NovelToon NovelToon
Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horror Thriller-Horror
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.

Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.

Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Malam Tanpa Perlindungan

Hujan turun lebih deras daripada malam-malam sebelumnya.

Bukan sekadar hujan.

Seolah langit sedang runtuh sedikit demi sedikit.

Angin membawa bau tanah basah bercampur sesuatu yang busuk. Kabut menggantung rendah, hampir menyentuh kepala warga yang berkumpul di balai desa. Tidak ada suara serangga. Tidak ada anjing menggonggong.

Desa terasa… ditinggalkan kehidupan.

Rina berdiri di tengah halaman. Rambutnya menempel di wajah. Tangannya gemetar bukan karena dingin, tapi karena ia merasakan sesuatu yang berbeda malam ini.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Ia menatap simbol pusat yang mereka buat semalam. Garis-garisnya redup. Tidak berpendar seperti biasanya.

Dadanya langsung sesak.

“Pak Adi…” suara Rina pelan.

Pak Adi mendekat. “Kenapa?”

Rina menunjuk tanah.

“Ritme perlindungan menurun.”

Pak Adi membeku.

“Turun? Tapi semua warga sudah menulis simbol…”

Rina menggeleng perlahan.

“Bukan melemah sendiri.”

Ia menatap seluruh desa.

“Ada yang… memutusnya.”

Hening jatuh.

Bayu langsung menoleh ke warga lain. Tatapannya curiga.

“Apa maksudmu… ada orang desa sendiri yang menghancurkan simbol?”

Tidak ada yang menjawab.

Hanya suara hujan.

Seorang ibu tua tiba-tiba menangis pelan.

“Aku sudah tidak kuat… setiap malam kita disiksa…”

Beberapa warga menunduk.

Ketakutan berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

Putus asa.

Rina mengepalkan tangan.

Ini yang ditunggu makhluk itu.

Bukan menyerang dari luar.

Tapi menghancurkan mereka dari dalam.

---

Tiba-tiba—

SREEEEETTTT—

Suara seperti kuku panjang menggores papan rumah terdengar dari arah utara desa.

Lalu selatan.

Lalu barat.

Serentak.

Warga menoleh panik.

Bayu berbisik, “Mereka… datang dari semua arah…”

Kabut bergerak.

Dan dari balik hujan, bayangan hitam muncul.

Puluhan.

Tidak lagi satu atau dua makhluk tanpa wajah.

Mereka datang berkelompok.

Terkoordinasi.

Seperti pasukan.

Rina langsung sadar.

“Mereka menemukan titik lemah kita.”

Makhluk itu tidak langsung menyerang warga.

Mereka menuju rumah-rumah.

Menuju simbol perlindungan.

Dan satu per satu—

Simbol di tanah PADAM.

Seperti lampu dimatikan.

Seorang pria berteriak.

“Rumahku! Simbolnya hilang!”

Jeritan lain menyusul.

“Di sini juga!”

“Simbolku rusak!”

Rina menahan napas.

Ini bukan kebetulan.

Seseorang telah memberi tahu makhluk itu lokasi titik perlindungan.

Pengkhianatan.

---

Rina berlari ke rumah terdekat.

Simbol di halaman sudah terhapus.

Bukan karena hujan.

Ada bekas diinjak.

Sengaja.

Ia berdiri perlahan.

Matanya menyapu warga.

“Siapa yang menghapus simbol ini?”

Tidak ada yang menjawab.

Hanya wajah-wajah pucat.

Bayu menggertakkan gigi.

“Kalau ada pengkhianat, bilang sekarang! Kita semua bisa mati!”

Seorang pria muda mundur selangkah.

Tubuhnya gemetar.

“Aku… aku cuma ingin keluargaku selamat…”

Semua menoleh padanya.

Rina menatapnya lembut.

“Apa yang kau lakukan?”

Air mata pria itu jatuh.

“Aku didatangi wanita… rambutnya panjang… dia bilang kalau aku menghapus simbol rumahku… keluargaku tidak akan diganggu…”

Hening.

Pak Adi memejamkan mata.

“Mereka… membuat perjanjian…”

Pria itu menangis.

“Aku takut… anakku selalu kerasukan… aku cuma ingin berhenti…”

Tiba-tiba—

ANGIN BERPUTAR.

Kabut menebal.

Dan di belakang pria itu…

Sosok perempuan berambut panjang muncul perlahan.

Tubuh basah.

Kepala miring.

Mulutnya tersenyum terlalu lebar.

Warga menjerit.

Makhluk itu menepuk bahu pria tersebut.

Seperti pemilik yang menagih janji.

Rina langsung berteriak.

“SEMUA MUNDUR!”

Makhluk itu membuka mulut.

Suara tangisan puluhan orang keluar bersamaan.

Tanah bergetar.

Simbol pusat retak.

Pria itu jatuh berlutut.

“Aku… aku tidak bermaksud…”

Tangannya bergerak sendiri.

Menulis simbol hitam.

Simbol terbalik.

Rina langsung menulis simbol penyeimbang di udara.

Cahaya menyala.

