NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permohonan perang

Luciano dan Alana berbaring berdampingan di ranjang besar itu. Selimut tebal menutupi tubuh mereka hingga sebatas dada, menyisakan kehangatan yang perlahan meresap dan menenangkan. Lampu kamar dibiarkan redup, hanya cahaya temaram yang memantul di dinding, menciptakan suasana hening dan intim.

Alana meringkuk lebih dekat, kepalanya bersandar di dada Luciano. Ia bisa merasakan detak jantung pria itu, stabil dan kuat, seolah memberi rasa aman yang selama ini ia cari. Luciano menggeser lengannya, memeluk Alana lebih erat dari belakang, telapak tangannya mengusap punggung Alana dengan gerakan pelan dan protektif.

“Aku di sini,” ucap Luciano lirih, hampir seperti bisikan, seolah kata-kata itu hanya milik mereka berdua.

Alana menghela napas panjang, matanya terpejam. Tangannya mencengkeram ringan lengan Luciano, menikmati kehangatan tubuh pria itu yang membungkusnya sepenuhnya. Tidak ada kata-kata balasan, hanya keheningan yang nyaman, diisi oleh napas mereka yang perlahan selaras.

Luciano menunduk, dagunya menyentuh puncak kepala Alana. Ia menutup mata, membiarkan momen itu mengalir tanpa tergesa. Dalam pelukan itu, tidak ada tuntutan, tidak ada amarah, hanya dua hati yang saling berpegangan di balik selimut, berbagi kehangatan dan rasa memiliki yang tenang.

“Luciano, apa aku boleh menanyakan sesuatu?” tanya Alana lirih.

“Eum, katakan,” jawab Luciano pelan.

“Apa Altair tidak menikah juga karena trauma sepertimu?”

Pertanyaan itu membuat mata Luciano yang semula terpejam terbuka. Ia menarik napas dalam, lalu menatap langit-langit kamar sejenak sebelum kembali memeluk Alana lebih erat.

“Masalah Altair bahkan jauh lebih rumit dari masalah kita, Alana,” ucapnya akhirnya.

“Maksudmu?” Alana mengangkat wajah, menatap Luciano dengan raut ingin tahu.

Luciano terdiam beberapa detik, seolah menimbang kata-katanya. “Altair mencintai seorang gadis yang usianya masih sangat muda. Mereka saling jatuh cinta, setidaknya begitu yang Altair rasakan. Tapi ayah gadis itu menentang keras hubungan mereka. Bukan tanpa alasan. Perbedaan usia, masa depan, dan tanggung jawab yang besar… semuanya jadi tembok yang sulit ditembus.”

Alana mengernyit. “Dan kamu mendukung Altair?”

“Aku menyarankan dia untuk berjuang dengan cara yang benar,” jawab Luciano jujur. “Bukan dengan memaksa, bukan dengan melawan secara membabi buta. Aku bilang padanya, kalau memang perasaannya tulus, dia harus bisa meyakinkan ayah gadis itu, menjaga batasan, dan siap menerima apa pun risikonya.”

Alana terdiam, mencerna kata-kata Luciano. “Tapi kamu ragu dia akan mendengarkanmu?”

Luciano tersenyum tipis, getir. “Altair itu keras kepala. Dia sering terlihat paling tenang, paling rasional. Tapi kalau sudah soal perasaan, dia sama rapuhnya dengan manusia lain. Aku tidak tahu apakah dia akan mengikuti saranku, atau justru memilih jalan yang membuat segalanya semakin rumit.”

Alana menyandarkan kembali kepalanya di dada Luciano. “Aku harap dia tidak terluka,” gumamnya.

Luciano mengusap rambut Alana dengan lembut. “Aku juga. Altair sudah terlalu sering menempatkan dirinya di belakang, mengurus semua orang, tapi lupa menyelamatkan dirinya sendiri.”

Hening kembali menyelimuti kamar itu. Di balik selimut, Alana memeluk Luciano lebih erat, sementara Luciano menutup matanya lagi, pikirannya melayang pada sahabatnya yang sedang berjuang di medan perasaan yang jauh lebih berbahaya daripada perang mana pun yang pernah mereka hadapi.

“Lalu, kenapa kamu nggak bantu Altair? Maksudku… membantu meyakinkan ayahnya agar menerima Altair sebagai pria yang mencintai putrinya,” ucap Alana pelan.

Luciano terdiam sejenak. Jemarinya masih bergerak lembut menyisir rambut Alana.

“Ini tidak sesederhana yang kita pikirkan, Alana,” jawabnya akhirnya. “Ayah mana yang mau mengizinkan anak perempuan satu-satunya untuk bersama seorang pria yang hidup di dunia seperti kami? Tidak ada. Kecuali kamu… yang awalnya bahkan tidak punya pilihan.”

Nada suaranya merendah di kalimat terakhir.

Alana mengangkat wajahnya lagi. “Kamu merasa bersalah karena itu?”

Luciano tersenyum tipis, tapi tidak ada canda di sana. “Setiap hari.”

Sunyi menggantung beberapa detik di antara mereka.

“Aku tidak ingin Lorenzo berpikir aku menggunakan kekuasaanku untuk menekan atau mengancamnya demi Altair,” lanjut Luciano. “Kalau aku turun tangan terlalu jauh, itu justru akan memperburuk keadaan. Lorenzo akan merasa dipaksa. Dan Altair tidak ingin itu.”

