NovelToon NovelToon
Pesona Kakak Posesif Season 2

Pesona Kakak Posesif Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Keluarga / Cintamanis
Popularitas:225
Nilai: 5
Nama Author: Dwi Asti A

Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.

Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.

Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.

Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kritis

“Berhenti menyakitinya, Nyonya.”

Daniyal datang dan berdiri di antara Hanin dan Sabrina.

Melihat anak buah Aariz membela Hanin, Sabrina bertambah geram. Merasa Hanin hanya anak kampung, tapi begitu banyak yang memperhatikannya. Sementara Luna tak seorang pun yang peduli padanya.

“Semenjak ada anak ini sikap kalian berubah, juga pada Luna. Dulu kalian selalu peduli padanya.”

“Jangan salah paham, Nyonya, bukan ingin membela siapa pun, tapi sikap Nona Luna yang angkuh dan senang membuat masalah membuat semua orang menjauhinya. Mereka takut dengannya karena setiap kali dia kesal dia selalu mengancam akan mengadu pada Anda sampai mengancam akan memecat. Sementara Nona Hanin, dia gadis mandiri dan baik hati.”

“Baik apanya, karena dia rumah tanggaku dengan Aariz berantakan sekarang. Dulu sebelum ada dia kami baik-baik saja.”

“Iya, baik dengan segala kebohonganmu,” sela Aariz.

Pok pok pok ...!!

“Sudah, sudah cukup main drama keluarganya. Hari ini juga aku minta kalian tinggalkan rumah ini. Aku berikan waktu sampai jam delapan malam, aku masih baik, kan?” pria bernama Gamal memberikan pesan terakhirnya sebelum meninggalkan rumah itu bersama anak buahnya.

Aariz terhuyung nyaris jatuh, Daniyal dan Amaan membantunya untuk duduk.

“Sekarang apa kau sudah puas? Gara-gara perbuatanmu yang serakah itu sekarang rumah ini disita. Sekarang pergi! Aku tidak ingin melihat mukamu itu!”

Shabrina melenggang mendekati Aariz. Raut wajahnya tak menunjukkan kesedihan sama sekali, bahkan terlihat bangga melihat Aariz yang lemah.

Sikapnya tidak seperti orang yang sudah hampir menjadi pengemis jalanan, dan itu disadari Daniyal dan Amaan.

“Kau tidak perlu mengusirku aku juga akan pergi dari rumah ini. Kau ini sudah penyakitan dan tidak akan sembuh, jadi untuk apa aku tinggal dengan orang yang sudah hampir sekarat, mending memilih laki-laki yang masih bisa menyenangkan di ranjang.”

Mendengar ucapan itu Aariz meluap emosinya. Dia mencengkeram dan menarik leher Sabrina ke arahnya setengah mencekiknya, membuat Sabrina sesak nafas.

Daniyal dan Amaan berusaha mencegah Aariz, tapi pria itu sedang emosi saat ini tak bisa disingkirkan. Cengkeramannya begitu kuat, wajah Sabrina sudah dibuat merah padam.

“Selama ini aku memberikan semuanya padamu dengan tulus, setelah pergi dariku dan meninggalkankanku kau hanya wani yang tidak berguna. Kau tidak akan pernah lagi merasakan kebahagiaan seperti sebelumnya.”

“Le lepaskan Aariz ..., a aku bisa mati,” rintih Sabrina, suaranya tersendat-sendat.

Luna juga berusaha menyingkirkan Aariz dari ibunya, tapi dia tidak bisa melakukannya. Dia hanya bisa menangis. Sementara kedua mata Aariz sudah merah. Hanin benar-benar takut keadaan ayahnya akan semakin parah. Dia terus meminta ayahnya untuk menahan diri.

“Kau datang dengan membawa kebohongan di perutmu itu, aku pastikan kau akan kembali seperti itu, hidup di jalanan.”

