Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!
Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.
Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.
1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.
Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Aluna disekap?!
kesel guys... yang sabar ya, author mah juga tarik nafas inihh... 🤐
Hujan semakin deras menghantam, Aluna merasa sedih di dalam resor mengapa harus hujan turun di saat penting ini? Apakah Tuhan tidak merestui honeymoon mereka? pikir Aluna, dia sudah satu jam di sana berdiri, tak berhenti memandang dari balik kaca, seolah yang dilihat Arkan di atas ranjang, wanita itu sedang meratapi kesedihan.
Arkan tak mau minta maaf akan perbuatannya itu, dia memang melampaui batas. Namun motto hidup pria itu adalah bila orang yang memancing kemarahannya, untuk apa dimaafkan?
Itulah yang ia maksud, mereka berdua hening-hening saja tak ada yang membuka suara.
Saat mereka tak sadar bahwa ada orang aneh yang menyelinap masuk ke dalam dengan jas hujan, pria itu membuka tudung jas hujannya. "Bos, they are here?" memastikan sekali lagi dengan menelepon.
(Bos mereka disini?)
"Ck, I say yes! Why you asking almost 100 hundred per second time!!" (Kenapa kamu selalu tany hampir 100 kali per detik!)
"Just... for checking... I don't want to waste my time...the guy you like is so rich that he rents this island for 4 days" (Untuk check saja, aku tidak mau membuang waktu disini, Pria yang kau suka sangat kaya, dia mampu menyewa pulau ini selama 4 hari)
"Ck, alright Kaza just doing!!" seru seorang wanita yang memiliki suara serak berteriak kencang, dari nadanya itu terdengar seperti pita suara Clarissa.
Pria berambut kriwil tersebut segera menjalankan rencananya, dia diam-diam berjinjit, bersembunyi saat Aluna lewat, pergi ke dapur.
'Oh thats girl? ' batin pria berkumis tipis itu, dia diam-diam membuntuti Aluna bahkan sampai wanita itu akan menaruh makanan yang sudah disiapkan para pelayan di resor ke meja ia tak sadar diam-.diam sudah dibuntuti.
Aluna menoleh ke belakang, ia merasakan hawa orang lain di rumah ini. "Apa mungkin perasaanku saja? Bisa jadi itu Mbak... Mbak yang tadi..." pikir Aluna, dia menyantap makan siang dengan santainya, dia terus melamun entah memikirkan apa.
Kaza tak peduli dengan wanita itu yang tak waspada sama sekali, dari belakang dengan sapu tangan yang sudah diberi bius dia bekapkan mulut Aluna dari belakang.
"Emmh! —"
Aluna terkejut, dia melotot ke belakang—membelalak tak percaya bahwa ada yang akan membuatnya pingsan, namun apalah daya dia tak bisa teriak meminta tolong karena sekarang sudah terkapar jatuh.
"Boss! This is the woman. Where do you want to take her? If we take her off the island, it’ll be troublesome. Even though the man you like is careless and didn’t provide tight security at this house, people outside might still find out.”
(Bos! Ini sudah perempuannya. Mau dibawa ke mana? Kalau kita membawanya keluar pulau, itu akan merepotkan. Meskipun pria yang kau sukai ceroboh dan tidak memberikan pengamanan ketat di rumah ini, orang-orang di luar tetap bisa mengetahui. )
“Alright, good work, darling. Now take her to the warehouse at that place. Then threaten the man I mentioned with a terror letter.”
(Baik, kerja bagus, sayang. Sekarang bawa dia ke gudang di tempat itu. Lalu ancam pria yang sudah kusebutkan dengan surat teror.)
“What should it say, Boss?”
“What’s in it? Of course, make Arkan surrender and force him to return to the airport that very night. Tell him that Aluna has already gone back to their country.”
(Isinya apa? Tentu saja buat Arkan menyerah dan paksa dia kembali ke bandara malam itu juga. Katakan padanya bahwa Aluna sudah kembali ke negara mereka.)
“Yes, Boss!!”
Segera pria itu mengerjakan apa yang ditugaskan, dengan secepat kilat dia telah menempelkan surat di dinding dan menggendong tubuh Aluna ke gudang sesuai permintaan Clarissa.
Pria itu menaruh Aluna pelan-pelan, "I'm sorry girl... if I don't do it my best my family get attack..."
