NovelToon NovelToon
White Dream With You?

White Dream With You?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri / Horror Thriller-Horror / Horor / Spiritual / Romantis
Popularitas:624
Nilai: 5
Nama Author: Cokocha

Judul: White Dream With You

Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Sebelum Kunjungan

Suasana aula SMK Pamasta tidak seperti biasanya. Jika pameran teknologi kemarin dipenuhi oleh deru mesin dan perangkat keras, hari ini ruangan besar itu dipadati oleh seluruh siswa kelas sepuluh yang duduk rapi di atas lantai semen yang dilapisi karpet hijau. Udara terasa sedikit lembap karena kepadatan manusia, namun ada getaran antusiasme yang tertahan di balik seragam batik sekolah yang kami kenakan.

Udara di aula terasa sedikit sesak, namun ada getaran antusiasme yang merambat di antara barisan siswa. Di depan, sebuah layar proyektor besar menampilkan rincian agenda yang telah disusun oleh panitia sekolah.

Pak Haris, selaku koordinator kegiatan, berdiri di atas podium. Beliau mulai memberikan pengarahan mengenai urgensi Kunjungan Industri (KI) sebagai jembatan antara teori di kelas dan praktik di lapangan. Bagi kami di jurusan AKL, ini adalah kesempatan melihat bagaimana arus kas dan manajemen inventaris dikelola secara nyata. Sementara bagi rekan-rekan di TKJ, ini adalah observasi mengenai integrasi teknologi dalam lini produksi.

"Harap perhatikan baik-baik," suara Pak Haris menggema, membuat suasana aula seketika hening. "Pembagian bus telah disesuaikan dengan kapasitas dan keterwakilan kedua jurusan. Saya akan membacakan distribusi peserta agar kalian bisa segera berkoordinasi."

Aku segera mengeluarkan buku catatan kecil dari saku seragamku. Sebagai seseorang yang mengutamakan akurasi data, aku tidak ingin melewatkan satu detail pun.

"Bus nomor satu," Pak Haris memulai, "terdiri dari gabungan siswa absen 1-7 tiap kelas"

Aku melirik ke arah Bagas yang duduk beberapa meter di sebelah kananku. Ia tampak sedikit lesu saat menyadari bahwa tidak ada satu pun dari kami yang mendampinginya di Bus 1. Meskipun ada teman sekelas kami yang lain, namun tanpa kehadiran lingkaran inti, Bagas merasa seperti kehilangan jangkar sosialnya.

"Bus nomor dua: Gabungan siswa-siswj absen 8-14"

"Bus nomor tiga: Gabungan siswa-siswi absen 15-21"

Netta dan Nadin saling bertukar pandang penuh syukur. Sebagai anggota OSIS, Netta membutuhkan seseorang yang gesit seperti Nadin untuk membantunya dalam koordinasi lapangan selama di perjalanan.

Jantungku berdegup dengan ritme yang lebih cepat saat Pak Haris menyebutkan bus berikutnya.

"Dan Bus nomor empat: gabungan siswa-siswi absen 22-28."

Aku segera memindai barisan di sisi kiri aula, tempat siswa TKJ 2 duduk. Mataku bertemu dengan mata Vema. Ia tampak sedikit terkejut, namun kemudian sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat namun sangat berarti—muncul di wajahnya. Kami berada di bus yang sama. Secara statistik, ini adalah sebuah probabilitas yang menguntungkan bagi rencana perjalananku.

Pak Haris kemudian mengganti slide pada proyektor, menampilkan jadwal perjalanan yang sangat mendetail. Beliau menekankan bahwa kedisiplinan waktu adalah kunci utama keberhasilan kunjungan ini.

"Tujuan kita adalah Blitar," lanjut Pak Haris. "Sebuah kota yang memiliki perpaduan unik antara industri tradisional yang sudah mapan dan agrowisata yang modern."

