"Tuan, ayo tidur denganku?" Kalimat gila itu Dea ucapkan pada sang boss di bawah kendali alkohol.
Namun Dea pikir semuanya akan berakhir malam itu juga, namun siapa sangka satu sentuhan membuatnya dikejar selamanya oleh sang boss playboy.
"Dea, kamu harus tanggung jawab padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Sumpah Demi Apapun
"Hah? Tegang?" tanya Dea yang mendadak blank. Lalu berusaha untuk bersikap biasa saja meski rasanya sulit sekali untuk melupakan tentang kejadian pagi tadi. Bagaimana bisa tiba-tiba dia berada di ranjang yang sama dengan Juan.
Jika Alex sampai mengetahui tentang hal ini pria itu pasti akan marah besar padanya dan juga Juan sekaligus.
'Astaga, hidupku benar-benar kacau sekarang,' batin Dea. Dea segera tersenyum untuk membuat agar Alex tidak menaruh curiga padanya. bukan hanya senyum biasa, tapi senyum centil saat menyambut kekasihnya pulang. "Aku sedang membuat susu, kamu mau tidak? Atau mau susu yang lain?" tanya Dea pula.
Sudah hilang akal sehatnya saat ini, sampai Dea tak menyadari jika sekarang Apa yang dia lakukan sangat berbeda dengan kepribadiannya selama ini. Dea yang biasanya tenang kini mendadak berubah jadi seperti jallang kurang sentuhan.
Dan melihat sikap Dea yang seperti itu, makin kesal saja Alex dibuatnya. Sumpah, dia sangat menunggu Dea yang cemburu. Tapi yang dia dapatkan selalu Dea yang baik-baik saja.
Alex kemudian duduk di kursi meja makan, "Kopi, aku mau kopi saja," balas Alex.
"Hem, kopi pagi-pagi. Apa tidak terlalu berat?" tanya Dea, dia membawa segelas susu miliknya dan mendekati Alex, lalu bersandar di meja makan saat sudah begitu dekat dengan pria tersebut.
"Bagaimana pertemuannya semalam? kenapa sekarang wajahmu kusut sekali," tanya Dea pula.
"Pertemuannya lancar, aku bicara banyak hal dengan papanya Anita karena itulah kurang tidur."
"Ya ampun cuma gara-gara kurang tidur wajahmu sampai kusut begini, itu artinya stamina mu buruk. Kamu harus banyak-banyak olah raga," balas Dea.
Alex hanya terdiam, namun dalam diamnya tersebut dia pun menatap Dea dengan intens. Tapi sayangnya Dea tak menyadari makna tersembunyi dari tatapan tersebut, bahwa ada rasa lebih dari Alex, bahwa dia bukan hanya dijadikan sebagai pelampiassan hassrat.
Dan kejadian pagi tadi juga membuat Dea menyadari akan satu hal, bahwa dia memang terlalu jallang dan miskin untuk bisa bersanding dengan Alex.
Jadi berhenti bermimpi yang terlalu tinggi dan kembali melihat tanah yang Dea pijak. Hubungannya dengan Alex akan segera berakhir.
"Ku buatkan kopi dulu," ucap Dea lagi, setelahnya dia meminum sedikit susu hangatnya dan meletakkan gelas di atas meja. Barulah Dea membuatkan kopi untuk sang boss.
"Jika pertemuannya lancar, berarti pernikahan kalian tidak akan lama lagi. Apa boleh aku mentransfer uang satu miliar ke rekeningku?" tanya Dea, dia menatap Alex sekilas dengan senyumnya yang seperti bisa.
Alex tersenyum miring mendengar kalimat tersebut, sejak kemarin dia selalu berharap Dea akan cemburu pada hubungannya dengan Anita. Tapi ternyata yang ada di dalam otak Dea hanyalah uang... Uang dan uang.
Ternyata Dea sama saja, wanita materialistis. Yang bahkan bersedia melakukan apapun untuk bisa mendapatkan uang tersebut.
"Kamu ingin uang satu miliar dariku?" balas Alex kemudian.
"Bukannya itu harga yang murah untuk semua pelayananku selama ini?" jawab Dea.
Alex kembali terdiam.
"Setelah kita berpisah aku putuskan untuk berhenti dari pekerjaan, aku akan cari kerja di tempat lain."