(Maafkan aku, gadis… kalau aku tidak melakukan yang terbaik, keluargaku akan diserang.) batinnya penuh kesedihan, dia menunggu di gudang ini daripada harus meninggalkan wanita itu sendirian, Kaza sebenarnya adalah orang baik hati yang terhalang oleh takdir pekerjaan.
...****************...
Arkan mondar-mandir gak jelas, sudah 5 jam wanita itu tak kembali ke dalam kamar tentu saja siapa yang tak akan panik? Pria itu segera berlari keluar, dia berhenti di depan sebuah kertas yang menempel di dinding plakat kayu.
...(Greetings, Mr. Arkan....
...I apologize, but I must ask for your permission to take your wife back home. I sold her because the customers are very interested in your wife....
...After all, you don’t really care about your wife, do you?...
...If I sell her again, I’ll make a profit....
...If you’re wondering how I managed to breach the resort’s security, perhaps it’s because I am one of them....
...Goodbye, sir. Return to your country quickly.)...
...(Salam, Tuan Arkan....
...Saya mohon maaf, tetapi di sini saya harus meminta izin Anda untuk membawa istri Anda kembali pulang. Saya menjualnya karena para pelanggan sangat tertarik pada istri Anda....
...Lagipula, Anda tidak benar-benar peduli pada istri Anda, bukan?...
...Jika saya menjualnya lagi, tentu saya akan mendapat keuntungan....
...Jika Anda bertanya-tanya bagaimana saya bisa menembus keamanan resort, mungkin itu karena saya adalah salah satu dari mereka....
...Selamat tinggal, Tuan. Kembalilah ke negara Anda secepatnya.) ...
Arkan meremas kertas itu, dia yang kepalang marah tidak berpikir dengan cermat isi surat, malah langsung memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper, termasuk barang-barang milik Aluna. Ia menelepon Dion yang juga ada di Maldives hanya saja dia menginap di vila dekat bandara.
"Dion! Cepat kau kembali ke Indonesia dulu! Pesankan tiket pesawat untuk saya!"
"Ya Tuan? Lho kok cepat sekali, belum sehari..." jawab di seberang telepon, padahal Dion baru saja memanggang popcorn untuk camilan di kala hujan, tapi malah harus dia taruh lagi karena tuannya menyuruh memesankan tiket.
"Untuk sekarang boarding sedikit susah karena jamnya..."
"MALAM INI JUGA DION! KAU MAU SAYA PECAT HAH!"
"Ma—maaf tuan, saya akan siap-siap... akan saya kirimkan mobil pribadi untuk menjemput Anda Tuan..."
"Ck, yang cepat... jangan lama-lama..."
Segera Dion membereskan barangnya dan memesan tiket pesawat pribadi, namun sayangnya sudah sold out. Seharusnya mereka memesan tiga hari yang lalu, Dion menelepon lagi, "Maaf Tuan, sudah sold out untuk kelas VIP..."
"Ck, pesawat biasa saja!"
"Ap—apa Anda yakin Tuan?"
"IYA BANGSAT!! CEPAT!!!"
...****************...
Mata Aluna berkedut-kedut saat ia tidur, ia tak sadar kalau dirinya sedang disekap di gudang. Ia pikir berada di kamar tidur, tapi kamar tidur apa yang permukaannya kasar? Saat ia sudah mencerna apa yang terjadi, ia berteriak kala Kaza, yang juga ikut tertidur di sampingnya.
"AAA!! Si—siapa kau!!" seru Aluna dia sampai mundur-mundur sendiri, ia mengelus kepalanya setelah terhantuk gagang meja yang sudah usang.
"Ssst, keep silent!"
(Tetap diam. )
Mulut Aluna dibekap, dia tak berani bergeming. Pria berambut kriwil di depannya berbicara dengan bahasa Inggris, Aluna bingung harus menjawab apa.
"Sorry, yes sir... please sorry me..."
"What do you say?"
Aluna membekap mulutnya cepat, dia geleng kepala. Lebih takut mengeluarkan bahasa Inggrisnya daripada disekap di dalam gudang.
...****************...
Tanpa bertanya dahulu tentang kebenaran surat teror tersebut kepada pelayan pulau Maldives, pria itu langsung berlari setelah beberapa mobil hitam menjemputnya.
Dion memberikan payung setelah keluar dari mobil,
"Tuan silakan masuk..."
Arkan menepis debu yang ada di ujung jasnya, "Sudah cari tahu siapa saja yang sekiranya membawa perempuan asing saat mendarat di Indonesia Dion?"
