Nayara Kirana seorang wanita muda berusia 28 tahun. Bekerja sebagai asisten pribadi dari seorang pria matang, dan masih bujang, berusia 35 tahun, bernama Elvano Natha Prawira.
Selama 3 tahun Nayara menjadi asisten pria itu, ia pun sudah dikenal baik oleh keluarga sang atasan.
Suatu malam di sebuah pesta, Nayara tanpa sengaja menghilangkan cincin berlian senilai 500 juta rupiah, milik dari Madam Giselle -- Ibu Elvano yang dititipkan pada gadis itu.
Madam Gi meminta Nayara untuk bertanggung jawab, mengembalikan dalam bentuk uang tunai senilai 500 Juta rupiah.
Namun Nayara tidak memiliki uang sebanyak itu. Sehingga Madam Gi memberikan sebuah penawaran.
"Buat Elvano jatuh cinta sama kamu. Atau saya laporkan kamu ke polisi, dengan tuduhan pencurian?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Bekas Gigitan Nyamuk Berambut Pendek.
Gilang dan Dewi mengerutkan keningnya secara bersama, ketika melihat Elvano datang sendiri tanpa Nayara. Mereka pun memberikan isyarat dengan saling melempar tatap.
Kemana kira - kira sang asisten pribadi yang selalu mengekori langkah atasan mereka?
“Selamat pagi, pak.” Sapa Dewi dari meja kerjanya. Sementara Gilang berdiri di seberangnya.
“Pagi, Wi. Selain meeting, tolong kamu atur ulang jadwal saya.” Ucap pria itu.
Gilang kembali mengerutkan keningnya dan kini semakin dalam. “Nara kemana, pak?” Tanya pria itu penasaran.
“Dia sedang tidak enak badan. Pekerjaan dia hari ini, kamu yang handle. Nara tidak bisa ke kantor beberapa hari kedepan.” Ucap Elvano dengan tegas.
Ia tidak akan membiarkan gadis itu bekerja, sampai tenaganya benar - benar pulih.
Ah, mengingat tentang Nayara, Elvano sudah merasa rindu dengan gadis itu. Andai rapat kali ini bisa di walikan oleh orang lain, mungkin pria itu tidak akan datang ke kantor dan memilih menemani sang asisten pribadi di penthouse.
“Nara sakit apa, pak?” Tanya itu datang dari sekretaris pria itu.
“Dia kelelahan.”
Jawaban Elvano sontak mengundang tanda tanya besar di benak kedua bawahannya.
“Maksud bapak?” Tanya Gilang dan Dewi dengan kompak. Mereka pun kembali saling melempar tatap.
Elvano berdeham pelan. Pria itu melonggarkan dasi yang ia gunakan secara asal, karena tidak mau menganggu tidur Nayara.
“Dia terlalu lelah bekerja. Kondisinya menurun. Jadi, dia meminta ijin beristirahat beberapa hari kedepan.” Ucap pria itu. Ia pun melangkah menuju tangga penghubung ke ruangan kantornya.
Dewi menganggukkan kepalanya. Namun Gilang justru memicingkan matanya. Ia melihat sebuah bekas kemerahan pada leher Elvano.
“Pak.”
Gilang mengejar langkah sang atasan.
“Apa telah terjadi sesuatu diantara kalian berdua?” Tanya pria itu setelah mereka berada di dalam ruangan.
Elvano yang masih berada di tengah ruangan, seketika memutar badannya.
“Apa maksud kamu, Lang?” Tanyanya tak mengerti.
Gilang kemudian mendekat. “Maaf, pak.” Tangannya terulur untuk membenarkan posisi dasi sang atasan.
Elvano sontak menepis tangan sang asisten.
“Padahal saya hanya ingin menutupi bekas gigitan nyamuk berambut pendek di leher anda, pak. Tidak enak jika di lihat oleh para peserta meeting. Apalagi, yang hadir hari ini para Manager dan Kepala Devisi. Bapak bisa menjadi bahan gosip nanti.” Jelas Gilang.
Elvano berdecak kesal. “Apa maksud kamu nyamuk berambut pendek, Lang? Kamu menyamakan Nara dengan nyamuk?”
Gilang seketika tergelak. “Saya tidak ada menyebut nama Nara. Bapak sendiri yang mengakuinya. Jadi, benar ‘kan? Terjadi sesuatu diantara kalian?”
Elvano mendelik tajam. Kenapa dirinya bisa kelepasan seperti ini?
“Keluar, Lang. Minta Dewi datang kemari. Saya harus segera ke ruang rapat.” Usir Elvano.
“Bagaimana rasanya, pak? Membuat ketagihan ‘kan?”
“Keluar, Gilang! Atau saya mutasi kamu ke —
“Baik, pak. Saya keluar sekarang.” Gilang seketika berlari menuju pintu.
“Si-al, Nara. Saya bahkan tidak bisa mengontrol diri karena kamu.” Gerutu Elvano sembari melangkah menuju meja kerjanya.
