Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.
Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Permintaan Lyxan
(Rumah pribadi Lyxan di Somnus)
El mengendarai mobilnya saat itu menuju rumah pribadi Lyxan di Somnus. Tidak terlalu jauh dari pusat kota Malcorra. Hanya saja melewati kota itu harus melewati hutan pinus dan perbukitan. Somnus kota sepi dari segala hiruk pikuk.
“Tuan… Apa yang terjadi.” Ucap salah satu penjaga saat mendapati Lyxan keluar dari mobil El dengan lemah.
“Bawa dia.” Ucap Lyxan menatap El, “Perlakukan dia dengan baik. Dia milik ku.”
El semakin bingung. Saat memasuki gerbang rumahnya, cukup banyak pengawal memakai pakaian jas hitam. Hingga ia memasuki sebuah kamar mewah, tak ia lihat satu pun seorang wanita dirumah itu. Kecemasannya semakin menjadi. Ponselnya tidak mendapat sinyal ditempat itu.
...****************...
“Selamat pagi nona…” Sapa seorang pelayan wanita cantik, membawa trolley berisi sarapan pagi.
El saat itu yang tengah melihat matahari terbit semakin bingung dibuatnya. Beberapa pelayan wanita ternyata mulai bermunculan saat dipagi hari.
“Dimana Lyxan?” Tanya El yang masih berdiri diatas balconnya.
“Tuan akan segera datang. Silahkan sarapan terlebih dulu nona.” Ujar pelayan tersebut dan segera meninggalkan tempat itu.
El melangkah kembali, namun seperti semalam. Pintu kamarnya dikunci. Ia tidak berontak atau pun berteriak. Setidaknya ia diperlakukan dengan sopan dan baik. Lagipula jika ingin kabur, masih ada balkon nya yang terbuka lebar.
...****************...
“Kau sudah hubungi Laine?” Tanya Damian, kakak Elaine.
“Dia tidak dapat dihubungi. Harusnya dia dalam perjalanan. Tapi navigasi mobilnya terputus disekitar kota Malcorra.” Jawab Glenn.
“Aku akan menyusulnya.” Sigap Glenn kemudian.
“Tidak perlu. Aku akan menunggunya sampai besok.” Ucap Damian yang kini membereskan perlengkapannya, “Aku ada pelatihan di istana putih. Tetap disini, siapa tau dia akan kembali lebih cepat.”
Glenn sangat patuh pada perkataan Damian. Keluarga Glenn merupakan anggota mafia dulunya, suatu kecelakan menghancurkan seluruh anggota keluarga Glenn. Hingga akhirnya ia diasuh sejak kecil oleh keluarga Eloise, Damian Eloise.
...****************...
DUAAAAAARRR
El terperanjat saat mendengar letusan suara senjata. Ia sedari tadi mencoba menghubungi nomor Lyxan. Namun di kamarnya susah untuk mendapatkan sinyal. El sangat ketakutan, tanpa ia sadari bahwa semua tindak tanduk nya diperhatikan oleh Lyxan dari cctv tersembunyi di kamarnya.
“Apa suara itu mengagetkan mu El?” Tanya Lyxan yang terlihat bugar di depan pintu kamarnya.
El terdiam terpaku. Ia ketakutan. Terlihat dari tubuhnya yang sedikit gemetar. Meski kakaknya merupakan anggota Interpol agen rahasia, namun ia tak pernah sekalipun dihadapkan dengan bunyi senjata maupun menangani luka akibat senjata. Meski dirinya seorang dokter.
“S-Sepertinya kau sudah membaik.” Ucap El saat itu saat Lyxan melangkah mendekatinya, ia berusaha untuk tetap tenang. Tapi Lyxan sangat tahu bahwa wanita itu tengah menyembunyikan ketakutannya.
“Berkat mu. Dokter ku.” Ucap Lyxan yang kini berhenti tepat dihadapan El, entak kenapa ada rasa rindu dengan aroma tubuh wanita itu. Padahal baru beberapa jam tak bertemu.
“Kalau begitu. Aku akan kembali.” Ucap El mencoba menghindari pria itu, namun tangan besar Lyxan mencengkram lengannya dengan kuat.
“Bukannya kau mengatakan akan bertanggung jawab.” Lyxan menatap tajam kedua mata El.
El terdiam ketakutan. Ia sungguh tidak tahu apa yang dihadapinya saat ini.
“Aku akan mengembalikan uang perbaikan mobil mu.” Ucap El langsung.
Lyxan kembali menarik tubuh El, meski demamnya sudah reda. Ia sangat menyukai aroma tubuh El. Ia ingin menghirup aromanya lebih dekat. Lebih lama.
