Aruna Arabella, gadis cantik yang terlibat hubungan asmara dengan seseorang laki-laki tampan yang tak lain adalah kakak tirinya setelah sang mama memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang duda kaya, yang mempunyai seorang putra.
Aruna harus menelan pahitnya kehidupan di dalam keluarga nya, sang papa berselingkuh takala usia Aruna menginjak tujuh tahun, tak hanya itu, sang papa serta pelakor tersebut membawa kabur kakak laki-laki Aruna.
Setelah kejadian itu Aruna tingal bersama dengan mama nya, yang bekerja sebagai penjahit di sebuah butik kecil sederhana.
Karena kepintaran nya, Aruna di terima masuk di sebuah sekolah elite, ia mendapat beasiswa, di sanalah Aruna memulainya, kisah cinta dengan seorang laki-laki posesif yang ternyata adalah anak laki-laki dari pria yang menjadi papa sambung nya.
Dari sini lah kisah cinta terlarang itu di mulai ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Maksud Lo?" ucap Erlan mulai merasa kesal karena kalimat terakhir dari kata-kata yang diucapkan sepupunya barusan.
"Gak gue kan cuma denger apa kata orang-orang yang ngomong," kata Leo lagi.
Erlan bungkam, dia tidak menyangka kalau Aruna bisa menyukai laki-laki pengecut seperti Reyhan yang kemarin hampir menyakiti pergelangan tangannya.
"Erlan, Lo mau ke mana!" teriak Leo saat menyadari kalau Erlan telah beranjak dari tempatnya berdiri.
"Toilet! Lo kau ikut?" Kata Erlan sedikit berteriak.
Seketika beberapa orang yang lewat menatap ke arah Leo, hal ini membuat Leo malu dan kesal dengan ucapan Erlan.
Ia pun memutuskan untuk pergi ke kantin dan tidak mengikuti Erlan lagi.
Sementara itu ...
"Kenapa sih, pada ngeselin banget, gue gak bakal mau ngomong sama dia lagi, enak aja dia bikin gue sakit hati dan masih aja nuduh dan ngangep kalau gue ini penjahat, gak nyangka gue," umpat Aruna yang saat ini duduk di kursi taman belakang sekolah seperti biasanya untuk melepaskan semua unek-unek nya.
"Ngapain ngomel-ngomel di sini," bisik Erlan ke telinga Aruna ia tiba-tiba muncul dari belakang Aruna sambil memegang kedua pundak gadis tersebut.
Aruna yang sedikit kaget pun refleks menoleh dan tanpa sengaja bibirnya menyentuh pipi Erlan.
Erlan terdiam sejenak merasa benda lembut itu menyentuh pipinya, ia yang memang sengaja melakukan itu mulai menarik senyum di kedua sudut bibir miliknya.
"Astaga kak Erlan," kaget Aruna yang segera berdiri dari duduknya dan memegang bibirnya yang baru saja menyentuh pipi Erlan.
"Lo sengaja kan nyium gue?" kata Erlan sambil tersenyum tipis.
"Kak Erlan apa-apaan sih! Gak lucu tau, gimana kalau ada yang lihat," kata Aruna terlihat sangat marah.
"Emang kenapa? Ini kan sekolah, gak ada yang tau kalau Lo itu siapanya gue, Lo juga gak mau ngepublis kalau Lo itu adek gue, jadi gak perlu takut, di sini gak ada mama sama papa," ucap Erlan dengan santainya sambil menghampiri Aruna dan memegang tangannya.
"Cukup kak Erlan, Aruna gak mau, Aruna bukan cewe murahan, Aruna udah sabar dari tadi malam pak kakak mau tidur sama Aruna, kalau kak Erlan gini terus, Aruna lebih baik gak tinggal di rumah kak Erlan," kata Aruna yang kemudian berlalu pergi dan melepaskan tangan Erlan dari pergelangan tangannya.
"Kok dia jadi semarah ini?" ucap Erlan dengan tatapan tajam. " Apa gara-gara cowok itu? Aruna beneran cinta sama dia? Apa karena dia Aruna marah ke gue cuma karena satu ciuman?" ucap Erlan mulai mengebu-gebu.
Tak terasa beberapa jam pun berlalu, kini tiba lah jam pelajaran terakhir di sekolah tersebut.
"Semuanya, maaf ya gue ganggu, ada yang pengen gue omongin ke kalian semua," kata Vani yang tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya sambil memegang segepok kertas di tangan nya.
"Ada apaan?"
"Gak tau tuh?"
"Jangan-jangan soal Aruna?"
"Gak mungkin,"
Terdengar bisikan-bisikan yang menyapa kuping Aruna.
"Jangan nebak-nebak dulu dong, berhubung nanti malem itu pesta ulang tahun gue, jadi gue mau bagiin undangan buat kalian semua di sini, maaf ya kalau agak mendadak soalnya undangan nya baru selesai di cetak tadi pagi," kata Vani dengan senyum lembut nya membagikan undangan ke teman-teman nya.
