Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Special chapter 2 : ketika kunci pas masuk dapur
Bencana domestik dimulai saat Umi Khadijah, sang penguasa dapur dhalem, harus menghadiri Muktamar Ibu Nyai se-Jawa Timur selama tiga hari. Pesantren tetap berjalan seperti biasa, namun urusan perut keluarga inti kini berada di tangan Syra. Masalahnya adalah, Syra lebih mahir membedakan viskositas oli mesin daripada membedakan mana lengkuas, mana jahe, dan mana kunyit.
"Kenapa sayur asem buatan Syra warnanya jadi ungu kehitaman begini ya?" tanya Arkanza dengan dahi berkerut tajam saat ia masuk ke dapur setelah memimpin kelas Fathul Qorib yang menguras tenaga.
Syra berdiri di depan kompor dengan apron yang terpasang miring, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya belepotan tepung karena tadi sempat mencoba membuat mendoan yang akhirnya berakhir menjadi gumpalan gorengan yang keras.
"Tadi gue pikir bakalan estetik kalau warna kuahnya gelap-gelap keren gitu, mirip warna coolant radiator motor sport gue, Gus! Eh, ternyata pas gue masukin terong dan beberapa bumbu lain, warnanya malah jadi begini. Dan... gue rasa gue nggak sengaja masukin garam dua kali karena tadi sempat terdistraksi sama Zavian yang narik-narik kabel blender," jawab Syra dengan nada membela diri namun terdengar pasrah.
Arkanza tertawa hingga matanya menyipit, menciptakan kerutan-kerutan manis di sudut matanya yang selalu berhasil meluluhkan kemarahan Syra. Ia menoleh ke bawah, melihat Zavian sedang duduk di lantai dapur yang sedikit berantakan. Bocah itu asyik bermain dengan dua tutup panci yang ia perlakukan seperti kemudi motor sport, sambil sesekali berteriak "Brum... brum... gas!" dengan semangat yang meluap-luap.
"Oke, Nyai Mekanik. Sekarang letakkan ulekan itu perlahan sebelum ada bahan makanan lain yang menjadi korban," ucap Arkanza sambil mulai menggulung lengan kemeja kokonya dengan rapi. "Biarkan saya yang ambil alih sebelum dapur kesayangan Umi ini berubah menjadi zona merah bencana nasional."
Pemandangan langka dan komedi pun terjadi. Arkanza, sang Gus yang disegani ribuan santri karena kedalaman ilmunya, kini mengenakan apron motif bunga berwarna merah muda milik Umi. Ia dengan sangat lihai mulai memotong bawang merah dan putih dengan kecepatan seorang koki profesional. Syra hanya bisa terduduk di atas meja dapur—posisi favoritnya sejak zaman masih sering kena hukuman—sambil menyuapi Zavian potongan wortel mentah untuk meredam kegaduhan si kecil.
"Lo kok bisa jago banget masak sih, Gus? Ini nggak adil buat gue yang udah nyoba belajar pake tutorial YouTube seminggu ini," protes Syra sambil melihat Arkanza melakukan teknik flipping pada wajan dengan sangat tenang.
"Dulu saat masih kuliah dan aktif di Jakarta, saya tinggal di apartemen sendirian. Uang kiriman dari Abi seringnya saya pakai buat beli sparepart langka untuk motor klasik ini. Jadi, pilihannya cuma dua: lapar atau belajar masak bahan seadanya," jawab Arkanza santai tanpa menoleh. "Masak itu mirip nyetel mesin, Syra. Takarannya harus pas, apinya jangan kegedean, dan yang paling penting... harus pakai perasaan."
Zavian bertepuk tangan melihat aksi Abi-nya yang menurutnya sangat keren. "Abi... Abi... gas pol makan!" teriaknya girang. Syra tersenyum, menyadari bahwa meskipun ia gagal menjadi ratu dapur, ia telah berhasil menjadi ratu di hati pria yang bisa melakukan segalanya. Di antara aroma bawang goreng dan tawa Zavian, Syra merasakan kehangatan yang jauh lebih berharga daripada piala balap mana pun yang pernah ia raih.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...