Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.
Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.
Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.
Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Office Girl
Hanin akhirnya diturunkan di depan perusahaan Angkasa Grup. Satya berniat mengantarnya masuk, tapi Hanin menolak. Gadis itu mengejar saat Satya berjalan mendahuluinya dan mencegahnya pergi.
“Kak, bisakah kali ini saja turuti permintaanku?” Hanin sampai menangkupkan kedua tangannya di depan dada memohon Satya untuk pergi. Satya berjalan mendekat mendekatkan wajahnya.
“Apa aku begitu memalukan? Tak cukup keren untuk berjalan di sampingmu mengantarmu masuk?”
“Kakak tidak mengerti, bukan seperti itu. Aku belum siap mempertemukan kakak dengan ayah, itu saja.” Hanin masih menggunakan alasan yang sama.
“Nona, Anda di sini?” sebuah suara datang menyapa mereka. Daniyal muncul. Satya menegakkan tubuhnya memandang Daniyal dengan raut wajah tak senang.
“Iya, aku kebetulan mampir ke sini.”
“Kalau begitu kita masuk sama-sama.”
Daniyal baru menyadari laki-laki yang bersama Hanin adalah pria yang mencium Hanin di lift. Bagaimana mereka bisa bersama, apa sebenarnya mereka saling kenal? Batin Daniyal.
“Dia laki-laki yang waktu itu di lift, kan? Apa kalian sudah saling kenal?” Daniyal melontarkan pertanyaannya.
Pertanyaan Daniyal menjadi kesempatan Satya untuk memperkenalkan dirinya pada pria yang selalu perhatian dengan Hanin itu. Dia tidak akan kabur lagi seperti saat di lift.
“Namaku Satya, Hanin adalah pacarku,” ucap Satya sembari memeluk pinggang Hanin untuk lebih dekat dengannya, seakan tengah menunjukkan sekarang mereka ada hubungan dekat.
Daniyal terkejut, dalam hati dia sudah menduganya mereka berdua ada hubungan.
“Tapi Nona tidak pernah bercerita punya kekasih, jangan-jangan kau hanya mengaku-ngaku saja. Lagi pula kalau Anda memang kekasihnya mengapa selama ini tidak pernah muncul. Saat Nona ada masalah, saat dia ....”
Daniyal tak bisa melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba Hanin membungkam mulutnya.
“Kalau Kak Daniyal terus berbicara bohong aku tidak mau berteman dengan kakak,” ancam Hanin. Dia lekas menarik tangannya begitu Daniyal menganggukkan kepalanya.
Satya geram melihat sikap Hanin, dia tidak senang melihat Hanin dekat dengan Daniyal apa lagi sampai menyentuhnya.
“Jadi ini yang membuatmu begitu ingin datang ke perusahaan dan melarangku masuk? Baiklah.” Satya berlalu pergi dengan wajah dingin.
Hanin menyadari sikap Satya yang kesal, tapi dia tak mengerti apa yang membuat Satya pergi dengan marah.
“Mari, Nona,” ajak Daniyal.
Berhubung masih melihat Satya di tempat itu, Hanin berjalan pergi bersama Daniyal, begitu tak melihatnya dia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk.
“Kenapa berhenti?” tanya Daniyal.
“Tiba-tiba aku teringat sesuatu, aku harus kembali ke rumah sakit.”
“Tapi Anda bilang mau masuk?”
“Lain kali, Kak!” sahut Hanin, gadis itu sudah menjauh.
Sikap Hanin semakin membuat Daniyal curiga. Sepertinya memang ada hubungannya dengan pria bernama Satya itu, mungkin Hanin sedang menghindarinya, tapi baru saja pria itu mengakui hubungan mereka. Atau sebenarnya mereka ada masalah.
Di sudut jalan tak jauh dari perusahaan, di dalam mobilnya Satya membuka kaca mata hitamnya. Dia melihat dengan jelas Hanin meninggalkan perusahaan itu setelah dirinya pergi. Jelas menunjukkan sebenarnya Hanin tak berniat pergi ke perusahaan, tapi hanya ingin mengelabui dirinya.
“Apa kita perlu mengikutinya?” tanya Rio.
“Kembali saja ke apartemen.”
“Oke.”
Satya menyandarkan kepalanya. Memikirkan alasan Hanin melakukan semua itu. Menipu dirinya dengan pura-pura pergi ke perusahaan. Entah berapa banyak kebohongan yang Hanin sembunyikan darinya.
••
Hanin mengendarai taksi bukan ke arah rumah sakit. Dia pergi ke rumah Bibi Zaenab yang tinggal di apartemen sederhana di kompleks padat penduduk. Hanin pernah beberapa kali pergi ke sana hingga masih ingat jalannya.
Usai membayar taksi, Hanin berjalan kaki sekitar seratus meter. Berjalan di jalan di antara bangunan tinggi di kanan kirinya. Di sepanjang jalan dia bertemu dengan beberapa orang dan menyapanya, meskipun tak mengenalnya. Mungkin saja salah satu dari mereka mengenal Bibi Zaenab.
Wanita itu tinggal dengan suaminya yang bekerja sebagai sopir pengantar bahan makanan ke rumah sakit, dan seorang remaja laki-laki yang masih sekolah. Saat tiba di rumah itu, mereka menyambut Hanin dengan ramah, bahkan membuatkan minuman Karkade dan camilan roti khas Kairo Aish Baladi.
“Aku ke sini untuk mengambil beberapa berkas untuk melamar pekerjaan. Meskipun sebenarnya aku butuh uang banyak dalam waktu tiga hari ini,” ungkap Hanin menyampaikan tujuannya. Dengan keluarga itu dia tak perlu menyembunyikan rahasia apa pun. Semua barang-barang miliknya dan ayahnya berada di rumah itu.
