NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vittoria Russo

Aku meletakkan kembali kemeja itu dengan enggan. Jika aku membawanya keluar, pelayan akan tahu kemeja itu hilang.

Tapi aku belum siap pergi. Tubuhku menolak untuk kembali ke kamarku yang dingin dan sepi. Aku butuh lebih.

Aku melangkah keluar dari lemari, kembali ke kamar tidur utama.

Tempat tidur itu terlihat begitu luas. Seperti samudra putih yang tenang.

Dengan gerakan lambat, aku menaiki tempat tidur itu.

Aku tidak berbaring di tengah. Aku berbaring di sisi kanan. Sisi yang selalu ditiduri Ciarán. Aku tahu ini sisi miliknya karena bantal di sisi ini sedikit lebih cekung, jejak samar dari kepalanya yang berat.

Aku membenamkan kepalaku ke bantal itu.

Baunya tidak sekuat kemeja tadi, lebih lembut, campuran deterjen dan aroma rambutnya. Aku meringkuk, menarik lututku ke dada, mencoba menempati ruang yang biasanya diisi oleh tubuhnya yang besar.

Aku memeluk guling yang biasa dia peluk.

"Kau di sini," bisikku pada kekosongan.

Aku memejamkan mata, membiarkan imajinasiku mengambil alih. Aku membayangkan berat lengannya di pinggangku. Aku membayangkan deru napasnya di leherku. Aku membayangkan dia berbisik, "Kau milikku."

Ilusi itu begitu nyata hingga membuat dadaku sesak oleh rasa rindu yang menyakitkan.

Mataku terbuka lagi, menatap meja nakas di samping tempat tidur.

Di sana, di atas nampan kulit kecil tempat dia biasa menaruh jam tangan dan dompetnya, ada beberapa benda kecil yang berserakan. Uang receh. Klip kertas. Dan sebuah kancing.

Kancing kemeja berwarna mother-of-pearl. Putih berkilau.

Mungkin kancing cadangan yang lepas dari kemeja barunya. Atau kancing yang copot karena dia menariknya terlalu kasar saat lelah.

Tanganku terulur, mengambil kancing kecil itu.

Benda itu terasa dingin dan keras di telapak tanganku. Benda yang remeh. Sampah bagi orang lain.

Tapi bagiku, ini adalah potongan dirinya. Potongan yang bisa kusiasati. Potongan yang bisa kubawa ke mana-mana tanpa ada yang curiga.

Aku menggenggam kancing itu erat-erat, menekannya ke dadaku, tepat di atas jantungku.

"Ini milikku sekarang," bisikku. "Sebagai jaminan kau akan kembali."

Aku menyelipkan kancing itu ke dalam saku tersembunyi di balik gaunku.

Rasa kantuk tiba-tiba menyerangku. Bukan kantuk biasa, tapi kelelahan mental yang akhirnya menemukan tempat untuk istirahat.

Di sini, di atas kasur musuhku, dikelilingi bau tubuhnya, aku merasa lebih aman daripada di mana pun di dunia ini.

Aku tahu ini salah. Aku tahu jika pelayan masuk, atau jika Ciarán pulang lebih cepat, aku akan tamat.

Tapi aku tidak peduli.

Aku memeluk bantalnya lebih erat, menghirup dalam-dalam, dan membiarkan diriku jatuh tertidur di sisi tempat tidur yang bukan milikku, bermimpi bahwa akulah ratu di kastil sunyi ini.

***

Ciarán pulang tepat saat matahari terbenam di hari ketiga.

Aku sedang berada di perpustakaan, pura-pura membaca buku, tapi telingaku terus waspada menangkap suara ban mobil di jalanan kerikil. Begitu aku mendengar deru mesin Rolls-Royce itu, jantungku melompat girang.

Oksigenku kembali.

Aku ingin berlari menyambutnya di depan pintu seperti istri yang setia, atau anjing yang patuh, tapi aku menahan diri. Itu terlalu agresif. Itu terlalu terbuka.

Jadi aku menunggunya di puncak tangga.

Aku melihatnya masuk ke foyer. Dia terlihat lelah, jasnya tersampir di lengan, tapi dia utuh. Dia selamat. Dan saat dia mendongak dan melihatku berdiri di sana, dia tidak tersenyum, tapi dia mengangguk singkat.

Hanya satu anggukan kecil. Tapi bagiku, itu adalah sambutan pulang yang cukup.

"Selamat datang kembali," bisikku tanpa suara.

