Hanya tentang seorang perempuan yang menjadi selingkuhan laki-laki yang katanya mencintai nya.. Benarkah ini cinta atau hanya nafsu semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana kimtae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan dan Nafsu
"Apa yang membawa kamu datang kemari..? bukankah sudah jelas ku katakan,saat kamu memilih gadis itu kamu bukan bagian dari keluarga Jeon lagi.."
Jeon Hanah melipat kedua tangannya di dada, matanya begitu tajam memandang Jeon dan Emily yang masih berdiri di depan pintu rumah besar Jeon.
"Biarkan kami masuk dulu mih.."pinta Jeon.
"Untuk apa..?aku tidak menerima orang asing dirumahku.."
Jeon hanya bisa memutar bola matanya malas mendengar ocehan ibundanya.Ternyata kata-kata yang di ucapkan tempo hari benar-benar terjadi.Jeon Hanah tidak menerima dia kembali ke rumah itu dengan membawa Emily.
"Dan kamu siapapun namamu aku tak perduli,jangan pernah berharap untuk menjadi menantu di keluarga ini.Menantuku sampai kapanpun tetap Namira Jeon"
"Mami.. berhentilah berkata seperti itu.."
"Sungguh Jeon aku sangat muak dengan cinta kalian.Kamu juga masih muda kok mau jadi simpanan laki-laki tua macam dia.Seperti tidak ada lelaki lain saja, yang lebih muda yang single"mulut Jeon Hanah masih meracau.
"Biarkan kami masuk mih.."ucap Jeon sedikit menarik tangan ibunya.Wanita itu menepis tangan Jeon dengan kasar tak berniat memberikan jalan pada mereka untuk masuk ke dalam rumah.
"Pergilah, sebentar lagi menantuku datang..kamu pasti tak ingin simpanan mu ini malu didepan mantan istrimu karena tak diterima dirumah ini"
"Emily bukan simpananku,dia kekasihku mih.. please berhentilah untuk mengatakan yang tidak-tidak "
"Bukan simpanan katamu...cuihhh semua orang didunia tau siapa dia, pelakor "
Emily hanya terdiam dan semakin menundukkan kepalanya tak ingin bersitatap dengan wanita paruh baya itu.
Pintu pagar tinggi terbuka dan sebuah mobil merah masuk dengan perlahan.Terlihat Namira turun dari sana sembari membawa beberapa kantong belanjaan yang entah isinya apa.
"Mami..."
"Ohh..menantuku sudah datang..ayo masuk"
Namira melewati keduanya begitu saja tanpa mengapa.Jeon Hanah dengan senang hati menggandeng wanita itu dan terdengar mengobrol diselingi canda tawa.
Emily melepaskan pegangan tangan Jeon dan berlalu dari sana.Jeon mengikuti kekasihnya dan segera membukakan pintu mobil untuk Emily.
Didalam mobil tak ada percakapan sama sekali, keduanya bungkam tak berniat untuk membicarakan lebih lanjut tentang penolakan yang diberikan oleh ibu dari Jeon.
Setelah menempuh perjalanan tanpa suara, Jeon memarkirkan mobilnya didepan rumah mereka.Emily segera keluar tak menunggu kekasihnya untuk membukakan pintu untuknya.Hatinya sudah sangat sakit mendengar dan melihat perlakuan dari Jeon Hanah.
"Sialan wanita tua itu"ucapnya cukup keras hingga terdengar oleh Jeon.
Pria itu hanya diam saja tak menanggapi ucapan Emily,dia memejamkan matanya masih diam didalam mobilnya.Jeon yakin setelah ini Emily tidak akan mau lagi di ajak untuk menemui ibunya.Dipermalukan seperti itu memang rasanya pasti sakit seperti tak ada harga diri.
Didalam kamar, Emily berusaha untuk tidak menghancurkan isi kamar mereka.Gadis itu tidak ingin Jeon berpikir ulang untuk menikahinya. Tapi rasa sakit yang luar biasa membuat mulutnya mengatakan yang tidak seharusnya.
