Masih ingatkah kalian dengan pasangan fenomenal Satria dan Sarah?
Kini mereka sudah memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Arkana.
Ya, kehidupan Arkana tiba-tiba saja berubah 360° saat dia harus bertanggungjawab dan menikahi seorang gadis yang tidak di kenalnya sama sekali.
Lalu bagaimana kehidupan mereka, akankah Arkana bisa menjadi suami yang baik, atah malah sebaliknya.
Simak cerita mereka dan sebelum itu baca dulu cerita sebelumnya oke.
My Wife Is, My sugar mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seserahan
Arkana sudah menunggu makinya pulang. Dia terlihat kesal karena sang mami tidak mengajaknya pergi dengan Rania.
"Mi, kenapa gak ajak aku sih?" tanya Arkana ketika melihat maminya pulang.
"Minggir, mami mau mandi. Capek ngabisin duit kamu!"
"Elah, duit Arkana banyak gak akan habis juga." jawabnya sombong.
"Yaudah, mending kasih ke calon istri kamu. Masak iya anak perempuan dan calon menantu satu-satunya dari Satria dan Sarah tidak memakai perhiasan. Eh, awas aja kalau sampai cincin pertunangan kamu jelek. Bikin malu mami nanti!" Arkana hanya memutar bola matanya malas.
"Yaudah deh, besok Arkana ajak Rania pergi buat pilih cincin. Atau ke Singapura aja ya mi?" tanya Arkana yang membuat maminya berhenti.
"London aja sekalian, atau gak Paris." sambung Sarah terlihat kesal dengan putranya.
"Boleh juga tuh idenya!" jawab Arkana pada maminya.
"Terserah kamu deh!" balas Sarah meninggalkan Arkana di sana.
Sedangkan di rumahnya, Rania masih terlihat bingung menatap barang-barang yang di beli oleh ibu mertuanya tadi.
"Kenapa, nak?" tanya ibunya datang menatap putrinya.
"Gak apa-apa, buk. Cuma bingung aja mau Tarok di mana barang-barang ini. Lagian kamar aku kan kecil." jawab Rania.
"Yaudah, di susun sebisanya dulu. Nanti kita pikirin lagi deh caranya. Apalagi berita pernikahan kamu sudah menyebar dan-"
"Dan apa, buk?" tanya Rania menatap ibunya.
"Tadi Dimas ketemu ibu di dekat ujung jalan. Dia tanya apa bener berita itu." Rania terlihat murung.
Dimas, laki-laki yang disukainya itu bukan?
"Terus ibu bilang apa sama mas Dimas?" tanya Rania penasaran.
"Ibu bilang bener dan Dimas hanya tersenyum terus pamit sama ibuk." jawab ibunya.
Rania yang mendengar hal itu terlihat sedih. Laki-laki yang selalu baik padanya, dan berjanji suatu saat akan menikahinya jika uangnya sudah cukup. Tapi dia malah ingin menikah dengan orang lain.
Jika saja malam itu tidak terjadi, mungkin semuanya akan baik-baik saja.
"Yaudah, mandi sana. Habis itu makan malam. Bapak beli sate kambing sama ibu masak oseng tauge kesukaan kamu." Rania hanya bisa menganggukkan kepalanya saja.
Sesampainya di meja makan, samar-samar Rania mendengar pembicaraan kedua orang tuanya tentang prosesi adat pelangkahan yang di minta oleh kakaknya.
"Raisa, adik kamu mau menikah, ya minta sewajarnya aja kenapa sih." tegur ibunya marah.
"Kenapa sih buk? lagian cuma mobil doang. Duit keluarga calon suami Rania banyak, gak akan habis cuma buat mobil aja. Bahkan kalau ibu mau tau, mobil yang Raisa minta gak sebanding sama harga tas Rania yang di box orange itu buk." Raisa masih bersikeras untuk meminta mobil.
Rania duduk di kursinya dan ikut mendengarkan pembicaraan keluarganya saat ini.
"Ya walau begitu sewajarnya aja dong. lagian adek kamu belum kerja juga. Apa gak keterlaluan kamu Raisa?" kali ini bapaknya ikut bersuara.
"Terserah kalian deh. Lagian disini yang di anggap anak cuma Rania aja kan? Aku sama Rafa gak di anggap."
"Raisa, berhenti!" seru bapaknya, tapi Raisa tetap berjalan meninggalkan meja makan keluarganya.
"Bapak bilang berhenti Raisa!!!" kali ini suaranya lebih tinggi lagi.
Akhirnya Raisa memilih mengalah dan kembali duduk di meja makan bersama keluarganya.
Tapi, sebelum itu dia sempat menatap adik perempuannya itu dengan tatapan tidak suka yang membuat Rania hanya bisa menundukkan kepalanya saja.
*
*
*
Keesokan harinya, Rania yang sedang menyiram tanaman di depan rumahnya di kejutkan dengan kedatangan mobil hitam mengkilap yang dia yakini milik Arkana.
Benar saja dugaannya, laki-laki itu turun dari mobilnya dan berjalan ke arahnya saat ini.
"Rania..." panggil Arkana melihat gadis itu.
Rania tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Kata mami hari ini aku suruh jemput kamu buat cari cincin pertunangan sama sekalian seserahan untuk kamu." ujar Arkana.
"Bukannya kemaren udah? Ini seserahan apa lagi?" tanya Rania memberanikan diri.
Dia pikir itu seserahan yang di berikan keluarga Arkana untuknya.
"Bukan, itu mami kasih ke kamu. Biasanya mami kalau lagi kesel memang suka belanja, dan hari ini aku di suruh mami buat ajak kamu pergi buat cari cincin." sambung Arkana.
"Yaudah, bentar. Ganti baju dulu, ya Om-"
"Om lagi, om lagi. Panggil Mas kek, sayang kek, apa gitu. Masak iya ganteng gini di panggil om." gerutu Arkana.
Namun, Rania tidak bereaksi. Dia pergi meninggalkan Arkana dan masuk ke rumahnya. Laki-laki itu mengikuti ya dsn bertemu ibu serta calon bapak mertuanya.
"Ibu sama bapak gak lupa kan?" tanya Raisa pada kedua orang tuanya.
Dia sengaja mengatakan hal seperti itu agar mereka bicara dengan Arkana.
"Raisa, stop." Arkana yang menatap itu cukup aneh.
"Langsung aja deh. Aku mau minta mobil untuk pelangkahan dan Rafa minta motor sport!"
"Cukup? Kalau ada lagi bilang aja. Gue kaya, jadi gue bisa beliin yang kalian mau. Lagian cuma mobil doang kok!" ucap Arkana dengan penuh kesombongan.
***
next my