Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Sang Pewaris
Verona menyambut mereka dengan aroma tanah basah dan lonceng gereja San Zeno yang berdentang di kejauhan. Namun, bagi Elena Moretti, kota ini tidak lagi terasa seperti sangkar emas yang penuh dengan hantu masa lalu. SUV hitam yang membawa mereka meluncur pelan melewati gerbang batu kuno, membelah kabut pagi yang menyelimuti Arena di pusat kota. Di kursi belakang, Matteo tampak jauh lebih baik meskipun perban masih melilit bahunya; wajah pria itu kini memancarkan ketenangan yang belum pernah Elena lihat selama sepuluh tahun terakhir.
Tujuan pertama mereka bukanlah rumah besar Moretti yang kini terbengkalai, melainkan sebuah vila tersembunyi di perbukitan Valpolicella, tempat Marcella Moretti selama ini disembunyikan. Elena merasakan jemarinya gemetar saat mobil mulai menanjak melewati barisan pohon cemara yang ramping. Maksud dari kepulangan ini adalah untuk menyatukan kembali kepingan hidup yang telah tercerai-berai sejak malam tragis di Alpen.
Begitu mobil berhenti di depan teras vila yang tertutup tanaman merambat, seorang wanita berambut perak yang duduk di kursi roda menoleh. Marcella Moretti. Mata wanita itu, yang biasanya kosong dan penuh ketakutan, tiba-tiba berkilat mengenali sosok yang turun dari mobil.
"Elena?" suara Marcella terdengar seperti gesekan daun kering, rapuh namun penuh kerinduan.
Elena berlari kecil, menjatuhkan diri di pelukan ibunya. Isak tangis yang selama ini tertahan di balik topeng petarung akhirnya pecah. Elena menyembunyikan wajahnya di pangkuan Marcella, merasakan tangan ibunya yang kurus membelai rambutnya dengan lembut. Matteo berdiri beberapa meter di belakang, memberikan ruang bagi dua wanita itu untuk saling menyembuhkan luka tanpa gangguan.
"Semuanya sudah berakhir, Ibu," bisik Elena di sela tangisnya. "Isabella sudah diamankan oleh pihak berwenang di Roma. Sergio Donati dan Dewan Tujuh sudah tidak punya kekuatan lagi. Kita sudah bebas."
Marcella menatap Matteo, lalu kembali menatap putrinya. "Dan anak muda Valenti itu?"
Elena mendongak, menatap Matteo yang tersenyum tipis. "Dia yang membawaku pulang, Ibu. Dia yang menjagaku saat aku sendiri tidak ingin dijaga."
Setelah pertemuan emosional itu, Elena tidak lantas beristirahat. Masih ada satu tugas terakhir yang harus diselesaikan: pembersihan sisa-sisa loyalis Isabella di Verona. Isabella mungkin sudah jatuh di Roma, namun jaringan tentara bayaran Black Wing masih memegang beberapa aset strategis di pelabuhan sungai Adige yang menjadi jalur distribusi logistik ilegal mereka.
Malam harinya, Elena, Matteo, dan Luca berkumpul di ruang bawah tanah vila. Di atas meja kayu besar, terhampar peta digital yang menunjukkan titik-titik kekuatan terakhir musuh.
"Mereka tahu Isabella sudah jatuh," Luca menjelaskan sambil menunjuk ke arah gudang di pinggiran zona industri. "Mereka mencoba mengosongkan brankas berisi dokumen fisik dan uang tunai sebelum melarikan diri ke luar negeri. Jika kita membiarkan mereka pergi, mereka akan menjadi ancaman di masa depan."
Elena mengenakan kembali jaket taktisnya. "Kita tidak akan membiarkan ada satu pun kuman yang tersisa di kota ini. Matteo, kau tetap di sini bersama Ibu. Kau belum pulih sepenuhnya."
Matteo menggelengkan kepala, ia mengambil senapan runduknya dari tas hitam. "Aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini sendirian, Elena. Luka ini tidak sebanding dengan rasa takutku kehilanganmu lagi. Aku akan mengambil posisi di menara air di seberang gudang. Aku akan menjadi mata bagimu."
Elena melihat tekad yang tidak bisa dibantah di mata Matteo. Elena pun mengangguk. Strategi mereka kali ini lebih bersih dan taktis. Elena akan masuk lewat jalur darat bersama Luca, sementara Matteo memberikan perlindungan dari jarak jauh.
Gudang di pinggiran Adige itu tampak sepi, namun sensor panas di tablet Matteo menunjukkan ada sekitar dua belas orang di dalam. Elena bergerak di antara tumpukan kontainer besi, napasnya teratur dan dingin. Elena tidak lagi merasakan amarah yang buta; kini yang ia rasakan adalah kewajiban untuk membersihkan rumahnya sendiri.
"Dua penjaga di pintu barat," suara Matteo terdengar jernih di earpiece Elena. "Tunggu hitunganku... sekarang."
Puff! Puff!