Jeon memasuki kamar dan melihat Emily sedang duduk di depan meja rias tanpa melakukan apapun.Dia segera memeluk tubuh mungil itu membawanya kedalam dekapan.Hati jeon juga terluka, sungguh melihat ibunya memperlakukan Emily seperti tadi membuat dirinya marah .Tapi tak ada yang bisa dia lakukan, ibunya akan semakin murka jika Jeon melawan.Karena Jeon tau ibundanya tak akan luluh begitu saja.Untung saja perusahaan sudah atas namanya,jika tidak, habis sudah kekayaan Jeon tak akan bersisa.
"Maafin aku ya.. maafin mami ku juga,aku yakin mami akan segera menerima hubungan kita"
Emily hanya diam seribu bahasa,dia sudah tidak ada daya untuk sekedar mengucapkan kata Ya..
"Sayang...jangan diamkan aku seperti ini, tolong bicaralah.."
"Mandilah mas...aku kedapur dulu, nanti kita makan malam bersama"
Emily melepaskan pelukan Jeon dan segera berlalu dari hadapan pria itu.Jeon hanya diam terpaku melihat sikap dingin Emily.
Pria itu bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya juga merilekskan pikirannya yang penuh dengan berbagai macam dugaan.
Didapur Emily duduk diam menatap hampa pada dinding di depannya.Sungguh dia tak ingin memasak apapun tapi dia harus menghindari pertengkaran dengan Jeon.
Dia tak ingin Jeon menganggapnya sebagai gadis yang gampang meledak.Citra baik yang selama ini dia pertontonkan akan hancur tak bersisa hanya karena kemarahan semalam.
"Kita makan ramen saja ya.."
Tiba-tiba saja Jeon sudah masuk ke dapur dan mengelus pucuk kepala Emily.Gadis itu sedikit tersentak saat tangan Jeon berada di kepalanya.
Tanpa meminta persetujuan Emily pria itu langsung mengambil peralatan dan bahan-bahan untuk memasak ramen.Dengan cekatan Jeon memasak sembari sesekali mencium kening kekasihnya.
"Makanan sudah siap.."Jeon membawa dua mangkuk penuh ramen dengan toping sayur,bakso dan telur di atasnya.
Emily mengaduk ramen tanpa berniat untuk memakannya.Jeon menatap kekasihnya dan menggenggam sebelah tangan Emily.
"Sayang..."
"Makanlah mas...ramennya keburu dingin "
Jeon menggeser mangkuk ramen dengan sedikit kencang hingga kuah panas itu tumpah ruah di atas meja.Kepalanya penuh dengan segala dugaan, amarah sudah ingin meluap dengan segera.
"Aku sudah bersabar sedari tadi..tapi kamu malah terus menerus membuat aku kesal"
"Ohh...kamu sekarang sudah bisa membentak aku mas.. kenapa..? Hahhh kamu sudah tak ingin bersamaku, setelah melihat perempuan ular tadi.Pergilah..pergi pada perempuan itu,hanya dia kan yang ibumu inginkan" Emily berteriak kencang menumpahkan isi hatinya yang sedari tadi sudah penuh sesak di dalam dada.
"Berhentilah terus menerus menyalahkan Namira,dia lebih sakit dibandingkan dengan keadaan kita sekarang..tapi dia tidak pernah menyalahkan aku ataupun kamu"
"Oke.. maafkan aku mas,aku memang bukan mantan istri kamu yang hebat dan kuat.Aku hanyalah wanita simpanan"
Emily meninggalkan Jeon tak ingin lagi berdebat dengan pria itu.Dada Emily semakin sesak saat Jeon membandingkan dirinya dengan mantan istrinya.Air mata satu persatu turun dari kedua mata indahnya, sungguh inilah pertama kali Jeon membentak dirinya.Ditambah lagi pria itu membandingkan dirinya dengan Namira.
"Sialan kalian semua"
Didapur, Jeon termenung setelah membereskan semua kekacauan yang dia ciptakan sendiri.Sungguh bukan itu yang dia ingin katakan,Jeon hanya lelah ketika Emily mengabaikan dirinya.
Pria itu memasuki kamar dan melihat Emily sudah terbaring di ranjang mereka.Rambutnya masih terlihat sangat basah, Sepertinya gadis itu baru saja selesai mandi. Jeon mengambil handuk kecil yang tersampir di belakang pintu kamar mandi.
"Nanti kepalamu sakit.."Jeon mengusap rambut Emily dengan handuk ditangannya.Pria itu sangat sedih mengingat betapa kecewanya Emily saat mengatakan dia hanyalah seorang wanita simpanan.Gadis itu tetap memejamkan matanya dan membiarkan Jeon mengeringkan rambut basahnya.