Arwah kecil muncul, berputar di sekelilingnya.

Tapi jumlah makhluk terlalu banyak.

Mereka menyerang bersamaan.

Rumah demi rumah.

Simbol demi simbol.

Desa kehilangan perlindungan.

---

Warga mulai panik.

Beberapa berlari pulang.

Beberapa menangis.

Beberapa saling menuduh.

“Kau pasti juga membuat perjanjian!”

“Jangan tuduh aku!”

“Kita mati gara-gara kalian!”

Rina berteriak.

“DIAM!”

Semua terdiam.

Napasnya berat.

Matanya merah.

“Kalau kita saling curiga sekarang… desa ini selesai.”

Ia menunjuk tanah.

“Kita buat ritme baru.”

Pak Adi terkejut.

“Rina… simbol lama belum stabil…”

Rina menggeleng.

“Kita tidak punya waktu.”

Ia menarik napas panjang.

“Malam ini… kita tidak lagi bertahan.”

Warga menatapnya.

“Kita menyerang balik.”

---

Rina menggambar simbol besar di tanah balai desa.

Lebih rumit.

Lebih dalam.

Tangannya gemetar saat menulis.

Bayu melihat darah menetes dari jarinya.

“Rina… kau terluka.”

Rina tidak berhenti.

“Aku mengubah ritme desa menjadi satu tubuh.”

Pak Adi membeku.

“Maksudmu…”

Rina mengangguk.

“Semua warga menjadi satu jaringan energi.”

Beberapa warga langsung panik.

“Itu berbahaya!”

“Kita bisa kehilangan kesadaran!”

Rina menatap mereka.

“Kalau tidak dilakukan… kita mati malam ini.”

Hening panjang.

Akhirnya Pak Adi maju.

“Aku ikut.”

Bayu mengangkat tangan.

“Aku juga.”

Satu demi satu warga maju.

Bukan karena berani.

Tapi karena tidak punya pilihan lain.

---

Rina berdiri di tengah simbol raksasa.

Hujan mengguyur tanpa henti.

Ia memejamkan mata.

“Tarik napas.”

Warga mengikuti.

“Dengarkan detak jantung kalian.”

Hening.

Hanya hujan.

“Sekarang… tulis simbol kalian… bersamaan.”

Puluhan tangan menyentuh tanah.

Serentak.

Simbol menyala.

Cahaya besar meledak dari halaman balai.

Kabut terbelah.

Makhluk tanpa wajah mundur.

Mereka menjerit.

Ritme desa berubah.

Tidak lagi individu.

Tapi satu kesadaran.

Rina merasakan pikiran warga.

Ketakutan mereka.

Trauma mereka.

Duka mereka.

Semua masuk ke tubuhnya.

Ia hampir roboh.

Bayu berteriak.

“Rina! Kau tidak apa-apa?!”

Rina membuka mata.

Matanya bercahaya samar.

“Aku… bisa merasakan mereka…”

Makhluk perempuan berambut panjang menjerit marah.

Ia menyerang langsung ke pusat simbol.

Tanah retak.

Energi bertabrakan.

Suara jeritan arwah memenuhi udara.

Rina menggenggam tanah.

“Sekarang!”

Seluruh warga menulis simbol bersamaan.

Gelombang cahaya menyapu desa.

Makhluk satu per satu terpental.

Beberapa menghilang.

Beberapa terbakar cahaya simbol.

Hujan berubah hangat.

Untuk pertama kalinya…

Desa bernapas lega.

Makhluk mundur.

Kabut perlahan menipis.

Sunyi kembali.

---

Warga jatuh terduduk.

Tubuh mereka lemah.

Seolah energi disedot habis.

Pak Adi tersenyum lelah.

“Kita… berhasil?”

Rina tidak langsung menjawab.

Ia menatap jauh ke hutan.

Matanya menyempit.

“Mereka mundur…”

Bayu tersenyum lega.

“Tapi kita selamat.”

Rina berbisik pelan.

“Tidak.”

Ia menunjuk tanah.

Simbol pusat… retak.

Tipis.

Hampir tidak terlihat.

“Mereka bukan kalah.”

Hening.

“Mereka sedang belajar.”

Angin dingin berhembus.

Dari hutan terdengar suara langkah.

Bukan satu.

Bukan puluhan.

Ratusan.

Rina merasakan sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Makhluk yang selama ini mereka lawan…

Bukan penguasa sebenarnya.

Ia berbisik hampir tak terdengar.

“Yang asli… belum bangun.”

Hujan kembali turun deras.

Dan jauh di dalam tanah basah…

Sesuatu bergerak.

Perlahan.

Menunggu.

***

Untukmu yang memilih membuka halaman demi halaman novel ini—terima kasih.

Setiap kata di sini lahir dari rasa, luka, dan harapan yang mungkin pernah singgah di hatimu.

Bacalah perlahan, resapi, dan biarkan ceritanya menemanimu.

Semoga kamu menemukan bagian dirimu sendiri di antara baris-barisnya.

1
anggita
woouu serem juga😯. like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!