Beliau memerintahkan kami untuk mencatat timeline berikut:

"Kalian wajib membawa buku catatan dan alat tulis," tegas Pak Haris. "Setiap jurusan memiliki fokus observasi yang berbeda. Siswa AKL akan berfokus pada analisis biaya produksi dan distribusi, sementara siswa TKJ akan mengamati sistem otomatisasi atau perangkat pendukung teknologi yang digunakan di lokasi."

Setelah pertemuan di aula dibubarkan, kami berlima berkumpul sejenak di selasar koridor yang menghubungkan gedung AKL dan TKJ.

"Hanya aku yang terpisah di Bus 1," keluh Bagas sambil menggaruk tengkuknya. "Aku akan berada di antara anak-anak TKJ 1 yang hampir semuanya tidak kukenal dengan baik."

"Anggap saja itu latihan kemandirian, Gas," sahut Netta dengan nada formal namun menenangkan. "Aku dan Nadin di Bus 3 juga harus fokus pada koordinasi logistik jika panitia membutuhkan bantuan."

Nadin menyenggol bahu Vema, matanya melirik ke arahku dengan tatapan jahil. "Tapi sepertinya Bus 4 akan menjadi tempat yang paling tenang. Antara Sarendra yang sangat teratur dan Vema yang pendiam, aku yakin perjalanan kalian akan dipenuhi dengan observasi yang sangat mendalam... atau mungkin hal lain."

Vema merapikan sedikit kerah batik birunya, wajahnya sedikit merona namun ia tetap mempertahankan ketenangannya. "Kami hanya akan fokus pada tugas laporan, Nadin. Jangan mulai berasumsi yang berlebihan."

Aku membetulkan letak kacamataku. "Vema benar. Perjalanan selama tiga jam menuju Blitar membutuhkan kondisi fisik yang prima. Aku sarankan kalian membawa bekal air minum dan jaket, karena pendingin udara di dalam bus sering kali terlalu kuat di pagi hari."

Meskipun kami akan terbagi dalam tiga bus yang berbeda, aku merasakan ada sebuah ikatan yang semakin kuat. Kunjungan Industri ke Blitar ini akan menjadi momen transisi bagi kami; dari remaja yang terjebak dalam misteri gelap, menjadi siswa kejuruan yang siap menghadapi realitas industri.

Saat aku berjalan kembali menuju kelas bersama Vema, aku menyadari bahwa jadwal yang tertera di papan proyektor tadi bukan sekadar susunan waktu. Bagi kami, itu adalah peta jalan menuju babak baru dalam hubungan kami.

"Sampai jumpa di depan Bus 4 hari Selasa nanti, Vem," ucapku sebelum kami berpisah di persimpangan jurusan.

"Iya, Dra. Aku akan menyiapkan catatan teknisku," jawabnya lembut.

Aku melangkah masuk ke kelas 10 AKL 1 dengan perasaan yang sulit didefinisikan secara akuntansi. Ada sebuah variabel baru dalam hidupku—variabel bernama kenyamanan—yang tidak bisa dihitung dengan angka, namun nilainya terasa sangat signifikan.

Langit Surabaya perlahan bertransformasi menjadi kanvas gelap dengan semburat ungu saat bel pulang sekolah berbunyi. Aku melangkah keluar dari gedung AKL, menyusuri selasar panjang yang masih menyisakan aroma hujan tipis. Di dekat area parkir sepeda motor, aku melihat Vema sedang berdiri sendirian, tampak sedang menunggu sesuatu.

Langkahku melambat saat mendekatinya. Ada sebuah dorongan dalam diriku—sebuah keinginan untuk memperpanjang jalur komunikasi yang selama ini hanya terbatas pada pertemuan fisik di sekolah atau dalam situasi darurat mistis.

"Vem," sapaku saat jarak kami sudah cukup dekat.

Vema menoleh, memberikan anggukan kecil yang sopan. "Baru mau pulang, Dra?"

"Iya. Tapi sebelum itu, aku ingin menanyakan sesuatu," aku menjeda sejenak, mengatur ritme bicaraku agar tetap tenang. "Jika aku mengirimkan pesan singkat padamu nanti malam, apakah itu akan mengganggu waktu istirahat atau urusan pribadimu di rumah?"

