Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan Menjaga Jarak
Restoran itu terletak di salah satu mal di Jakarta Selatan. Tidak terlalu ramai, tidak pula sepi. Lampu-lampu hangat menggantung rendah, menciptakan suasana tenang yang justru terasa menekan bagi Aruna.
Ia datang lebih dulu dan memilih tempat duduk di dekat jendela, memesan segelas air putih, lalu meletakkan ponselnya di meja. Tangannya terlipat rapi di pangkuan, sikap tubuhnya tegak seolah ia sedang menghadapi sidang, bukan pertemuan dengan laki-laki yang pernah ia cintai terlalu dalam.
Beberapa menit kemudian, Revan datang. Aruna langsung mengenalinya, meski penampilannya kini jauh lebih dewasa. Setelan kemeja gelap yang rapi, jam tangan mahal di pergelangan, dan aura percaya diri yang selalu melekat padanya. Namun ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya tidak setenang dulu.
“Maaf, aku terlambat,” kata Revan, menarik kursi di hadapan Aruna.
Aruna mengangguk singkat. “Gak apa-apa.” Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi.
Keheningan menggantung di antara mereka. Revan memperhatikannya diam-diam, cara Aruna duduk, cara ia menghindari tatapan mata, cara bernapasnya yang teratur seperti sedang menahan sesuatu.
“Kamu berubah,” ucap Revan akhirnya.
Aruna menatapnya sekilas. “Waktu bisa membuat seseorang berubah.”
Revan tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Kamu terlihat lebih tenang.”
“Ketenangan membuat kita jadi dewasa,” jawab Aruna pelan, lalu kembali menatap keluar jendela.
Pelayan datang membawa menu, tetapi Aruna menolak dengan halus. Revan pun hanya memesan kopi hitam. Mereka berdua tahu, pertemuan ini bukan tentang makan.
“Papa sudah bicara padaku,” kata Revan, langsung ke inti pembicaraan.
Aruna mengangguk. “Ayahku juga.”
“Dan kamu setuju?” Nada suara Revan terdengar datar, seolah ia sudah tahu jawabannya.
“Aku belum menjawab,” kata Aruna jujur. “Tapi aku datang hari ini karena aku ingin kita bicara sebagai dua orang dewasa. Tanpa orang tua. Tanpa ada embel-embel janji lama.”
Revan menyandarkan tubuhnya. “Silakan.”
Aruna menarik napas dalam-dalam. Ini bukan percakapan yang mudah. Tapi ia sudah mempersiapkan dirinya sejak menerima pesan pertama Revan.
“Aku masih mencintai kakak,” katanya akhirnya, tanpa melihat wajah Revan.
Revan terdiam mendengar kata-kata jujur dari Aruna.
“Tapi aku tidak ingin kembali menjadi Aruna yang sama,” lanjutnya, suaranya tetap tenang meski dadanya terasa sesak. “Aku tidak ingin berharap. Tidak ingin menunggu. Tidak ingin terluka lagi.”
Revan menatapnya lekat-lekat. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya, tapi ia menahannya.
“Kalau pernikahan ini terjadi,” kata Aruna, kini menatap Revan, “aku ingin kita menjaga jarak. Secara fisik dan emosional.”
“Maksud kamu?” tanya Revan.
“Aku akan menjalani peranku sebagai istri,” jelas Aruna. “Aku akan menghormati kamu, keluarga kamu, dan pernikahan ini. Tapi aku tidak akan menuntut cinta. Tidak akan menunggu perasaanmu berubah padaku.”
Revan menghela napas pendek. “Kamu ingin menikah tanpa perasaan?”
“Bukan,” Aruna tersenyum pahit. “Aku ingin menikah tanpa harapan.”
Kalimat itu menghantam Revan lebih keras dari yang ia duga.
“Dan Viona?” tanya Aruna pelan, tapi tajam.
Revan terdiam sejenak. “Itu urusanku.”
“Aku tidak mau terlibat,” ujar Aruna tegas. “Aku tidak akan cemburu. Tidak akan bertanya. Dan kita tidak boleh saling mencampuri urusan masing-masing. Tapi aku juga tidak ingin dipermalukan.”
Revan mengangguk perlahan. “Itu adil.”
Dan anehnya, ia memang merasa begitu. Jarak ini kesepakatan dingin ini, terasa seperti jalan keluar yang mudah. Tanpa tuntutan dan tanpa tekanan untuk mencintai.
