Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Dua Arah
Suasana ruang makan di kediaman Arlan Bramantyo awalnya terasa damai. Aroma masakan rumah yang hangat mengepul, menemani denting sendok dan tawa kecil Keira yang sedang asyik dengan makanannya.
Gisel, yang mulai merasa aman dalam "sangkar emas" ini, sesekali melirik Arlan dengan tatapan yang lebih lembut. Namun, kedamaian itu hanyalah selaput tipis yang siap robek.
Getaran ponsel Arlan di atas meja kayu mahoni itu memecah segalanya. Nama Jack berkedip di layar. Arlan, yang ingin menunjukkan keterbukaan pada istrinya, sengaja menekan tombol speaker. Namun, keputusan itu segera ia sesali.
Suara Jack terdengar parau, diiringi deru napas yang memburu dan latar belakang suara sirine yang menyayat hati.
"Om Arman... dia di Rumah Sakit Mulia sekarang. Keadaannya gawat." Darah Arlan seolah membeku.
Tatapannya kini terpaku pada Gisel yang juga membeku.
"Bagaimana keadaannya, Jack? Katakan yang jelas."
"Jatmiko... bajingan itu benar-benar menghancurkan lututnya. Tulangnya remuk, Arlan. Dokter bilang kemungkinan besar Om Arman tidak akan bisa berjalan lagi seumur hidupnya. Jalan Bunga sudah jatuh ke tangan Jatmiko."
Ting!
Sendok di tangan Gisel terlepas, menghantam lantai porselen dengan suara melengking. Wajah gadis itu memucat seketika, matanya membelalak kosong. Dunianya seolah hancur mendengar kabar tersebut. Meskipun ia sempat membenci keputusan pamannya, bagaimanapun juga, Om Arman adalah satu-satunya tiang sandaran hidupnya selama ini.
"Mama..." bisik Keira kecil.
Bocah itu, dengan intuisi anak-anak yang tajam, bisa merasakan gelombang emosi kelam yang memancar dari Gisel. Ia menarik ujung baju Gisel dengan tangan mungilnya yang masih berminyak.
Gisel tersentak, mencoba menarik kembali jiwanya yang sempat terbang. Ia menatap Keira dan memaksakan sebuah senyum yang tampak menyakitkan. Arlan segera meraih tangan Gisel, menggenggamnya dengan kekuatan yang seolah ingin membagi beban.
"Setelah ini, kita ke rumah sakit."
Belum sempat Arlan memberikan kata-kata penenang lebih jauh, ponselnya kembali berdering. Kali ini bukan Jack, melainkan nomor dari Kantor Pusat di Kota Gemerlap pusat pemerintahan dan ekonomi negara.
"Pak Arlan," suara sekretaris dewan direksi terdengar kaku.
"Beberapa direktur meminta Anda segera memberi penjelasan ke kantor pusat, mengenai desas-desus pencucian uang dan penggunaan dana nasabah untuk kebutuhan pribadi Anda. Mereka juga menuntut Anda mengundurkan diri secara sukarela. Jika Anda tidak bisa memberikan klarifikasi secara langsung di Kantor Pusat malam ini, jabatan Anda akan dicabut secara tidak hormat."
Arlan mengeratkan genggamannya pada ponsel hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu persis siapa dalang di balik drama ini. Setelah menghancurkan fisik Om Arman, kini ia menyerang reputasi Arlan. Ini adalah serangan dua arah: melumpuhkan pelindung Gisel secara finansial dan sosial.
Setelah memutus telepon, Arlan segera menghubungi Rey.
"Maafkan aku, Lan," ujar Rey di ujung telepon dengan nada penuh penyesalan.
"Ada yang mendahului kita. Mereka meretas sistem internal dan menanamkan bukti palsu sebelum aku sempat merilis data dari Vincent ke media. Aldi menggunakan pengaruh politik keluarganya untuk menekan dewan direksimu. Kamu harus tenangkan para 'Pak Tua' itu dulu di pusat. Aku akan mencoba membalik keadaan ini."
"Aku mengerti. Terima kasih, Rey."
Arlan memejamkan mata sejenak, menghirup udara yang terasa makin menipis di ruangan itu. Ia menatap Gisel yang kini menatapnya dengan pandangan penuh kekhawatiran.
"Om..." lirih Gisel.
"Tidak apa-apa. Aku bisa menyelesaikannya. Tapi situasi sudah berubah, Gisel. Aku tidak bisa menemanimu menjenguk Om Arman, aku harus ke Kota Gemerlap malam ini juga."
"Aku akan ikut. Kemanapun Om pergi, aku ikut," sahut Gisel tegas.
Arlan menggeleng pelan, raut wajahnya menunjukkan kecemasan yang mendalam.
