranti merasa kalah saing ... Dia merasa lebih cantik dan dalam hal karier Ranti merasa lebih unggul, tapi kenapa bisa-bisanya Gian memperistri Nisa.
"Gian, jujur ... Kamu pasti di jebak kan? Iya kan? Aku tau akal curang mereka."
"Jangan sok tahu kamu Ranti!" Sentak Gian.
Hari memasukan kedua tangannya ke saku celana, dia terus memasang wajah menantang, terlebih lagi pada pernyataan yang baru Gian lontarkan.
"Aku tidak percaya jika tidak ada bukti."
Gian menatap Nisa dalam-dalam, fikirannya terus berusaha kerasa memunculkan ide agar teman-temannya ini percaya dengan apa yang sudah dia katakan.
Detik kesekian, Gian Memiringkan wajahnya lalu men ci um bibir Nisa sambil memejamkan mata.
Sial, kesempatan dalam kesempitan, apa maksud pria ini?!
Nisa sangat ingin mendorong tubuh Gian, tapi hal yang akan terjadi berikutnya adalah harga diri Gian sebagai seorang lelaki akan hancur jika Nisa menolak ciu man nya.
Hari reflek menutup bibir dengan tangannya, matanya membulat sambil melirik ke arah Ranti dan juga Bela yang melihat jelas kejadian langka ini.
"Gian stop!" Teriak Bela.
"Kamu boleh gak sama aku ... tapi please, jangan nurunin standar kamu serendah-rendahnya kayak gini."
Gian mengusap bibir Nisa sebelum menjawab apa yang Bela katakan padanya. "At least ... Dia sangat terjaga dan tidak mata duitan seperti kamu Bela!" Ucap Gian dengan nada datar tapi penuh dengan penekanan.
Hari menepuk-nepuk tangannya pelan, "Akhirnya bro ... aku ikut seneng kalau Nisa udah di anggap jadi istri kayak sekarang ini."
Gian menaikan sebelah alisnya, dia belum mengerti apa yang di maksud oleh Hari.
"Apa maksudnya?"
"Nanti boleh tanya langsung Tante Lulu, Oh ya ... Malam ini biarkan aku tidur di tenda guide, tenda yang sudah kita persiapkan untuk tempat tidur kalian berdua saja, have fun!" Hari menepuk sebelah pindah Gian.
Nisa masih diam, dia tidak percaya Gian akan melakukan dan menganggap keberadaannya di hadapan semua temannya.
Acara makan malam bersama di area api unggun pun akhirnya di mulai, semua sangat menikmati dengan ceria ... Terkecuali Ranti dan Bela, wajah mereka sama sekali tidak bersahabat ... tapi tetap menikmati masakan yang sudah di siapkan oleh Nisa karena tidak ada pilihan lain.
.
.
Di dalam tenda, tak ada suara apapun di luar sana ... terkecuali suara aliran sungai yang berada beberapa meter dari tempat camping.
Nisa melapisi tubuhnya dengan beberapa lapis kain dan jaket, karena udara yang sangat dingin.
"Sudah mengantuk?" Tanya Gian.
"Lumayan."
Gian menepuk matras yang akan di gunakan untuk berbaring, membersihkan debu yang menempel disana. "Tidur disini."
"Ya memang dimana lagi?" Sahut Nisa masih dengan nada tak bersahabat.
"Sopanlah pada suamimu, berbicaralah dengan lemah lembut." Ucap Gian yang berhasil membuat Nisa diam seketika.
Di dalam tenda mereka tidur berdampingan tanpa saling bersentuhan, karena Nisa sama sekali belum merasakan ketulusan Gian pada pernikahannya, Nisa masih menganggap kalau sikap Gian tadi adalah untuk membuat Arabela cemburu.
***
Keduanya sudah sampai di depan rumah. Kali ini Gian sama sekali tidak membiarkan Nisa mengangkat barang apapun ... Gian membawa 2 tas sekaligus, pria itu berjalan di belakang Nisa yang lebih dulu sudah membuka pintu utama.
*Suara riuh tepukan tangan dan beberapa ledakan party.
Nisa dan Gian sama-sama terkejut, mereka bagaikan anak-anak yang sedang di berikan surprise ulang tahun.
"Yeay ... Welcome anak-anakku." Sambut Lulu, dengan Akbar yang merangkul di sebelahnya.
"Ibu ... apa ini sambutan untuk kami?"
"Yes! Untuk anak dan menantuku tersayang, selamat atas pernikahan kalian."
Nisa menengok sedikit ke arah Gian, mereka saling memandang karena heran dengan perayaan yang di buat oleh Lulu dan juga Akbar.
Seketika Gian teringat akan perkataan Hari pada malam kemarin di lokasi camping, saat Hari menyuruh menanyakan kejelasan pada ibunya.
"Apa rencana ibu dan juga Hari?" Tanya Gian.
"Tidak ada rencana spesial, hanya ingin tau seberapa tidak perdulinya kamu pada istrimu, karena ibu tau kamu ini adalah pria baik-baik.
"Untuk merayakan kebersamaan ini, bagaimana kalau kalian segera membuat cucu untuk kami?"
"Yaa betul sekali Ayah, rumah ini akan lebih berwarna dengan hadirnya seorang anak bayi."
Gian hanya menggelengkan kepalanya lalu mengajak Nisa untuk naik ke kamar meninggalkan Lulu dan Akbar. "Ayo Nis, kamu pasti capek kan?"
Bukannya kesal karena di acuhkan oleh Gian, Lulu dan Akbar justru makin melebarkan senyumnya saat mendengar Gian berbicara pada Nisa dengan nada lembut.
"Wohooooo ayah, siap jadi kakek?? Aku sangat siap jadi seorang nenek." Kata Lulu dengan antusias.
.
.
Di dalam kamar.
Keduanya sudah membersihkan diri masing-masing dan sudah berada di dalam selimut yang sama, tapi dengan guling yang masih menjadi pembatas, itu semua Nisa lakukan agar suasana terasa seperti biasanya.
"Boleh sedikit mendekat Nis?"