"Maafkan aku sayang..aku sama sekali tak ada niat sedikitpun untuk membuatmu merasa sedih dan kecewa"
Jeon merapikan rambut Emily dan mengganti bantal yang basah dengan bantal dia sendiri.Emily tetap diam dan tidak merespon apapun yang Jeon lakukan.Dia mengangkat kepalanya saat Jeon meminta, dia membiarkan dirinya di urus oleh Jeon.
"Sayang..."Jeon menangkup kedua sisi wajah Emily untuk melihat ke arahnya.Gadis itu hanya membiarkan Jeon melakukan semuanya.Tatapan mereka bertemu, Jeon melihat kedua mata Emily begitu sembab.Gadisnya menangis saat mandi atau memang sudah menangis sedari awal dan dia tak tau.
"Sayang..tampar aku atau pukuli aku sesukamu.Jangan diamkan aku seperti ini"
Jeon memeluk tubuh Emily, dia menelusupkan kepalanya di ceruk leher milik gadis itu.Tiba-tiba saja Emily merasakan lehernya basah.Apakah Jeon menangis..?
"Jangan tinggalkan aku sayang..aku baru saja merasakan kebahagiaan dalam hidupku"
Emily mengangkat kepala Jeon dan dia melihat pria itu benar-benar menangis.Mata pria itu memerah dan buliran air mata masih ada disana.
"Kenapa kamu menangis..?"
"Sayang... akhirnya kamu mau bicara denganku lagi"Jeon kembali memeluk gadis itu walaupun dirinya masih sesenggukan.
"Jangan kekanakan "Emily memukul pelan lengan Jeon.
"Aku sangat cinta sama kamu.. sangat sangat cinta.Bahkan aku tak perduli mami tidak menganggap diriku anak,asal kamu masih disini"
"Kamu janji akan selalu cinta aku dan selalu disampingku walaupun semua orang membenci hubungan kita..?"
"Iya sayang iyaaa..."jawab Jeon cepat.
Jeon menatap wajah kekasihnya dan menumbukkan bibirnya dengan bibir menggoda milik Emily.Mereka saling memagut dengan penuh gairah, sehingga lupa bahwa mereka tadi bertengkar hebat.
"Mmmm hhhhh"Lenguhan terdengar dari bilah bibir Emily.Gadis itu begitu dipenuhi nafsu saat tangan Jeon merayap masuk kedalam piyamanya.
Bibir yang masih saling memagut dengan lidah yang saling membelit membuat Emily kewalahan.Gadis itu sampai memukul dada Jeon supaya diberikan waktu untuk menghirup oksigen lebih banyak.
"Kamu sengaja mau membuatku mati ya.."ucap Emily kesal.
Tangan Jeon membelai dan meremas kedua payudara besar milik Emily.Dia bahkan memelintir puting yang sudah mengeras karena rangsangan yang dia berikan.
Tak tinggal diam bibirnya pun menggigit dan menjilat leher Emily hingga menimbulkan bercak kemerahan di kulit putih itu.
Emily duduk begitu saja dan dia segera menarik celana tidur milik Jeon.Bahkan dia tak menyisakan sehelai benangpun disana.Emily melihat kejantanan Jeon yang sudah mencuat begitu besar.Dengan terampil tangannya mengurut pangkal penis milik Jeon.
"Sayang...mmhhhh"Geraman Jeon terdengar seperti tak sabar akan apa yang dilakukan kekasihnya.
Emily memasukkan penis besar itu kedalam mulutnya.Lidahnya menjilat erotis pucuk kepala penis itu.Jeon menarik lembut rambut Emily sampai sang empu mendongak.Tanpa ragu Emily memasukkan penis besar itu semakin dalam ke dalam mulutnya.Walaupun benda panjang berurat itu tidak bisa masuk semuanya,tapi Emily berusaha.
"Yaa..benar.. begitu kitten"
Berulang kali Emily memaju mundurkan mulutnya membuat Jeon semakin terbakar nafsu.Rasa hangat dari mulut Emily semakin membuat dirinya ingin menghancurkan lubang gadis itu.
Jeon menyentak tubuh Emily dan secepatnya dia mengungkung gadis itu.
