"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "
Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.
Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Serangan Balik Senator
Peringatan itu terasa seperti pukulan telak yang menghantam ulu hati Meylie. Ponsel di tangannya bergetar, menampilkan pesan singkat yang mengerikan: "FERNANDEZ DISERGAP. LOKASI DIKOMPROMIKAN. HATI-HATI." Audio yang menyertainya adalah bisikan-bisikan terputus-putus, erangan kesakitan yang tak salah lagi milik Fernandez, bentakan-bentakan kasar, dan kemudian… sebuah suara retakan tulang yang tajam dan memuakkan, diikuti oleh jeritan tertahan.
Dunia Meylie seolah runtuh dalam sekejap. Jantungnya mencelos, darahnya mengering. Fernandez. Sekutunya satu-satunya. Pria yang telah menembus benteng ketakutannya sendiri demi keadilan Yu. Kini ia dalam bahaya. Disergap. Disiksa. Sama seperti Yu.
Meylie membeku di tempatnya, hanya beberapa langkah dari pintu ruang pribadi Senator Adrian Thorne. Aula pesta yang megah, dengan tawa hampa dan musik klasik yang indah, kini terasa seperti neraka yang berputar-putar di sekelilingnya. Topeng perak di wajahnya terasa dingin, menyembunyikan ekspresi horor yang kini terpampang jelas di wajah Xiao Fei yang asli.
"Fernandez..." bisiknya, suaranya tercekat. Ia bisa membayangkan kengerian yang dialami pria itu. Rasa sakit yang ia dengar di audio itu begitu nyata, begitu brutal, sehingga Meylie merasakan mual yang mendalam. Mereka pasti menginginkan lokasi Tuan Z, menginginkan akses ke data "THE DEEP STATE" yang telah mereka dekripsi. Mereka ingin menghancurkan semua bukti.
Naluri pertamanya adalah berbalik, berlari, mencari cara untuk menyelamatkan Fernandez. Ia bisa membayangkan Fernandez, pria yang trauma, yang telah berjuang keras melawan ketakutannya, kini kembali ke dalam jurang penderitaan yang tak terbayangkan. Air mata mulai mengalir di balik topeng Meylie, membasahi pipinya. Ia tidak bisa membiarkan ini terjadi. Ia tidak bisa kehilangan Fernandez juga.
Namun, di tengah badai emosi itu, sebuah suara lain terdengar di benaknya. Suara Yu. Yu yang disiksa, Yu yang dilecehkan, Yu yang organnya diambil. Ia teringat janji yang ia buat di makam Yu, janji yang ia ulang kepada Fernandez di pondok terpencil: ia tidak akan mundur. Ia akan memastikan keadilan.
Jika ia mundur sekarang, jika ia mencoba menyelamatkan Fernandez, seluruh misi akan terkompromikan. Senator Thorne akan tahu bahwa ia memiliki sekutu. Tuan Z akan ditemukan, data akan dihancurkan, dan mereka berdua, Meylie dan Fernandez, akan mati sia-sia. Yu akan mati sia-sia.
"Tidak," Meylie berbisik, suaranya bergetar, namun penuh tekad. "Tidak. Aku tidak bisa."
Ini adalah pengorbanan yang paling menyakitkan. Keputusan yang paling kejam. Meylie harus memilih. Menyelamatkan satu nyawa, atau mengorbankan segalanya demi keadilan yang lebih besar. Ia telah melihat betapa dalamnya akar kejahatan Senator Thorne. Ia telah melihat betapa banyak nyawa yang telah dihancurkan oleh jaringan ini. Jika ia mundur, lebih banyak Yu yang lain, lebih banyak Fernandez yang lain, akan menjadi korban bungkam yang lainnya.
Xiao Fei, di dalam dirinya merintih, menangis, memohon untuk menyelamatkan Fernandez. Namun Ling, sang pemburu, sang prajurit, tahu apa yang harus dilakukan. Emosi harus ditekan. Logika harus memimpin.
