Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Artefak yang Menyesatkan
Udara di dalam bengkel bawah tanah Verdy mendadak turun beberapa derajat. Suara gesekan logam yang tajam mulai terdengar dari balik dinding besi, diikuti oleh suara sriiittt yang memekakkan telinga—suara Cakar Mana milik kelompok Night-Claw Shadows yang sedang menyayat pintu masuk dengan paksa.
Asher, dengan sekujur tubuh yang masih terbungkus kain kasa, berusaha bangkit. Tangannya yang gemetar mencengkeram gagang Solis-Aeterna. D4rah segar mulai merembes, menodai perban putih di bahu dan dadanya yang bidang.
"Putri... segera berlindung di belakang Verdy," desis Asher serak. Matanya yang biru berkilat, bersiap melakukan serangan bunuh diri demi memberi jalan keluar bagi Aruna.
Namun, sebelum Asher sempat melangkah, sebuah tangan mungil namun kuat menahan bahunya. Aruna mendorong pria itu kembali ke pilar mesin dengan sorot mata tajam.
"Jika kau m4ti sekarang, siapa yang akan membayar tagihan nanti? Diam dan tonton saja."
Aruna maju beberapa langkah. Di depannya, pintu bengkel akhirnya jebol dihantam kekuatan mana hitam. Lima orang anggota Catkin mendarat dengan gerakan yang lincah dari berbagai sudut—pintu, ventilasi, dan celah pipa uap. Mereka mengenakan topeng hitam dengan mata yang berpendar merah haus d4rah.
'Sistem! Berikan aku sesuatu yang bisa membuat mereka mampus seketika!' teriak Aruna dalam batinnya sambil memejamkan mata, membayangkan pedang besar yang bisa membelah dunia.
Ding!
[Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama Memori Materialization. Sistem mengalami gangguan stabilitas akibat fluktuasi mana...
Me-me-memproses permintaan...
Memanggil Item.]
Syuuuut!
Di detik berikutnya, tangan Aruna bukannya memegang pedang suci, melainkan sebuah palu mainan berwarna kuning cerah dengan gagang merah plastik yang mengkilap.
Aruna mematung. Matanya melotot menatap benda konyol di tangannya. Ia melirik ke arah Verdy dan Asher melalui sudut matanya, berharap mereka tidak melihat benda ini. Namun terlambat, keduanya sudah menatap palu itu dengan mulut setengah terbuka.
'Sistem sialan! Kau mau aku menghibur mereka sampai m4ti tertawa?! Ini mainan bayi, bukan pusaka terlarang!'
Ding!
[Sistem mendeteksi material 'Poly-Ancient' ini memiliki daya hancur psikologis 100%. Mohon host berhenti mengeluh dan segera menyerang.]
"M4tilah kau!" salah satu Catkin menerjang Aruna dengan belati beracun.
Aruna refleks mengayunkan palu plastiknya sekuat tenaga karena panik.
CITTT!!!
Bunyi nyaring khas mainan itu menggema di seluruh ruangan. Aruna ingin sekali mengubur dirinya hidup-hidup. Namun, efeknya di luar dugaan. Pembunuh bayaran yang tadinya lincah itu mendadak kaku di udara. Tubuhnya bergetar hebat, lalu terpental ke belakang dengan gerakan yang sangat lambat seolah-olah gravitasi di sekitarnya baru saja dihancurkan oleh "suara dewa".
"Apa?!" Pemimpin Catkin mundur selangkah. "Suara apa itu? Saraf mana milikku... bergetar hanya dengan mendengarnya! Apakah itu Sihir Frekuensi Kiamat?!"
"Jangan biarkan mereka mendekati Auristela!" teriak Verdy. Ia menghentakkan kakinya ke lantai, mengaktifkan mesin uap di bawah bengkel. "Kalian salah tempat jika ingin bermain-main di bengkel Verdy Antoniette Rossa!"
Verdy menyambar Palu Godam raksasanya. Dengan satu putaran tubuh yang kuat, ia menghantam lantai. BOOM! Gelombang uap panas menyembur dari pipa-pipa, menciptakan kabut yang menghalangi pandangan musuh. Verdy menerjang maju, mengayunkan palunya dengan kekuatan penghancur. Setiap kali palu besarnya menghantam lantai, bengkel itu bergetar hebat. Ia melemparkan beberapa Cakram Bergerigi yang berputar liar di udara, memaksa para assassin itu berpencar.
Di sudut lain, Asher tidak bisa hanya berdiam diri. Meskipun Aruna sudah melarangnya, harga dirinya sebagai Ksatria Agung tidak membiarkannya melihat seorang wanita bertarung melindunginya.
"Sial..." Asher mendesis, menahan perih yang menyayat di sekujur tubuhnya. Ia bangkit berdiri, pedang Solis-Aeterna miliknya berpendar cahaya emas redup.