Dua suara tembakan dengan peredam terdengar hampir bersamaan dari kejauhan. Dua penjaga itu jatuh tanpa sempat bersuara. Elena segera merayap masuk ke dalam gudang melalui jendela atas. Di bawah sana, ia melihat para loyalis Isabella sedang terburu-buru memasukkan tumpukan uang ke dalam tas besar.
"Isabella bilang kita harus bertemu di bandara pribadi!" teriak salah satu pria yang tampak seperti pemimpin kelompok itu.
"Isabella tidak akan datang," suara Elena bergema dari atas, dingin dan otoriter.
Para pria itu terperanjat, segera menarik senjata mereka ke atas, namun Elena sudah lebih dulu melepaskan tembakan gas pelumpuh. Ruangan itu segera dipenuhi asap putih yang membuat penglihatan mereka kabur dan pernapasan tersedak. Elena meluncur turun menggunakan tali, bergerak seperti badai di tengah kabut.
Dengan gerakan bela diri yang efisien, Elena melumpuhkan mereka satu per satu. Elena tidak menembak untuk membunuh jika tidak perlu; ia mematahkan pergelangan tangan mereka, menjatuhkan mereka dengan tendangan yang presisi, dan memastikan mereka tidak bisa melawan kembali.
Salah satu loyalis Isabella mencoba melarikan diri melalui pintu belakang, namun sebuah peluru dari Matteo mendarat tepat di depan kakinya, membuat pria itu membeku ketakutan.
"Jangan bergerak atau peluru berikutnya akan bersarang di kepalamu," suara Matteo terdengar melalui pengeras suara luar yang diretas Luca.
Dalam waktu kurang dari lima belas menit, seluruh loyalis terakhir di Verona telah dilumpuhkan. Polisi Verona—yang kini telah dibersihkan dari pengaruh korup Sergio Donati berkat bukti yang disiarkan Elena dari Roma—segera datang mengepung lokasi tersebut.
Elena keluar dari gudang dengan wajah yang tenang. Elena melihat Matteo turun dari menara air dan berjalan menghampirinya. Mereka berdiri di tepi sungai Adige, memandangi aliran air yang tenang di bawah cahaya bulan.
"Ini benar-benar selesai sekarang," bisik Matteo.
Elena menyandarkan kepalanya di bahu Matteo. "Verona milik kita kembali, Matteo. Bukan sebagai wilayah kekuasaan mafia, tapi sebagai rumah."
Minggu-minggu berikutnya adalah waktu untuk membangun kembali. Elena secara resmi membubarkan seluruh struktur organisasi ilegal Moretti. Aset-aset yang diperoleh dari jalan yang salah dialihkan untuk membangun yayasan pendidikan dan pusat rehabilitasi bagi korban perdagangan manusia di Italia Utara—sebuah langkah yang membuat publik Verona terperangah sekaligus hormat.
Marcella Moretti mulai menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Dengan terapi yang rutin dan kehadiran Elena yang konstan, wanita itu mulai bisa tersenyum dan berbicara tentang masa depan. Vila di perbukitan itu kini dipenuhi dengan suara tawa dan aroma masakan Italia yang hangat, bukan lagi ketakutan dan kerahasiaan.
Suatu sore, Elena dan Matteo duduk di balkon vila, memandangi hamparan kebun anggur yang mulai menghijau. Matteo menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna beludru biru kepada Elena.
"Aku sudah menyimpan ini sejak kita berada di Venesia," ucap Matteo dengan suara yang sedikit bergetar. "Aku tidak ingin memberikannya padamu saat kita masih dikejar maut. Aku ingin memberikannya saat kau sudah merasa aman."
Elena membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah cincin perak sederhana dengan permata zamrud yang jernih—warna yang sama dengan mata Elena.
"Elena Moretti... kau sudah menanggung beban dunia di pundakmu terlalu lama. Sekarang, izinkan aku menanggungnya bersamamu. Maksud dariku berada di sini bukan lagi sebagai pelindung bayangan, tapi sebagai suamimu."
Elena menatap cincin itu, lalu menatap Matteo. Segala darah yang tumpah, segala pengkhianatan yang dialami, dan segala malam yang dingin di pelarian seolah terbayar lunas dalam momen ini. Elena tidak butuh kata-kata puitis untuk menjawab.
Elena menarik kerah baju Matteo dan menciumnya dengan penuh kelembutan. "Iya, Matteo. Mari kita tulis bab baru yang tidak dimulai dengan tembakan."
Di kejauhan, matahari terbenam dengan warna emas yang megah, menyinari kota Verona yang kini memiliki harapan baru. Perang dinasti Moretti dan Valenti telah berakhir, menyisakan dua jiwa yang berhasil selamat dari api dan menemukan kedamaian di atas puing-puing masa lalu mereka.
Keadilan telah ditegakkan, kebenaran telah diungkapkan, dan cinta yang tumbuh di tengah peperangan akhirnya menemukan pelabuhannya yang tenang. Elena Moretti bukan lagi seorang pemburu; ia adalah seorang wanita yang telah menemukan jalan pulangnya.