NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keheningan yang Berbicara

Tiga hari kemudian, dokter akhirnya mengizinkan Nadira untuk pulang. Kondisinya sudah cukup stabil, luka di kepalanya sudah mulai mengering, jahitannya sudah kering, dan tidak ada tanda-tanda komplikasi lain.

"Pasien sudah boleh pulang, tapi harus tetap istirahat total selama dua minggu ke depan. Jangan biarkan dia melakukan aktivitas berat. Dan jangan lupa kontrol seminggu lagi untuk periksa jahitan," ucap Dokter Andi sambil menandatangani surat keluar rumah sakit.

Raka mengangguk dengan serius. "Baik, Dok. Saya akan jaga dia baik-baik. Terima kasih banyak."

Dokter tersenyum tipis, lalu melirik Nadira yang duduk di kursi roda dengan tatapan kosong... menatap ke arah jendela, tidak menatap siapa pun.

"Semoga istri Bapak cepat pulih, baik fisik maupun mental," ucap dokter dengan nada penuh simpati.

Raka tersenyum pahit. "Amin, Dok."

---

Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan.

Raka mengendarai mobil dengan hati-hati, tidak terlalu cepat, menghindari lubang dan polisi tidur agar tidak membuat Nadira sakit kepala. Sesekali ia melirik ke kursi penumpang, melirik istrinya yang duduk dengan kepala bersandar pada jendela, menatap keluar dengan tatapan kosong.

Tidak ada percakapan. Tidak ada suara. Hanya dengung mesin mobil dan suara lalu lintas di luar.

Raka ingin bicara, ingin bertanya bagaimana perasaan Nadira, apakah kepalanya masih sakit, apakah dia lapar.

Tapi ia takut. Takut Nadira akan semakin menutup diri. Takut kata-katanya hanya akan membuat Nadira semakin tidak nyaman.

Jadi ia memilih diam, diam sambil sesekali melirik, memastikan Nadira baik-baik saja.

Sampai di apartemen, Raka parkir mobilnya dengan hati-hati, lalu turun dan membukakan pintu untuk Nadira.

"Hati-hati kepalanya," ucap Raka sambil membantu Nadira turun dari mobil, tangannya menyangga lengan Nadira dengan lembut.

Nadira tidak menjawab. Ia hanya turun dengan gerakan yang lambat, membiarkan Raka membantu tanpa menolak... tapi juga tanpa berterima kasih.

Mereka naik lift bersama, berdiri berdampingan dalam keheningan yang berat. Raka melirik Nadira dari sudut matanya, menatap wajah wanita itu yang terlihat pucat dan lelah.

"Aku ingin memelukmu," pikir Raka dalam hati. "Aku ingin bilang semuanya akan baik-baik saja. Tapi aku tahu kamu tidak ingin mendengarnya."

Lift berhenti di lantai tiga. Pintu terbuka. Mereka berjalan menuju apartemen dengan langkah pelan... Raka terus berjalan di samping Nadira, siap menyangga kalau-kalau wanita itu limbung.

Sampai di depan pintu, Raka membuka kunci dan mendorong pintu... membiarkan Nadira masuk lebih dulu.

Nadira melangkah masuk, matanya menyapu ruangan yang familiar tapi terasa asing. Ruang tamu dengan sofa yang sama. Meja makan yang sama. Dapur kecil yang sama.

Tapi semuanya terasa berbeda.

Karena yang dulu mengisi apartemen ini dengan kehangatan... cinta, tawa, harapan... sekarang sudah tidak ada lagi.

Nadira berjalan perlahan menuju kamar, kamar yang dulu ia tiduri bersama Raka. Ia berhenti di ambang pintu, menatap ranjang besar dengan sprei putih yang rapi.

Lalu ia masuk dan duduk di pinggir ranjang dengan gerakan yang sangat pelan, seperti tubuhnya tidak punya tenaga.

Raka berdiri di pintu dengan tatapan khawatir.

"Dira, kamu mau istirahat dulu? Atau mau makan? Om... maksudnya, aku sudah siapkan makanan," ucap Raka dengan nada hati-hati.

Nadira tidak menjawab. Ia hanya berbaring di ranjang dengan posisi menyamping, membelakangi Raka lalu menarik selimut menutupi tubuhnya.

Raka berdiri di sana beberapa detik lebih lama... menatap punggung Nadira dengan tatapan penuh kerinduan dan penyesalan.

Lalu ia melangkah keluar dengan pelan, menutup pintu setengah, memberikan Nadira privasi tapi tetap bisa memantau kalau ada apa-apa.

---

Hari-hari berikutnya berlangsung dalam pola yang sama.

Raka bangun lebih awal, menyiapkan sarapan yang ia beli dari luar karena tidak berani memasak lagi setelah insiden nasi goreng asin itu. Ia menata makanan di meja dengan rapi, lalu membangunkan Nadira dengan lembut.

"Dira, bangun sayang. Sarapan sudah siap," panggilnya dengan suara pelan sambil mengetuk pintu kamar.