"Maafkan aku, Fernandez," bisiknya, air mata mengalir deras di pipinya. "Aku akan membalaskan dendammu. Aku akan memastikan pengorbananmu tidak sia-sia."
Meylie mengepalkan tangannya, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya, menciptakan rasa sakit fisik yang mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit emosional. Ia harus kuat. Untuk Yu. Untuk Fernandez. Untuk semua korban.
Ia mengangkat kepalanya, matanya yang merah kini memancarkan api yang membara. Senator Adrian Thorne. Dia telah mengantisipasi gerakannya. Dia melacak Fernandez. Ini menunjukkan betapa cerdas dan berkuasanya Dalang Utama ini. Dia tidak hanya menunggu Meylie, tetapi dia juga menyerang balik, mencoba memotong jaring pengamannya.
Senator Thorne pasti memiliki mata dan telinga di mana-mana. Mungkin dia telah menanam spyware di ponsel yang Meylie curi dari agen Chen, atau melacak koneksi internet satelit Fernandez, atau bahkan memiliki informan yang sangat tersembunyi. Kemungkinan besar, dia telah memantau semua pergerakan Meylie sejak dia mulai mengganggu Tuan Chen, dan Fernandez adalah sekutu yang paling jelas yang akan Meylie cari. Dia adalah pemain catur yang sangat licik, selalu selangkah di depan.
Meylie membayangkan adegan penyerbuan di bunker. Para agen Senator Thorne pasti menyerbu bunker Fernandez, memaksanya untuk mengungkap lokasi Tuan Z dan, yang lebih penting, lokasi hard drive yang berisi seluruh data "THE DEEP STATE." Fernandez, dengan ketekunan dan keberaniannya, pasti menolak, menghadapi siksaan dengan gigih. Suara retakan tulang itu... pasti ada bagian tubuhnya yang patah.
Rasa jijik dan amarah Meylie terhadap Senator Thorne semakin membara. Pria ini adalah iblis yang sesungguhnya, yang tidak hanya menikmati kekuasaan dan kekayaan, tetapi juga penderitaan orang lain.
Meylie mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu mengambil napas dalam-dalam. Tidak ada waktu lagi untuk berduka atau ragu. Misi harus dilanjutkan. Ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Fernandez, meskipun ia tidak bisa menyelamatkan tubuhnya sekarang. Ia harus menyelamatkan warisannya, kebenaran yang ia perjuangkan.
Dengan tekad baja yang baru, Meylie mengunci ruangan itu. Bukan ruangan pribadi Senator Thorne, melainkan pintu ke sebuah ruang utilitas kecil yang tersembunyi di dekat pintu masuk ke area pribadi Senator, tempat ia bisa mengisolasi diri sesaat. Ia ingin memastikan tidak ada yang bisa mengganggunya saat ia membuat persiapan terakhir. Ia memeriksa kembali gaunnya, memastikan kamera lubang jarum dan mikrofon tersembunyi masih berfungsi. Transmitter darurat di pergelangan tangannya terasa dingin di kulitnya, siap diaktifkan.
Ia mengeluarkan ponsel burner-nya lagi, melihat pesan Fernandez. Audio itu masih berputar di benaknya. Ia tidak bisa membalas. Ia tidak bisa mengirimkan pesan apa pun. Itu hanya akan membahayakan Fernandez lebih lanjut, atau bahkan mengungkap lokasinya kepada musuh.
Meylie tahu, Fernandez telah mengaktifkan "dead man's switch" mereka. Jika Fernandez tidak check-in setiap beberapa jam, semua data akan dirilis secara otomatis ke Justice Tower dan media investigasi. Itu adalah jaring pengaman terakhir mereka. Namun, Meylie tidak bisa mengandalkan itu sepenuhnya. Ia harus memastikan bahwa kebenaran terungkap melalui siaran langsung, melalui bukti visual dan audio yang tidak bisa disangkal.
