NovelToon NovelToon
Bernafas Tanpamu

Bernafas Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.

Tak ada balasan.

Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.

Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?

Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34 The Bitter Medicine

Malam itu, badai besar mengguyur kota, namun badai di dalam Mansion Caelum terasa jauh lebih mencekam. Leo Alexander Caelum baru saja pulang dari kantornya dengan wajah yang lebih gelap dari biasanya. Sejak kematian ibunya dan pernikahan paksa itu, Leo menenggelamkan diri dalam pekerjaan seolah-olah tumpukan dokumen bisa menghapus rasa bersalah dan kekosongan di hatinya. Namun, tubuh manusia memiliki batasnya.

​Saat melangkah masuk ke ruang tengah, langkah Leo goyah. Kepalanya terasa berdenyut seperti dihantam godam, dan pandangannya mengabur. Ia ambruk di sofa kulit yang dingin, memijat pangkal hidungnya dengan napas yang panas dan tersengal.

​Liora, yang baru saja selesai membersihkan ruang makan, melihat pemandangan itu dari kejauhan. Ia ragu sejenak. Jika ia mendekat, Leo pasti akan memakinya. Jika ia diam saja, nuraninya—dan janji dalam surat Eleanor akan menyiksanya.

​Perlahan, Liora mendekat dengan nampan berisi segelas air hangat. "Tuan Leo... wajah Anda sangat merah. Anda sakit?"

​Leo membuka matanya yang memerah. Bukannya menerima perhatian itu, ia justru mendengus sinis. "Jangan berlagak peduli, Liora. Pergi sana. Urusi saja cucian atau lantai yang belum kau pel. Aku tidak butuh simpati dari wanita sepertimu."

​Liora hanya diam. Ia sudah terbiasa dengan lidah Leo yang tajam seperti belati. Namun, saat ia melihat tangan Leo gemetar hebat ketika mencoba melonggarkan dasinya, Liora tahu ini bukan sekadar kelelahan biasa. Ia meletakkan gelas itu di meja dan tanpa permisi menyentuh dahi Leo.

​"Panas sekali," bisik Liora terkejut. "Suhu tubuh Anda sangat tinggi. Anda harus pindah ke kamar dan beristirahat."

​Leo menepis tangan Liora dengan kasar hingga gadis itu hampir tersungkur. "Jangan lancang menyentuhku! Aku bilang pergi, ya pergi! Kau pikir dengan merawatku, kau bisa menjadi ratu di sini? Kau tetap pembantu, Liora. Peranmu di sini hanya untuk memenuhi wasiat Ibu, bukan menjadi malaikat pelindungku."

​Liora menarik napas panjang. Ia teringat kata-kata Eleanor dalam surat itu: 'Ubahlah benci menjadi cinta.' Ia menatap mata Leo yang penuh dengan kebencian dan kelelahan.

​"Saya tidak peduli Anda menganggap saya apa, Tuan Leo," ucap Liora dengan suara datar namun tegas. "Tetapi di rumah ini, saat ini, saya adalah istri Anda di atas kertas dan orang yang bertanggung jawab atas kesehatan Anda sesuai amanah Nyonya. Jika Anda tidak mau pindah ke kamar, saya akan memanggil Jacob untuk menyeret Anda."

​Leo tertegun. Ia belum pernah melihat Liora seberani ini. Biasanya, gadis itu hanya akan menunduk dan menerima segala caci makinya. Namun, rasa sakit yang luar biasa di kepalanya membuatnya tidak punya tenaga untuk berdebat lebih jauh. Dengan sisa kekuatannya, Leo berdiri, limbung, dan akhirnya membiarkan Liora memapah bahunya menuju kamar utama.

​Sepanjang perjalanan menuju lantai atas, Leo terus menggumamkan hinaan. "Kau... kau hanya ingin terlihat baik... supaya kau bisa menguasai harta keluarga ini... dasar parasit..."

​Liora tidak membalas. Ia tetap diam, menahan beban tubuh Leo yang jauh lebih besar darinya, meskipun bekas luka operasinya sendiri mulai terasa berdenyut perih akibat tekanan itu.

​Sesampainya di kamar, Liora membantu Leo berbaring. Ia melepaskan sepatu pria itu dan menyelimutinya. Namun, saat Liora hendak mengambil kompres, Leo mencengkeram pergelangan tangannya.