.
.
.
Nayara merendam dirinya di dalam air hangat selama setengah jam. Setelah merasa lebih baik, ia pun membilas tubuhnya di bawah kucuran shower.
Elvano juga telah menyiapkan jubah mandi untuk gadis itu. Benar - benar pria yang penuh dengan perhatian.
Nayara pun memakai jubah mandi itu. Lalu kembali ke dalam kamar sang atasan.
Wanita itu mengamati setiap sudut ruangan. Tidak ada pakaian mereka yang berserakan di lantai, bahkan Nayara tidak menemukan gaun miliknya.
Sofa dan meja yang semalam mereka gunakan bertempur juga terlihat rapi dan bersih. Yang masih berantakan hanya tempat tidur. Mungkin karena Nayara belum bangun, sehingga orang yang membersihkan kamar tidak mau menganggu.
Apa mungkin Elvano yang merapikan semuanya? Dan pria itu sama sekali tidak membangunkannya?
Yang benar saja? Seorang Elvano Natha Prawira membersihkan kamar tidurnya.
Menakjubkan sekali.
“Apa dia bisa memakai dasi sendiri?” Gumam Nayara.
Sebenarnya, Elvano bisa memakai dasi. Namun, karena sudah terbiasa menyuruh Nayara. Jadinya pria itu pun malas melakukan sendiri.
Nayara menghela nafas pelan. Dengan langkah tertatih — karena bagian inti tubuhnya masih terasa kebas akibat perbuatan si John. Wanita itu membawa nampan berisi piring dan gelas kotor ke dapur.
Ia meletakkannya saja di dalam bak pencucian. Karena jujur, kaki gadis juga masih terasa lemas meski dirinya sudah sarapan.
Nayara kemudian melangkah menuju sofa. Dimana ia meletakan jas Elvano dan dompet miliknya. Dan ternyata masih disana. Mungkin pria itu tidak melihatnya.
“Aku harus segera memberikan laporan pada Madam Giselle, supaya dia berhenti menerorku.”
Nayara membuka aplikasi berbalas pesan. Kemudian menyimpan foto yang ia ambil dengan ponsel Elvano. Setelah itu, mengirimnya ke nomor Madam Giselle.
“Misi berhasil, Madam. Saya sudah melakukan yang anda perintahkan.”
Sebaris kalimat itu ia sematkan pada foto mesra dirinya dan Elvano. Berharap setelah ini, hidupnya akan lebih tenang tanpa ancaman dari ibu sang atasan.
Tak berselang lama, pesan balasan dari Madam Giselle pun datang.
“Saya masih di London. Kita bicarakan nanti setelah saya kembali.”
Nayara menganga. Ia kemudian menghela nafas kasar. Perkara apalagi ini? Kenapa tiba - tiba wanita paruh baya itu ada di London?
Nayara hendak meletakkan ponselnya di atas meja. Namun sebuah pesan kembali di terimanya.
Elvano mengirimkan sebuah pesan yang menggelitik perut gadis itu.
“Kamu sudah bangun? Masih sakit? Mau apa untuk makan siang? Jangan memasak. Saya akan pulang dan membeli makanan setelah meeting si—alan ini selesai.”
“Kenapa dia jadi sering mengumpat begini? Kemana perginya pak Elvano yang penuh wibawa? Astaga.”
Entah sudah berapa kali Nayara mendengar Elvano mengatakan kata ‘si—al atau si—alan.’ Padahal sebelumnya pria itu sangat menjaga lisannya.
“Cepat balas, Nara. Kamu membuat konsentrasi saya menjadi terpecah. Kenapa hanya di baca saja?”
Pesan kedua dari pria itu.
“Astaga. Baru juga satu menit. Kenapa dia menjadi tidak sabaran seperti ini? Apa aku kerjai saja dia?”
Wanita itu menyeringai jahat. Ia kemudian mengetik balasan pesan.
“Saya mau makan si John lagi.”
Setelah mengirim kalimat itu, Nayara langsung meletakkan ponselnya di atas meja. Ia pun beranjak kembali ke dapur. Untuk mengisi perutnya.
Sepertinya, ia tidak akan selamat saat Elvano pulang nanti. Maka dari itu, harus mengisi perut terlebih dulu. Bisa saja pria itu kembali dengan tangan kosong, karena telah terpancing dengan kalimat yang Nayara kirimkan.
“Untung masih ada persediaan mie instan. Aku harus cepat. Dia bisa kembali kapan saja.”
Dasar Nayara. Ia sangat suka membangunkan singa yang tertidur. Lagipula, siapa yang bisa menolak sentuhan pria setampan Elvano Natha Prawira?
“Dia benar - benar sempurna. Sudah tinggi, tampan, bentuk tubuhnya bagus, apalagi si John yang — Ah! Dasar Nayara! Kenapa pikiran ku jadi kotor begini?”
...****************...
tinggal beliin sawah dan emas batangan aja, pasti emaknya langsung setuju 😄
😝😝😝