Aruna Arabella, gadis cantik yang terlibat hubungan asmara dengan seseorang laki-laki tampan yang tak lain adalah kakak tirinya setelah sang mama memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang duda kaya, yang mempunyai seorang putra.
Aruna harus menelan pahitnya kehidupan di dalam keluarga nya, sang papa berselingkuh takala usia Aruna menginjak tujuh tahun, tak hanya itu, sang papa serta pelakor tersebut membawa kabur kakak laki-laki Aruna.
Setelah kejadian itu Aruna tingal bersama dengan mama nya, yang bekerja sebagai penjahit di sebuah butik kecil sederhana.
Karena kepintaran nya, Aruna di terima masuk di sebuah sekolah elite, ia mendapat beasiswa, di sanalah Aruna memulainya, kisah cinta dengan seorang laki-laki posesif yang ternyata adalah anak laki-laki dari pria yang menjadi papa sambung nya.
Dari sini lah kisah cinta terlarang itu di mulai ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Gue gak sengaja hampir nabrak cewe, anggap aja ini hari keberuntungan Lo, gue cabut dulu," ucap Erlan yang kemudian meninggalkan tempat tersebut, di sana sudah ada Leo yang menunggu nya untuk pulang.
"Pantesan tu anak kalah, ternyata ada insiden," ujar teman yang jadi lawan nya merasa kalau memang ini adalah hari keberuntungan nya.
Sementara itu Erlan psudah pergi bersama Leo.
"Lo kenapa ngasih tu mobil ke orang? Bukan nya baru di beli papa Lo minggu lalu ya?" tanya Leo sambil mengemudi mobil nya.
"Cuma mobil doang," jawab Erlan dengan angkuh nya.
"Ya gue tau bagi Lo ini kecil, tapi Lo pernah gak sih mikir buat menghargai barang yang di beli papa Lo, itu kan hadiah ulang tahun Lo dari om Firman," ucap Leo sambil geleng-geleng kepala.
"Nanti juga ulang tahun lagi," jawab Erlan dengan santainya.
Leo pun tak kuasa membahas soal itu lagi, sebenarnya dia tau betul apa yang di butuhkan sepupunya itu, karena selama ini ia tidak pernah melihat Erlan bahagia mendapatkan barang-barang mahal dari sang papa di setiap ulang tahun nya, selain menghamburkan uang sendirian, tak ada lagi yang bisa di lakukan oleh Erlan sebagai anak tunggal.
Sang mama sudah meninggal sejak usia Erlan sepuluh tahun, selama itu juga tak ada lagi kehangatan di keluarga Pratama, apalagi papa Firman yang tau nya hanya kerja kerja dan mengurus perusahaan, Erlan memang punya segalanya namun tidak dengan kasih sayang.
Bukan berarti papa Firman tidak sayang, dia malah merasa kalau apa yang dia kerjakan adalah demi kebahagiaan Erlan.
Malam harinya.
Erlan berdiri di balkon kamar nya, sudah jadi kebiasaan untuk Erlan menghirup udara segar di malam hari, bahkan sampai masuk angin.
"Kayak pernah lihat, tapi di mana ya?" tanya Erlan sambil sesekali memikirkan tentang gadis yang hampir ia tabrak tadi.
Lama mengingat, akhirnya Erlan berhasil menangkap sesuatu yang sedari tadi berputar-putar di pikiran nya.
"Ah iya, dia kan cewe yang kemarin nangis di taman belakang sekolah? Kok bisa kebetulan ya? Tapi tunggu, ngapain juga gue mikirin tu cewe? Udah galak, mulut nya kayak cabe ijo ngeri, tapi kemarin kayak lemah banget, kok tadi kayak singa kesurupan sih? Ah tau dah, bukan urusan gue," ucap Erlan berusaha menepis bayang-bayang Aruna yang memenuhi benaknya.
Keesokan harinya ...
Satu malam berlalu begitu saja, Aruna kini berangkat pagi-pagi ke sekolah agar ia tiba sebelum bel berbunyi, karena dia tau tak akan ada tumpangan lagi hari ini.
Tepat pukul, 07.50 ia pun akhirnya tiba di sekolah, rasanya lega sekali karena ia memiliki waktu 10 menit lagi untuk istirahat.
"Yes, gak telat, rasanya sehat kaki gue jalan kaki," kata Aruna menghibur dirinya sendiri.
Ia mengeluarkan botol minuman nya dari dalam tas dan kemudian meneguk air tersebut untuk menghilangkan dahaga nya.
"Mama, gak sia-sia bekalin air es, haha," ucap Aruna yang kemudian duduk di salah satu anak tangga menuju kelas sebelas.
Karena bel sekolah belum berbunyi, Aruna memutuskan untuk duduk di tangga menuju kelas nya sambil membuka buku untuk mengoreksi ulang tugas sekolah nya.
"Kayaknya udah bener semua deh," ucap Aruna sambil tersenyum.