Vema tampak sedikit terkejut dengan formalitas pertanyaanku, namun sorot matanya melembut. Ia tahu bahwa sejak insiden 'Tas Induk' yang melibatkan keluarganya, aku bukan lagi sekadar rekan audit, melainkan seseorang yang telah melihat lapisan terdalam dari kehidupannya.

"Tidak, Sarendra. Itu tidak akan mengganggu sama sekali," jawabnya dengan nada yang meyakinkan.

"Kamu bisa mengirim pesan kapan saja."

Ada rasa lega yang menjalar di dadaku. "Terima kasih, Vem. Sampai jumpa nanti malam."

Waktu menunjukkan pukul 18:30. Aku sudah berada di dalam kamarku yang tertata rapi. Di atas meja belajar, beberapa buku akuntansi dan draf laporan kunjungan industri sudah tersusun berdasarkan skala prioritas. Namun, fokusku malam ini bukan pada hal itu. Ponsel di samping laptopku terasa lebih menarik perhatian daripada biasanya.

Aku menarik napas panjang, menimang-nimang kalimat pembuka yang tepat. Sebagai seorang siswa AKL, aku terbiasa menyusun kata dengan struktur yang logis. Aku tidak ingin terdengar terlalu kaku, namun aku juga tidak ingin kehilangan identitas bicaraku yang selama ini dikenal formal.

Sarendra: Malam, Vema. Semoga aku tidak mengganggu aktivitasmu. Aku hanya ingin mendiskusikan beberapa persiapan untuk hari Selasa nanti.

Hanya butuh tiga menit sampai lampu indikator ponselku berkedip biru.

Vema: Malam juga, Sarendra. Tidak mengganggu, kok. Aku baru saja selesai membantu Ibu di dapur. Persiapan apa yang ingin kamu bahas?

Percakapan mengalir lebih lancar dari yang kubayangkan. Kami mulai membahas tentang pembagian tugas dokumentasi di Bus 4 tadi. Namun, rasa ingin tahuku kemudian beralih pada aspek logistik yang lebih personal.

Sarendra: Ngomong-ngomong, sebagai persiapan fisik, apa saja perlengkapan yang sudah kamu siapkan di dalam tasmu? Aku ingin memastikan tidak ada hal esensial yang terlewat, mengingat perjalanan menuju Blitar akan cukup panjang.

Vema mulai membalas dengan sebuah daftar yang sangat mendetail, mencerminkan ketelitiannya sebagai siswi TKJ yang terbiasa dengan inventaris perangkat.

Vema: Aku membawa alat tulis lengkap dan buku catatan kecil. Untuk logistik, aku membawa beberapa camilan ringan, air mineral, dan bekal nasi untuk siang hari. Aku juga sudah menyiapkan perlengkapan sholat karena kita akan mampir untuk Ishoma. Dan... ada beberapa barang kecil lainnya.

Di baris terakhir, aku melihat status typing yang cukup lama. Tiba-tiba sebuah pesan muncul: "Dan satu mainan kecil untuk menemani selama di bus."

Namun, belum sempat aku membalas, pesan itu langsung dihapus oleh Vema. Statusnya berubah menjadi "Pesan ini telah dihapus".

Aku tersenyum tipis di depan layar. Kecepatan mataku membaca memang sering kali menjadi kelebihan sekaligus kutukan. Aku tahu persis apa yang dia tulis sebelum keberaniannya runtuh.

Sarendra: Aku sempat membaca pesan yang kamu hapus tadi, Vem. Mainan kecil? Apakah seorang teknisi jaringan yang handal sepertimu masih membutuhkan pendamping fisik untuk menenangkan diri selama perjalanan jauh?

Butuh waktu agak lama baginya untuk membalas. Aku bisa membayangkan wajahnya yang sekarang pasti sedang merona hebat di balik layar ponselnya.

Vema: Tolong abaikan itu, Dra. Aku hanya merasa kalau perjalanan tiga jam akan membosankan. Itu hanya boneka Piggy kecil warna pink, bentuknya bulat dan ukurannya tidak seberapa besar. Tapi tolong, jangan dibahas di sekolah nanti.

