NovelToon NovelToon
The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Slice of Life / Persahabatan / TKP / Roh Supernatural
Popularitas:88
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.

Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Kegelapan di unit 404 bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya. Ia telah menjadi entitas sendiri—padat, licin, dan bernafsu. Ia menyelimuti setiap sudut ruangan yang semula anggun, mengubahnya menjadi kandang pembantaian yang sempurna. Suara geraman yang keluar dari balik panel rahasia itu bukan berasal dari manusia yang rasional; itu adalah suara dari sesuatu yang telah putus dari kemanusiaannya, gemuruh rendah yang penuh dengan kegilaan murni dan nafsu yang tak terbendung.

Panel itu terbuka bukan dengan geseran halus, melainkan dengan sentakan kasar yang memecah keheningan. Kayu berderit memprotes, dan dari mulut kegelapan itu, sebuah siluet besar menerjang keluar. Ia bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar untuk ukurannya, seperti binatang buas yang sudah lama kelaparan. Cahaya temaram dari jendela Gangnam yang jauh menangkap kilatan perak di tangannya—sebilah pisau dapur panjang, bermata gila, yang diayunkan langsung ke leher Lisa.

Waktu melambat.

Lisa melihat mata di balik masker hitam itu—dua titik hitam yang memancarkan kegembiraan gila. Udara berdesis di sekitar mata pisau. Parfum mahal di udara tiba-tiba terasa seperti aroma pemakaman.

“LISA, AWAS!”

Teriakan Sam bukan hanya suara di kepalanya. Itu adalah gelombang kepanikan murni yang menghantam kesadarannya seperti tamparan. Tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Otot intinya mengencang, dan ia melemparkan dirinya ke samping dengan sekuat tenaga.

Gesekan kasar dari karpet mewah membakar lengan bajunya. Punggungnya menghantam kaki meja rias marmer dengan hentakan tumpul yang mengirimkan gelombang sakit tajam ke tulang belikatnya, memancar hingga ke giginya. Napasnya tercekat di tenggorokan. Di depan matanya, ujung pisau itu menghunjam ke dinding di tempat lehernya baru saja berada, meninggalkan goresan dalam di wallpaper bermotif geometris.

Pelakunya tidak ragu sama sekali. Dia menarik pisaunya keluar dari dinding dengan gerakan memutar, dan tanpa jeda, mengayunkannya lagi. Ayunan kali ini horisontal, membelah udara tepat di tingkat kepala Lisa. Angin yang ditimbulkannya meniup rambut Lisa yang berkeringat.

𝘋𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘪𝘯-𝘮𝘢𝘪𝘯. 𝘋𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯𝘬𝘶. Pikiran itu melintas, dingin dan jernih di tengah banjir adrenalin.

Lisa mendorong dirinya lebih jauh ke sudut ruangan, di antara meja rias dan dinding. Ruang geraknya habis. Kakinya mencoba menendang, menyasar pergelangan tangan yang memegang pisau, tetapi tendangannya hanya membentur lengan berotot seperti menendang batang pohon. Kaki Lisa terasa mati rasa. Pria itu mendengus, sebuah suara yang penuh penghinaan, dan menggunakan berat badannya untuk menindih Lisa, mendorongnya lebih dalam ke sudut. Bau keringatnya yang asam dan bau logam dari pisau bercampur, memenuhi indra Lisa.

Dia bisa merasakan panas tubuh pria itu, kekuatan mentahnya. Lengan yang menahan lengan pria itu mulai gemetar. Mata pisau itu mendekat, perlahan-lahan, semakin dekat ke wajahnya. Cahaya kota dari jendela memantul di permukaan logam yang berkilauan, seolah-olah menyoroti kematiannya yang akan datang.

“SIAL!”

Sam. Suaranya pecah, penuh penderitaan dan kemarahan yang tak tertahankan. Lisa melihat, dari balik bahu pria itu, sosok Sam menerjang. Wajah arwah itu yang biasanya tenang kini keriput oleh usaha yang gila. Tubuhnya yang bercahaya biru pucat menabrak punggung pria itu, mencoba mendorong. Tapi tidak ada dampaknya. Sam melewati tubuh pria itu seperti asap melewati jeruji, muncul di sisi lain dengan ekspresi hancur. Matanya yang hangat membesar, dipenuhi kengerian akan ketidakberdayaan mutlaknya.

𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶! Pikiran Sam berputar liar, sebuah badai keputusasaan dan kemarahan. Ia bukan lagi pemuda yang kebingungan di taman hotel. Ia adalah Sam, partner Lisa. Dan partner tidak berdiam diri.

Matanya menyapu ruangan, mencari, mencari. Lalu, ia melihatnya. Sebuah lampu gawang lantai bergaya industri, berdiri anggun di sudut ruangan lain. Batang besinya hitam, berat, dengan alas dari marmer putih yang pasti seberat seorang anak kecil. Mustahil digerakkan oleh angin. Tapi Sam bukan angin.