Sebenarnya ia merasa sedikit kehilangan sosok Reyhan yang biasanya selalu ada di sisinya untuk meminta di kerjakan tugas atau mengajaknya bercanda di tanga tersebut, namun kini ia hanya sendiri, tetapi Aruna tak mau egois dan memilih untuk menerima keadaan yang sekarang, ia sudah bertekad jika Reyhan bahagia dia juga ikut bahagia.
Namun tak lama setelah ia merasa kehilangan Reyhan, Vani tiba-tiba datang menghampiri nya, seperti biasanya dengan tatapan polos dan gaya culun yang membuat Reyhan selalu merasa kalau dia adalah gadis lemah lembut yang baik.
"Vani, kok Lo gak sama Rey," tanya Aruna singkat.
"Ada kok di belakang," jawab Vani sambil tersenyum.
"Oh," jawab Aruna.
"Aruna, gue minta maaf ya soal semalam, Reyhan jadi marah-marah sama Lo karena dia khawatir banget sama gue, tapi Lo gak perlu khawatir karena gue udah bujuk dia kok buat gak marah-marah lagi sama Lo, kan ini juga bukan salah Lo, Lo gak sengaja kasih gue minuman itu, ya kan?" tanya Vani sambil tersenyum kepada Aruna.
Awalnya Aruna berfikir baik, namun setelah mendengar dan mencerna baik-baik ucapan Vani barusan dia baru menyadari kalau ada sedikit yang aneh dari ucapan tersebut.
"maksud Lo? Kenapa Lo bilang ke Rey kalau Lo sakit perut gara-gara minuman dari gue? Jelas-jelas Lo sendiri yang minta di pilihin minuman itu buat Lo, dan tutup minum nya jelas-jelas kesegel pas gue kasih ke Lo Vani, jangan-jangan Lo sengaja ya bikin hubungan gue sama Rey jadi berantakan," ucap Aruna berdiri di hadapan Vani sambil menahan emosi nya.
"Hmm, akhirnya Lo paham juga, kalau iya kenapa? Gue gak mau Reyhan terus menerus sahabatan sama Lo, karena gue cuma mau dia perhatian sama gue," bisik Vani ke telinganya Aruna.
Kini sudah terlihat jelas kalau Vani sebenarnya tak sebaik dan sepolos yang di lihat semua orang, dia adalah orang yang licik.
"Vani Lo keterlaluan ya, gue bakal bilangin ke Rey kalau Lo sebenarnya gak sebaik yang dia pikir," ucap Aruna memegang kedua pundak Vani.
Tak lama setelah itu Vani pun melihat Reyhan yang akan segera tiba di dekat mereka, dia pun menarik tangan Aruna, seolah-olah Aruna mendorong dirinya jatuh ke lantai depan tangaa tersebut.
"Awhhhhh," leguh Vani terduduk di hadapan Aruna.
"Lo, ngapain Lo?" tanya Aruna kebingungan.
"Astaga, Vani!" panggil Reyhan bergegas menghampiri Vani.
Seketika Aruna mengerti apa yang di lakukan Vani hanya semata-mata untuk menjebak dirinya.
"Aduh Rey sakit banget," ucap Vani sambil memegangi kaki nya.
"Aruna, apa lagi yang Lo lakuin sekarang ke Vani?" tanya Reyhan mulai emosi.
"Rey, gue gak lakuin apa-apa ke dia, gue sama sekali gak ngedorong dia," jelas Aruna.
"Maksud Lo dia jatuh sendiri? Gak mungkin?" Ucap Reyhan yang kemudian membantu Vani berdiri.
"Udah Rey, gak apa-apa kok, Aruna cuma emosi, karena aku minta maaf ke dia sama kejadian semalam kayanya dia belum bisa lupain," ucap Vani sambil memegang tangan Reyhan.
"Aruna, gue gak habis pikir sekarang, ternyata Lo yang kelihatan baik selama ini berhati busuk, Lo bener-bener egois, katanya Lo sahabat gue, tapi Lo gak bisa lihat gue bahagia dan terus nyakitin Vani, dia salah apa sama Lo!?" bentak Reyhan untuk Aruna.
Untuk yang kesekian kalinya Reyhan membentak Aruna dan marah-marah kepada Aruna padahal Aruna sama sekali tidak bersalah.
****
sama aja kek Vani ,gak jelas apa mau nya.dulu Aruna dihina karena dekat ma dia,sekarang udah jauh Deket ma Erlan juga salah.mau nya kalian apa sih...
Aruna udah jauh dari Reyhan pun Lo gak puas...
Aruna Deket cowo lain Lo pun sewot...
gak jelas juga itu otak lho 🤣🤣🤣
jiaaah nih bocah cowo kudu di jitak kepalanya...
buat anak gadis orang cenat cenut aja
🤣🤣🤣🤣
jangan Ngadi Ngadi ya bocil 🤣🤣🤣
jagain Baek Baek tuh adek ketemu gede
kk dan adik udah biasa berantem ajaa,saling jahil.abg ku aja yang paling besar suka nyelipin kepala ku di keteknya ,kayak miting gtu.padahal aku udah punya anak.auto ngamuk aku,dianya malah lari keliling rumah