“Jadi kamu membiarkan Altair berjuang sendirian?”

“Aku tidak membiarkannya,” jawab Luciano cepat, lalu melunak. “Aku ada di belakangnya. Kalau semuanya runtuh, kalau keadaan menjadi buruk… aku akan berdiri di sampingnya. Tapi untuk meyakinkan seorang ayah? Itu harus dilakukan oleh Altair sendiri.”

Alana memikirkan itu. “Kamu percaya dia cukup kuat?”

Luciano menghela napas panjang. “Altair kuat di medan perang. Tapi ini bukan soal senjata atau strategi. Ini soal hati seorang ayah dan masa depan seorang gadis muda. Itu jauh lebih sulit.”

Alana terdiam, lalu berbisik, “Kalau aku punya ayah… mungkin dia juga tidak akan mengizinkanku bersama kamu.”

Kalimat itu membuat dada Luciano terasa seperti ditarik pelan.

“Mungkin,” katanya jujur. “Dan mungkin dia akan membenciku.”

“Dan kamu akan tetap memperjuangkanku?”

Luciano tidak langsung menjawab. Ia justru membalik posisi, kini menatap Alana dalam-dalam di bawah cahaya lampu kamar yang redup.

“Aku akan belajar menjadi pria yang layak di hadapannya,” ucapnya pelan tapi tegas. “Bukan hanya pria yang bisa melindungimu dengan kekuatan. Tapi pria yang bisa menghormatimu.”

Alana tersenyum tipis.

“Kalau begitu,” bisiknya, “mungkin Altair juga sedang belajar menjadi pria yang layak untuk gadis itu.”

Luciano mengangguk pelan. “Aku harap begitu.”

Ia menarik Alana kembali ke dalam pelukannya. Malam itu tidak lagi terasa berat. Di antara keheningan dan detak jantung yang saling bersahutan, keduanya memahami satu hal—cinta bukan hanya soal memiliki, tapi juga tentang menjadi pantas untuk dimiliki.

***

“Altair, apa kau sedang mengajukan permohonan perang denganku?” Suara Lorenzo menggema di ruangan itu, berat dan penuh tekanan.

Altair tidak membalas dengan nada tinggi. Ia justru menundukkan kepala, sikapnya tetap hormat.

“Maaf, Tuan. Tapi kami saling mencintai,” ucapnya tenang. “Kami tidak melewati batas, meski kami memiliki perasaan. Tidak ada hubungan layaknya sepasang kekasih. Saya hanya mengakui perasaan saya kepada Ciara. Jika Ciara sudah dewasa dan dia masih mencintai saya, maka saya akan memperjuangkan Ciara di hadapan Anda, Tuan.”

Ruangan itu mendadak hening.

Lorenzo bangkit dari kursinya. Langkahnya pelan mendekati Altair, sorot matanya tajam menelusuri wajah pria di hadapannya.

“Kau tahu reputasiku,” katanya rendah. “Aku tidak pernah ragu menyingkirkan ancaman, bahkan jika itu orang yang pernah makan semeja denganku.”

“Saya tahu,” jawab Altair tanpa mengangkat wajahnya.

“Lalu kenapa kau tetap berdiri di sini dan mengatakan hal itu padaku?”

“Karena saya tidak ingin bersembunyi seperti pengecut, Tuan. Karena Ciara bukan permainan. Dan perasaan ini bukan kesalahan yang saya banggakan, tapi juga bukan sesuatu yang bisa saya bunuh begitu saja.”

Lorenzo terdiam. Rahangnya mengeras.

“Dia masih anak-anak,” ucapnya akhirnya.

“Dia memang masih muda,” balas Altair. “Dan itu alasan saya menahan diri. Saya tidak menyentuhnya. Saya tidak memaksanya. Saya bahkan mencoba menjauh. Tapi perasaan tidak bisa dihapus hanya dengan perintah.”

Lorenzo menatapnya lama. Ada kemarahan, ada kekhawatiran, dan ada sesuatu yang lebih dalam sebagai seorang ayah.

“Jika suatu hari aku tahu kau menyakitinya…” suara Lorenzo berubah dingin, “…aku tidak akan peduli kau orang kepercayaan Luciano atau bukan.”

Altair akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya merah, tapi mantap.

“Kalau saya menyakitinya, saya sendiri yang akan menyerahkan diri kepada Anda.”

Deg.

Kalimat itu bukan ancaman. Itu janji.

Lorenzo menghela napas panjang. “Pergilah.”

Altair tidak membantah. Ia menunduk sekali lagi sebelum berbalik meninggalkan ruangan itu.

Saat pintu tertutup, Lorenzo menjatuhkan dirinya kembali ke kursi. Tangannya mengepal di atas meja.

“Ciara…” gumamnya lirih. “Kenapa harus dia?”

Di luar, Altair berdiri beberapa detik sebelum melangkah pergi. Dadanya terasa berat, tetapi untuk pertama kalinya, ia tidak bersembunyi dari kebenaran.

Ia tidak menantang perang.

Ia hanya berdiri membela cinta tanpa melanggar batas.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!