Alex mengepalkan kedua tangannya dengan erat, satu di bawah meja bahkan sampai terlihat memutih kuku-kukunya. Mendengar kata itu entah kenapa hatinya sakit sekali, seolah Alex adalah korban sesungguhnya dari hubungan mereka berdua..
Alex yang lebih dulu menaruh rasa, sementara Dea yang tak pernah menganggapnya ada.
"Bila perlu ke tempat yang jauh, karena itulah aku perlu banyak uang. Iya kalau langsung dapat kerja, bagaimana jika aku pengangguran dulu?" tanya Dea lagi.
Kalimat yang terasa begitu ringan Dea ucapkan, seperti itulah yang Alex pikirkan.
"Lakukan sesukamu," balas Alex dengan dingin.
"Yes! terima kasih sayang," balas Dea manja. Kopi sudah selesai dia buat dan segera Dea sajikan untuk Alex di atas meja. "Kamu sudah sarapan belum?" tanya Dea lagi dan Alex hanya mampu menjawabnya dengan anggukan kepala.
Dea kemudian duduk di kursinya, mereka menikmati minuman masing-masing. Dea dengan susu hangatnya dan Alex dengan kopi pahitnya, tadi Dea hanya sedikit memberi gula.
"Ayo transfer sekarang ke rekening ku, satu miliar," pinta Dea lagi. Karena tak ingin menganggap hubungan mereka adalah hubungan serius karena itulah Dea bersikap seperti ini. Benar-benar jadi jallang yang sebenarnya.
Alex yang sudah terlanjur muak dengan semua sikap Dea pun segera mengambil ponselnya dan mengirim sejumlah uang pada sang sekretaris. Bukan satu miliar, tapi lima miliar sekaligus. Jika Dea ingin menjadikan hubungan ini sebagai transaksi maka akan Alex turuti.
Melihat jumlah tersebut kedua mata Dea sampai terbelalak di buatnya. "Li-lima miliar? Ini salah Lex, aku kan mintanya hanya satu miliar," ucap Dea kaget sekali. Dia bahkan ingin segera mengembalikan sisanya pada pria tersebut..
Tapi belum sempat melakukan apa-apa, Alex sudah lebih dulu buka suara. "Tidak salah, aku memang memberimu lima miliar," ucap Alex.
Dea menelan ludahnya dengan kasar, karena tak mungkin Alex berikan dengan cuma-cuma. Entah permainan seperti apalagi yang diinginkan oleh pria tersebut. Tapi sekarang Dea tak bisa banyak bicara, karena mendadak lidahnya kelu karena lima miliar tersebut.
"Puaskan aku sebelum kita benar-benar berpisah, aku sudah membayar mu mahal," ucap Alex yang suaranya terdengar begitu dingin.
Dea kini tergugu, kalimat itu mungkin bagi Alex terdengar sangat menyenangkan. Namun bagi Dea justru sebaliknya, kalimat yang seperti pissau dan merobek hatinya dengan brutal.
Lagi-lagi Dea menelan ludahnya dengan kasar, kini tak tahu bagaimana caranya harus bersikap. Selama inipun Dea sudah melakukan banyak cara untuk membuat Alex puas. Rasanya semua hal sudah Dea upayakan. Lalu sekarang apalagi yang harus Dea lakukan? Dea tidak tahu.
Karena hal-hal tabu seperti itu Dea memang tidak memiliki pengalaman, hanya dengan Alex lah dia melakukan semuanya.
"Lepas bajumu," titah Alex kemudian.
deg! Dea tersentak, karena akhirnya Alex benar-benar memperlakukannya seperti jallang. Tapi apakah Dea bisa menolak? tentu saja jawabannya tidak, karena tak mungkin dia mundur dari hubungan yang dia inginkan.
Ya, mereka memang harus seperti ini. Alex yang membeli tubuhnya. Tak pernah ada cinta dalam hubungan mereka berdua, tak pernah ada perasaan tulus.
Tanpa ada kata-kata Dea mulai melepaskan semua baju yang membalut tubuhnya, bahkan braa dan penutup di bawah sana pun dia buka tanpa menunggu perintah Alex yang kedua.
Melihat pemandangan itu Alex pun tergugu, tak menyangka hatinya akan sesakit ini. Sumpah demi apapun dia tak ingin melihat Dea seperti ini.
udh pergi lah sejauh mungkin de...
yg KB saja bisa kebobolan de , dan Alex juga begitu bisa jadi kbnya bocor dan menghasilkan Alex junior🫰