Evan Bramasta, cowok berbadan tinggi, kulit putih dan hidung bangir. Berusia 30 tahun yang berprofesi sebagai guru olahraga di sebuah Sekolah Menengah Atas dan sudah mempunyai seorang istri atas perjodohan dari orang tuanya. Istrinya bernama Sabina Elliana yang bekerja di sekolah yang sama dengan suaminya.
Beberapa bulan belakangan ini, Evan selalu memperhatikan seorang murid perempuan yang selalu membuatnya sakit di bagian bawah. Ia menginginkan gadis itu menjadi miliknya dengan cara apapun.
Namanya Ziyara Liffyani, gadis yatim piatu berparas cantik di usianya yang baru 17 tahun. Dia harus bekerja paruh waktu di toko buku untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Ziyara juga diam-diam sangat menyukai guru olahraganya itu. Apa pun akan Ziyara lakukan untuk menggapai cita-citanya dan mendapatkan keinginannya, termasuk menjadi istri simpanan guru olahraga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bu Guru Selena
Paginya Ziyara terbangun dan terkejut karena ada tangan yang melingkar di perutnya, ia melihat ke sampingnya dan langsung menepis tangan itu ketika tahu kalau tangan suaminya lah yang berada di perutnya.
Ziyara bangun dan langsung pergi meninggalkan kamar tamu tersebut, setelah Ziyara keluar, Evan membuka matanya dan mengusap kasar wajahnya.
Semarah itu kah Ziyara kepadanya?
Berhubung ini weekend, Ziyara sengaja tak membangunkan anaknya pagi-pagi, biar lah dia menikmati hari liburnya sesuka hati.
Tapi namanya anak Evan, dia tak bisa bangun siang, selalu bangun jam 6 pagi, mau itu sekolah atau pun libur.
Seperti sekarang ini, ketika Ziyara sedang membuat sarapan, ia datang menghampiri ibunya untuk membantu, padahal sekarang baru jam 8 pagi.
“Ada yang bisa Bill bantu mom?" Tanya Bill yang tiba-tiba muncul di belakang ibunya.
“Astaga sayang, kaget Mommy nak," ucap Ziyara.
“Hehe maaf Mommy."
“Duduk aja di meja makan, bentar lagi Mommy selesai kok goreng nasinya. Kamu gak perlu bantuin Mommy," ucap Ziyara lagi.
“Okay mom."
Setelah masakannya selesai, Ziyara langsung membawanya ke meja makan dan langsung menyendokkan ke dalam piring anaknya.
“Makasih Mommy," ucap Bill.
“Kembali kasih sayang." jawab Ziyara.
Sedang asik memakan sarapan tanpa bersuara, Evan datang dan menghampiri meja makan untuk ikut bergabung menikmati sarapan bersama anak dan istrinya.
“Loh, kok Daddy keluar dari kamar itu?" tunjuk Bill ke arah kamar tamu.
“Daddy tadi lagi bersihin kamarnya," jawab Evan berbohong.
“Kenapa di bersihin Dad?" tanya Bill lagi.
“Makan Bill, Daddy kan udah bilang kalau lagi makan gak boleh ngobrol," balas Evan.
“Iya Dad."
Ziyara bangun dari duduknya dan menyendokkan nasi goreng ke piring suaminya lalu kembali duduk di tempatnya lagi.
“Bill udah selesai mom, Bill main ke rumah Rommy ya."
“Iya, inget jangan pergi ke sungai lagi ya Bill," peringat Ziyara.
“Iya Mommy, Bill pergi dulu ya."
“Iya."
Sedari tadi Evan tak memakan sarapannya, ia asik memperhatikan istrinya.
“Kalo makanannya gak enak gak usah dimakan," sarkas Ziyara.
“Kamu kenapa sih sayang?" tanya Evan.
“Gak apa apa," jawab Ziyara cepat.
