"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Pagi itu Naina sibuk mempersiapkan sarapan untuk Ryan. Setelah semuanya beres, Naina mengetuk pintu kamar Ryan. Berkali-kali, sampai akhirnya Ryan membentak Naina karena mengganggu tidurnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud ---"
Belum sempat Naina menyelesaikan ucapannya, Ryan menutup pintu kamarnya dengan keras. Naina terperanjat dan merasa ketakutan.
Sebisa mungkin Naina menahan tangisnya, ia usahakan tersenyum lebar untuk mencegah air matanya keluar.
"Ibu, Nay lapar." Ucap si kecil dengan Nada khas anak kecil.
Naina hanya mengangguk dan mempersiapkan sarapan untuk Nayla. Makan bubur dan ayam kecap kesukaan Nayla.
Semua pekerjaan rumah telah beres, begitu pun dengan Nayla yang telah kemas rapih dan wangi.
Naina ingin sekali membangunkan Ryan, tapi ia takut di bentak dan di perlakukan kasar lagi. Naina hanya ingin mempertahankan rumah tangganya yang telah rapuh dan hampir runtuh.
Tepat pukul 9 pagi, Ryan keluar dari kamarnya dan telah kemas rapih dengan kemeja biru serta jas yang senada. Terlihat berwibawa dan juga tampan. Ryan memang tampan, Naina akui itu. Tapi dengan begini, Naina tahu jarak yang tercipta antara dirinya dan Ryan.
"Setidaknya sarapan, Pak. Aku telah buatkan ayam kecap kesukaan Bapak. Serta pepes jamur."
Ryan menatap Naina kesal. "Bungkus saja, aku tak punya waktu."
"Baik, tunggu sebentar." Naina buru-buru menyiapkan bekal sarapan untuk Ryan.
Belum ada 1 menit, Ryan sudah membentak Naina dengan ucapan lelet. Naina mempercepat pekerjaannya dan langsung memberikannya pada Ryan.
Tanpa pamitan dan ucapan terimakasih, Ryan berlalu meninggalkan Naina. Naina kini merasakan harga dirinya terluka, dan rasa tak di hargai oleh orang yang ia kasihi.
"Aku tahu, pasti kamu punya yang baru, kan?" Lirih Naina menatap pintu yang telah tertutup rapat.
"Baiklah. Aku akan mundur dan mengikhlaskan dirimu. Mari kita berpisah."
Air mata Naina jatuh tak dapat ia bendung. Naina hanya perlu menyusun strategi agar kepergiannya tak menimbulkan kecurigaan dan jejak. Naina tak ingin Ryan mencari Nayla dan mengambil hak asuh Nayla sepenuhnya.
"Pelangi sejatinya hanya datang sesaat. Maka dari itu aku tak membutuhkannya. Aku hanya butuh purnama yang menuntun ku di jalan yang gelap. Menjadikannya bersinar pagi dan malam." Naina mengepal kedua tangannya, dan menatap Nayla.
"Beri Ibu waktu, sayang. Bertahanlah sebentar, kita akan keluar dari sini."
...****************...
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Ryan. Transaksi berhasil dan nominal itu cukup membuat Ryan sedikit tercengang. Bukankah kemarin Naina telah berbelanja? Ia gunakan buat apa lagi?
"Ternyata ini sifat asli mu." Ryan menggenggam erat ponselnya menahan kekesalan.
"Yan, hari ini lu ada acara gak?" Tanya Dani begitu saja masuk ke dalam ruangannya.
"Apa?"
"Teman-teman ngajak nongkrong."
Ryan terdiam sejenak. Mungkin tak masalah juga baginya kumpul-kumpul dengan teman-temannya. Toh, Naina tidak begitu penting untuknya.
"Oke. Kita bereskan dulu kerjaan."
Dani tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan ruang kerja sahabatnya itu.
Malam ini, Ryan dan kawan-kawannya tengah asik berkaraoke ria dengan di temani pemandu lagu yang seksi dan cantik-cantik.
Sedangkan di rumah Naina dengan sabar menunggu kepulangan Ryan. Sebenarnya apa yang di pikiran Naina. Hatinya selalu goyah dan plin-plan. Jika jauh dari Ryan ia selalu rindu dan khawatir. Tapi bila dekat harga dirinya terluka dan hatinya selalu perih.
Untuk kesekian kalinya masakan Naina tak pernah Ryan sentuh. Bahkan bekal yang Naina siapkan selalu Ryan buang.
Waktu terus bergulir, malam kian larut, dan dingin terus menjalar ke setiap ruangan. Naina masih setia menunggu kepulangan Ryan meski ia terlelap berkali-kali.
Pintu rumah berbunyi dan Ryan berjalan sempoyongan. Naina buru menyadarkan dirinya meski pandangannya masih kabur.
Naina mencoba membantu Ryan, namun tangannya langsung ditepiskan dengan kasar oleh Ryan.
