Setelah pahlawan terhebat berhasil mengalahkan Raja Iblis, dikhianati manusia. Dituduh berbuat kejahatan dan tak ada yang mempercayai semua yang dikatakan.
Alih-alih demi terciptanya kedamaian dunia, pahlawan bernama Rapphael Vistorness pun membiarkan dirinya ditangkap dan dihukum mati. Siapa sangka, dirinya malah mengulang waktu pada saat pertama dipanggil dari dunia lain.
Karena telah kembali, maka tugas pahlawan bukanlah tanggung jawabnya lagi. Bersantai dan berpetualang di dunia ini, saatnya untuk menikmati kehidupan tanpa beban kepahlawanan. Namun ia tak pernah lupa untuk mencari informasi, siapa dalang atas nasib buruknya dimasa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanto Trisno 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemimpin Pemberontak
Mendengar pindahnya ibukota kerajaan, Lyra Smeirya awalnya tidak merasa aneh karena adanya mayat-mayat yang terus menumpuk. Sehingga terpaksa berganti tempat untuk menjalankan tugas pemerintahan. Namun tanpa diduga, justru menjadi awal dari bencana.
Akibatnya, ia tidak mendapatkan komisi ketika bertarung melawan Pengst. Selain itu, tugas dari Guild Petualang pun akhirnya hanya mendapatkan sedikit imbalan. Itu juga dialami oleh petualang lainnya.
Didasari dengan rasa ketidakpuasan, akhirnya ia mendapatkan bisikan dari seseorang. Dan seseorang itu adalah Rapphael. Dia mengatakan bahwa raja telah dirasuki oleh Pengst. Sehingga berubah menjadi sosok yang berbeda.
Tentu saja Rapphael memberikan bukti berupa rekaman yang diperlihatkan. Yaitu ketika Baangas Lubrock sadar untuk sementara. Lalu berubah sikap kembali dan mengatakan sesuatu yang aneh. Yaitu tentang nama-nama yang belum pernah didengar sebelumnya.
"Apa? Ternyata Raja telah dikendalikan oleh Pengst? Lalu, di mana Rent berada?" tanya Lyra yang diliputi rasa khawatir.
Rapphael memalingkan wajah dari Lyra dan menundukan kepalanya. "Rent? Oh iya, kudengar pahlawan bernama Rent–"
Karena tiba-tiba lawan bicaranya berhenti berkata, ia pun semakin penasaran dan ingin segera mendapatkan jawaban pasti. "Apa? Apa yang terjadi padanya? Katakan padaku, apa yang telah terjadi padanya?"
Rapphael menunjukkan sikap keragu-raguan. Lalu dengan lirih ia berbisik, "Dia sudah dirasuki Pengst. Dan ternyata orang yang menyusup itu sebenarnya adalah Pendeta Rantao Musbeskus."
"Pendeta Rantao? Tidak mungkin." Lyra tidak percaya dengan ucapan Rapphael. "Tidak mungkin. Ini jelas-jelas tidak mungkin. Dia tidak akan melakukan hal itu, bukan?"
"Memang sulit dipercaya. Namun itulah yang sebenarnya terjadi. Dan kamu juga tahu, pendeta itu juga yang mengambil semua khas (harta) kerajaan. Dan dia juga bekerja sama dengan Hunter Rank S."
Hunter Rank S memang sulit untuk dihubungi. Namun bagi Rantao Musbeskus, hanya seperti menjentikkan jarinya, para Hunter itu pun datang dengan sendirinya.
"Sialan! Ternyata pendeta yang selama ini bekerja sama dengan iblis. Mungkin dia juga termasuk Pengst, bukan? Tetapi mengapa dia membantu kerajaan untuk mengalahkan Pengst?"
"Tentu saja bukan itu niatnya. Dia juga telah memperdaya Pengst untuk menyerang kota. Dan lagi, dia juga bukan Pengst. Dia adalah orang yang menghasut antara umat manusia dan iblis untuk saling bertarung."
Lyra tidak begitu saja mempercayai ucapan Rapphael. Karena tidak ada bukti terkait, yang membuatnya percaya. Karena itu, dia mencurigai lawan bicaranya. Dia menatap Rapphael dengan perasaan risih dan menaruh kecurigaan.
Untuk itu, Rapphael mengambil alat perekam. Di sana ada rekaman yang dikendalikan oleh sihir untuk mengabadikan suatu kejadian tertentu. Tentu saja alat perekam itu telah dikendalikan oleh Rapphael sepenuhnya supaya mengikuti keinginannya.
Bahkan dapat memanipulasi rekaman sesuai keinginannya. Berkat dari kehidupan sebelumnya, mengetahui cara pengoperasian alat sihir tersebut. Ditambah dengan pengetahuan dunia lamanya. Sehingga menjadikan dirinya kreator berdasarkan imajinasi pribadi.
Dalam rekaman video, terlihat sosok yang menyerupai Rent Kuhichi yang sedang berdiskusi dengan Rantao Musbeskus. Mereka bahkan berencana mengendalikan tubuh raja dan membuat citranya menjadi buruk. Padahal citra baiknya telah dimiliki sejak dahulu.