Usai mengatakan itu, Aariz melepaskan cengkeramannya, tiba-tiba dia berhenti bergerak dan jatuh terkulai. Semuanya panik. Amaan dan Daniyal segera membawa Aariz ke rumah sakit.

Sabrina terkulai lemas di lantai, dia masih memegangi lehernya yang merah, nafasnya tersengal-sengal. Luna berteriak meminta tolong, sedangkan di rumah hanya ada Bibi Zaenab dan Paman Umar.

Mereka sebenarnya enggan membantu Sabrina yang sudah membuat mereka mungkin kehilangan pekerjaan di rumah itu. Rumah itu disita maka mereka tidak tahu akan bekerja di mana.

Terpaksa Umar membantu membawa Sabrina dengan memanggilkan taksi dan mengantar mereka ke rumah pengobatan terdekat. Di rumah hanya menyisakan Bibi Zaenab yang tengah kebingungan apa yang harus dilakukannya di rumah itu. Pemiliknya di rumah sakit, dan malam itu mereka harus meninggalkan rumah.

Aariz dibawa di rumah sakit yang sama. Pemeriksaan kali ini juga berlangsung cukup lama membuat Hanin gelisah dan cemas.

“Nona duduklah dengan tenang, saya yakin Tuan Aariz akan baik-baik saja,” ujar Daniyal menenangkan.

“Bagaimana aku bisa tenang, keadaan ayah sebelumnya tidak baik, sekarang dia harus dirawat lagi, bagaimana kalau keadaannya bertambah parah.”

“Doakan yang baik, Nona. Tuan itu pria yang kuat, dia tidak akan apa-apa.”

Saat Daniyal sedang berusaha menenangkan Hanin, mendadak ponselnya berdering, panggilan dari perusahaan.

“Nona tunggu di sini sebentar, saya ada telepon dari kantor.” Daniyal beranjak dan meninggalkan tempat itu.

Amaan berdiri bersandar pada tiang tak jauh dari tempat itu, hanya bisa melihat keadaan Hanin dengan tatapan prihatin. Terlintas dalam pikirannya berpikir mungkinkan kehadiran Hanin memang membawa hal buruk pada Aariz. Sebelum gadis itu datang Aariz tak pernah terlihat sakit. Rumah tangganya pun tampak aman. Sekarang rumah sudah lenyap disita, Aariz bercerai dengan istrinya dan sekarang keadaannya masih kritis. Entah hal buruk apa lagi yang akan terjadi.

‘Ya ampun! Apa yang aku pikirkan barusan.’ Amaan mendadak merasa bersalah tiba-tiba berpikir negatif tentang Hanin. Jelas-jelas Hanin putri kandung atasannya yang selama bertahun-tahun dicarinya. Saat ini mereka mungkin banyak masalah, tapi dirinya tidak punya hak menuduh seseorang yang baik seperti Hanin itu menjadi penyebab segala masalah.

“Nona, saya harus pergi dulu, ada urusan penting di perusahaan. Seharusnya hari ini Tuan Aariz hadir dalam rapat penting, tapi gagal karena sakitnya, jadi saya harus mengurus masalah ini.”

“Iya, Kak, pergi saja, Hani masih bisa menjaga ayah di sini.”

“Sebenarnya saya ingin menemani Nona sampai ada kabar dari Tuan Aariz, tapi keadaan di perusahaan juga penting.”

“Pergi saja, Kak, kalau ada masalah kau beritahu aku.”

“Baik, Nona.”

Sebelum pergi, Daniyal menghampiri Amaan. Saat ini Cuma Amaan yang bisa diandalkan untuk menjaga Hanin selama dirinya pergi

“Tolong kau jaga mereka baik-baik, kalau ada masalah segera kabari aku,” pesan Daniyal.

“Iya, tentu saja.”

Setelah tiga jam berlalu, dokter masih belum keluar untuk memberikan kabar. Amaan kemudian menghampiri Hanin.

