"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Bayang-bayang Masa Lalu di Balik Tawa Zurich
Kehidupan di Zurich bukan hanya tentang diktat anatomi yang membosankan atau pasal-pasal hukum internasional yang kaku. Di balik dinding apartemen sederhana yang mereka tinggali, ada sebuah ekosistem persahabatan yang unik—sebuah benteng yang mereka bangun bersama untuk melindungi diri dari kenangan pahit London yang sesekali masih mencoba mengetuk pintu ingatan.
Sore itu, sinar matahari musim gugur menyelinap masuk melalui jendela besar apartemen mereka, memberikan rona keemasan pada meja makan yang kini penuh dengan tumpukan kain perca milik Sophie dan jurnal medis milik Achell. Julian, seperti biasa, menjadi penengah di antara kekacauan dua wanita itu, meskipun tugasnya lebih sering berubah menjadi pengejek nomor satu.
"Aku bersumpah, jika aku mendengar Dave memanggilmu 'my baby' sekali lagi di depan umum, aku akan mengundurkan diri sebagai sahabatmu," ucap Julian sambil membolak-balik halaman buku tebalnya. Ia masih teringat kejadian di taman tadi siang yang membuatnya hampir mati tersedak jus jeruk.
Sophie, yang sedang sibuk menggunting pola baju, mendengus keras. "Kau pikir aku menikmatinya? Aku bahkan merasa ingin mengganti kewarganegaraanku setiap kali pria kacamata itu muncul! Minus sebelas, Julian! Sebelas! Dia bahkan mungkin tidak bisa membedakan aku dengan manekin jika kacamatanya dilepas!"
Achell tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskop portabelnya. "Tapi jujur saja, Soph, Dave itu gigih. Dia mengingatkanku pada seseorang yang punya tekad baja, meskipun objek cintanya agak... yah, sulit digapai."
"Sulit digapai? Aku ini mustahil digapai olehnya!" sahut Sophie sarkastik. "Tapi ngomong-ngomong soal gigih, bagaimana dengan si Senior Tampan itu? Liam?"
Gerakan tangan Achell terhenti sejenak. Nama itu belakangan ini memang sering muncul dalam percakapan mereka. Liam Vanderwaal bukan hanya senior yang cerdas, tapi dia memiliki cara bicara yang tenang dan sangat menghargai pendapat Achell. Berbeda dengan Victor yang selalu mendikte atau meremehkan pikirannya, Liam selalu bertanya, "Apa pendapatmu tentang kasus ini, Achell?"
"Liam hanya teman belajar, Soph. Dia membantuku memahami praktik bedah saraf yang sangat rumit," jawab Achell, mencoba terdengar netral.
Julian mengangkat alisnya, menatap Achell dengan tatapan menyelidik. "Hanya teman belajar? Tadi kulihat dia memberimu cokelat hitam di perpustakaan. Dan setahuku, tidak ada kurikulum medis yang mewajibkan pemberian cokelat antar mahasiswa."
Achell merasakan pipinya sedikit memanas. "Itu... itu hanya karena aku melewatkan jam makan siang."
"Oh, sweet sekali," ejek Sophie dengan nada tinggi yang dibuat-buat. "Hati-hati, Achell. Julian ini sangat protektif. Dia sudah seperti anjing penjaga yang siap menggigit siapa pun yang berani mendekatimu."
"Aku tidak protektif," bela Julian tenang. "Aku hanya selektif. Aku tidak ingin Achell jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Pria tampan, berkuasa, dan pintar biasanya punya ego yang setinggi gunung."
Achell terdiam mendengarnya. Kata-kata Julian seolah menariknya kembali ke sebuah realita yang selama ini ia coba kubur. Ego yang setinggi gunung. Itulah definisi Victor Louis Edward. Pria yang selama sepuluh tahun menjadi pusat semestanya, pria yang memberinya kemewahan namun merampas harga dirinya.
"Liam berbeda," bisik Achell pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Dia tidak membuatku merasa kecil. Dia tidak membuatku merasa seperti beban."
"Baguslah kalau begitu," sahut Julian. "Karena di dunia ini, kau berhak menjadi matahari bagi dirimu sendiri, bukan hanya bulan yang memantulkan cahaya orang lain."
Sementara tawa dan perdebatan kecil memenuhi apartemen di Zurich, ribuan mil jauhnya di London, suasana di kantor pusat Edward Group justru terasa mencekam. Suara jam dinding berdetak seolah-olah menjadi sanksi yang terus menghitung detik-detik penyesalan Victor.
Victor Louis Edward duduk di kursinya yang empuk, namun ia tampak sangat kurus. Wajahnya yang dulu selalu terlihat segar dan dominan kini nampak kuyu dengan lingkaran hitam di bawah mata. Ia sedang menatap sebuah laporan yang dikirim oleh salah satu orang kepercayaannya. Selama bertahun-tahun, Victor tidak pernah berhenti mencari keberadaan Achell, meskipun Jake telah menutup semua akses.
"Jadi... dia di Swiss?" gumam Victor dengan suara parau.