"Tentu saja Tuan! Bahkan kami sudah menyuruh orang yang berada di bidang ilegal untuk mengecek semua barang masuk ke Indonesia termasuk dari perdagangan sabu-sabu tersebut. Darat, laut, bahkan udara semua sudah saya kerahkan ke posisi masing-masing Tuan." ucap Dion, walau begitu Arkan masih tak puas. Selama perjalanan saja dia membentak sang sopir, "Cepat bisa tidak! Cepat! Cepat!!"
Sesampainya di bandara paspor Arkan dicek, karena ia pesan kelas ekonomi tentu akan membutuhkan waktu lama. 2 jam kemudian, setelah paspornya melewati para petugas tak lupa Dion berterima kasih pada petugas. Arkan berhenti di tengah jalan, ia merasa ada yang janggal.
"Tunggu Dion,"
"Iya Tuan?"
"Katamu boarding pesawat baru jam segini kan? Kalau jalur laut bagaimana?"
"Oh tentu itu.... Sebentar Tuan akan saya telepon dulu," ucap Dion, lalu diangguk-angguk kan kepalanya setelah mendapat informasi. "Kata teman saya Tuan, kapal yang selalu berada di pulau Maldives berada di jam tengah malam jadi tak mungkin,"
Dion langsung berhenti bicara, dia langsung tahu kalau mereka dikelabui.
Arkan berdecak, dia kembali lagi ke belakang menatap surat tersebut berkali-kali sambil jalan cepat.
..."If you’re wondering how I managed to breach the resort’s security, perhaps it’s because I am one of them. "...
...(Jika Anda bertanya-tanya bagaimana saya bisa menembus keamanan resort, mungkin karena saya adalah salah satu dari mereka.) ...
Tulisan ini teringiang di pikiran Arkan, dia menepuk jidat ceroboh. 'Kenapa tak tanya dulu ke sekitar bodoh...'
Mereka kembali ke resor, cukup memakan waktu yang sangat lama. Setelah semua pengawal dikerahkan ke sekitar untuk mencari, barangkali bisa ketemu. Arkan membentak Edola yang menyuruhnya untuk terus tenang, "I’m sorry, sir. Please forgive me. I will immediately search the surrounding area."(Maaf, Tuan. Mohon maafkan saya. Saya akan segera mencari di sekitar area ini.)
"Hurry up! Don’t just stand there! Do you want me to report you to your boss?!"(Cepat! Jangan cuma berdiri saja! Mau kulaporkan ke bosmu?!)
"Yes sir..."
Segera Edola berlari kepontalan sambil membawa senter karena cuaca buruk, juga awan gelap—mendung.
...****************...
3 jam yang lalu...
"Do you want to eat? This is for you."
"For me?" Aluna ragu apakah snack ringan yang pria itu berikan padanya beracun atau tidak, tapi karena tadi tak sempat makan ia terpaksa menerimanya namun sesungguhnya dia terpaksa seperti ini.
"Why... you em... culik itu bahasanya apa ya? Oh aku ingat! Kidnap!"
"Why you kidnap me!!!" seru Aluna sampai menunjuk-nunjuk, tapi dia juga memasukkan snack jagung ke dalam mulutnya.
Kaza mendesah berat, "I just hope this plan doesn’t fail… "
Plan? Aluna berpikir, apakah yang dimaksud itu pesawat? pikirnya, tapi dia sangat bosan di sini dia juga tak merasa dari tadi pria itu mengancamnya dengan perkataan kasar atau menyakitkan.
"Hei asalmu itu dari mana? Kenapa ngurung aku di sini? Siapa yang nyuruh?"
"What you say?"
"Aduh gila... bagaimana ini ya ngomongnya..."
Aluna berpikir sejenak, dia mencoba merangkai kata-kata yang pas sesuai maksudnya. "I mean, where are you from? Anda why you... and me here... and... who em... who—"
Sejauh itu Kaza sudah mengerti, dia memalingkan pandangan mulai bercerita. "I don’t know where to begin, but it feels incredibly difficult for me to tell this story to a stranger. My name is Kaza. I was born in an eastern country. I am poor, and my family often doesn’t even have enough food to eat each day. I tried to take a job someone offered me—one with a fantastic salary—but it turned out I was kidnapped, and I don’t even know which country I was taken to. The country uses a language exactly the same as yours. Fortunately, I can speak English, so I didn’t have much trouble communicating. I was ordered to keep you captive so that your husband would return to the airport as soon as possible."
