Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati Hancur Karena Melihat Kamu
Sheila tidak takut. Ia justru meledak dalam tawa yang paling melengking, suara yang terdengar seperti gesekan logam yang memilukan telinga. "Kalian mau menangkap angin?! Kalian mau memadamkan matahari?! Hahahaha!"
Tepat saat polisi merangsek maju, Sheila menyulut sumbu dari rentengan petasan jumbo yang telah ia siapkan.
DARR! DARR! DAR-DAR-DAR-DARRR!
Ledakan petasan yang memekakkan telinga itu menciptakan asap putih tebal dan percikan api yang membabi buta ke segala arah. Polisi dan petugas medis terpaksa mundur, melindungi wajah mereka dari ledakan yang tak terduga itu. Di tengah kabut asap dan bau belerang yang menyengat, suara tawa Sheila menjauh, melengking di balik gang-gang sempit Tebet. Ia hilang seperti hantu, meninggalkan kepanikan massal di belakangnya.
****
Di dalam toko, Livia sudah tidak lagi berteriak. Paru-parunya sudah terlalu banyak menghirup karbon monoksida. Tubuhnya terkulai lemas di balik meja marmer yang kini telah retak karena suhu panas yang ekstrem. Kesadarannya perlahan memudar; wajah Ayub, aroma kue yang baru matang, dan kenangan pahit bersama Attar berputar seperti film lama di matanya yang kini menutup.
"A...yub..." bisiknya parau sebelum akhirnya dunianya menjadi benar-benar gelap. Livia pingsan di tengah kepungan api yang mulai menjilat kaki meja marmer tempatnya berlindung.
Di luar, Ayub baru saja tiba dengan langkah pincang. Bahunya bersimbah darah, dan wajahnya lebam akibat hantaman tongkat besi Sheila di parkiran tadi. Melihat toko Livia yang sudah hampir runtuh dilalap api, akal sehat Ayub menghilang.
"LIVIA! TIDAK! MBAK LIVIA!" raung Ayub.
Ia menerjang maju, hendak menembus tirai api yang menutupi pintu depan. Namun, dua orang petugas pemadam kebakaran dengan sigap menjegal tubuhnya.
"Lepaskan aku! Dia ada di dalam! Calon Istriku ada di dalam!" jerit Ayub, meski Livia secara hukum belum menjadi istrinya, namun di saat maut mengintai, gelar itu adalah satu-satunya yang keluar dari hatinya.
"Jangan gila, Anak Muda! Atapnya bisa runtuh kapan saja! Kamu hanya akan mati konyol di sana!" teriak petugas pemadam sambil memiting lengan Ayub yang terluka.
Ayub meronta, menangis histeris. Ia melihat kayu bangunan yang terbakar jatuh berdentum di area kasir. Setiap detik yang berlalu terasa seperti satu tahun hukuman mati baginya. "Biarkan aku masuk! Kumohon... biarkan aku menyelamatkannya!"
Di sisi lain jalan, sebuah ambulans melaju kencang membawa Clarissa. Wanita itu tak sadarkan diri dengan luka parah di perut dan kaki akibat amukan besi Sheila. Obsesinya untuk memiliki Ayub berakhir dengan tragedi yang membuatnya nyaris kehilangan nyawa. Namun, di tengah hiruk-pukuk itu, tak ada yang memikirkan Clarissa; semua mata tertuju pada toko yang sedang sekarat.
****
Sheila tidak benar-benar pergi jauh. Ia berada di atap sebuah ruko tua yang berjarak dua bangunan dari toko Livia. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat segalanya. Ia melihat Ayub yang meronta-ronta, ia melihat petugas pemadam yang menyemprotkan air ke arah api yang enggan padam, dan ia melihat asap hitam yang terus keluar dari tempat Livia berada.
Sheila duduk di pinggir atap, menggoyang-goyangkan kakinya seperti anak kecil yang sedang menikmati pertunjukan kembang api. Ia menarik selendangnya ke atas, menutupi mulutnya, namun matanya tetap tertawa.
"Panas, kan, Livia? Itulah rasanya hatiku setiap kali melihatmu tersenyum," gumam Sheila. Suaranya dingin, seolah-olah hatinya sudah membeku di tengah kobaran api itu. "Matilah dengan tenang. Aku sudah menyiapkan tempat tidur yang hangat untukmu di neraka."
Ia tertawa lagi, tawa yang tertahan oleh kain selendang namun getarannya terasa hingga ke dadanya. Baginya, pemandangan ini adalah mahakarya. Ia merasa telah memenangkan peperangan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Attar hilang, Livia terpanggang, dan Ayub hancur. Itulah keadilan versi Sheila Nandhita.
