Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.
Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.
Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.
Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.
Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Pagi datang lebih sunyi dari biasanya. Alya terbangun bukan karena suara Halimah yang ribut dari dapur, bukan pula karena omelan tentang air yang lupa ditutup atau nasi yang hampir gosong. Yang membangunkannya justru bunyi ayam berkokok berlapis-lapis, saling sahut dari pekarangan yang berbeda.
Ia duduk di tepi ranjang. Sunyi itu aneh. Tidak menakutkan, tapi terasa kosong.
Dari dapur, tak ada suara piring beradu. Tak ada aroma bawang digeprek kasar. Hanya cahaya pagi yang masuk lewat celah jendela, menyentuh lantai semen yang dingin.
Alya melangkah keluar kamar.
Di meja dapur, ada secarik kertas kecil. Tulisan tangan Halimah, miring sedikit.
Al, isun malaku megawe, ono Sego neng dandang, lan ana sambel teri neng lemari. Ojo lali mangan. Ojo mikir adoh-adoh. (Al aku pergi kerja, ada nasi di dandang ada sambal teri di lemari, jangan lupa makan, jangan mikir jauh-jauh.)
Alya tersenyum kecil membaca baris terakhir.
“Kayak aku bisa mikir dekat aja,” gumamnya pelan.
Ia membuka dandang. Nasi masih hangat. Sambal terbungkus rapi. Halimah memang selalu begitu ribut, cerewet, tapi tangannya rapi soal hal-hal kecil.
Alya makan sendirian. Sendoknya bergerak pelan. Setiap kunyahan terasa lebih hening. Tanpa sadar, ia melirik ke kursi kosong di seberangnya. Biasanya Halimah duduk di situ, sambil ngomel, sambil makan, sambil setengah berdiri.
Hari ini kursi itu diam. Setelah selesai, Alya mencuci piringnya sendiri. Air mengalir, bunyinya menggema lebih keras dari biasa. Ia mengelap piring, menyusunnya di rak, lalu berdiri sebentar tanpa tujuan.
“Aku ngapain, ya,” bisiknya.
Di kota, pertanyaan itu selalu dijawab jadwal. Jam kerja. Target. Notifikasi.
Di desa, pertanyaan itu mengambang.
Alya keluar rumah. Udara pagi masih segar, tanah lembap sisa embun. Dari kejauhan, hamparan sawah membentang, hijau dan tenang, seperti tidak pernah tahu apa itu patah hati.
Langkah kaki terdengar dari galengan.
Bayu.
Ia berjalan sambil memanggul cangkul. Kaosnya sudah agak basah oleh keringat pagi. Saat melihat Alya berdiri di depan rumah, langkahnya melambat.
“Halimah wis melaku?” tanyanya singkat.
Alya mengangguk. “Iya. Tadi subuh.”
Bayu mengangguk kecil, lalu menoleh ke sawah. “Riko neng omah baen?”
Alya ragu sejenak. “Kayaknya… iya.”
Bayu diam sebentar. Lalu, tanpa menoleh, ia berkata, “Monggo, melu isun. Neng sawah.”
Bukan ajakan yang berbunga-bunga. Tidak terdengar seperti kewajiban. Lebih seperti… pilihan.
Alya mengangguk lagi. “Boleh.”
Mereka berjalan berdampingan menyusuri galengan. Tanah di bawah kaki masih agak licin. Alya beberapa kali hampir terpeleset, Bayu melambat tanpa diminta.
“Ati-ati,” katanya singkat.
Di sawah, Alya duduk di pematang, memperhatikan Bayu bekerja. Gerakannya tenang, teratur. Tidak terburu-buru. Tidak tampak ingin selesai cepat.
Untuk pertama kalinya sejak lama, Alya tidak merasa harus berguna. Ia hanya duduk. Menghirup udara. Mendengar suara air mengalir pelan di sela-sela batang padi.
“Aku nggak ngapa-ngapain,” katanya tiba-tiba.
Bayu berhenti sejenak, menyeka keringat. “Iyo.”
Alya menoleh. “Kok ‘iya’?”
Bayu mengangkat bahu. “Seng paran-paran.” (Tidak apa-apa.)
Jawaban itu sederhana. Tapi justru itu yang membuat dada Alya terasa longgar.
Menjelang siang, matahari mulai naik. Bayu menancapkan cangkulnya ke tanah.
“Mulih sek,” katanya. “Isun masak.”
Alya terkejut. “Kamu?”
Bayu mengangguk. “Halimah sing ana.”
Logika yang sangat Bayu terapkan membuat Alya terkejut, bahkan sampai saat ini otaknya masih belum bisa mencerna, Bayu pria yang selalu sibuk, ternyata juga memikirkan masalah perut juga, Alya pun sedikit minder.
☘️☘️☘️☘️☘️
Di dapur, Bayu bergerak canggung tapi yakin. Ia memotong bawang terlalu besar, menumis sambal dengan wajah serius seolah sedang mengerjakan sesuatu yang penting.
Alya duduk di bangku kecil, memperhatikan.
“Kamu sering masak?” tanyanya.
Bayu menggeleng. "Kadung kepeksa.” (Kalau terpaksa.)
Alya tertawa kecil. Tawa yang ringan.
Saat Bayu menuang sayur ke panci, Alya berdiri membantu. Mereka bergerak di dapur sempit, sesekali bahu bersenggolan. Tidak ada yang mundur.
Di saat Alya mengambil piring, Bayu mengulurkan tangan di waktu yang sama. Lagi.
Kali ini mereka langsung tersenyum kecil. Tidak canggung. Tidak kaget.