Aku terkekeh pelan. Sisi menggemaskan Vema ini adalah sebuah anomali yang sangat menarik. Di sekolah, ia dikenal sebagai gadis pendiam dengan gaya wolfcut yang tangguh, namun di dalam tasnya, ada sebuah boneka babi merah muda yang ia bawa sebagai penenang.

Sarendra: Tentu, rahasia boneka Piggy itu akan tetap aman di arsipku. Tapi aku jadi penasaran apakah boneka itu memiliki nama teknis seperti perangkat servermu.

Vema membalas dengan beberapa stiker ekspresi malu dan mencoba mengalihkan pembicaraan dengan cepat.

Vema: Sudahlah, Dra. Ayo bahas yang lain saja. Kamu sendiri bawa apa?

Setelah puas menggodanya dengan cara yang halus, aku memutuskan untuk mengganti topik ke arah yang lebih serius. Ini adalah sesuatu yang sudah kurencanakan sejak kami pulang bersama tadi sore.

Sarendra: Sebenarnya, ada hal lain yang ingin aku sampaikan. Jika kamu tidak keberatan, aku berencana untuk berkunjung ke rumahmu pada hari Minggu nanti. Aku ingin bertemu dengan Bapak dan Ibu secara formal, bukan dalam situasi mendesak seperti sebelumnya.

Keheningan terjadi selama beberapa menit. Aku menunggu dengan tingkat kecemasan yang stabil.

Vema: Kamu mau datang ke rumah? Minggu ini? Aku rasa..... itu ide yang bagus. Bapak dan Ibu pasti senang melihatmu datang dalam keadaan santai. Kamu boleh datang kapan saja kok.

Aku baru saja hendak mengetik tentang apa yang sebaiknya kubawa sebagai buah tangan, ketika sebuah pesan susulan masuk dari Vema. Pesan ini tampak sangat tegas.

Vema: Satu hal, Sarendra. Aku mengizinkanmu datang dengan satu syarat mutlak: kamu tidak diperbolehkan membawa apa pun. Jangan bawakan makanan, buah, atau apa pun untuk orang-orang di rumah. Aku ingin kamu datang sebagai teman, bukan sebagai tamu yang merasa harus membalas budi.

Aku tersenyum melihat ketegasan karakternya.

Sarendra: Baiklah. Aku tidak akan membawakan apa-apa. Aku janji.

Vema: Benarkah? Awas saja kalau sampai aku melihat kamu menenteng kantong belanjaan saat masuk ke pagar rumahku.

Sarendra: Iya, Vem. Aku berjanji. Hanya diriku dan niat baik untuk mengobrol

Percakapan malam itu berakhir sekitar pukul 21:30. Kami memutuskan untuk segera beristirahat demi menjaga kondisi fisik agar tidak kelelahan sebelum hari Selasa tiba. Menutup layar ponsel, aku menyandarkan punggung ke kursi belajar.

Pikiranku kini melayang ke hari Minggu nanti.

Meskipun Vema sudah memberikan lampu hijau, aku tetap merasa harus mempersiapkan topik pembicaraan yang tepat. Bagaimana aku harus bersikap di depan Bapaknya? Bagaimana aku menjelaskan posisiku dalam kehidupan Vema sekarang?

Aku hanya berharap tidak ada hal yang mengganggu atau membuat orang tua Vema merasa keberatan dengan kehadiranku. Aku ingin setiap kunjunganku memiliki nilai manfaat dan memberikan kesan yang baik. Namun, sebagai Sarendra, aku hanya ingin memastikan bahwa aku bisa menjadi bagian dari dunia normal yang sedang Vema bangun kembali.

Malam itu, di tengah kesunyian kamar, aku tertidur dengan rencana-rencana kecil yang terus berputar di kepala, menanti hari Minggu dan perjalanan ke Blitar dengan debaran jantung yang teratur namun pasti.

1
Kustri
alur'a bikin penasaran
ada apa dgn vema
lanjuuut...
cokocha
bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!