“Aku tidak membutuhkan uang mu. Apa kau lihat aku seperti kekurangan?!” Ucapnya dengan mencium helai rambut El.
“Apa mau mu?” Tanga El kemudian dengan menahan tubuh pria itu yang semakin menghimpitnya.
Lyxan tersenyum miring. Ia menunggu wanita itu mengatakan hal tersebut.
“Dengar El, aku biasanya tidak dapat meninggalkan saksi yang mengetahui keadaan ku.”
“A-apa maksud mu?” Gemetar El.
“Aku perjelas. Mudah untuk ku membunuh mereka yang menyulitkan ku. Aku enggan memperburuk keadaan dan terlebih saksi itu menyulitkan ku kedepannya.”
“Saksi? T-tapi aku tidak menyaksikan apa pun jadi…”
DUUAAARR
DUUUAAARR
El semakin ketakutan tanpa sengaja menelusupkan kepalanya kedada bidang Lyxan. Hal tersebut jelas membuat Lyxan senang.
“Tapi kau mendengarnya. Kau tidak ingin menjadi yang selanjutnya bukan?” Sahut Lyxan dalam senyumnya.
“Tidak.” Ucap El penuh ketakutan, “A-aku akan bertanggung jawab. Besok akan ku lunaskan semua biaya per…”
“Sudah aku katakan, aku tidak kekurangan uang. Bahkan jika kau mau, semua milik ku akan menjadi milikmu El.” Tegas Lyxan di tengkuk leher Elaine, membuat wanita itu semakin bergetar ketakutan.
“Aku menginginkan mu. Aku tidak akan memperlakukan mu dengan buruk, aku janji.”
Sorot mata wanita itu sontak menatap Lyxan. Ia tak bisa. Ia tak mau.
“Jadilah wanita ku Elaine.”
Nafas mereka saling bertaut. El tak mungkin berpacaran dengan Lyxan, jika Damian, kakaknya tahu hal ini. Ia dapat menghancurkan rumah ini dengan rata bersama Lyxan didalamnya.
“A-aku tidak bisa.” Ucap El gugup ketakutan, “Aku sudah menyelamatkan mu semalam. Biaya kerusakan mobil aku pasti akan mengembalikannya Lyxan.”
Jemari Lyxan menyapu lembut bibir Elaine yang merah. Ia ingin menciumnya, melumatnya habis-habisan. Tapi wanita itu terlihat ketakutan.
“Baiklah…” Ucap Lyxan, “Aku tidak pernah ditolak El. Kau boleh pergi.”
El terdiam. Ia takut jika perbuatan kaburnya akan membuat dirinya mati dirumah mewah itu.
“A-aku bisa pulang?”
“Tentu… akan aku pastikan kau pulang dengan selamat.”
El perlahan memberanikan diri menatap kedua mata Lyxan. Bahkan El dapat merasakan detak jantung Lyxan yang berdetak cepat saat tangannya berada tepat didada kiri pria itu untuk menahan tubuhnya.
“Aku akan melupakan ini semua. Aku berjanji pada mu.” Sahut El yang menyingkir dan mengambil ponselnya.
“15 menit.” Ucap Lyxan yang memulai permainan, perkataan itu membuat langkah kaki El terhenti, ia tak berani membalikkan tubuhnya menatap Lyxan. Dan ia tahu tak mungkin mudah untuk melalui ini semua, Lyxan tidak akan begitu saja melepas Elaine.
“Waktu mu 15 menit untuk dapat kabur dari ku. Jika aku dapat mengejar mu sebelum masuk kota Malcorra. Aku pastikan kau menjadi milik ku, Dokter Elaine.” Kembali Lyxan berucap ditengkuk leher El membuat wanita itu merinding ketakutan.
Tanpa membalikkan badannya, El segera berlari. Berlari menyusuri anak tangga menuju ruang tamu besar bagai aula. Mobilnya terlihat terpakir didepan rumah tersebut.
Para pelayan wanita dan pengawal pria hanya menatapnya yang berlari ketakutan. Tak ada yang mengejar tak ada pula yang mencegahnya. Semua serba mudah bahkan saat mobil hitam itu melewati gerbang besar kediaman pribadi Lyxan.
Satu hal yang belum diketahui Lyxan, meski wanita itu terlihat lemah dan lugu. El sangat handal mengendarai mobil. Kemampuan menyetirnya tak kalah dengan pembalap liar kelas atas. Bahkan disaat Lyxan ingin mengejarnya seorang diri dengan mobil sportnya. Ia memanggil bala bantuan pengawalnya untuk mengejar El. Sayangnya pria itu tetap kalah.
Lyxan tertawa kesal. Tak menyangka wanita yang diinginkannya bisa lepas begitu saja. Ia tak mengetahui kepawaian El dalam mengemudi.