“Bibi sudah bilang sebelumnya, jangan buru-buru membayar gaji karyawan Tuan, Nona masih membutuhkan uang itu untuk biaya berobat Tuan,” ujar wanita itu.
“Tidak bisa begitu, Bik. Aku tahu keadaan sedang sulit, tapi sejak kecil aku juga diajarkan untuk tidak membuat orang lain sulit. Orang tuaku bilang membantu orang yang sedang kesulitan akan membuat hati tenang.”
“Orang tua yang mana, Non? setahu bibi, Nyonya Sabrina sifatnya tidak seperti itu.”
“Orang tua angkatku, yang sudah merawatku sejak kecil.”
“Pasti mereka orang yang sangat baik.”
Hanin tersenyum mengangguk sembari menggigit roti itu sedikit.
Mendengar cerita Hanin, suami Bibi Zaenab memberanikan berbicara. Sebenarnya dia ragu untuk mengatakannya, tapi mungkin saja Hanin setuju dengan sarannya.
“Kalau, Non Hanin mau, Nona bekerja di rumah sakit, tapi yang aku dengar mereka sedang membutuhkan petugas kebersihan, Office Girl,” kata Paman Hasan.
“Hus, jangan sembarangan memberikan pekerjaan pada Non Hanin, dia ini kuliahnya tinggi jangan bekerja sebagai tukang bersih-bersih,” ujar Zaenab menolak usulan suaminya.
“Aku pikir dia mungkin saja setuju.”
Melihat perdebatan suami istri itu dan ide Paman Hasan, Hanin memikirkannya. Meskipun jauh dari jurusan kuliahnya, tapi jika dirinya bisa bekerja di sana maka dia tetap bisa dekat dengan ayahnya. Apa lagi Hasan bilang dia bekerja di rumah sakit tempat ayahnya dirawat.
“Tidak apa-apa, Bik, besok Paman antarkan aku bertemu dengan penanggung jawabnya, tapi jangan katakan kalau aku anaknya Pak Aariz.”
“Siap, Non!”
“Non Hanin yakin akan bekerja di sana mungkin saja gajinya tidak akan cukup untuk biaya operasi Tuan.”
“Aku tahu, Bik, aku akan jalani saja yang ada.”
Esoknya begitu diterima bekerja, sembari menjalani pekerjaannya, Hanin juga mengirimkan beberapa lamaran pekerjaan di perusahaan, dan di kantor-kantor pemerintah.
Dalam bekerja Hanin mengenakan seragam klining servis dan menggunakan masker, jadi orang tidak akan mengenal dirinya adalah Hanin. Semenjak Aariz masuk rumah sakit hampir berbulan-bulan itu banyak karyawan di rumah sakit yang mengenalnya. Jika mereka sampai tahu, mungkin ayahnya akan sedih mendengarnya.
Di hari Hanin mendapatkan kesempatan membersihkan ruangan tempat ayahnya dirawat, saat itu pagi hari ayahnya masih terbaring sendirian. Hanin menggunakan kesempatan itu untuk menemui ayahnya dan duduk di sampingnya.
“Ayah bagaimana kabar ayah hari ini? Aku harap keadaan ayah akan membaik,” ucap Hanin sembari mengusap punggung tangan Aariz yang dingin karena pendingin ruangan. “Ayah jangan khawatir, sekarang Hani bekerja di sini dan bisa menjaga ayah setiap hari. Meskipun hanya sebagai klining servis, tapi Hani senang bisa bekerja untuk mendapatkan biaya operasi ayah. Nanti jika mendapatkan pekerjaan yang gajinya besar Hani pasti akan memberitahu ayah.”
Ceklek! Suara hendel pintu ditekan. Hanin buru-buru beranjak dan menyingkir, tapi sepertinya perawat yang masuk menyadari sikapnya yang aneh.
“Kau sedang apa di dekat Pak Aariz? Apa yang kau lakukan padanya?” bertanya perawat dengan tatapan curiga, kemudian buru-buru mengecek keadaan pasien. Beberapa saat dia menarik nafas lega lalu menghampiri Hanin.
“Pekerjaanmu bersih-bersih, dan tubuhmu kotor mungkin membawa kuman, jangan pernah sekalipun mendekati pasien!” perawat mengingatkan dengan tegas setengah marah.
Hanin hanya mengangguk. Dia tak menyalahkan perawat itu, meskipun seharusnya perawat bisa menegur dengan cara yang baik.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya di ruangan itu, Hanin berpindah ke tempat lain, membersihkan ruangan satu demi satu.
Sejauh itu tak ada yang mencurigainya, sepertinya pekerjaannya memang banyak yang tak memedulikannya. Dengan begitu Hanin bisa bekerja dengan tenang dan leluasa.
Hanin mendapatkan kesempatan istirahat di siang hari, dia menggunakan waktu itu untuk tidur di gudang meski hanya setengah jam saja.
“Dya ...! Dya ..., bangun!” Maira teman kerjanya datang dengan terburu-buru, menemui Hanin yang baru saja memejamkan matanya.
Hanin membuka matanya yang masih mengantuk dan merah. Rasanya nyawanya pun belum terkumpul, tapi Maira mengejutkannya langsung menariknya bangun.
“Ada apa?” tanya Hanin.
“Tadi aku membersihkan koridor di depan ruangan 20A, di lantai tiga. Pasien di sana memintaku memanggilmu, dia bilang ...,” Maira terlihat ragu untuk mengucapkannya.
“Dia mengatakan apa?”
“Kau ..., sudah mencuri barang miliknya.”
Hanin terlonjak kaget.