Laporan itu sangat tipis. Hanya berisi foto buram Achell yang sedang berjalan masuk ke sebuah gedung universitas dengan mengenakan jas lab putih. Di foto itu, Achell sedang tertawa bersama seorang wanita berambut pirang (Sophie) dan seorang pria berkacamata yang terlihat cerdas (Julian).
Victor menyentuh permukaan foto itu dengan ujung jarinya yang gemetar. Ia melihat tawa Achell tawa yang belum pernah ia lihat selama Achell tinggal di bawah atapnya. Tawa yang lepas, tanpa beban, tanpa ketakutan akan penilaiannya.
"Kau tampak sangat bahagia tanpa aku, Achell," bisiknya.
Ada rasa sakit yang luar biasa menghantam dadanya. Bukan rasa marah, bukan rasa cemburu yang meledak-ledak, melainkan rasa kehilangan yang hampa. Victor menyadari bahwa selama sepuluh tahun ia memiliki Achell, ia tidak pernah benar-benar memilikinya. Ia hanya memenjarakan raga gadis itu, sementara jiwanya selalu merindukan kebebasan yang kini akhirnya ia dapatkan di Zurich.
Tiba-tiba, pintu kantornya diketuk. Sekretarisnya masuk dengan wajah ragu-ragu. "Tuan Edward... Nona Clara menelepon lagi. Dia ingin membahas tentang kerja sama rebranding yang sempat tertunda."
"Katakan padanya untuk berhenti menelepon," sahut Victor tanpa menoleh. "Dan katakan padanya... aku tidak punya waktu untuk urusan yang tidak penting."
"Tapi Tuan, ini kontrak bernilai jutaan pound—"
"SAYA BILANG TIDAK!" bentak Victor.
Setelah sekretarisnya keluar dengan terburu-buru, Victor kembali menatap foto Achell. Ia merasa sangat kecil di tengah kemewahan kantornya yang luas. Ia baru menyadari bahwa sanksi yang paling berat dari Tuhan bukanlah kemiskinan atau kegagalan bisnis, melainkan sanksi untuk terus mengingat seseorang yang sudah tidak mungkin lagi kembali ke pelukannya.
Victor kemudian mengambil selembar kertas dan pena—pena baru, karena pena vintage yang dihancurkan Achell tetap ia simpan di dalam brankasnya sebagai pengingat luka. Ia mulai menulis sesuatu yang tidak akan pernah ia kirimkan.
"Achell... aku melihatmu hari ini. Kau tampak begitu bersinar dengan jas lab itu. Dulu aku memaksamu belajar piano, padahal tanganmu diciptakan untuk menyembuhkan orang lain. Maafkan aku karena butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari betapa bodohnya aku. Jika suatu saat kau kembali ke London, aku tidak akan memintamu pulang ke mansion ini. Aku hanya ingin melihatmu dari jauh, dan memastikan bahwa tidak ada lagi mobil yang akan menabrakmu saat kau berlari menjauh dariku."
Victor meremas kertas itu dan melemparkannya ke tempat sampah. Ia tahu, permintaan maaf sebanyak apa pun tidak akan bisa menghapus darah yang pernah mengalir di aspal malam itu.
Kembali ke Zurich, malam telah larut. Sophie sudah tertidur di sofa dengan sketsa-sketsa baju yang menutupi tubuhnya, sementara Julian masih asyik dengan laptopnya di meja makan. Achell berjalan menuju balkon apartemen, menatap lampu-lampu kota Zurich yang memantul di permukaan danau.
Ia teringat percakapannya dengan Liam tadi siang. Liam sempat bertanya, "Gabriella, apa yang membuatmu begitu gigih ingin menjadi dokter bedah saraf?"
Achell telah menjawab, "Karena aku ingin memperbaiki saraf-saraf yang rusak, Liam. Aku ingin mengerti bagaimana otak manusia bekerja, agar suatu saat aku bisa mengerti kenapa manusia bisa saling menyakiti meski mereka bilang mereka saling menyayangi."
Liam hanya tersenyum dan berkata, "Kau punya hati yang sangat dalam, Achell. Jangan biarkan masa lalumu membuatmu takut untuk merasakannya lagi."
Di bawah langit Zurich yang tenang, Achell menarik napas dalam. Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan Victor di London, dan jujur saja, ia sudah tidak ingin tahu. Baginya, Victor adalah sebuah bab dalam buku kehidupannya yang sudah ia beri label "Selesai".
Ia tidak tahu bahwa sanksi yang ia berikan pada Victor—yakni kepergiannya yang tanpa pamit—adalah luka yang tidak akan pernah bisa disembuhkan oleh ilmu kedokteran mana pun yang sedang ia pelajari sekarang.
"Besok akan menjadi hari yang panjang," gumam Achell sambil tersenyum.
Ia masuk kembali ke dalam, menyelimuti Sophie yang tertidur pulas, dan mematikan lampu ruang tamu. Di dalam kegelapan itu, Achell merasa damai. Ia telah memenangkan perangnya sendiri, bukan dengan membalas dendam, melainkan dengan cara tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh Victor Edward.