****
Petugas pemadam kebakaran akhirnya berhasil menjebol dinding samping toko menggunakan kapak besar. Oksigen masuk melalui lubang itu, sempat memicu kobaran api kecil, namun mereka segera menyemprotkan busa pemadam.
"Ada korban! Di balik meja kasir! Cepat, tandu!" teriak salah satu petugas.
Ayub, yang masih ditahan oleh polisi di balik garis kuning, membeku saat melihat sosok wanita yang sudah menghitam oleh jelaga diangkat keluar oleh dua petugas. Livia tampak tak bernyawa. Kulitnya yang biasanya cerah kini kusam, dan gaun peach yang ia kenakan sudah robek dan hangus di beberapa bagian.
"Mbak Livia..." Ayub jatuh berlutut. Suaranya hilang. Dunia di sekitarnya mendadak sunyi, hanya ada detak jantungnya yang berpacu liar.
Tim medis segera memasang masker oksigen ke wajah Livia. Mereka melakukan resusitasi jantung paru (RJP) dengan sangat intens. "Ayo, Mbak! Bernapas! Jangan menyerah!" teriak suster.
Tepat saat itu, sebuah mobil hitam mewah berhenti dengan rem yang berdecit tajam. Attar keluar dari mobil dengan wajah yang dipenuhi ketakutan yang tak terlukiskan. Ia baru saja mendarat dari Sydney dan langsung menuju lokasi setelah menerima kabar dari detektif suruhannya.
Attar melihat Livia yang terbaring kaku, ia melihat Ayub yang hancur di atas aspal, dan ia melihat puing-puing toko yang merupakan satu-satunya kebahagiaan Livia. Attar berdiri mematung, menyadari bahwa meski ia berada di ujung dunia sekalipun, dosa-dosanya akan selalu menemukan jalan untuk menghancurkan orang-orang yang ia cintai.
Di atas ruko tua, Sheila berdiri. Ia melihat kedatangan Attar. Matanya berkilat penuh kemenangan. Ia melambaikan selendangnya ke arah Attar dari kejauhan, sebuah salam perpisahan yang mengerikan sebelum ia menghilang sepenuhnya ke dalam kegelapan malam Jakarta.
****
Lantai rumah sakit yang biasanya steril dan tenang kini terasa seperti lorong menuju kegelapan yang tak berujung bagi Ayub. Ia duduk bersandar di dinding koridor rumah sakit, tepat di depan ruang perawatan intensif di mana Livia terbaring koma. Tubuh pemuda itu gemetar hebat; bahunya yang dibalut perban putih akibat hantaman tongkat besi Sheila tidak sebanding dengan rasa sakit yang mencabik-cabik hatinya.
Di balik kaca tebal, ia melihat sosok Livia yang kini dipenuhi kabel dan selang. Masker oksigen menutupi separuh wajah cantik yang biasanya selalu tersenyum menyambutnya di toko kue. Jelaga kebakaran masih menyisa di sudut kuku Livia yang pucat, sebuah pengingat brutal akan maut yang nyaris merenggutnya.
"Maafkan aku, Mbak Liv... maafkan aku tidak cukup cepat melindungimu," bisik Ayub parau. Air matanya jatuh menetes di atas lantai keramik dingin. Dunianya hancur berkeping-keping seiring dengan setiap bunyi bip dari monitor jantung yang menandakan Livia masih berjuang di ambang kematian.
****
Sementara itu, di bangsal lain yang lebih sepi, bayangan kematian sedang bersiap untuk menari kembali. Sheila Nandhita berdiri di balik tirai sebuah ruang ganti staf. Selendang bermotif bunga yang ia curi sebelumnya kini ia lilitkan di pinggang, sementara matanya yang liar memantau pergerakan seorang suster muda bernama Rini yang sedang membereskan peralatan medis.
Sheila tertawa tanpa suara. Kegilaannya telah mencapai puncak di mana rasa takut sudah tidak ada lagi dalam kamusnya. Baginya, rumah sakit ini hanyalah sebuah labirin besar yang menyenangkan untuk dikacaukan.
Suster Rini masuk ke dalam ruang penyimpanan tanpa menyadari sosok yang mengintai di balik pintu. Saat Rini berbalik, Sheila sudah berdiri tepat di depannya.
"Siapa ka—"
Belum sempat Rini berteriak, Sheila melilitkan selendangnya ke leher suster malang itu dengan kecepatan yang luar biasa. Ia menarik kedua ujung selendang itu dengan tenaga yang meluap dari amarah murni. Wajah Rini membiru, tangannya meronta-ronta di udara, namun Sheila justru menatap mata suster itu dengan tawa melengking yang tertahan.