Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Aku Milikmu
Suasana ruangan Rumah Sakit yang begitu dingin, seketika terasa lebih hangat. Pangutan itu berlangsung lama. Bukan pangutan penuh naffsu yang begitu menggebu. Tapi pangutan lembut yang penuh kehangatan. Tak terdengar deruan napas, hanya terdengar kecapan lembut.
Abi merasa sekujur tubuhnya dialiri kekuatan listrik. Sapuan lembut lidahnya pada bibir Zella disambut balik oleh sapuan lidah wanita itu. Abi terus megangi tengkuk Zella, tak membiarkan pangutan itu terlepas. Semakin lama semakin membakar hasrat dalam dirinya, rasa yang muncul menuntut Abi ingin lebih dari itu.
Abi tak sanggup menahan ledakan keinginan yang semakin menguat. Dia menyudahi pertemuan bibirnya dengan wanita yang kini sah menjadi istrinya. Andai dirinya tak berada di Rumah Sakit, pastinya semua ini akan berakhir dengan pertemuan sesungguhnya. Abi menatap wajah Zella begitu lekat. Binar mata yang penuh damba, namun harus menahan semua itu karena keadaan yang tak mendukung.
Tangan kokoh Abi perlahan membelai sisi kepala Zella, perlahan melepas kerudung wanita itu. Jujur, dirinya sangat penasaran bagaimana kecantikan wanita ini setelah melepas kain yang setia menutupi bagian kepala wanita itu. Setelah kain penutup terlepas, kepala itu masih terbungkus kain yang lebih kecil, Abi tak putus asa, dia melepas kain kecil terakhir, tampaklah rambut hitam yang diikat.
Abi melepas ikatan rambut itu, geraian rambut yang jatuh seakan membersamai rasa bahagia yang Abi rasa. Ternyata wanita itu semakin cantik dengan rambut tergerainya. Abi membelai lembut helaian rambut itu.
"Kamu tidak marah aku membuka jilbabmu?"
"Untuk apa aku marah? Aku milikmu. Kau mau apa aku persilakan, kecuali kau mau bunuhh aku baru aku melawanmu untuk membela diriku."
Abi tersenyum dan menempelkan kedua alisnya dengan alis Zella. "Jadi- aku boleh melakukan lebih dari ini?" Perlahan tangan Abi menyentuh pinggang Zella hingga perlahan menelusup ke bagian dalam baju atasan longgar yang Zella kenakan. Tangannya begitu nakal menyusuri permukaan kulit yang bisa dia jamah. Sedang di sana, kedua bibir itu kembali bertemu.
Berbeda dengan pangutan pertama, kali ini pangutan itu lebih liar diiringi dengan deruan napas yang menggebu. Satu tangan Abi berhasil sampai di bagian 2 perbukitan, Abi merasa bangga dan kagum dengan apa yang kini dia jamah. Lumayan besar dan padat, hingga tangan itu kian nakal bergerilya dari bukit satu ke bukit yang lain.
Di sisi Zella, wanita itu merasa serba salah. Pasrah dirinya tak nyaman, ingin menolak takut membuat suaminya tersinggung. Jujur dirinya tak menyangka Abi akan melakukan hal sejauh ini. Karena dia masih teringat kata-kata Arumi, kalau Kakak iparnya tak akan menuntut hal ranjang karena dia lumpuh.
Jangan menolak Zella, layani dia dengan baik, mungkin keinginan itu ada tapi terhalang oleh keterbatasannya. Zella menyemangati dirinya sendiri.
Walau dia belum siap membuka diri sejauh ini, tapi apa alasannya menolak, mereka sudah sah menjadi suami istri. Zella yakin, Abi hanya mampu sebatas ini, sebab itu dia memberi perlawanan indah, berharap suaminya puas dengan pengabdian kecil ini.
Semakin lama, Abi semakin liar. Zella tak menyangka Abi akan seagresif ini, ciuman penuh gairahh itu sekarang berpindah ke area leher jenjang Zella. Membuat Zella menggeliat menahan segala rasa yang muncul karena Abi. Tanpa Zella sadari, atasan yang dia kenakan sudah terbuka, bahkan kain berbusa yang menyangga perbukitannya sudah tersibak, laki-laki itu sangat sibuk di sana. Menyesap dari puncak yang satu pindah ke sisi lain.
Apakah aku harus bersyukur karena Abi tak bisa menggauli ku? Tapi aku merasa tersiksa jika dia terus membuatku semakin berdenyut karena hal ini! Ini sangat menyiksaku! Batin Zella.
Tok! Tok!