“Baik,” kata Revan akhirnya. “Aku setuju.”
Aruna menunduk. Entah kenapa, persetujuan itu justru membuat dadanya terasa kosong.
“Kita akan menikah,” lanjut Revan. “Sebagai kesepakatan keluarga. Dan kita akan menjaga batas.”
Aruna mengangguk. “Terima kasih sudah jujur.”
“Terima kasih karena bersikap dewasa,” balas Revan.
Mereka terdiam lagi. Kali ini bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, tapi karena terlalu banyak yang tidak mungkin diucapkan.
Revan meminum kopinya. “Tanggalnya akan ditentukan oleh orang tua kita.”
“Aku tahu.” Jawab Aruna singkat.
“Kalau kamu berubah pikiran.”
“Tidak akan,” potong Aruna lembut tapi tegas. “Aku sudah membuat keputusan.”
Revan mengangguk. Ia berdiri lebih dulu. “Aku akan mengantarmu.”
“Tidak perlu,” Aruna ikut berdiri. “Aku bawa mobil sendiri.”
Mereka berjalan keluar dari restoran bersama, berdampingan tapi tetap berjarak. Di depan pintu mall, mereka berhenti.
“Sampai bertemu lagi,” kata Revan.
Aruna mengangguk. “Sampai bertemu.”
Revan pergi lebih dulu. Aruna menatap punggungnya yang menjauh, merasakan sesuatu di dadanya runtuh perlahan.
Saat Aruna melangkah pergi, ponselnya kembali bergetar di dalam tas. Satu pesan masuk dari Revan. “Aku harap jarak ini cukup untuk kamu.”
Aruna menatap layar itu lama dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka dimulai, ia bertanya dalam hati. Apakah jarak ini benar-benar akan melindunginya atau justru menjadi awal dari luka yang lebih dalam.
Malam itu, setelah sampai di rumah, Revan mencoba untuk tidur. Ia berusaha memejamkan matanya tapi entah kenapa ada perasaan aneh yang memenuhi hatinya, ia mengira akan merasa lega setelah kesepakatan itu tercapai. Nyatanya, perasaan yang muncul justru sebaliknya dan entah mengapa, hal itu membuat dada Revan terasa tidak nyaman.
Ia bangun dari tempat tidurnya, menatap gelas air di sampingnya yang sudah mengembun. Aruna barusan berkata dengan suara datar, tanpa nada menuntut, tanpa drama. Seharusnya itu memudahkan. Bukankah sejak awal ia sendiri yang tidak ingin pernikahan ini menjadi rumit?
Namun kenyataannya, Revan justru merasa seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia miliki. Ia teringat tatapan Aruna saat berkata, “Aku tidak ingin berharap pada cinta yang dulu pernah menolakku.”
Revan menghela napas panjang, merogoh ponselnya. Jemarinya refleks membuka layar chat, nama Aruna ada di sana dan baru tersimpan, masih terasa asing. Ia mengetik satu kalimat lalu menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapus lagi.
“Kenapa aku jadi orang bodoh seperti ini? Ada apa denganku?” gumam Revan.
Apakah jarak yang Aruna minta benar-benar akan memudahkannya atau justru akan membuatnya perlahan sadar, bahwa perempuan itu bukan sekadar kewajiban keluarga?
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Satu pesan masuk dari Viona. “Kita perlu bicara. Sekarang.”
Revan menatap layar itu lama, sementara bayangan Aruna yang berjalan pergi masih tertinggal di benaknya.
“Bicara apa, Vio? Ini sudah malam, besok aja.” Balas Revan.
“Ini penting Van, apa kamu sudah bicara dengan orang tua kamu tentang kita? Kamu sudah membatalkan perjodohan itu kan?” tanya Viona.
Revan terdiam sesaat, ia bingung memberikan jawaban. “Belum, waktunya belum tepat.”
“Lalu kapan Revan? Sampai kamu menikah dengan perempuan lain, hah?!” terlihat kemarahan dalam kata-kata yang diketik oleh Viona.
Tiba-tiba Revan sadar kalau ia sudah menempatkan dirinya diantara dua pilihan. Dan tanpa ia sadari, satu pilihan kecil akan menentukan siapa yang benar-benar akan ia sakiti selanjutnya.