"Aku takut Kota Gemerlap adalah jebakan besar untukmu. Di sana ada banyak orang Sanjaya. Kamu dan Keira harus pergi ke Kota Flora bersama Jack. Aku akan merasa lebih tenang jika kalian di bawah pengawasan Vincent. Sanjaya tidak akan berani menyentuh wilayah kekuasaan Vincent tanpa risiko perang terbuka."
"Tapi, bagaimana dengan Om?"
"Menurutlah, Gisel... Aku tidak ingin kalian kenapa-napa. Keselamatanmu dan Keira adalah prioritasku sekarang."
Gisel menatap Keira yang masih asyik mengunyah makanannya, tidak tahu bahwa di luar sana, badai sedang bersiap melahap mereka. Gisel menyadari bahwa Arlan benar. Menetap di sisinya saat ini justru akan menjadi titik lemah bagi suaminya itu. Gisel mengangguk pelan, menyetujui rencana pelarian darurat tersebut.
Malam itu, Kota Fauna diselimuti hujan rintik-rintik. Di bawah perlindungan kegelapan, dua mobil bergerak ke arah yang berlawanan. Arlan dan Rey melaju dengan kecepatan tinggi menuju Kota Gemerlap untuk menghadapi sidang penghakiman di kantor pusat, sementara Jack memacu mobilnya menembus jalan-jalan tikus menuju Kota Flora.
Gisel duduk di kursi belakang, memeluk Keira yang tertidur lelap, sementara matanya menatap kosong ke arah deretan lampu jalan yang kabur oleh air hujan. Sedangkan Jack, tidak henti-hentinya melirik kaca spion di sepanjang perjalanan. Kewaspadaannya berada di tingkat tertinggi. Ia tahu Aldi Sanjaya memiliki telinga dan mata di setiap sudut kota, maka ia harus memastikan pelarian mereka berjalan lancar tanpa diketahui.
Hanya ketika ban mobil menyentuh aspal Kota Flora, Jack bisa mengembuskan napas lega. Kota ini berbeda dengan Kota Fauna yang rapi; Flora adalah kota kabut yang sibuk, penuh dengan gang-gang sempit dan kehidupan malam yang liar, namun di sinilah Vincent berkuasa. Di sini, hukum tertulis seringkali kalah dengan hukum bayangan.
Jack membawa mereka ke sebuah vila pribadi milik Vincent yang terletak di pinggiran kota, tersembunyi di balik rimbunnya pohon-pohon besar. Vila itu memiliki sistem keamanan tingkat militer.
"Sementara kalian tinggal di sini dulu," ucap Jack setelah mengantar Gisel dan Keira ke sebuah kamar yang luas dan hangat.
"Jangan keluar vila ini tanpa seizinku atau instruksi dari Bang Vincent. Aku akan melapor dan memastikan jalur komunikasi dengan Arlan tetap aman."
"Terima kasih, Bang Jack. Maaf melibatkanmu dalam bahaya," ucap Gisel tulus.
Jack terdiam sejenak. Ia menatap Gisel, gadis kecil yang dulu sering ia lindungi di gang Jalan Bunga, yang kini telah menjadi seorang istri dan ibu sambung di tengah konflik kekuasaan yang kejam. Sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya yang kaku. Ia mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala Gisel dengan lembut, sebuah gerakan kakak kepada adiknya yang sudah lama tidak ia lakukan.
"Sudah seharusnya, Gisel. Tidurlah. Besok kita akan memikirkan langkah selanjutnya."
Di Kota Gemerlap, Arlan berdiri tegak di depan gedung pencakar langit bank pusat. Cahaya lampu neon memantul di wajahnya yang keras. Ia melangkah memasuki lobi, disambut oleh tatapan dingin para petugas keamanan.
Arlan tahu, malam ini ia mungkin akan kehilangan pekerjaannya, dan reputasi yang ia bangun selama lima tahun belakangan. Namun, saat ia ingat ada Gisel dan Keira yang mendukungnya, ketakutan itu sirna.
Jika Sanjaya ingin menghancurkan dunianya, maka Arlan akan memastikan bahwa ia akan membawa Sanjaya jatuh bersamanya. Strategi Arlan sederhana, ia tidak akan bertahan, ia akan menyerang.
Ia melangkah masuk ke ruang rapat di lantai paling atas, di mana para direktur sudah menantinya dengan raut wajah menghakimi. Arlan meletakkan tas kerjanya di atas meja dengan dentuman yang cukup keras, menghentikan bisik-bisik di ruangan itu.
"Selamat malam, dewan direksi," sapa Arlan dengan nada sedingin es.
"Sebelum kalian membacakan surat pemecatanku, sebaiknya kalian lihat dokumen yang saya bawa. Karena jika saya jatuh malam ini, saya pastikan bank ini akan ikut terkubur bersama skandal keluarga Sanjaya yang selama ini kalian tutupi."
Permainan baru saja dimulai.
.
.
.
.
.
Haloo semuanya... Jangan lupa like, komen dan share cerita ini yah... Terima kasih, lope sekebon...
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