“Mas kan udah jujur, kenapa masih marah?" tanya Evan lagi.
“Aku gak marah, jadi berhenti berfikir kalo aku marah," ucap Ziyara dan berlalu ke dapur membawa piring kotor.
Evan menyusul istrinya di dapur yang sedang mencuci piring dan memeluknya dari belakang, Ziyara tak melawan dan terus melanjutkan mencuci piringnya.
“Assalamualaikum.”
Terdengar suara wanita mengucapkan salam dari luar rumah.
“Siapa sih pagi pagi bertamu," tanya Evan tak senang.
“Lepas, aku mau liat ke depan," ucap Ziyara.
Dengan enggan Evan melepaskan pelukannya dan mengikuti Ziyara dari belakang.
“Assalamualaikum," suara wanita yang tadi memberi salam kembali terdengar.
“Waalaikumsalam," ucap Ziyara sambil membukakan pintu.
CEKLEKKK
“Evan," panggil wanita itu yang melihat Evan di belakang Ziyara.
“Maaf, siapa ya?" tanya Ziyara.
Wanita tersebut tak menghiraukan Ziyara, ia menyerobot masuk ke dalam rumah dan langsung memeluk Evan.
“Kamu kenapa bohong? Katanya mau temuin aku sore kemarin?" tanya wanita itu.
“Lepas Selena," ucap Evan.
“Gak."
Evan melepas paksa pelukan dari wanita bernama Selena yang ternyata adalah mantannya yang ia ceritakan semalam pada Ziyara.
“Kamu tahu dari mana alamat rumah aku?" tanya Evan.
“Aku nanya sama Bill semalam," jawab Selena.
Ziyara yang melihat itu pun semakin percaya jika Evan memang tak bisa berubah, ia tetaplah lelaki yang suka berselingkuh.
Ziyara dengan santai berjalan melalui dua insan yang saling merindu itu dan berjalan menuju lantai atas untuk ke kamar mereka.
“Apa maksud kamu nyamperin aku ke sini, ha?" geram Evan.
“Ya karena kamu udah bohong sama aku dan gak nemuin aku kemarin," jawab Selena.
“Sekarang kamu pergi dari sini, aku gak mau istri aku salah paham lagi sama aku," ucap Evan.
“Aku tahu kalau kamu udah cerai sama Sabina Evan, kamu gak bisa bohongin aku. Kamu juga udah janji sama aku kalau kamu udah cerai dari Sabina kamu bakal nikahin aku, sekarang tepatin janji kamu."
“Astaga, itu udah dulu banget Selena dan aku janji waktu aku masih cinta sama kamu, setelah setahun aku nikah sama Sabina rasa cinta aku ke kamu itu udah gak ada, kamu juga menghilang dulu kan," jelas Evan.
“Aku gak peduli mau itu janji lama atau pun barusan, dan kamu pasti bohong kalau udah gak cinta sama aku."
“Kamu pergi dari sini atau aku us—"
Belum sempat Evan menyelesaikan kata-katanya, Selena mencium dan menahan tengkuk Evan agar ciuman mereka semakin dalam.
“Daddy," teriak Bill yang melihat ayah dan gurunya berciuman.
Evan yang terkejut pun langsung mendorong Selena dan mengelap kasar bibirnya.
“Ibuk Selena," ucap Bill.
Ziyara yang mendengar suara anaknya pun langsung keluar dari kamarnya lalu menuruni anak tangga untuk menghampiri Bill.
“Bill," panggil Ziyara.
“Mom, tadi Daddy sama buk Selena kiss," adu Bill pada ibunya.
Ziyara dengan lembut langsung menyuruh anaknya untuk masuk ke kamar.
“Sayang, tungguin Mommy di kamar ya," ucap Ziyara.
Bill pun mengangguk dan langsung pergi ke kamarnya.
