"Jika aku bisa memiliki keduanya kenapa aku harus memilih salah satu saja." Alkama Basri Widjaya.
"Cinta bukanlah yang kamu butuhkan, pilih saja ambisimu yang kamu perjuangkan mati-matian." Nirmala Janeeta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyawrite99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Nirmala terkejut dengan belasan panggilan dari Kama. Karena keasikan menonton drama ia tidak menghiraukan sekitar bahkan ponsel miliknya pun tidak ia sentuh karena fokus menonton.
Dengan segera Nirmala menekan tombol panggilan pada Kama. Di dering ketiga panggilan terhubung.
"Sesibuk apa sampai panggilanku kamu abaikan, hm," ujar Kama sesaat panggilan masuk.
"Maaf Al. Tadi lagi fokus nonton. Kamu dimana?"
"Ck. Kebiasaan. Aku lagi di jalan ke apartemen kamu. Ada yang mau kamu titip?" Kama tak bisa marah. Lebih baik ia simpan kemarahannya untuk hal lain.
"Beliin Snack untuk cemilan aku nonton saja. Nanti makannya kita pesan dari apartemen saja Al."
"Ya sudah. Aku matiin dulu ya. Bye sayang. I love you."
"Bye. Love you too."
Beberapa saat kemudian Kama datang dengan membawa pesanan Nirmala. Kama di sambut oleh Mala yang begitu girang mengambil kantong plastik yang di bawa Kama.
Kama hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah Nirmala yang begitu girang saat mengambil sekantong penuh snack yang di bawanya. Bahkan Kama saja ditinggalkan setelah sekantong makanan itu sudah berada di tangan Nirmala.
Kama menyusul Nirmala yang kembali duduk di sofa meneruskan menonton drama yang ia tonton.
Kama protes karena Nirmala begitu cuek terhadap dirinya. "Sayang. kok aku dianggurin sih."
"Kayak apa aja sih kamu. Dasar manja. Aku fokus nonton dulu ya. Bentar lagi mau akhir ceritanya sayang," Nirmala bersandar pada bahu Kama sambil tangannya memeluk pinggang Kama. Perlakuan tersebut disambut Kama dengan membalas pelukan Nirmala.
Kama tidak banyak bicara ia membiarkan Nirmala menonton dengan hikmat. Saat ini Kama hanya menikmati kedekatan mereka. Sesekali Kama juga mencium pucuk kepala Nirmala.
Pikiran Kama berkelana. Ada rasa khawatir saat saat seperti ini akan hilang dari radar Kama.
Bagaimana reaksi Nirmala jika ia tahu apa yang sedang Kama rencanakan. Untuk itu ia akan menutup rapat semua akses agar Nirmala tidak tahu. Bahkan ia juga sudah mulai menyusun rencana mengikat Nirmala agar selalu berada dalam dekapannya seperti sekarang ini.
Kama tidak peduli jika ia dikatakan egois. Toh, hatinya tetap untuk Nirmala. Bahkan jiwa dan raganya hanya mencintai Nirmala. Dan pada akhirnya ia juga berencana akan mengakhiri hubungannya nanti dengan Juwita pada akhirnya. Perempuan itu hanya ia gunakan untuk mendapat kan kursi kekuasaan. Jika sudah saatnya ia akan melepaskan perempuan itu bahkan sebelum pernikahan berlangsung.
Kama tidak mengikuti alur drama yang ditonton Nirmala. Ia hanya menyerap momen saat mendekap Nirmala. Wanitanya.
Lama Kama membiarkan Nirmala menonton drama tersebut. Entah sudah berapa banyak air mata yang di keluarkan kekasihnya itu.
Bahkan Nirmala meminta Kama untuk memesan makan siang mereka karena kekasihnya ini sudah begitu fokus pada tontonan nya.
Kama heran dengan orang orang yang gemar menonton sebuah drama. Apalagi ceritanya sering kali membuat penontonnya mengeluarkan air mata. Padahal apa yang mereka tonton hanyalah sebuah karangan saja.
Naka sering mengutarakan kalimat barusan pada Nirmala. Dan tentu, kekasihnya itu akan memberi raut wajah sinis dan muka marahnya. Nirmala bilang beberapa drama itu diambil dari kehidupan nyata dan itu membuat ia tersentuh.
Ah sudahlah. Kama iyakan saja. Lebih baik mengalah saja dari pada membuat masalah di hubungan mereka. Bisa gigit jari Kama kalau Nirmala pakai acara ngambek segala pada dirinya.
Kini Kama menjelma menjadi kekasih perhatian. Pacarnya sedang hikmat nonton drama, sedang ia dengan penuh perhatian menyiapkan makan siang untuk sang kekasih.
