"Kumohon, menikahlah denganku," ucap Kiara Jasmin dengan putus asa.
"Bukannya kamu itu pacar Fero -keponakanku?" jawab Kaisar sambil menatap tajam.
"Tidak, kami sudah putus!" jawab Kiara- cepat.
Ya, kami putus setelah aku tau dia selingkuh dengan adik tiriku, dan kau adalah caraku membalas dendam padanya.
Kaisar Julian, tidak hanya tampan, tapi dia sangat dingin dan sangat kaya. Bahkan dia adalah sumber dana bagi Fero yang pemalas tapi suka berfoya-foya.
Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Kiara mendekati Kaisar yang merupakan CEO di tempatnya bekerja, menawarkan kontrak hubungan palsu.
Namun hubungan yang awalnya hanya sebuah kontrak, entah sejak kapan makin terasa nyata seperti bukan sekedar sandiwara. Dan Kaisar, paman sang mantan -yang dingin itu ternyata menyimpan api yang lebih berbahaya dari yang pernah Kiara bayangkan. Kini jarak antara kebohongan dan kenyataan semakin samar.
Apakah balas dendam terus berlanjut atau...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir terciduk.
"Jadi maksudnya tempat hangat itu adalah kamar hotel?" ucap Kiara yang berdiri mematung di ambang pintu kamar presiden suit yang baru saja di sewa Kaisar.
Kaisar masuk ke dalam ruangan yang tampak luas dan nyaman itu, "Ya, tunggu apalagi, ayo masuk," ucapnya.
"Tapi... kita belum menikah, kan?" ucap Kiara dengan ragu-ragu. Dia khawatir jika dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar megah ini, sama artinya dengan dia sudah pasrah dan menyerahkan dirinya pada Kaisar.
Kaisar menatap Kiara sambil tersenyum tipis, "Tenanglah, aku tak akan memaksa jika kamu belum siap," ucapnya, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Dengan sedikit ragu, Kiara melangkah masuk. Gaun dan tubuhnya yang basah kuyup, membuat lantai kamar hotel itu basah. Buru-buru Kiara mencari kain untuk membersihkan air yang menggenang karena dirinya.
Kiara hanya berdiri diam di atas kain lap yang diinjaknya, tak berani melangkah karena takut mengotori lantai kamar mewah ini.
Tak lama, Kaisar keluar dari kamar mandi dan terkejut karena melihat Kiara hanya berdiri mematung di depan pintu kamar mandi. "Apa yang kau lakukan di situ?"
"Sa-saya takut mengotori lantai," ucap Kiara ragu-ragu.
Kaisar menggelengkan kepalanya, "Masuklah dan lepas bajumu," titahnya.
"A-Apa! ti-tidak perlu terima kasih!" pekik Kiara sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Bajumu basah! gantilah dulu dengan bathrob ini sampai bajumu selesai diloundry!" ketus Kaisar. lama-lama dia kesal juga dengan sikap Kiara. Memangnya di matanya, Kaisar itu lelaki seperti apa sampai selalu curiga pada ucapannya.
"Be-berapa lama laundrynya?"
"Di hotel ini ada laundry expres 3 jam," ucap Kaisar sambil melihat sebuah pamflet yang ada di dekat pesawat telpon hotel.
"Baiklah, aku akan lepas bajuku," ucap Kiara sambil buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku cukup duduk tenang, menjauh dari Pak Kaisar dan jangan memancingnya!" gumam Kiara sambil melepaskan gaunnya. Kiara melepaskan semuanya, gaun hingga pakaian dalamnya karena semuanya benar-benar basah dan tak tertolong lagi.
Setelah itu, Kiara mengambil hairdryer yang ada di dekat wastafel lalu dia mulai mengeringkan bra dan celana dalamnya, tak mungkin kan kedua dalaman ini dia sertakan ke tempat loundry?
Tok. Tok. Tok.
"Kia, petugas laundry datang, sudah belum?" tanya Kaisar dari luar kamar mandi.
"I-IYa, sebentar!" Kiara buru-buru memakai bathrob, mengikatnya asal lalu mengambil bag laundry yang berisi gaun basahnya. "I-ini Pak," ucap Kiara sambil membuka sedikit pintu kamar mandi.
Kaisar tampak menatapnya, lalu berdehem, "baiklah," ucapnya sambil menyambar baglaundry itu. Cepat-cepat Kiara menutup pintu kamar mandi dan melanjutkan aktivitasnya -mengeringkan bra dan celana dalamnya.
