Ricky Riswan ( Yasir Hamdan)seorang pekerja di kota Jakarta yang baru saja mendapatkan gelombang PHK dari perusahannya tempatnya bekerja, ia memutuskan untuk kembali ke Tasikmalaya, di mana tanah kelahirannya berada ,ia berencana untuk mengembangkan dan mengolah lahan milik keluarganya , hanya saja di tengah jalan ,mobil bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dan meledak ,dan saat ia sadar ia berada di desa yang sangat asing bagi dirinya dan baru mengetahui bahwa dirinya akan dijadikan sebagai pengantin pria untuk dua gadis yang tidak dia kenal , bagaimana kelanjutan cerita ini, masih lama bro ,mungkin nunggu dua tahun atau lebih...!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta timur10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29 rencana warga desa Plarangan
Suara teriakan terdengar keras , puluhan orang dengan berbagai senjata api datang bergegas .
Semuanya tampak menodongkan senjatanya ke arah kelompok yang bertarung itu dan dalam sekejap, semua kekacauan berhenti begitu saja .
Salah satu tentara yang mengenali kepala kampung bertanya dengan suara berat " kamu tuan Kasyim ada apa ribut ribut di sini,?"
Kepala kampung menoleh dan memberi tahu bahwa mantri desa telah melakukan hubungan gelap dengan bandit , dan menyebabkan keresahan di masyarakat desa .
" tahan semua orang bandit , yang mati kubur !"
" siap kapten ..!"
Beberapa tentara menangkap dan mengikat seluruh tubuh bandit yang sudah menyerah , dan ada dua anggota bandit yang mati tertusuk pisau kecil di masing masing leher dan dada .
Yasir sudah melemah , ia menatap jelas ke arah tentara tentara yang datang itu .
" tuan segera periksa ... rumah megah itu!" Kata Yasir dengan nafas sedikit tertahan .
Kapten tentara yang memimpin pasukan menoleh dan datang ke hadapan pemuda yang terduduk dengan luka di pinggangnya .
" kamu orang terluka, Jack bawa obat !" Seru kapten tentara ke arah seorang tentara berkulit hitam yang ada di dekatnya.
" siap kapten !"
Kepala kampung tersadar dan lainnya segera datang, mereka dengan cemas menanyakan kabar tentang luka yang ada di pinggang pemuda yang tampak masih bisa tersenyum itu.
Dalam waktu yang singkat, pria berkulit hitam yang memiliki tinggi badan rata rata orang pribumi telah selesai membersihkan kotoran dan luka, setelah itu menutupinya dengan perban .
" jangan bekerja sebelum sembuh, pak kamu harus beristirahat, beta telah selesai membersihkannya !" Kata Jack dengan senyum khas orang timur .
" terimakasih..!"
Yasir tahu bahwa ia harus beristirahat dan menepi dari pekerjaannya, matanya menatap ke arah kapten tentara yang memiliki kemiripan dengan seseorang.
" tuan kapten , apakah anda kenal dengan tuan Walter ?"
Kapten tentara itu membuka topinya dan memperlihatkan wajah yang benar benar mirip dengan orang yang baru dikatakannya tadi .
" kamu orang kenal dengan kakak saya , "
" ya , ini kartu namanya , " kata Yasir menunjukan kartu nama yang sudah memiliki setengah darah di permukaannya.
" ouh , tenang saja kamu tidak akan rugi, kami semua penjaga akan menelusuri semua kejadian ini dan akan membasmi perusuh desa itu " kata kapten tentara dengan senyum tipis .
" terimakasih tuan !"
Yasir sangat senang bilamana ada orang yang langsung mengerti dan juga tidak terlalu sombong dalam berbicara, ia semakin kagum dengan sifat dan sikap keluarga Belanda itu , dalam hatinya ia berjanji akan mengunjungi setelah luka di pinggangnya sembuh .
" Lyonord, bagaimana kabarnya?" Kapten tentara menoleh ke arah tentara kulit putih yang membawa beberapa barang sitaan.
" ditemukan lima ratus butir peluru dan lima pucuk senjata api buatan Jerman tahun 1879 , dan ada satu hal lagi, harusnya rumah ini di runtuhkan karena menyimpan barang barang yang sangat berbahaya dan juga tembok rumah itu penuh dengan obat kimia yang sangat ganas " kata prajurit kulit putih yang diperintahkan untuk mengunjungi dan meneliti rumah megah tersebut.
" sialan , kita ternyata hampir kecolongan "
" baiklah akan saya beritahu komandan Walter..!" Kapten tentara itu mengawal para pasukan untuk menggiring tahanan dan juga barang bukti yang sudah ada .