Suara ketukan itu membuyarkan suasana panas yang tengah terjadi. Zella langsung mengambil kerudungnya dan memakainya asal-asalan, sedang Abi perlahan merebahkan dirinya lagi.
"Sebelum membuka pintu, kancing kembali bajumu," ucap Abi.
Zella melotot menyadari kancing baju yang terbuka dan tumpahan bukit kembarnya. Dia merapikan cepat bajunya, dan segera membuka pintu. Di depan pintu terlihat 2 perawat dengan 1 kereta yang berisi berbagai peralatan kesehatan.
"Maaf mengganggu, di layar monitor kami detak jantung Pak Abi terdeteksi meningkat drastis, kami izin memeriksa pasien." ucap salah satu perawat.
Sedang perawat lain membawa kursi roda yang familiar bagi Zella.
"Oh iya, ini titipan dari Pak Miko." ucapnya.
"Am, silakan masuk." Zella berusaha menenangkan dentuman irama jantungnya yang tak beraturan. Apa yang Abi lakukan padanya, dan kedatangan perawat yang tiba-tiba membuat Zella merasa habis lari mengelilingi perkebunan Ayah Saman.
Kedua perawat itu masuk mendekati Abi. "Kami izin periksa Bapak, karena pantauan detak jantung Bapak seperti tak normal, layar kami muncul peringatan karena lonjakan drastis detak jantung Bapak."
Mendengar itu Zella meringis sendiri, sangat memalukan rasanya, detak jantung yang melonjak bukan karena masalah kesehatan, tapi karena kegiatan sebelumnya.
Salah satu perawat mengarahkan alat pada Abi, sedang perawat lain memantau monitor.
"Tidak ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan," ucap perawat yang memantau pergerakan layar monitor.
Abi melempar senyuman pada Zella, namun dia langsung kembali fokus pada kedua perawat itu. "Saya baik-baik saja, jantung saya detaknya meningkat hanya karena saya terlalu bahagia saja. Karena saat saya membuka kedua mata saya, saya masih hidup." ucap Abi.
"Tidak ada yang mengkhawatirkan kan?" tanya Zella.
"Sejauh ini aman bu."
"Kalau terjadi sesuatu, saya pasti langsung memanggil kalian," ucap Zella.
"Baiklah, maaf mengganggu waktunya. Kami izin pamit. Permisi."
Kedua perawat itu pergi meninggalkan ruangan Abi. Sedang Zella dan Abi beradu tatap, saat yang sama keduanya kompak tertawa.
"Andai Anda melakukan lebih dari tadi, aku yakin tim medis akan panik mengira Anda sakaratul maut," ucap Zella, namun Zella langsung menutup mulutnya, dia takut Abi tersinggung dengan ucapannya, karena sudah tahu kalau Abi tidak bisa.
"Kenapa tutup mulut, kepengen mau coba?" goda Abi.
"Lebih baik Anda fokus untuk kesehatan Anda dulu."
"Kamu tak menginginkan hal itu?"
"Am--" Zella bingung menjawab apa, jika menjawab 'tidak' takut Abi tersinggung, jika menjawan 'iya' takut laki-laki itu terbebani.
"Aku selalu siap membuka diriku kapan saja saat Anda menginginkanku."
"Akan ku tagih janjimu." Perlahan Abi berusaha menggeser posisi tubuhnya, setelah tubuhnya berhasil bergeser, dia menggeser kedua kakinya dengan tangannya. Perlahan namun akhirnya tubuh itu berpindah ke sisi tempat tidur.
"Kemari." Abi menepuk sisi sempit tempat tidur itu, meminta Zella berbaring di sana.
"Anda yakin?"
"Sangat yakin!" ucap Abi.
"Tapi aku yang tidak yakin, karena aku tidur sangat lasak!"
"Aman, ada pagar yang akan menahanku saat kau menendangku."
Zella segera berbaring disisi Abi, kapasitas ranjang yang hanya untuk satu orang, membuat kedua tubuh itu saling menempel.
"Terima kasih, karena tidak malu-malu padaku," ucap Abi.
"Aku sudah tua, buat apa malu?"
"Aku suka itu. Awas saja kalau saat di rumah kau malu-malu padaku." Abi mengeratkan pelukannya, menikmati aroma wangi yang tercium dari tubuh Zella. Wangi itu sangat menenangkan, membuat mata Abi perlahan terpejam.
Sedang Zella merasa aneh, mengapa ada tonjolan keras di bawah sana yang mengenai pahanya, bukankah Abi tak bisa bangun? Zella berusaha mengusir pertanyaan itu, mendengar deruan napas Abi yang mulai teratur, Zella ikut memejamkan matanya.