Ia memusatkan seluruh dirinya. Semua memori akan kesendirian yang menusuk, semua frustrasi karena tak bisa disentuh, semua amarah terpendam dari arwah-arwah yang ia temui dan yang paling besar, ketakutannya yang menyiksa saat melihat Lisa sekarat. Ia menggabungkan semuanya menjadi sebuah titik, sebuah keinginan yang membara di inti keberadaannya.

𝘑𝘈𝘛𝘜𝘏!

Ia tidak berteriak. Ia mengeluarkan keinginan itu, seperti melontarkan jantungnya sendiri ke arah benda mati itu.

Dan dunia menuruti.

𝘉𝘙𝘈𝘒𝘒𝘒𝘒𝘒!

Suara itu memekakkan telinga di ruangan kedap suara. Lampu gawang itu seolah-olah ditampar oleh tangan raksasa yang tak terlihat. Batang besinya melengkung, pecahan kaca dari tudungnya berhamburan seperti hujan berlian berbahaya, dan alas marmer yang berat itu terlempar dari dasarnya, menggelinding dengan kekuatan dahsyat—tepat ke arah kepala sang pelaku.

Pelaku itu, yang konsentrasinya sepenuhnya pada Lisa, terkejut setengah mati. Suara ledakan di sampingnya membuatnya refleks menoleh. Dia melihat seberkas marmer putih seukuran bola bowling meluncur tepat ke arah pelipisnya. Instingnya menyelamatkannya; dia menarik kepala ke belakang. Batu marmer itu meleset beberapa sentimeter, menghantam lantai parket dan membuatnya bergetar hebat. Tapi kerusakan sudah terjadi. Perhatiannya telah terpecah. Tekanannya pada Lisa mengendur sepersekian detik.

Itu adalah celah yang ditunggu Lisa. Pelatihan bertahun-tahun mengambil alih.

Dengan erangan yang keluar dari dasar paru-parunya, ia menggunakan semua tenaga yang tersisa di kaki yang tidak terhimpit. Lututnya mengarah ke atas, menghantam ulu hati pria itu dengan kekuatan penuh.

𝘖𝘰𝘧!

Udara keluar dari mulut pria itu dengan paksa. Tubuhnya membungkuk, cengkeramannya melemah.

Lisa tidak berhenti. Tangannya yang bebas membelit lengan pria yang memegang pisau, memutar dengan teknik kuncian yang sempurna. Tendon dan sendi berprotes di bawah tekanan.

𝘒𝘙𝘈𝘊𝘒!

Suara itu memuaskan dan mengerikan sekaligus. Sebuah jeritan kesakitan yang teredam keluar dari balik masker. Pisau itu jatuh dari tangan yang tiba-tiba lemas, berdentum di lantai kayu.

Dalam satu gerakan cair, Lisa memutar tubuhnya, menggunakan momentum dan rasa sakit pria itu untuk membalikkan posisi. Sekarang dialah yang di atas. Dia menekan wajah pria yang mengaduh itu ke lantai, menekan lututnya ke tulang belakangnya, dan mengunci kedua tangannya di belakang punggung dengan kuncian yang tidak akan bisa dilepaskan.

“DIAM DI TEMPAT, BRENGSEK!” Teriak Lisa, suaranya serak, parau, dan dipenuhi oleh rasa takut, lega, dan amarah yang meluap. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat, setiap hela nafas terasa seperti pisau di paru-parunya.

Tepat pada saat itu, tepat ketika kenyataan mulai meresap kembali, pintu apartemen mengalami nasib yang sama dengan panel rahasia.

𝘉𝘙𝘜𝘒!

Daun pintu kayu solid itu terlempar ke dalam, berputar di engselnya yang patah, dan menghantam dinding dengan getaran yang mengguncang lantai. Cahaya yang menyilaukan dari senter menyapu ruangan seperti penyablonan, membekukan setiap detail dalam terang yang kejam: debu yang menari, wajah Lisa yang penuh keringat dan coretan darah, tubuh pria yang terpelintir di lantai, dan lautan pecahan kaca serta besi di sudut ruangan.

“DETEKTIF AHN! LEPASKAN DIA DAN ANGKAT TANGANMU!”

Suara itu adalah suara Hendry, tapi dalam nada yang belum pernah Lisa dengar sebelumnya. Itu adalah suara baja yang dipanaskan dalam amarah, penuh otoritas yang tak terbantahkan, dan di bawahnya, sesuatu yang lain—sesuatu yang seperti… ketakutan? Lisa, dengan naluri yang dalam, segera melepaskan kunciannya dan mengangkat kedua tangan, meski tubuhnya masih duduk di atas punggung pelaku.

Hendry masuk, tidak sendirian. Dua petugas berseragam dengan senapan laras pendek mengikutinya, membidik ke arah pria di lantai. Hendry sendiri mendekat dengan pistol teracung, matanya tidak sekalipun meninggalkan Lisa dan pelaku. Wajahnya seperti topeng dari batu, kerutannya dalam dan gelap di bawah sorotan senter.

“Dia terluka, Senior.” Lisa berkata, suaranya masih parau, sambil perlahan turun dari punggung pria itu. “Lengan kanan mungkin terkilir atau patah.”