"Mengapa? Mengapa bisa begini? Sebenarnya apa yang terjadi pada Rent? Mengapa kamu tidak menghentikannya? Apakah kamu orangnya pendeta itu?"
"Apa yang kamu katakan? Orangnya pendeta busuk itu? Tidak, tidak. Bagaimana mungkin aku orangnya dia? Justru aku sangat membencinya."
Meski masih belum bisa dipercaya, Lyra tidak punya alasan untuk mengelak. Pada akhirnya ia harus memiliki keyakinan sendiri. Tentang Pendeta Rantao Musbeskus yang juga mengosongkan seluruh istana juga telah didengar. Kabarnya demi membiayai Hunter Rank S. Namun mereka kini tidak ada kabarnya lagi, bak hilang ditelan bumi.
"Baiklah, aku akan mempercayaimu kali ini. Siapa namamu? Namaku Lyra. Kurasa kamu sudah tahu siapa aku, bukan?"
"Rapphael. Rapphael Vistorness." Rapphael kemudian meninggalkan Lyra. Menghilang menuju kerumunan.
"Meski sulit dipercaya tapi buktinya sudah ada. Tidak mungkin aku akan memberontak. Bagaimana jika mengumpulkan warga untuk bergabung?"
Lyra berdiri di atas panggung yang didirikan di tengah kota, wajahnya penuh dengan semangat dan keberanian. Dia memandang warga kota yang berkumpul di sekitarnya, mata mereka penuh dengan harapan dan kekhawatiran.
"Warga kota Bvakhsin, kita telah berkumpul di sini hari ini untuk berbicara tentang keadilan," kata Lyra, suaranya keras dan jelas.
Semua orang berkumpul atas permintaan seseorang karena ada niatan untuk melengserkan raja. Itu yang direncanakan oleh seorang wanita muda yang berprofesi sebagai instruktur bela diri dan sihir. Juga tercantum namanya sebagai seorang petualang Rank B.
Mendengar permintaannya untuk berkumpul, atas ketidakpuasan warga terhadap keputusan raja, membuat semuanya ingin menggantikan penguasa yang baru.
Hal itu disampaikan dalam orasi yang dilandaskan rasa ingin bebas dari penderitaan pajak yang semakin tinggi. Rakyat hidup dengan sulit tapi raja berkelimpahan harta dan setiap hari dilayani banyak wanita cantik. Bahkan terdengar prajurit kerajaan sengaja menangkap gadis berusia lima belas sampai dua puluh tahun untuk masuk istana.
"Kita telah hidup di bawah kekuasaan Raja yang tidak adil, yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan kebutuhan kita."
Warga kota mulai berteriak dan mengacungkan tangan, menunjukkan dukungan mereka kepada Lyra. Semangat membara, membakar jiwa mereka yang menginginkan suatu gebrakan aksi.
"Kita telah membayar pajak yang tinggi, kita telah bekerja keras, tapi apa yang kita dapatkan?" lanjut Lyra. "Tidak ada! Raja hanya memperkaya dirinya sendiri dengan uang kita, sementara kita menderita."
Warga kota semakin marah, mereka mulai berteriak dan mengumpat Raja. Dengan begitu, raja memang harus dihentikan. Yaitu dengan pemberontakan.
"Kita tidak bisa terus hidup seperti ini! Kita harus berani dan mengambil tindakan. Kita harus melawan Raja dan mengambil kekuasaan kembali."
Warga kota mulai bersorak dan berteriak, mereka siap untuk melawan Raja. "Kami bersamamu. Kita bersama menuju istana. Turunkan raja lalim. Turunkan raja bejat."
"Tapi kita harus berhati-hati," kata Lyra dengan suara agak berbisik. Meletakan jarinya di depan bibirnya.
Para warga menunggu kalimat yang terucap dari bibir wanita muda itu. Mereka memasang telinganya dan menatapnya dengan intens.
"Raja tidak akan menyerah dengan mudah. Dia akan menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan kita. Tapi kita tidak akan menyerah. Kita akan berjuang sampai akhir, sampai kita mendapatkan keadilan yang kita inginkan."
Warga kota bersorak lagi, mereka siap untuk berjuang. Lyra tersenyum, dia tahu bahwa mereka telah siap untuk memulai pemberontakan. Dan itu berkat Rapphael yang telah memberikan informasi dan atas bujuknya juga.
"Kita akan mulai mengumpulkan pasukan masyarakat. Kita akan menyerang istana dan mengambil kekuasaan kembali. Kita akan menunjukkan kepada Raja bahwa kita tidak bisa diintimidasi. Kita akan menunjukkan kepada Raja bahwa kita adalah warga kota Bvakhsin, dan kita tidak akan menyerah!"
Warga kota bersorak lagi, mereka siap untuk memulai pemberontakan. Dengan adanya semangat membara, siap-siap mengumpulkan lebih banyak lagi.
***