***
Dikediaman Indri, wanita itu tak bisa tenang. Tidurnya pun tak lena. Entah berapa kali dia terbangun, saat melihat jam masih lama waktu pagi tiba, Indri berusaha memejamkan kembali matanya. Hingga saat menyadari waktu yang menunjukan jam 4 dinihari, wanita itu langsung bangun, dan sibuk sendiri di dapur rumahnya. Tas yang berisi pakaian Zella dan tas yang berisi makanan sudah siap.
Saat azan subuh menggema, semua yang Indri siapkan sudah lengkap. Selesai dengan tugas subuhnya, Indri segera mendekati Saman.
"Pak, bisa antar aku ke Rumah Sakit?" tanya Indri pada Saman.
"Masih pagi buk, lihat di luar masih gelap, orang di mesjid juga belum keluar."
"Kalau Bapak nggak bisa antar. Aku pergi sendiri diantar supir perkebunan."
"Ya sudah Bapak Antar." Saman tak ingin kerja keras istrinya sejak dini hari jadi sia-sia. Mereka berdua segera menuju Rumah Sakit.
Pintu kunjungan Rumah Sakit masih tertutup. Namun melihat Indri membawa banyak bawaan membuat security langsung menghampirinya.
"Mau besuk buk?"
"Enggak dek, mau jaga pasien. Pasien baru masuk tadi malam."
Security segera mengantar Indri dan Saman lewat pintu lain. Setelah memasuki area Rumah Sakit, tinggal Indri dan Saman yang berjalan beriringan menuju ruang perawatan yang ditempati Abi.
Tok! Tok!
Tak ada jawaban, perlahan Indri membuka pintu, saat pintu terbuka indra penglihatan Indri disambut pemandangan hangat. Di atas ranjang pasein itu terlihat 2 sosok manusia saling berpelukan.
"Lihat itu, anak ibu bahagia dengan pernikahannya. Jadi ibu jangan berpikir yang terlalu jauh."
"Iya Pak. Ternyata Zella bisa menerima semua ini."
"Ya sudah kita pergi, ibu taruh bawaan ibu, terus nanti kirim pesan ke Zella kalau itu ibu yang antar."
Indri melihat jam dari layar handphonenya, "Ibu terpaksa harus bangunin Zella, waktu subuh hampir habis." Indri berjalan mendekati ranjang itu, dan menepuk pelan bahu Zella.
"Zell. Bangun sayang, subuhan dulu."
Tak Hanya Zella, Abi juga ikut membuka mata.
"Mama." Zella perlahan melepas pelukannya pada Abi, dan segera bangkit.
"Subuhan dulu. Itu semua keperluan sudah mama bawakan."
"Iya ma." Zella menoleh pada Abi. "Mas, aku izin subuhan dulu. Aku tinggal ya."
Abi mengangguk menjawab respon Zella. "Maaf bu, kami tak menyadari kedatangan ibu."
"Nggak apa nak Abi, Nak Abi lanjut istirahat saja." Indri menarik Saman ke sofa yang ada di ruang perawatan VIP itu.
"Enak ya bu ruangan VIP gini, luas. Bisa sholat di dalam ruangan. Ada sofa buat duduk juga."
"Huss! Semewah apa pun pelayanan Rumah Sakit, nggak ada enaknya! Karena Rumah Sakit! Jangankan yang sakit, yang sembuh jagain yang sakit juga berasa ikut sakit!"
"Astaghfirullah, ibu benar." ucap Saman.
"Maaf bu, biasa kita besuk orang di Rumah Sakit kita susah duduk, berdiri saja dempetan. Satu ruangan ada 4 bed pasien, ya Bapak dibuat kagum sama ruangan ini."
"Iya, ibu faham apa maksud Bapak, tapi nggak ada kata nyaman saat sakit Pak."
"Jadi teringat saat lahiran upi. Rasanya nggak bisa tidur. Ada aja kelakuan pasien lain di ruangan itu. Beda jauh sama di sini yang tenang, berasa di hotel."
"Iya, ibu jadi ingat. Kita baru tidur eh ada pasien yang masuk jam 12 malam, ya ampun upi sampai minta pulang karena nggak bisa tidur."
"Tapi itu bukan salah kita, kan suami upi kekeh nggak mau naik kelas jadi pasien umum. Dia bilang sayang bpjs, kan tiap bulan mereka bayar, masa tak digunakan."
Abi tersenyum mendengar pembicaraan kedua mertuanya itu.