“Aku udah bilang sama kamu, kalau kamu mau ngapa ngapain sama perempuan ini, jangan sampai anak aku lihat!" ucap Ziyara sambil menunjuk ke arah Selena.
“Heh, kamu siapa? Gak usah nunjuk-nunjuk saya kayak gitu," balas Selena.
Ziyara yang punya sabar setipis tisu pun langsung mengegas.
“Heh, mata Lo buta? Lo gak liat foto yang terpampang jelas di depan mata Lo? Foto nikahan gue sama dia," tunjuk Ziyara pada Evan.
“Dan telinga Lo tuli? Budek? Gak denger Lo Bill manggil gue apa? Gue kasi tahu sama Lo ya, Bill itu anak gue sama dia. Kalau Lo mau enak-enak sama dia, mau kawin atau nikah sama dia, tunggu gue cerai dulu, setelah itu terserah Lo berdua," ujar Ziyara langsung meninggalkan dua manusia di depannya itu.
“Sayang," panggil Evan dan ingin mengejar Ziyara, tapi tangannya ditahan oleh Selena.
“Lepasin tangan gue dan pergi dari sini atau gue bunuh Lo bangsadh!" ucap Evan dan menghempaskan tangan Selena.
Selena yang tak punya rasa takut pun langsung memeluk tubuh Evan dari belakang.
“Perempuan itu gak mungkin istri kamu kan Evan?" tanya Selena.
Evan membalikkan tubuhnya dengan paksa lalu mencekik leher Selena.
“Dia istri gue, sebelum cerai dari Sabina, dia udah jadi istri gue," jawab Evan dengan tangan yang semakin kuat mencekik Selena.
Selena memukul-mukul tangan Evan agar melepaskan cekikan pada lehernya.
Ziyara yang tadi naik ke atas untuk mengemasi pakaiannya dan pakaian anaknya ke dalam koper kini menuruni anak tangga dan melihat jika Evan sedang mencekik Selena yang sudah seperti ingin habis nyawa, ia pun segera berlari menghampiri Evan untuk melepaskan tangannya dari leher Selena.
“Mas," pekik Ziyara. “Kamu gila ya, lepasin," ucap Ziyara.
“Gak, gara gara dia kamu jadi salah paham," balas Evan.
“Lepasin atau aku sama Bill pergi dari sini," ancam Ziyara.
Evan memandang wajah Ziyara dan langsung melepaskan Selena yang sudah lemah tak berdaya.
Evan yang melihat sudah ada dua koper di anak tangga pun langsung berlutut memeluk kaki istrinya.
“Jangan pergi, jangan tinggalin mas sayang, sumpah demi apapun mas gak ada hubungan apa-apa sama dia," ucap Evan dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Untung saja Ziyara masih menyuruh Bill menunggu di kamarnya, kalau tidak hancur sudah image bapak yang keren di mata Bill.
“Bangun mas, kamu apa-apaan sih kayak gini."
Evan menggeleng ribut, ia semakin erat memeluk paha istrinya.
“Bangun, cepet anterin pacar kamu ke rumah sakit," ujar Ziyara.
“Enggak, dia bukan pacar mas sayang," balas Evan dengan tersedu-sedu.
“Ya udah kalau bukan, awas."
“Jangan pergi, kalau kamu tetap pergi mas bunuh diri," ancam Evan.
Dengan rasa kesal, Ziyara mencubit dengan keras lengan suaminya.
“Aaawhhh, sakit sayang."
Sontak Evan melepaskan pelukannya dari paha Ziyara, ia mengusap usap lengannya yang terasa panas.
“Telpon temen kamu suruh bawa dia ke rumah sakit," perintah Ziyara.
“Iya sayang iyaaa."
Evan segera berjalan ke kamarnya untuk menelpon temannya dan langsung menggeret ke atas dua koper yang ada di anak tangga tadi, setelah menelpon dan tak perlu menunggu lama, mereka tiba dengan mobil dan langsung membawa Selena ke rumah sakit.