NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Antara Benalu dan Debu Jalanan

Di sebuah ruang tamu yang pengap oleh hawa kedengkian, Siska duduk dengan wajah yang ditekuk seribu. Ia menghempaskan tasnya ke atas meja, memancing perhatian sang ibu yang baru saja muncul dari dapur.

"Ma, Mama harus lihat sendiri betapa kurang ajarnya si pelakor itu sekarang!" adu Siska dengan nada dramatis yang sengaja dibuat-buat.

"Siska kemaren ke rumah Kak Inggit, niatnya baik mau mengamankan barang-barang berharga almarhumah. Eh, Siska malah diusir! Arlan dan perempuan itu seolah sudah kongkalikong mau menguasai semua benda berharga peninggalan Kak Inggit!"

Mama Inggit yang memang mudah tersulut emosi, langsung berkacak pinggang.

"Apa? Jadi si Hana itu sudah berani melarang kamu? Kurang ajar itu anak, kok malah ngelunjak setelah jadi nyonya di sana!"

"Iya, Ma! Padahal aku ini adik kandungnya. Darah daging sendiri! Sedangkan Hana? Dia itu cuma orang luar yang ambil kesempatan dalam kesempitan. Seenak jidat saja dia mau menikmati tas-tas bermerek dan perhiasan Kak Inggit yang harganya selangit itu!" Siska mengepalkan tangannya, matanya berkilat penuh dendam.

"Pokoknya kita tidak boleh diam, Ma. Barang-barang itu hak keluarga kita, bukan hak perempuan pemungut itu!"

***

Sementara itu, suasana di pelataran kampus terasa jauh lebih ringan namun tetap menegangkan bagi Hana. UAS terakhir baru saja usai, dan kini Hana berjalan bersisian dengan Dila menuju parkiran.

"Kamu langsung pulang, Dil?" tanya Hana sembari merapikan tasnya.

"Iya, Han. Sori banget ya, hari ini aku harus antar Mama check-up rutin. Jadi nggak bisa menemani kamu galau atau antar kamu pulang," ucap Dila dengan nada menyesal.

Hana tersenyum menenangkan.

"Nggak apa-apa, Dil. Santai saja. Lagipula, aku sudah ada yang menjemput hari ini."

Dila menghentikan langkahnya, matanya menyipit penuh selidik.

"Dijemput? Siapa? Papa kamu?"

Hana menggeleng pelan. Ia menoleh ke sekeliling, memastikan tidak ada telinga yang menguping, lalu berbisik sangat pelan di telinga sahabatnya.

"Mas Arlan."

"HAH?! Kamu manggil apa tadi?" Dila memekik, namun segera membekap mulutnya sendiri saat menyadari volumenya terlalu keras.

"Mas? Sejak kapan panggilannya berubah jadi Mas?"

Hana merona tipis, ia mengangguk pasrah.

"Ya mau bagaimana lagi, Dil. Beliau sudah jadi suamiku sekarang. Rasanya aneh kalau di rumah masih panggil 'Pak' terus."

"Dunia memang sudah terbalik," gumam Dila takjub.

"Jadi, dia jemput di depan fakultas?"

"Jangan gila! Bisa gempar satu kampus. Di depan minimarket depan saja."

"Oke, kalau begitu aku bonceng sampai depan."

Hana baru saja hendak naik ke boncengan motor matik Dila ketika sebuah suara lantang menghentikan gerakan mereka.

"Assalamualaikum, calon istri dunia akhirat!"

Tomi berdiri di sana, bersandar pada motor sport-nya dengan senyum paling lebar dan percaya diri seantero jagat. Hana hanya bisa menghela napas panjang, sementara Dila sudah memasang wajah 'siap tempur'.

"Waalaikumsalam," jawab Hana dan Dila berbarengan dengan nada datar sesingkat mungkin.

"Woi, Sapu Ijuk! Siapa yang Lo panggil calon istri? Seenak jidat saja main klaim!" protes Dila sembari menarik gas motornya agar mengeluarkan suara berisik.

Tomi tidak bergeming, ia malah merapikan jambulnya.

"Yee, Petasan Listrik! Yang gue panggil itu Hana, bukan Lo. Protes melulu kalau gue mau mendekati Hana. Heran gue, lo itu sahabat atau satpam galak sih?"

Tomi mencoba melangkah mendekati Hana, namun Dila dengan sigap mengadang dengan memajukan motornya sedikit ke depan kaki Tomi.

"Debu jalanan jauh-jauh! Tuan putri mau lewat, jangan sampai kecantikan Hana ternoda sama polusi kayak lo!"

"Hana, dengerin dulu," suara Tomi melembut saat menatap Hana.

"Aku anter pulang ya? Aku sudah belikan boba kesukaanmu, masih dingin nih."

Hana tersenyum kaku, ia merasa tidak enak namun harus tegas. Ia menerima minuman Boba dari Tomi karena pemuda itu memberi dengan sedikit memaksa.

"Maaf ya Tomi, aku sudah ada janji. Aku harus buru-buru. Assalamualaikum."

Dila tidak membuang waktu. Ia langsung menarik gas dalam-dalam, meninggalkan Tomi yang berteriak-teriak di belakang.

"Hana! Besok aku jemput ya! Jangan lupa diminum boba-nya dalam doa!"

Setelah cukup jauh dari jangkauan Tomi, Hana akhirnya bisa bernapas lega.

"Makasih ya, Dil. Kamu memang penyelamat."

"Han, kayaknya kamu nggak bisa begini terus deh," ujar Dila saat mereka berhenti di depan lampu merah.

"Tuh mantan Presma nggak bakal menyerah mendekatimu. Dia itu tipikal cowok agresif yang bakal terus mengejar kecuali..."

"Kecuali apa?"

"Kecuali dia tahu kalau kamu sudah menikah. Kalau statusmu jelas, dia pasti bakal mundur dengan sendirinya karena dia punya harga diri tinggi."

Hana terdiam. Kalimat Dila barusan menghujam tepat di pusat ketakutannya.

Mempublikasikan pernikahan? Bayangan teriakan "Pelakor!" dan tatapan menghina dari orang-orang kampus kembali menari-nari di pikirannya. Ia menikah murni karena wasiat Inggit dan rasa hormatnya, bukan karena ingin merebut suami orang. Namun, siapa yang akan percaya?

Hana hanya bisa terdiam sepanjang sisa perjalanan menuju minimarket. Pikirannya penuh. Ia bersyukur bisa menghindari Tomi hari ini, tapi ia tahu, persembunyian ini tidak akan bertahan selamanya.

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!