(Aku tidak tahu harus mulai dari mana, tapi rasanya sangat sulit bagiku untuk menceritakan ini kepada orang asing.Namaku Kaza. Aku lahir di sebuah negara di timur.Aku miskin, dan keluargaku sering kali bahkan tidak memiliki cukup makanan untuk dimakan setiap hari. Aku mencoba menerima pekerjaan yang ditawarkan seseorang—pekerjaan dengan gaji fantastis—namun ternyata aku diculik, dan aku bahkan tidak tahu ke negara mana aku dibawa.Negara itu menggunakan bahasa yang sama persis dengan bahasamu. Untungnya, aku bisa berbahasa Inggris, jadi aku tidak terlalu kesulitan untuk berkomunikasi.Aku diperintahkan untuk menyekapmu agar suamimu segera kembali ke bandara secepat mungkin.)
"Emm... I think I know what you mean but I dont know what to say..." pikir Aluna semakin dipikir otaknya malah meledak, orang yang menyebut dirinya Kaza tersebut memiliki nada yang sangat cepat, ia tak tahu bagaimana cara menyuruh pria itu untuk bicara pelan-pelan.
Sudah Aluna bilang, sejak insiden kecelakaan setelah kelulusan, kepalanya yang terbentur melupakan hampir semua pengetahuannya dalam bahasa Inggris dan beberapa kenangan masa kecil. Aluna juga ikut lesu, dia ditepuk bahunya pelan dari belakang.
"Okey, do you want play game?"
Mendengar kata game, Aluna langsung mendongak.
"Ehm yes... what game play? We game play?"
"Thats... fun word, from my country, easy and funny... "
"Okey im first, Y!" ucap Kaza mengawali.
"Em... O?" lanjut Aluna.
Lalu Kaza melanjutkan, "U?"
"Ah ga tahu ah Ka—kaza! Main yang lain aja, terus kapan nih aku dikeluarkan! Kenapa malah main game!!"
Kaza tak tahu apa yang dia katakan, jadi dia terus melanjutkan permainan.
...****************...
Setiap ruangan diselidiki satu per satu, bahkan para pelayan di sini ditanyai semua dan diberikan pertanggungjawaban yang justru mereka benar-benar tidak ketahui apa permasalahan sebenarnya.
Arkan berhenti di tengah jalan, dia dibiarkan kehujanan karena semua pengawalnya sudah ngacir entah kemana.
"DIAM! DIAM KAU!!! KAU TIDAK TAHU APA-APA SOAL SAYA! ITU MASA LALU! KAU TIDAK TAHU APA-APA, KAU HANYA BUDAK! KAU TAK PERLU IKUT CAMPUR!!!"
Ctyarr—seketika petir menghantam, kepala Arkan tertunduk dia menutup kedua telinganya, "Sialan... sialan... di mana kau jalang..."
Brak!
Pintu gudang didobrak, Aluna dan Kaza sudah menjadi teman sejak mereka bermain bersama. Tapi Kaza tak akan menduga kalau ada orang yang akan mengetahui keberadaan mereka.
"Hosh—hosh..."
Seorang pria dengan hanya menampilkan bayangannya saja membawa linggis yang baru saja dia gunakan untuk membobol pintu gudang paksa, nampak wajah pria itu terlihat—Aluna gembira seketika bahwa itu suaminya.
"Mas Ar—"
"EMMH—"
Aluna kembali dibekap, dia tidur untuk kedua kalinya. Tentu saja Kaza tak akan membiarkan mereka bertemu, untuk itu dia membuat wanita ini tertidur dulu lalu mencoba untuk tetap diam di saat Arkan mengelilingi isi gudang.
Arkan berjalan dengan sepatu dan pakaian basah kuyup semua, ia memandang dari kejauhan ada kaki bening yang dia tahu bahwa itu adalah milik Aluna. Segera Arkan berlari, matanya melotot saat melihat pria bermasker hitam bertudung jas hujan sedang mengancam di pojok tembok, dengan menyayat pelan leher perempuan itu.
"Don’t come any closer, or I’ll kill your wife right here!"
(Jangan mendekat, atau aku akan membunuh istrimu di sini juga!)
"ANJING!"
Arkan berada di situasi yang sangat sulit di sini, ia dihadapkan pilihan yang harus membuatnya melihat bagaimana kulit lembut tersebut dengan mudah tersayat hanya dengan didekatkan saja mata pisaunya.