“Nona, Anda mau saya belikan apa, saya mau pergi ke kantin membeli air mineral?” tanya Amaan.

“Air minum saja.”

“Anda yakin tidak ingin makan sesuatu, dari pagi Anda belum makan apa pun.”

“Kalau begitu mi instan saja.”

“Baik.”

Tinggal Hanin seorang diri di ruang tunggu. Saat itu dia merasa benar-benar sendirian dan sepi. Jika tak ada Daniyal, Amaan, Bibi Zaenab dan Umar, mungkin dirinya hanya anak sebatang kara di kota itu. Hanin teringat dengan Satya, tapi dia tidak memiliki nomor teleponnya yang baru.

‘Untuk apa aku mengharap kehadirannya.’

“Hanin kau sendirian di sini?”

Hanin mendongak, Dokter Ibrahim sudah berdiri di hadapannya. Hanin seketika beranjak berdiri.

“Dokter, bagaimana keadaan ayah saya?” Hanin langsung mencecar dokter dengan pertanyaan.

Sebelum berbicara, pria itu mengusap bahu Hanin.

“Kau harus sabar, Hanin, keadaan Pak Aariz tidak baik. Saat ini dia masih belum sadar.”

“Hani hanya menunggu ayah sadar kan, Dok? Setelah sadar ayah akan baik-baik saja?”

Dokter Ibrahim menggeleng sedih.

“Tidak hanya itu, kondisi penyakit Pak Aariz saat ini sudah stadium akhir. Sebelumnya aku sudah berpesan agar dia menghindari hal-hal yang akan membuatnya tertekan.”

“Jelaskan maksudnya, Dok, saya tidak mengerti?” Hanin mulai menangis. Dia tahu persis keadaan itu mungkin sudah tidak ada harapan lagi untuk ayahnya, tapi dia masih berharap penjelasan dokter yang bisa menenangkan hatinya, setidaknya masih ada harapan untuk sembuh atau sadar.”

“Untuk sembuh itu sulit, Nak, jalan satu-satunya hanya operasi, itu pun hannyalah usaha terakhir kita sebagai tenaga medis. Jika cara itu masih tidak berhasil, kita hanya bisa pasrah saja dengan takdir.”

“Operasi? Apakah itu berbahaya?” Hanin panik.

“Segala usaha ada risikonya, Nak, tapi tindakan operasi tentu saja dilakukan oleh dokter terbaik yang sudah berpengalaman, karena ini menyangkut nyawa, dan jika operasi ini berhasil maka kesempatan bertahan hidup ayahmu akan jauh lebih lama.”

Itulah yang diharapkannya, ayahnya bisa bertahan lebih lama jika operasi itu berhasil. Hanya saja biaya operasinya pun tidaklah sedikit, mencapai 500 juta.

“Saya ingin ayah sembuh, untuk biayanya akan saya usahakan.”

Hanin tak punya pilihan lain selain menyetujui operasi itu. Namun, dia harus mendapatkan uang lima ratus juta itu dalam waktu satu minggu. Dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat.

Hanin duduk di taman sendirian. Dia masih memikirkan dari mana dia memulai untuk mendapatkan uang itu. Di tengah pikirannya yang semrawut dia teringat dengan perkataan ayahnya. Ayahnya menyimpan uang di sebuah brangkas, di rumahnya, dan brangkas itu dibuka dengan sandi rahasia.

‘Brangkas, di rumah. Hari ini jam 8 malam adalah batas waktu yang diberikan Dept kolektor untuk meninggalkan rumah itu.’

1
Muhammad Raihan
Sudah sampai seperti itu masih saja tidak mau ngaku suka, Satya breng*** juga
Muhammad Raihan
Semangat Kakak 👍🏻
D Asti
Selamat datang di novel ke dua aku, ayo kakak pembaca yang terkasih beri author dukungannya dengan like, komentar, saran dan ulasannya ya, terima kasih😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!