Nadira bangun dengan gerakan yang lambat, tidak ada senyuman, tidak ada ucapan selamat pagi. Ia hanya duduk di pinggir ranjang dengan tatapan kosong.

Raka masuk dengan hati-hati, membawa segelas air putih hangat.

"Ini, minum dulu," ucapnya sambil menyodorkan gelas.

Nadira meraih gelas itu tanpa menatap Raka... minum dengan pelan, lalu meletakkan gelas kosong di meja samping ranjang.

"Ayo sarapan. Aku belikan bubur ayam. Kamu suka kan?" tanya Raka sambil tersenyum, senyuman yang dipaksakan tapi dibuat se-hangat mungkin.

Nadira berdiri tanpa menjawab, lalu berjalan keluar menuju meja makan.

Raka mengikuti di belakang dengan langkah pelan... seperti bayangan yang selalu mengikuti tapi tidak berani terlalu dekat.

Mereka duduk di meja makan, berhadapan tapi tidak bertatapan. Nadira makan dengan gerakan yang lambat, mekanis. Raka hanya menatapnya... tidak makan, hanya menatap dengan tatapan penuh perhatian.

"Kamu nggak makan?" tanya Nadira tiba-tiba... suara pertama yang ia keluarkan pagi itu.

Raka tersentak, sedikit terkejut mendengar suara Nadira. Ia langsung tersenyum.

"Aku sudah makan tadi. Sebelum kamu bangun," bohongnya... karena sebenarnya ia belum makan, tapi ia tidak ada nafsu makan.

Nadira tidak menanggapi. Ia kembali fokus pada bubur di depannya.

Tapi Raka tidak peduli. Setidaknya Nadira bicara. Setidaknya ia bertanya, meski hanya satu kalimat pendek.

Itu sudah lebih dari cukup untuk Raka.

Siang harinya, Raka meminta izin pada atasannya untuk bekerja dari rumah selama dua minggu, sampai Nadira benar-benar pulih. Atasannya mengerti dan mengizinkan.

Jadi Raka bekerja dari apartemen, duduk di ruang tamu dengan laptop, menyelesaikan pekerjaan sambil sesekali melirik ke arah kamar untuk memastikan Nadira baik-baik saja.

Nadira menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar... berbaring di ranjang, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Atau duduk di balkon, menatap pemandangan kota dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.

Sesekali Raka mendekat, membawakan air minum, membawakan camilan, atau hanya sekedar bertanya.

"Dira, kamu butuh sesuatu?" tanyanya dengan lembut.

Nadira menggeleng pelan tanpa menatapnya.

"Kalau ada apa-apa, bilang aku ya. Aku di luar."

Nadira tidak menjawab. Raka pun tidak memaksa... ia hanya mengangguk dan kembali ke ruang tamu.

Malam tiba. Waktunya makan malam.

Raka kembali menyiapkan makanan... kali ini nasi dengan lauk ayam goreng dan sayur yang ia pesan dari restoran. Ia menata semuanya di meja dengan rapi, lalu memanggil Nadira.

"Dira, makan malam."

Nadira keluar dari kamar dengan langkah pelan, lalu duduk di kursi yang sama seperti pagi tadi.

Raka duduk di seberangnya, kali ini ia ikut makan, karena Mama Nita menelepon dan memaksanya untuk makan.

Mereka makan dalam keheningan lagi. Tapi kali ini berbeda.

Raka memperhatikan Nadira sedang mengambil lauk ayam, tapi tangannya sedikit gemetar karena masih lemah.

Tanpa berpikir panjang, Raka mengambil sepotong ayam dengan sendoknya, lalu meletakkannya di piring Nadira.

Nadira terdiam... menatap ayam itu, lalu menatap Raka dengan tatapan yang sulit dibaca.

Raka tersenyum tipis. "Kamu suka ayam kan. Makan yang banyak biar cepat sembuh."

Nadira tidak menjawab. Tapi ia tidak menolak ayam itu. Ia mengambil ayam itu dengan sendoknya dan memakannya dengan pelan.

Dan Raka merasakan hatinya sedikit lebih hangat.

Setelah makan malam, Raka membereskan piring-piring kotor sambil Nadira duduk di sofa, menatap televisi yang menyala tapi tidak benar-benar menonton.

Raka selesai mencuci piring, lalu berjalan mendekat dengan handuk kecil di tangannya.

"Dira," panggilnya pelan.

Nadira menoleh, menatapnya dengan tatapan datar.

"Aku... aku mau bantu kamu mandi. Maksudnya... bukan ikut mandi ya!" Raka langsung panik, wajahnya sedikit memerah. "Maksudnya, aku bantu siapkan air hangatnya. Terus aku tunggu di luar. Kalau kamu butuh bantuan, panggil aku. Oke?"

Nadira menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan.

Raka tersenyum lega. "Oke. Tunggu sebentar ya."

Ia berjalan cepat ke kamar mandi, menyiapkan air hangat di bathub, meletakkan handuk bersih, shampo, sabun, dan semua yang Nadira butuhkan.

Setelah selesai, ia kembali ke ruang tamu.