Bayu menarik tangannya lebih dulu. “Wis mateng.”
Masakannya sudah matang. Alya menatap panci itu, lalu menatap Bayu. Ada rasa hangat yang tidak datang tiba-tiba, tapi tumbuh pelan, seperti nasi yang dimasak dengan api kecil.
Di luar, desa tetap berjalan seperti biasa. Dan Alya tahu, meski hari ini sunyi, ia tidak benar-benar sendirian.
"Makasih ya, udah dimasakin," ucap Alya.
Bayu tersenyum simpul. "Gak apa-apa," sahutnya pelan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Hari hari berikutnya setelah kepergian Halima di Surabaya. Alya terbangun dengan kepala terasa berat. Bukan sakit yang membuatnya meringis, hanya denyut pelan di pelipis, seperti ketukan kecil yang tak mau pergi. Tenggorokannya kering, badannya hangat, dan ketika ia duduk, dunia sedikit bergoyang.
“Ah,” desahnya lirih.
Ia meraba kening. Tidak panas berlebihan. Tapi rasa lelah itu nyata, lelah yang menumpuk, bukan semalam, melainkan bertahun-tahun.
Di luar kamar, rumah sunyi. Halimah masih di Surabaya. Bayu pasti sudah ke sawah.
Alya memaksakan diri bangun, tapi baru dua langkah, lututnya melemas. Ia berpegangan pada dinding, menarik napas panjang.
Jangan keras sama diri sendiri, katanya dalam hati, tapi kebiasaan lama sulit dilepas.
Ia tetap ke dapur. Menyeduh teh hangat, duduk di bangku kayu, meminum pelan. Uap tipis naik, mengaburkan pandangannya. Kepalanya masih berdenyut.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari luar.
“Al?” Suara Bayu memanggil.
Alya menoleh. “Iya.”
Bayu masuk, membawa caping. Tatapannya langsung berubah saat melihat wajah Alya.
“Riko loro?” (Kamu sakit?)
“Sedikit,” jawab Alya, jujur setengah.
Bayu mendekat. Tidak menyentuh. Hanya menatap, memperhatikan.
“Wajah riko pucet.”
Alya tersenyum kecil. “Cuma pusing.”
Bayu menaruh caping di sudut. “Wis, lungguh. Ojo metu.” (Sudah, duduk. Jangan ke mana-mana.)
Nada itu tidak memerintah, tapi tegas dengan caranya sendiri.
Alya menurut. Bayu membuka lemari, mengambil jahe. Gerakannya agak kikuk, tapi tujuannya jelas.
“Aku bisa sendiri,” kata Alya refleks.
Bayu menoleh. “Saiki osing.” (Sekarang tidak.)
Jahe direbus. Air mendidih. Aromanya mengisi dapur. Alya memperhatikan dari bangku, merasa… dirawat. Perasaan yang lama tidak singgah.
Bayu menuangkan air jahe ke gelas. Mendorongnya ke depan Alya.
“Ngombe.” (Minum.)
Alya menyesap. Hangatnya menjalar pelan, ke seluruh tubuhnya, dan rasa hangat itu ia rasakan.
“Terima kasih,” katanya.
Bayu mengangguk. “Awak riko butuh leren.”
(Tubuhmu butuh istirahat.)
Kalimat itu sederhana. Tapi Alya terdiam. Selama ini, tak banyak yang bicara soal tubuhnya, yang ada hanya tuntutan untuk kuat.
Ia bangkit pelan. “Aku ke kamar, ya.”
Bayu mengangguk. “Isun neng kene. Kadung butuh paran-paran, ngomongo.” (Aku di sini. Kalau butuh apa-apa, bilang.)
Di kamar, Alya berbaring. Atap kayu terlihat buram. Ia menutup mata, berniat tidur sebentar.
Tak lama, ketukan pelan terdengar.
“Al.”
“Iya?”
Bayu masuk dengan langkah hati-hati, membawa kain kecil. Ia ragu sejenak, lalu meletakkannya di dahi Alya.
“Adem.” (Dingin.)
Sentuhan itu singkat, sopan, tapi cukup membuat Alya menghela napas lega.
“Bayu,” panggilnya pelan.
“Iyo.”
“Kalau aku tidur lama… nggak apa-apa, kan?”
Bayu menatapnya. “Sing onok sing ngejar riko neng kene.” (Tidak ada yang mengejarmu di sini.)
Alya tersenyum, matanya menghangat.
Ia tertidur. Mimpi datang sebentar potongan wajah, suara kota, foto pernikahan tapi kali ini tidak menghantam. Seperti lewat, lalu pergi.
Saat Alya terbangun, sore sudah condong. Cahaya jingga masuk lewat celah jendela. Kepalanya lebih ringan.
Dari dapur, terdengar bunyi wajan.
Bayu.
Alya duduk perlahan, berjalan ke dapur. Bayu menoleh saat mendengar langkahnya.
“Wis mendingan?”
(Sudah mendingan?)
“Iya,” jawab Alya. “Lumayan.”
Bayu mengangguk puas. “Bagus.”
Alya berdiri di ambang pintu, menyandarkan bahu. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa bersalah karena sakit. Tidak merasa lemah karena beristirahat.
Bayu mematikan kompor, mengaduk terakhir kali.
“Wis mateng,” katanya singkat.
(Masakannya sudah matang lagi.)
Dan Alya tahu, ia tersenyum kecil di desa ini, bahkan sakit pun diberi tempat untuk sembuh.
Bersambung ....
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
thor novelnya jgn trllu kaku dong