"Sudah lumayan kering, syukurlah," ucap Kiara sambil mengenakan bra nya. "Ihh, masih sedikit basah, nggak nyaman..." lirih Kiara saat mengenakan bra nya. Celana dalamnya yang tipis memang langsung kering, namun untuk bra yang di lapisi busa, sangat sulit mengeringkannya.
Sebelum keluar dari kamar mandi, Kiara kembali menatap cermin yang ada di toilet sambil merapihkan penampilannya, mengikat tali bathrob itu dengan kencang supaya tak mudah di lepaskan oleh Kaisar.
"Aku harus waspada, bukan?" gumamnya.
Setelah membulatkan tekad, Kiara membuka pintu kamar mandi dan melongok situasi di luar, namun sunyi. "Ke mana dia?" gumamnya.
Perlahan Kiara melangkahkan kakinya, dan dilihatnya Kaisar tertidur dengan posisi duduk di ranjang super besar itu, dengan bersandar di headboard. Salah satu kakinya ada di atas ranjang sedangkan yang satunya menjulur ke lantai, dan tentu saja membuat bathrobnya terbuka dan menampilkan paha putih nan mulus itu untuk di nikmati Kiara.
"Astaga!" pekiknya lirih. "Pemandangan apa ini!"
Dengan perlahan Kiara berjalan mendekati Kaisar, lalu mengangkat salah satu kaki Kaisar yang menjuntai ke bawah. Kiara melakukannya dengan sangat perlahan, berharap Kaisar tak terbangun. Dia hanya berusaha membantu Kaisar, bukan ingin melakukan yang lainnya apalagi hal mesum.
Karena terlalu fokus memperhatikan kaki Kaisar yang putih dengan bulu-bulu halus panjang menghiasinya, Kiara tak sadar jika Kaisar sudah membuka matanya dan tersenyum memperhatikan dirinya.
"Pelan-pelan... taruh di sini..." ucap Kiara lirih sambil meletakkan kaki Kaisar di atas ranjang. "Yes! berhasil," pekiknya lirih.
"Terima kasih-"
"Astaga!" hampir saja jantung Kiara meloncat dari sarangnya karena saking terkejutnya.
"Ke-kenapa sudah bangun nggak bilang!" kesalnya dengan wajah merona.
"Aku tidak mau mengganggu, karena sepertinya kamu serius sekali memandangi kakiku," ucap Kaisar.
"Si-Siapa! Saya cuma menaikkan kaki Pak Kaisar, cu-cuma itu!" ucap Kiara gugup karena ternyata gelagatnya memperhatikan kaki seksi itu ketahuan oleh Kaisar.
"Kamu boleh melihat yang lainnya juga, kok. Aku nggak keberatan," jawab Kaisar sambil tersenyum tipis.
"Mesum!" gumam Kiara sambil mencibir.
Kiara terkekeh, lalu menepuk tepi ranjang yang ada di dekatnya, "duduklah," ucapnya.
"Sa-Saya duduk di sini saja," ucap Kiara sambil berjalan menjauh dan duduk di ujung sofa.
"Astaga, apa kita harus ngobrol sambil berteriak-teriak, Kia?" ucap Kaisar kesal.
"Ti-tidak perlu berteriak, Saya dengar, kok!" kilah Kiara..
"Pindah ke sini, cepat! atau kamu mau memancing emosiku? kalau aku marah, aku bisa melakukan hal-hal di luar kendali! kamu mau?"
"Tidak! oke, Saya ke sana!" Kiara langsung bangun dari duduknya dan bergegas mendekati Kaisar, kemudian duduk di tepi ranjang.
Kaisar mendengus setelah Kiara duduk disebelahnya, "Aku mau pesan makanan, kamu mau pesan apa?" Kaisar meletkkan buku besar yang berisi menu makanan -di atas paha Kiara.
Kiara langsung tersenyum, "hujan-hujan begini paling enak makan mi rebus," ucap Kiara.
"Ada mi yamin yang lebih enak dari pada mi rebus instan," ucap Kaisar.
"Boleh? Saya mau pesan itu saja," ucap Kiara.
Masih dengan posisi duduk di ranjang, Kaisar mengambil gagang telpon yang ada di nakas, lalu dia pun memesan makanan yang diinginkan Kiara.