"Sudah siap. Kamu bisa mandi sekarang. Aku tunggu di luar ya. Kalau ada apa-apa, teriak aja," ucapnya sambil tersenyum.

Nadira berdiri dengan pelan, lalu berjalan menuju kamar mandi tanpa berkata apa-apa.

Raka duduk di luar dengan tegang, telinganya mendengarkan dengan seksama, takut Nadira terpeleset atau ada masalah.

Sepuluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Nadira keluar dengan handuk melilit tubuhnya, rambut basah menetes sedikit.

Raka langsung berdiri. "Kamu sudah selesai? Ada yang sakit?"

Nadira menggeleng pelan.

"Oke. Kamu ganti baju dulu ya. Aku siapkan susu hangat."

Nadira berjalan ke kamar, berganti pakaian dengan baju tidur yang nyaman. Saat ia keluar, Raka sudah menyiapkan segelas susu coklat hangat di meja samping ranjang.

"Ini, minum dulu sebelum tidur. Biar kamu tidur nyenyak," ucap Raka sambil tersenyum.

Nadira meraih gelas itu tanpa menatap Raka... tapi ia minum sampai habis.

Lalu ia berbaring di ranjang dengan posisi yang sama seperti biasa... menyamping, membelakangi Raka.

Raka berdiri di samping ranjang, menatap punggung Nadira dengan tatapan penuh kerinduan.

Tangannya terulur, ingin menyentuh rambut Nadira yang masih sedikit basah, ingin mengusapnya dengan lembut.

Tapi ia tidak berani.

Ia takut Nadira akan menolak lagi.

Jadi ia hanya berdiri di sana beberapa detik lebih lama, lalu berbisik dengan suara yang sangat pelan.

"Selamat tidur, Dira. Mimpi indah."

Lalu ia berjalan keluar, menutup pintu dengan pelan.

Di luar, Raka berbaring di sofa seperti biasa, memberikan kamar untuk Nadira sendirian.

Ia menatap langit-langit dengan tatapan lelah... lelah secara fisik, lelah secara emosional.

Tapi ia tidak menyerah.

Nadira memang belum bicara banyak. Nadira memang masih menutup diri. Tapi setidaknya ia tidak menolak saat Raka dekat. Tidak menolak saat Raka memegang tangannya untuk membantu berjalan. Tidak menolak saat Raka menyuapinya makan saat tangannya gemetar.

Itu sudah kemajuan.

Kemajuan kecil, tapi tetap kemajuan.

Dan Raka akan terus berjuang, terus memperlakukan Nadira dengan lembut, dengan sabar, dengan cinta yang tidak pernah padam.

Sampai suatu hari nanti... Nadira bisa membuka hatinya lagi.

Dan mungkin... hanya mungkin bisa memaafkannya.

Raka menutup matanya, berbisik doa dalam hati.

"Ya Allah, beri aku kesabaran. Beri aku kekuatan. Dan beri Nadira ketenangan hati. Amin."

Dan di malam yang sunyi itu, Raka tertidur dengan harapan yang masih ia pegang erat... harapan untuk mendapatkan cinta Nadira kembali.

1
Elin
jujur menurutku cerita ini cerita yg paling sedih dari awal sampe akhir sampe aku ikut nangis saking menghayati ceritanya,dari segi cerita bagus tapi endingnya aku gak puas...di awal cerita aku kasian sama Dira karna cintanya sendirian,hargadirinya di injak2,di anggap LC gratisan,semua pengorbanannya sia2....,tp tapi di akhir cerita aku juga kasian sama Raka karna dia tau salah dan mau berubah,dia berjuang buat dapatin maaf dari dira,dia dah kerja keras buat dapat uang lebih selama Dira di rawat sampe dia sendiri gak lupa sama kesehatannya sendiri,dia bertahan di samping Dira meski dia diperlakukan orang asing,dia berusaha jalin komunikasi meski pada akhirnya didiamkan,dan menurutku 3thn cukup buat Raka di beri kesempatan kedua...tapi terserah Thor ajalah.
JiDHan Bolu Bakar
gitu doang...pasti ada lanjutannya, beberapa tahun kemudian....😄
Dew666
❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹
mbuh
biarkan Raka menangis darah dlu. itu tak sbrpa skitnya KRNA pengkhianatan dan khlngan anak
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
mbuh
la njuttttt
kalea rizuky
ujungnya balikan halah
Anonymous
Raka goblok
Denni Siahaan
bangun Nadira kasih kesempatan
Dew666
💥💥💥💥💥
Denni Siahaan
gak guna penyesalan mu Raka
Denni Siahaan
dasar Raka egois mau enaknya aja
Denni Siahaan
tingal kan Nadira jangan tolol
Soraya
yang nabrak Nadira kok gak ada kabarin
Soraya
mampir thor
Bunda SB: terima kasih kakak 🫰
total 1 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
Dew666
🪸🪸🪸🪸
aku
lah, masa dlu dy semerong sm yg lain dong brti pas msh ma dira?
Anonymous
CUIH bawa bawa nama TUHAN,, dasar MUNAFIK
Anonymous
gak perlu bangun Nadira..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!