"Aku tidak mau mengeluarkan benihku di mulut kecilmu itu sayang"
Selebihnya hanya teriakan dan geraman penuh gairah yang terdengar dari keduanya.
_________________________________
Namira menyisir rambutnya dengan perlahan,dia tersenyum saat mengingat kembali wajah kekasih mantan suaminya.Gadis itu sepertinya sangat kesal karena tidak diperbolehkan masuk oleh mertuanya.
Wanita itu akhirnya menyetujui keinginan Jeon Hanah untuk membuat Jeon berpikir ulang untuk menikahi gadis muda itu. Mereka akan melakukan berbagai cara supaya gadis itu merasa tak diterima oleh keluarga Jeon dan akhirnya merasa jengah pada Jeon Respati.
Namira sebenarnya tak ingin ada di antara mereka lagi tapi rasa sakit hati akhirnya membuat dia ingin menghancurkan gadis itu.Dia akan bertingkah seolah korban padahal dia adalah pelaku.
"Mommy..."
Namira merentangkan tangannya meminta Evan untuk memeluk dirinya.Mungkin dia dan Jeon tak akan bersama lagi tapi Namira berjanji putranya tak akan pernah kekurangan kasih sayang sedikitpun.Bahkan gadis seperti Emily tidak akan pernah bisa membuat hidup putranya menjadi kacau.Tak akan pernah..
"Besok mommy akan antarkan Evan kerumah Daddy.."
"Yeayy.. mommy janji..?"
Namira menganggukan kepalanya dan mencium kening bocah itu dengan sayang.Dia segera meminta putranya untuk segera tidur supaya besok bisa menemui Daddy nya dengan keadaan segar dan bisa main sepuasnya.
Dengan ragu dia mengetikkan sesuatu di ponselnya.Wanita itu mengatakan akan mengantarkan Evan kerumah Jeon besok pagi.Tak ada balasan hanya centang dua yang tak berubah warna.Namira membiarkan pesan itu, mungkin nanti akan dibaca oleh Jeon saat pria itu sudah memegang ponselnya.
Namira mengunci pintu kamarnya dengan cepat.Tiba-tiba saja dia sangat merindukan sentuhan Jeon Respati.Kedua tangannya segera melucuti pakaiannya sendiri.Matanya terpejam dan membayangkan tangan kekar milik Jeon meremas kedua payudara miliknya.
Jemarinya turun ke bawah dan menelusuri area kewanitaan nya sendiri.Dia merasakan Vaginanya sudah lembab dan sedikit basah.
"Ehmmmm.. Jeonnnn sentuh aku sayang"
Satu tangannya berada di payudara miliknya meremas dan memainkan putingnya yang sudah mengeras.Satu tangan lagi berada di bawah membelai dan mengobrak abrik miliknya sendiri.
"Jeonnn sayangg...ahhhhhh ahhhhh"
Tak cukup hanya dengan kedua tangannya dia segera mengambil alat bantu yang dia punya.Alat yang mirip sekali dengan kejantanan itu begitu membuat dia semakin terbakar nafsu yang membara.
Namira mengulum benda itu dengan tangan satunya yang masih keluar masuk di bawah sana.Dengan tak sabar wanita itu memasukkan benda yang sedari berada ditangannya ke lubang berkedut miliknya.
"Ahhhh...ahnnnn..ahhhhh.. Jeonnnn "
Tangan Namira begitu lincah memaju mundurkan benda panjang itu, nafsunya sudah membakar kewarasan yang dia punya.Matanya memejam merasakan kenikmatan yang luar biasa.
"Ahhhh...Jeonnn..cummm cummm..Akhhhh"Teriakan nya mengakhiri sesi bercinta dengan dirinya sendiri.Namira menikmati pelepasan yang baru saja dia rasakan.Begitu nikmat dan hampir saja membuat dia menangis.Wanita itu membelai payudara miliknya, meremas perlahan sembari menikmati eforia pelepasannya.
"Aku akan membuatmu menyentuh tubuhku lagi jeon"racaunya sebelum dia jatuh tertidur dengan tubuh yang masih polos.
_____________________________
Hai para readers yang baik.. Terimakasih sudah membaca buku ini.Tanpa sadar aku sudah menulis lebih dari seribu kata..Tolong untuk like dan komennya ya.. ditunggu, Terimakasih 🙏