"Aku bantuin," kata Reyhan yang kemudian membantu Vani membagikan undangan tersebut.
"Makasih banyak Vani,"
"Makasih banyak ya Vani,"
"Kita pasti dateng kok,"
Ucap para penerima undangan tersebut.
"Harus dong, oke semuanya udah dapet kan, oh ya Aruna ini buat Lo, tolong kasih ke Erlan sama Leo juga ya," kata Vani sambil memberikan tiga lembar undangan kepada Aruna.
Aruna yang sedari tadi diam sambil mengerjakan tugas nya, kini mendongak menatap Vani.
"Gue gak bisa datang, dan kasih sendiri aja undangan nya, Lo pikir gue babu Lo?" kata Aruna yang kemudian kembali melanjutkan aktivitas nya tadi.
"Loh, kenapa Lo gak mau datang? Apa Lo gak punya gaun pesta? Emm, gak apa-apa tenang aja, Lo datang pake baju biasa juga gak masalah, nanti gue pinjemin punya gue," kata Vani berusaha menjatuhkan Aruna di depan semua anak-anak kelas tersebut.
"Vani, cukup, kenapa kamu ngomong kayak gitu?" kata Reyhan yang mulai melihat sisi lain dari Vani.
"Kenapa Rey? Aku salah ngomong ya? Aku minta maaf ya," kata Vani tiba-tiba kembali menjadi sosok lemah lembut.
"Cukup! Berisik banget sih Lo pada? Sini!" Aruna merampas undangan yang ada di tangan Vani. "Gue bakal pergi, gue juga gak bakal bikin Lo kecewa," kata Aruna yang kemudian memasukkan undangan tersebut ke dalam tas nya dan kemudian berjalan keluar dari kelas tersebut.
"Umpsss, dia merah, tapi bagus deh, dia datang, dengan begitu, gue bisa bikin dia malu di depan anak-anak nanti malam," batin Vani yang tersenyum licik.
"Aruna!" Reyhan hendak mengejar Aruna, namun sayang sekali Vani dengan cepat menahan tangan nya.
"Kamu mau ngapain?" tanya Vani mengerutkan keningnya menatap Reyhan.
"Mau minta maaf sama Aruna, kamu gak sewajarnya ngerendahin Aruna kayak gitu," kata Reyhan merasa bersalah.
"Gak Rey, apaan sih orang Aruna gak marah, dia juga ambil tiga undangan, emang kamu gak tau dia mau kemana sekarang? Tentu aja mau ngasih undangan itu ke Leo sama Erlan." Kata Vani lagi.
Seketika Reyhan terdiam, entah kenapa hatinya selalu merasa panas ketika mengetahui Aruna pergi ke Erlan atau Leo.
"Kenapa gue ngerasa kesel banget ya? Dan kenapa sekarang gue ngerasa kalau gue gak punya perasaan apa-apa ke Vani? Sikap asli dia juga udah hampir kelihatan, kenapa gue gak bisa ngerelain Aruna sedangkan gue sendiri yang mutusin buat gak ada hubungan sama dia lagi?"
Perlahan Reyhan menyadari kalau dirinya tidak punya perasaan apa-apa kepada Vani, sedangkan ia baru menyadari sesuatu tentang Aruna, sebenarnya dirinya malah memiliki perasaan yang luar biasa terhadap sang sahabat.
"Aruna tunggu!" Reyhan memegang pergelangan tangan Aruna untuk menahan nya.
"Ngapain sih?" ucap Aruna yang segera menepis tangan Reyhan dari pergelangan tangannya.
"Gue saranin Lo gak usah dateng ke pesta ulang tahun nya Vani, gue gak mau Lo dapat masalah lagi karena kayaknya Vani bener-bener gak suka sama Lo," kata Reyhan yang ternyata memohon agar Aruna tidak datang ke pesta ulang tahun tersebut hanya karena khawatir Vani akan mendinas Aruna di sana.
"Kenapa? Sekarang Lo udah tau sifat buruk di balik kepolosan nya itu?"
ujar Aruna sambil menyilang kedua tangan nya di bawah dada sambil menatap remeh Reyhan.
****
sama aja kek Vani ,gak jelas apa mau nya.dulu Aruna dihina karena dekat ma dia,sekarang udah jauh Deket ma Erlan juga salah.mau nya kalian apa sih...
Aruna udah jauh dari Reyhan pun Lo gak puas...
Aruna Deket cowo lain Lo pun sewot...
gak jelas juga itu otak lho 🤣🤣🤣
jiaaah nih bocah cowo kudu di jitak kepalanya...
buat anak gadis orang cenat cenut aja
🤣🤣🤣🤣
jangan Ngadi Ngadi ya bocil 🤣🤣🤣
jagain Baek Baek tuh adek ketemu gede
kk dan adik udah biasa berantem ajaa,saling jahil.abg ku aja yang paling besar suka nyelipin kepala ku di keteknya ,kayak miting gtu.padahal aku udah punya anak.auto ngamuk aku,dianya malah lari keliling rumah