Dua Catkin melihat celah dan menyerang Asher dari bayangan. "M4tilah!"
Sebelum belati mereka menyentuh kulit Asher, sebuah kilatan oranye melesat secepat kilat.
"Nyaaaaa!!!!"
Oyen melompat dari tumpukan besi tua. Kucing oranye itu berubah menjadi bola bulu yang ganas. Ia mencakar wajah salah satu assassin dengan brutal, membuatnya kehilangan keseimbangan. Asher tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan satu gerakan cepat dan elegan—meski d4rah merembes dari perbannya—ia menebas musuh di depannya.
Slash!
"Kerja bagus, kucing kecil," gumam Asher sambil terengah-engah. Oyen mendarat di bahu Asher, mendesis tajam ke arah musuh yang tersisa, seolah bertindak sebagai pelindung tambahan bagi sang ksatria yang terluka.
Aruna, yang sedang sibuk mengejar Catkin sambil membawa palu bunyinya, sempat melirik ke belakang. Ia melihat Verdy yang mengamuk seperti badai baja dan Asher yang bertarung dengan sisa tenaganya dibantu si Oyen.
'Mereka benar-benar nekat! Es Batu itu... sudah kubilang diam, malah ikut-ikutan!' Ia kembali menatap palu di tangannya yang terus berbunyi Cit! Cit! setiap kali ia menangkis belati musuh. 'Sial, mereka pasti menganggapku aneh. Tapi... kenapa tatapan mereka malah seperti melihat pahlawan legendaris?!'
Memang benar. Di mata Verdy, palu plastik kuning itu adalah Logam Absolut yang sanggup mementalkan serangan tanpa getaran sedikit pun. Dan di mata Asher, bunyi cit-cit itu adalah Mantra Kuno yang menyiksa indra lawan.
Karena emosi Aruna yang memuncak akibat malu dan khawatir melihat luka Asher terbuka lagi, mana yang tersegel di dalam dadanya mendidih.
"Pergi dari sini, kalian kucing liar sialannn!!!" teriak Aruna.
Ia menghantamkan palu plastiknya ke udara kosong di depan Catkin. Kali ini, bunyi CITTT yang keluar sepuluh kali lebih nyaring. Gelombang transparan keluar dari ujung palu, menciptakan anomali ruang yang membuat seluruh musuh di dalam bengkel terpaku di tempat. Mereka tidak bisa bergerak, seolah-olah waktu bagi mereka telah dihentikan oleh otoritas sang pemilik artefak.
Verdy mengambil kesempatan itu untuk melemparkan cakram terakhirnya, sementara Asher melepaskan tebasan cahaya emas yang mendorong sisa musuh keluar dari pintu bengkel yang hancur.
Setelah semua musuh terpental keluar dan menghilang di kegelapan lorong bawah tanah, Aruna segera menarik kembali palunya kebelakang secepat kilat. Ia menarik napas panjang, wajahnya memerah karena malu yang luar biasa.
"Putri..." Asher berjalan mendekat dengan langkah gontai. Ia menatap Aruna dengan pandangan penuh kekaguman yang tulus. "Senjata... artefak suci Anda... itu benar-benar luar biasa. Saya tidak pernah melihat kekuatan yang bisa membekukan saraf lawan hanya dengan suara."
Verdy mendekat sambil menyeka keringat di dahinya. "Aruna! Logam kuning apa itu?! Kau harus mengizinkanku menelitinya nanti! Itu pasti peninggalan era dewa yang sangat langka!"
Aruna hanya bisa memberikan senyum kaku yang terlihat sangat dipaksakan. Ia melirik Asher yang kini benar-benar pucat karena lukanya terbuka lebar setelah bertarung tadi.
"Simpan bicaranya nanti! Verdy, bantu aku mengurus Es Batu ini sebelum dia benar-benar m4ti kehabisan d4rah!" seru Aruna mengalihkan pembicaraan.
Aruna segera memegang tangan Asher untuk menopangnya. Saat itulah, sebuah notifikasi muncul di depan matanya.
Ding!
[Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 85%. (Bonus/catatan): Target sangat terkesan dengan keberanian dan kekuatan misterius Anda. Ia merasa Anda adalah wanita paling unik yang pernah ia temui di seluruh benua Xyloseria.]
Aruna hanya bisa menghela napas pasrah. 'Unik kepalamu! Itu cuma mainan plastik, tahu!'
Wajah Aruna seketika memucat, matanya membelalak menatap deretan pipa besar di langit-langit bengkel.
"Verdy... matikan mesinnya," bisik Aruna tiba-tiba, suaranya bergetar.
"Apa? Tapi—"
"MATIKAN SEKARANG!"