Tapi euforia itu tidak bertahan lama. Bahkan tidak sampai lima menit.

Suara langkah kaki berat terdengar dari arah ruang kerja Julian. Ayah Ciarán keluar, wajahnya berseri-seri. Pemandangan langka yang biasanya menandakan bencana bagi orang lain.

"Ciarán!" seru Julian, menghampiri putranya. "Kerja bagus di Singapura. Saham kita stabil."

"Hanya sementara," jawab Ciarán datar, menyerahkan tas kerjanya pada pelayan. "Valkov masih mengintai."

"Ah, lupakan Valkov sejenak." Julian menepuk bahu Ciarán keras. "Kita punya solusi jangka panjang. Malam ini, bersiaplah. Pakai tuksedo terbaikmu."

Ciarán mengerutkan kening. "Aku baru sampai, Ayah. Aku butuh tidur, bukan pesta."

"Ini bukan pesta biasa." Julian tersenyum lebar, senyum yang memperlihatkan terlalu banyak gigi. "Keluarga Russo baru saja mendarat dari Milan. Alessandro Russo dan istrinya akan makan malam di sini."

Tubuh Ciarán menegang sedikit. "Russo? Raja pengapalan logistik?"

"Tepat." Julian mengangguk puas. "Dan mereka tidak datang sendiri. Mereka membawa putri tunggal mereka. Vittoria."

Nama itu menggantung di udara foyer yang dingin.

Vittoria.

Nama yang kuat. Nama yang terdengar megah, mahal, dan... tak terkalahkan.

"Mereka tertarik dengan aliansi," lanjut Julian, suaranya merendah tapi cukup keras untuk kudengar dari atas tangga. "Aliansi strategis. Pengapalan logistik mereka digabung dengan infrastruktur kita... kita akan memonopoli pasar Eropa. Valkov tidak akan bisa menyentuh kita."

"Dan harganya?" tanya Ciarán sinis. "Apa yang Alessandro minta sebagai ganti armadanya?"

Julian menatap putranya penuh arti.

"Dia menginginkan jaminan masa depan untuk putrinya. Dia menginginkan pernikahan."

Duniaku runtuh.

Tanganku mencengkeram railing tangga begitu erat hingga rasanya kayu itu akan retak.

Pernikahan.

Tentu saja. Ini adalah dunia bisnis. Pernikahan bukan tentang cinta. Pernikahan adalah merger perusahaan.

"Aku tidak tertarik menikah, Ayah," tolak Ciarán dingin, hendak berjalan pergi.

"Kau tidak punya pilihan!" sergah Julian, nada suaranya berubah tajam. "Kau yang menjatuhkan Lucas sampai tidak memiliki nilai dimata Keluarga Russo. Kau yang mengambil alih kendali. Sekarang, kau harus melakukan apa yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan kerajaan ini. Kecuali kau mau kita hancur di tangan Valkov."

Ciarán berhenti melangkah. Punggungnya kaku.

"Makan malam jam delapan," kata Julian final. "Jangan terlambat. Dan bersikaplah mempesona. Masa depan Vane ada di tanganmu."

Julian berbalik pergi, bersiul pelan.

Ciarán berdiri diam di tengah foyer selama beberapa detik. Lalu dia mendongak lagi, menatapku yang masih mematung di puncak tangga.

Wajahnya tak terbaca. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya membuang muka dan berjalan menuju kamarnya, membanting pintu dengan keras.

Aku ditinggalkan sendirian di kegelapan tangga.

Kebahagiaan karena kepulangannya menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk tulang.

Vittoria Russo.

Aku belum bertemu dengannya, tapi aku sudah membencinya. Dia bukan hanya tamu. Dia adalah ancaman eksistensial. Dia adalah wanita yang membawa armada kapal dan jutaan dolar di dalam tas tangannya.

Sedangkan aku? Aku hanya punya gaun bekas dan kancing baju curian di saku.

Malam ini, monster lain akan datang ke meja makan. Dan kali ini, monsternya berwajah cantik.

1
Fauziah Rahma
bertahan hidup seperti parasit, parasit mutualisme, semoga saja
Sha_riesha
aku tak pernah mau baca novel yang masih on going tapi entahlah novel ini punya magnet kuat banget yang bikin aku bolak balik ngecek udah up lagi apa belum 😍
Sha_riesha: 😭 sebenernya aku gak suka banget dibuat penasaran. nungguin up nya mana lama lagi 😭😭😭
total 2 replies
Sha_riesha
❤️🙏
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!