"Maaf ya, kencan pertama kita malah kacau gara-gara hujan," ucap Kaisar.
"Ti-tidak apa-apa, Pak. Cuaca kan nggak bisa kita atur," ucap Kiara memaklumi.
Kaisar hanya tersenyum tipis dengan mata yang terus menatap wajah Kiara.
"Sebenarnya, Saya juga nggak punya pengalaman berkencan, jadi walaupun kencan kita gagal, Saya nggak terlalu kecewa," lanjut Kiara.
"Bukankah kamu pernah pacaran dengan Fero? apa kalian nggak pernah pergi kencan?" kaget Kaisar.
"Selama hampir tiga bulan pacaran, kami hanya pergi ke bioskop satu kali, dan makan di caffe dua kali," ucap Kiara. "Setelah itu, Fero menginginkan lebih tapi Saya tak mengabulkannya, makanya sekarang dia mendapatkan semua keinginanya melalui Mona," lanjut Kiara sambil tersenyum kecut.
"Kamu pernah memergoki mereka berdua?"
"Bagaimana tidak memergoki, mereka berdua melakukannya di kamarku! bekas kamarku lebih tepatnya!"
"Di rumah kamu?!' kaget Kaisar.
Kiara mengangguk, "Saya sudah sering meledek mereka, supaya menyewa hotel melati atau apa, masa orang kaya maunya gratisan! dasar Monanya juga perempuan sinting! mau aja di ajak nganu di kamarnya, gratisan pula! masih mending jadi LC sekalian malah di bayar! paling nggak, ada harganya!" ketus Kiara.
Kaisar terdiam lalu mengusap wajahnya dengan kasar, "Anak itu benar-benar! bikin malu!"
"Saya kesal karena suara mereka mengganggu sekali! bikin merinding!" kesal Kiara.
Drrt. Drrt.
Kiara menoleh dan melihat ponselnya berdering. "Ayah? ada apa, ya?" lirihnya.
"Angkatlah, siapa tau penting."
Kiara segera beranjak untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, "Ya Ayah? ada apa? Ayah butuh sesuatu?" tanya Kiara dengan nada khawatir.
"Nggak, kok, Ayah cuma mau tau kamu lagi di mana, soalnya di sini hujan deras sekali," ucap Ayah yang terdengar khawatir. "Kamu kan tadi naik motor, Ayah takut kamu sakit kalau kehujanan."
Kiara mendesah dan tersenyum lega, "Ayah.. Kiara lagi berteduh kok di.. h-ehm tempat makan, Kiara berteduh sambil makan. nanti kalau hujannya sudah reda, Kiara pasti langsung pulang."
"Jangan terburu-buru, hari masih siang. Nikmati saja kencanmu, Oh iya, Ayah ingin lihat pacarmu, boleh?" Ayah mengalihkan panggilan suaranya ke panggilan video. Dan sontak saja Kiara langsung kelimpungan.
"Kenapa?" tanya Kaisar yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Kiara.
"Ayah! Ayah mau video call! bagaimana ini!" pekiknya kalut.
"Kenapa dia mau videocall?"
"Dia ingin melihat seperti apa pacarku.." lirih Kiara malu. Bukannya dia tak mau menunjukkan wajah Kaisar, tapi saat ini mereka berdua sedang memakai bathrob, bukankah itu akan menimbulkan kecurigaan? dan lagi Kiara juga bukan sedang di rumah makan, melainkan di kamar hotel, makanya Kiara langsung kebingungan.
Kaisar tersenyum, "berikan ponselnya padaku," ucapnya sambil merebut ponsel Kiara.
Kaisar menolak panggilan video dan menempelkan benda pipih itu di telinganya, "halo Ayah? Saya Kai, pacar Kia," ucap Kaisar dengan begitu santai seperti seorang aktor yang sedang berakting saja.
"Maaf Kiara tak bisa melakukan panggilan video, karena di sini sangat berisik dan ramai," ucapnya.
"Oh, iya, nggak apa-apa nak Kai. Nikmati kencan kalian dan tolong jaga Kiara ya," ucap Ayah.
"Baik, terima kasih," Kaisar menutup panggilan telpon dan menyerahkan kembali ponsel Kiara pada pemiliknya. "Beres!" ucapnya cuek lalu kembali berjalan menuju ranjang.
🤭
Km kira ini gaun buat pengantin baru yg mau unboxing 🤣