Di rumah megah itu sekarang hanya tersisa enam orang yang menghela nafas lega , namun wajah mereka terlihat sedikit cemas tatkala melihat keadaan pemuda yang tampak tertidur itu .
" kang Kasman beritahu keluarga Yasir, untuk datang ke halaman rumah saya , kami akan membawa anak ini ke sana " kata kepala kampung sembari memerintahkan beberapa orang untuk menggotong tubuh pemuda yang tampak tertidur itu .
" iya pak .!"
..
Puncak bukit. Rumah bambu .
Di luar tampak terlihat dua wanita muda sedang menatap ke arah kegelapan di luar yang tampak mendung .
Ekspresi kedua wanita itu sama, terlihat khawatir dan cemas , mata keduanya terus fokus ke arah jalan yang menuju arah desa .
" kakak tari aku cemas, mas Yasir belum datang !" Suara tertahan wanita muda terdengar begitu parau .
" aku juga sama , semoga saja tidak terjadi apa apa !" Ucap Lestari juga merasakan hatinya terasa sakit.
Dari pandangan mata mereka berdua , muncul seorang pria paruh baya dengan membawa obor api yang cukup terang untuk menerangi jalan sekitarnya.
Kedua wanita muda langsung mendatangi pria paruh baya yang datang itu .
" ehh pak Kasman ada apa ?"
" kebetulan , sekarang juga bisa turun ke desa !"
" ada apa pak Kasman ?" Halimah semakin khawatir, ia terus bertanya dengan mata yang sudah mulai memerah.
" nanti kalian juga tahu..!"
Pria paruh baya itu tidak memiliki keahlian berbicara yang fasih , dan hanya berkata beberapa patah kata ,setelah itu membimbing jalan kedua wanita muda yang sudah cemas itu .
Sampai di bawah desa , jalan terlihat samar dan kedua wanita yang sudah tidak bisa menahan diri langsung berlari kecil menuju kediaman kepala kampung .
Saat tiba di sana , keduanya melihat banyak orang berkumpul dan tampak berbicara riuh .
" assalamualaikum pak ...!"
" bagaimana dengan mas Yasir..?"
Dengan bimbingan beberapa wanita yang ada di dekatnya, kedua wanita muda itu melihat pemandangan yang membuat keduanya menangis sedih.
" mas ada apa denganmu..kenapa bisa begini !" Lestari memegang lengan kekar pemuda yang tampak sudah sadar itu .
" tidak apa apa , hanya luka kecil , tenang saja jangan menangis... " kata Yasir tersenyum tipis ,matanya tampak melembut dan menghapus air mata wanita muda yang ada di dekatnya.
" mas , jangan tinggalkan kami berdua , " Halimah yang ada di sampingnya juga menangis sedih dan matanya yang sudah memerah semakin deras mengeluarkan air mata.
" sudah, sudah, di masa depan aku juga pasti terluka, jadi kalian berdua harus tabah, aku sudah sehat kok , hanya perlu istirahat tiga sampai empat hari " kata Yasir menenangkan kedua istrinya yang masih menangis itu .
" mas kamu tidak akan terluka lagi, pasti ..."
" sudah , kalian berdua segera tidur di sini , masih malam , " ujar Yasir tersenyum seraya menepuk nepuk kasur yang cukup untuk empat orang .
" tapi ini di rumah orang lain mas ?"
" tidak apa apa , ini adalah tempat tidur sebelum aku pindah ke atas bukit.." kata Yasir dengan tenang.
" umhh..!"
Kedua wanita yang sudah mereda itu ,perlahan berbaring di sisi kanan dan kiri pemuda yang tampak terjaga itu .
Di luar beberapa orang tua dan sesepuh desa berkumpul , mata mereka sangat serius membahas sesuatu dan ada beberapa orang menggelengkan kepala.
" kepala kampung, melihat kejadian ini kita harus waspada , terutama dengan balasan dari bandit bukit Ciluhur, mereka pasti akan datang " kata seorang sesepuh desa berusia tujuh puluh tahun itu.
" masalah itu sudah ada yang mengurusnya, tentara putih dan KNIL ( tentara Belanda yang terdiri dari orang orang pribumi) sudah berangkat ke bukit Ciluhur "
" ya sudah , kalau sudah di urus... sekarang pembahasan kita adalah tentang membangun kediaman di atas bukit, "
" umh iya, bagaimana mudahnya?"
" hari ini seluruh pria desa datang ke atas bukit, langsung membangun rumah untuk jang Yasir, dia telah berkorban dan juga berjasa dalam membuka kejahatan mantri desa itu !" Kata kepala kampung memutuskan.
" setuju ..!"
" setuju..!"