Hendry memberikan isyarat, dan dua petugas itu maju dengan cepat, memborgol pelaku yang kini hanya merintih kesakitan dengan kasar, lalu mengangkatnya. Baru setelah pria itu aman dan dibawa keluar, Hendry perlahan menurunkan pistolnya. Dia tidak memasukkannya ke sarung. Dia hanya menurunkannya, sementara matanya melakukan sesuatu yang lebih berbahaya: memindai.

Dia melihat Lisa, dari kepala hingga kaki, mencatat luka kecil, robekan di baju, dan gemetar yang tak tertahankan di tangannya. Lalu, matanya berpindah ke sekeliling ruangan yang hancur. Ia melihat goresan pisau di dinding, meja rias yang miring, dan akhirnya, berhenti.

Di sudut ruangan, puing-puing lampu gawang itu berserakan seperti bangkai kapal. Batang besinya bengkok tidak wajar. Alas marmer putih itu retak menjadi tiga bagian, salah satunya terguling hampir tiga meter dari tempat lampu semula berdiri.

Hendry mendekati puing-puing itu. Dia membungkuk, tidak menyentuh, hanya mengamati. Dia melihat bekas kaki lampu—empat bantalan karet kecil—masih menempel di lantai dengan sekrup yang kokoh. Tidak ada tanda-tanda sekrup itu longgar. Dia melihat arah pecahan marmer yang terguling. Dia menghitung jarak dalam kepalanya.

“Kau beruntung lampu ini jatuh, Lisa.” Ujar Hendry akhirnya. Suaranya kembali datar, tapi datar seperti permukaan danau yang membeku. Dia berdiri dan menatap Lisa. “Secara fisik, tidak masuk akal.”

Lisa menyeka keringat dan sedikit darah dari alisnya dengan punggung tangan yang masih gemetar. “Mungkin… paku di dindingnya sudah tua, Senior. Atau getaran dari perkelahian…”

“Paku?” Hendry memotong, alisnya naik. Dia menunjuk ke dinding di sebelah puing-puing. Tidak ada paku. Lampu itu berdiri bebas. “Lampu lantai, Detektif Ahn. Berdiri sendiri. Getaran dari perkelahian di sudut seberang ruangan mungkin akan membuatnya goyah, jatuh ke samping. Tapi ini…” dia menunjuk pecahan marmer yang terjauh, “…alas marmer seberat ini terlempar. Seolah-olah ada yang mendorongnya. Dengan kekuatan yang besar. Dan dengan presisi yang cukup untuk hampir membunuh pelakumu, atau setidaknya, mengalihkan perhatiannya tepat saat kau akan dibunuh.”

Dia berhenti, dan ruangan menjadi sangat sunyi. Suara sirene dari bawah mulai terdengar sayup-sayup, tapi di dalam ruangan ini, hanya ada desisan napas Lisa dan tatapan Hendry yang menembus.

“Ada sesuatu yang sangat aneh di sekitarmu sejak kasus artefak, Lisa. Keberuntungan yang terlalu tepat. Penemuan yang terlalu cerdas. Dan sekarang… lampu yang jatuh secara ajaib.”

Lisa menelan ludah. Mulutnya kering. Dia melirik, sangat cepat, ke arah jendela. Di sana, Sam berdiri, bersandar pada kaca. Cahaya tubuhnya sangat redup, seperti bintang yang hampir padam. Wajahnya pucat, matanya setengah tertutup, dan ia terlihat hampir transparan, seolah-olah keberadaannya sendiri terkikis oleh usaha tadi. Dia tersenyum, sangat lemah, ke arah Lisa. Sebuah senyuman yang mengatakan, Kau selamat. Itu yang penting.

Tapi bagi Lisa, itu bukan akhir. Hendry tidak selesai. Dia mengambil langkah mendekat ke Lisa.

“Aku tidak tahu apa itu. Apakah kau punya informan hantu? Apakah kau cenayang? Atau ada sesuatu yang lain?” Dia jeda, menatap mata Lisa dengan dalam. “Tapi ketahuilah ini: Aku akan mengawasimu. Dan jika ‘keberuntungan’-mu itu membahayakan operasi, atau jika aku menemukan bahwa kau menyembunyikan sesuatu yang melanggar hukum… aku akan mengungkapnya. Apa pun itu.”

Dia berbalik, meninggalkan Lisa yang berdiri di tengah reruntuhan kehidupannya yang lain—bukan hanya apartemen mewah yang hancur, tapi juga tembok rahasia yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Dinding itu sekarang retak, dan di balik retaknya, mata Hwang Hendry yang tak pernah tidur sedang mengintip.

Sam melayang mendekati Lisa, usaha yang tampak melelahkan baginya. “Maaf... Aku… aku hampir tidak berguna.”

Lisa menggeleng pelan, matanya masih menatap pintu yang rusak tempat Hendry menghilang. “Kau menyelamatkan nyawaku, Sam.” Lalu, dengan suara yang lebih rendah, hanya untuk dirinya sendiri dan arwah di sampingnya, “Tapi sekarang kita punya masalah lain. Dan masalah ini… bisa melihat.”

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!