Ini adalah pertarungan terakhirnya. Pertarungan yang ia tahu akan sangat berbahaya, mungkin mematikan. Tapi ia telah mempersiapkan diri untuk ini. Ia telah menjadi Ling. Ia telah berlatih bela diri, belajar manipulasi, dan mengasah kecerdasan strategisnya. Ia tidak akan menjadi korban pasif seperti Yu. Ia akan menjadi katalisator.
Meylie menatap pantulan dirinya di sebuah cermin kecil yang ada di ruang utilitas. Topeng perak itu menyembunyikan sebagian wajahnya, namun matanya yang tajam memancarkan api yang membara. Ia melihat Ling, seorang wanita yang telah kehilangan segalanya, namun kini siap mengorbankan segalanya demi keadilan.
Ia menghela napas panjang, menenangkan detak jantungnya. Ia harus tenang. Ia harus fokus. Senator Thorne pasti sedang menunggu, menikmati permainannya. Dia pasti ingin melihat Meylie hancur, menyerah. Tapi Meylie tidak akan memberinya kepuasan itu.
Ia membuka pintu ruang utilitas, melangkah keluar ke lorong yang kini terasa lebih sunyi. Pesta masih berlangsung di aula utama, namun di area pribadi Senator Thorne, suasana terasa lebih tegang, lebih mencekam. Beberapa pengawal berjas hitam berpatroli dengan lebih waspada.
Meylie melangkah maju, menuju ruangan pribadi The Senator. Ia tidak lagi peduli dengan pengawal atau mata-mata. Ia tidak lagi peduli dengan bahaya yang mengintai. Ia adalah Ling, sang pemburu, yang kini siap menghadapi iblis di sarangnya sendiri. Di gerbang neraka ini, ia akan memulai pertarungan akhirnya.
Ia mencapai pintu besar yang dijaga ketat oleh dua pengawal berbadan besar. Mereka menatapnya dengan curiga, namun Meylie membalas tatapan mereka dengan ketenangan yang dingin.
"Saya ingin bertemu Senator Thorne," Meylie berkata, suaranya mantap, penuh otoritas. "Saya adalah tamu yang ditunggu."
Kedua pengawal itu saling pandang, lalu salah satu dari mereka mengangguk. "Silakan masuk, Nona Ling. Senator sudah menunggu."
Sebuah senyum tipis, dingin, terukir di bibir Meylie. Senator Thorne memang sudah menunggunya. Dia tahu Meylie akan datang. Dia telah merencanakan ini.
Pintu besar itu terbuka, menampakkan sebuah ruangan mewah yang dihiasi dengan lukisan-lukisan gelap dan patung-patung aneh. Di tengah ruangan, duduk di sebuah singgasana mewah, adalah Senator Adrian Thorne, mengenakan topeng emasnya yang rumit. Ia tidak sendirian. Beberapa pengikut setianya, juga bertopeng, berdiri di sekelilingnya, menatap Meylie dengan tatapan dingin.
Meylie melangkah masuk, langkahnya mantap, tatapannya tajam. Ia merasakan aura kekuasaan dan kejahatan yang memancar dari Senator Thorne. Pria itu adalah inti dari kegelapan ini.
Ia meletakkan transmitter daruratnya di ambang pintu, di tempat yang tersembunyi, di antara celah ukiran kayu, memastikan sinyalnya tidak terhalang. Ini adalah pemicunya. Ini adalah jaring pengaman terakhirnya. Jika ia mengaktifkan ini, Fernandez akan tahu. Dan dunia akan tahu.
Senator Thorne menatap Meylie, senyum kejam terukir di balik topeng emasnya. Dia tahu. Dia tahu Meylie telah datang untuknya. Dan dia siap.
Pertarungan yang sebenarnya akan segera dimulai. Pertarungan antara kecerdasan dan kekejaman. Pertarungan antara kebenaran dan kebohongan. Dan Meylie, sang Ling, siap untuk menghadapi apa pun, bahkan jika itu berarti mengorbankan dirinya sendiri. Untuk Yu. Untuk Fernandez. Untuk keadilan.