​"Kenapa?" bisik Leo dengan suara serak. "Kenapa kau masih melakukan ini setelah semua yang kulakukan padamu? Kenapa kau tidak membiarkan aku mati saja agar kau bisa bebas?"

​Liora menatap pergelangan tangannya yang dicengkeram, lalu menatap mata Leo yang mulai sayu karena demam. "Karena Nyonya Eleanor tidak ingin Anda mati. Dan karena saya... saya sudah berjanji padanya."

​Leo melepaskan genggamannya, memalingkan wajah ke samping dengan perasaan muak yang campur aduk. Liora segera pergi ke dapur, menyiapkan bubur hangat dan obat-obatan.

​Selama tiga jam berikutnya, Liora tidak beranjak dari sisi ranjang Leo. Ia mengganti kompres di dahi Leo setiap lima belas menit sekali. Ia dengan sabar menyuapi Leo sesendok demi sesendok bubur, meskipun Leo berkali-kali menepis sendok itu dan mengatakan bahwa bubur itu rasanya menjijikkan seperti orang yang membuatnya.

​"Makanlah, Tuan. Anda tidak bisa minum obat dengan perut kosong," bujuk Liora sabar.

​"Aku tidak mau! Pergi!" bentak Leo, namun suaranya sudah hilang kekuatannya.

​Liora tetap duduk di sana. Ia bahkan tidak berkedip saat Leo tak sengaja menumpahkan sedikit air ke pakaiannya. Ia hanya membersihkannya dengan tenang, lalu kembali mengurus Leo.

​Menjelang tengah malam, demam Leo mulai turun. Napasnya mulai teratur, dan ia jatuh terlelap. Liora duduk di kursi di samping ranjang, menatap wajah suaminya yang sedang tertidur. Tanpa topeng kemarahan dan keangkuhan, Leo tampak sangat rapuh. Ia hanyalah seorang pria yang kehilangan arah setelah kehilangan satu-satunya orang yang mencintainya.

​Liora menyentuh perutnya sendiri yang terasa nyeri. Di dalam sana, ada bagian dari dirinya yang sedang menjaga nyawa ibunya Leo, dan sekarang, ia sendiri yang menjaga nyawa sang putra.

​"Saya akan tetap di sini, Tuan Leo," bisik Liora lirih ke arah pria yang sedang bermimpi itu. "Bukan karena saya mengharapkan cinta Anda, tapi karena saya ingin membuktikan pada Nyonya bahwa kebaikan tidak akan pernah kalah oleh kebencian."

​Pagi harinya, saat Leo terbangun dengan tubuh yang lebih ringan, ia mendapati Liora tertidur dengan posisi duduk di samping ranjangnya, masih memegang kain kompres yang sudah dingin. Untuk pertama kalinya, Leo tidak langsung memakinya. Ia hanya terdiam, menatap wajah lelah Liora dengan perasaan aneh yang mulai mengusik hatinya perasaan yang sangat ia takuti, perasaan yang mulai meretakkan tembok kebenciannya.

​"Liora merawat suaminya bukan dengan cinta yang berbunga, melainkan dengan ketulusan yang lahir dari penderitaan."

​"Leo menganggap kebaikan Liora sebagai racun, tanpa sadar bahwa itulah satu-satunya obat bagi jiwanya yang sekarat."

​"Di dalam keheningan malam, Liora membuktikan bahwa diamnya bukan berarti kalah, melainkan bentuk pengabdian yang paling murni."

​"Demam Leo mungkin turun, namun badai di hatinya baru saja dimulai saat ia menyadari bahwa ia mulai bergantung pada orang yang ia benci."

1
brawijaya Viloid
Thorr update setiap harii bintang 6 untuk author 🥰🥰
Ra H Fadillah: "Wow, terima kasih atas rating bintang 5 nya 💞! 🙏 Rasanya senang banget ceritanya bisa menyentuh hati kamu. Kalau penasaran dengan kisah lain yang penuh emosi dan drama, aku baru saja merilis ‘Breathing Without You’. Siap-siap terbawa perasaan, ya!"
total 1 replies
Anonymous
mo nangiss bgt wajib baca sihh 😢
Anonymous
jgn ngagantung dong authro plis 😭
Anonymous
awas menyesal leo 🥺
Anonymous
seru bgt mo nangisss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!