"Pak, kamu mabuk?" Tanya Naina membantu membukakan jas dan juga melonggarkan dasi.
"Heh, udik, apa hak mu bertanya begitu?" Rancu Ryan mengumpat dalam mabuknya.
"Berbaringlah dulu."
Naina membaringkan tubuh jangkung itu di sofa panjang. Dan mengambil segelas air putih untuk Ryan. Dengan sabar Naina membantu Ryan minum.
Namun siapa sangka, Ryan malah memuntahkan air itu ke arah Naina. Ryan tersenyum seolah puas telah memberi pelajaran pada Naina.
"Mari kita berpisah, Naina." Gumam Ryan.
Naina terdiam. Hatinya sakit. Kenapa secepat itu. Apakah Ryan akan membawa Nayla? Naina tak masalah jika harus berpisah, tapi ia tak ikhlas jika Nayla harus berpisah dengannya.
"Baik, aku tak akan meminta apapun. Tapi jangan anda bawa Nayla."
"Nayla anak ku. Sedangkan kamu miskin. Hahaha...." Tawa yang membuat Naina ingin membunuh Ryan saat ini juga.
"Nayla bukan anak mu."
Ryan terdiam, matanya melotot. Tangannya yang besar dengan cepat mencekik leher Naina. "Apa yang kamu katakan?"
Naina terdiam, ia menatap nanar bola mata Ryan. "Apa anda tuli, Pak Ryan?"
Cekikan itu semakin kuat, membuat Naina kesulitan bernafas. Ryan hempaskan tubuh kurus Naina, sehingga gadis desa itu tersungkur.
"Apa kau mau membodohi ku?" Ryan mengeratkan giginya yang rapih menahan amarah.
"Percaya atau tidak, Nayla bukan anakmu."
Plak ...
Satu tamparan mendarat di pipi kecil Naina. Ryan yang tengah mabuk, antara sadar dan tidak. Atau mungkin raganya telah di kuasai setan itu terus melototi Naina dengan tatapan tajam.
"Silahkan anda bunuh saya. Tapi yang jelas Nayla bukan anakmu."
"Diam!!!" Terik Ryan seperti kesurupan.
"Sekali lagi kau bicara, aku robek mulutmu itu."
Ryan berjalan sempoyongan menuju kamarnya. Untuk pertama kalinya Naina bersikap memberontak. Ini Naina lakukan agar Nayla tak jatuh ke tangan Ryan.
Penderita ini akan cepat berlalu jika Naina bisa memisahkan Nayla dengan Ryan. Terdengar egois, tapi Naina ingin hidup tenang dan damai bersama anaknya.
Sekilas Naina teringat pada Cecil dan Chandra. Rasanya ia ingin meminta bantuan mereka. Tapi sayang Naina sadar, pasangan itu tengah di hadapi dengan cobaan untuk mempertahankan bayi yang ada dalam kandungan Cecil.
Jika stres sedikit saja, nyawa bayi dalam kandungan Cecil akan keguguran. Naina tak bisa mengorbankan bayi yang tak berdosa untuk kepentingannya sendiri.
Meski pertengkaran tadi membuat Naina terluka. Naina tetap menghampiri Ryan. Kebetulan sekali Ryan tak mengunci kamarnya.
Untuk pertama kalinya Naina masuk ke dalam kamar Ryan. Betapa terkejutnya ia saat melihat foto yang terpajang di nakas samping ranjang Ryan.
Foto mesra Ryan dengan wanita cantik yang Naina tak tahu siapa itu. Apakah wanita itu yang saat ini Ryan cintai. Apakah wanita itu yang menjadi pihak ketiga diantara rumah tangga Ryan dan Naina?
"Pantas saja, aku kalah segalanya dari wanita cantik ini." Naina meletakan kembali foto itu.
Naina melepas dasi yang masih melilit leher Ryan. Naina satu persatu melepas pakaian Ryan. Dengan cekatan dan tanpa rasa malu Naina mengganti pakaian Ryan.
Setelah selesai, Naina meninggalkan Ryan. Hatinya masih sakit dan pikirannya terus terbayang wanita cantik yang berfoto mesra dengan Ryan.
"Ternyata benar ada pihak ketiga dalam rumah tangga kami. Aku kalah, Pak. Aku yang mundur." Gumam Naina.
"Tapi aku tak ingin berpisah dengannya, Tuhan. Aku tak punya siapa-siapa lagi selain dia." Naina menangis meratapi nasibnya.
Gubuknya telah di jual oleh pamannya. Perhiasan yang Ryan berikan telah habis tinggal menyisakan cincin kawin dan satu gelang. Jika Naina nekat pergi, bagaimana ia bisa menghidupi Nayla.
"Ya, benar. Aku orang miskin. Memang tak sebanding dengan mu, bahkan tak pantas. Anda terlihat bahagia sekali dengan wanita itu." Tangis Naina semakin pecah.