Kama meletakkan box makan siang di atas meja. Membuka kotak dan mengambil sesuap untuk sang kekasih.
"Buka mulut sayang." Nirmala menerima suapan dari Kama.
"Biar aku aja." Nirmala mengambil sumpit di tangan Kama.
"Nontonnya udah?"
"Udah. Pas kamu ambil pesanan makanan dramanya sudah end."
"Baguslah kalau gitu. Dari tadi aku di anggurin kamu."
"Kamu juga dari kemarin anggurin aku."
Jleb. Kama jadi serba salah. Ingatkan dirinya bahwa wanita tidak pernah salah.
"Maaf ya sayang. Kemarin di kantor lagi ada kedatangan rekan bisnis dari luar." Kama mencoba menjelaskan.
Dilihat dari raut wajah kekasihnya yang datar sepertinya Kama harus ekstra merayu kekasihnya ini.
"Oh."
Bisa di simpulkan bahwa Nirmala ngambek. Jawaban singkat adalah pertanda hal yang tidak baik baik saja.
"Aku beneran sibuk sayaang.. Buktinya aku sudah di sini," Kama membelai surai rambut Nirmala. Kama merasa bersalah telah mengabaikan kekasihnya. "Hari ini aku bisa temani kamu. Kamu mau kemana. Aku pasti temani."
"Benar?"
"Iya sayang."
"Gak ada sih. Lagi malas."
Kama menelusuri raut wajah Nirmala. Takutnya jawaban tadi ada lanjutan ngambeknya Nirmala.
"Bener? Aku siap temani kamu kemana aja. Hari ini kamu minta kemana dan apa saja pasti aku kabulkan sayang."
"Rencananya aku cuman mau di apartemen saja. Capek semingguan ini urus wedding."
"Yaudah aku temani."
"Tapi gak jadi. Mau kulineran aja. Kangen makan di restoran favorit kamu."
"Boleh. Nanti aku minta sekretaris
Aku buat reservasi buat malam ini."
"Makasih." Nirmala menampilkan senyum manisnya pada Kama.
"Sama sama sayang." Kama berikan kecupan di dahi Nirmala.
Keduanya makan dengan hikmat. Hingga di penghujung sore seperti yang di janjikan Kama pada Nirmala bahwa malam ini mereka akan makan di restoran favorit Kama.
Saat ini Nirmala sedang bersiap di kamarnya sedang Kama telah siap seraya menunggu di balkon sambil menyesap nikotin.
Kama sedang gelisah, pasalnya ada beberapa panggilan dari ayahnya yang ia abaikan dan dilanjut pesan ayahnya yang meminta Kama untuk lebih mendekatkan diri pada Juwita.
Baskara meminta Kama agar keluar jalan jalan atau sekedar makan bersama dengan Juwita. Namun semua perintah berkedok saran Baskara diabaikan Kama.
"Sayang ayo. Aku sudah siap," panggil Nirmala.
Kama mematikan nikotin miliknya. Menuruti permintaan kekasihnya yang ingin makan malam bersama dan mengabaikan permintaan Baskara.
Mereka sampai di restoran dan di sambut pelayan. Nama dan wajah Kama sudah tidak asing di mata orang-orang yang bekerja di sana.
Kama dan Nirmala sedang menikmati makan malam romantis di restoran mewah favorit mereka. Mereka berdua saling menatap mata dan tersenyum bahagia. Tiba-tiba, Nirmala dibuat kaget ketika melihat sosok yang tidak terduga di meja sebelah - ayahnya Kama.
Ayah Kama, tuan Baskara, terkenal sebagai pengusaha sukses dan memiliki pandangan konservatif tentang hubungan. Nirmala paham benar ayah Kama tidak menyukai dirinya karena latar belakang keluarganya yang berbeda.
Tuan Baskara melihat Kama dan Nirmala bersama, lalu mendekati meja mereka.
"Ah, disini kau anakku. Pesan dan panggilanku tidak kau hiraukan. Aku kira kau sedang ada kegiatan penting, namun.. ternyata kau bersama.. seorang perempuan?" kata tuan Baskara dengan nada sinis sambil melirik Nirmala.
Nirmala merasa tidak nyaman dengan komentar tuan Baskara dan Kama menyadari tingkah kekasihnya itu. "Untuk urusan pekerjaan akan cepat saya selesaikan. Semua akan saya selesaikan dengan sebaik mungkin."
Tuan Baskara mengangkat alisnya, tapi tidak berkomentar lebih lanjut dan meninggalkan pasangan itu dengan kalimat singkat sebagai jawaban.
Kama dan Nirmala melanjutkan makan malam mereka, berusaha untuk tidak terlalu memikirkan komentar tuan Baskara.